Halloween adalah salah satu perayaan yang berlangsung pada malam tanggal 31 Oktober, di pertengahan musim gugur. Halloween sendiri merupakan rangkaian berbagai perayaan yang berlangsung di bulan Oktober, dari perayaan musim panen (Harvest Festival), liburan tengah termin bagi anak sekolah, hingga perayaan Halloween.

Halloween dimaknai dengan berubahnya layout rak supermarket yang menjual buah labu untuk diukir menjadi lentera Jack o' Lantern, permen dan coklat untuk Trick or Treating, hingga sekolah yang menjual charity apel berlapis coklat. Kota pun tidak kalah berbenah, menghiasi pusat perbelanjaan hingga city center dengan berbagai atribut yang meriah.

Halloween bagi anak-anak saya merupakan salah satu perayaan yang paling meriah dalam satu tahun. Cuaca yang belum terlalu dingin, pemandangan daun-daun kemerahan yang berguguran membuat Halloween mempunyai kesan yang paling spesial dibandingkan perayaan tahun baru atau musim semi sekalipun.

Perayaan yang berbasiskan pada musim gugur bukan monopoli suatu budaya saja. Budaya Halloween sendiri bisa ditarik sejarahnya dari budaya Pagan orang Celtic di pulau Britania atau ditelusuri dari perayaan masyarakat Kristen. Diwali atau Deepavali yang merupakan perayaan bagi masyarakat Hindu yang bertemakan cahaya juga berlangsung di tengah musim gugur. Atau kurang lebih sama seperti festival bulannya masyarakat China.

Mengajarkan anak mengenai perayaan Halloween rasanya tidak ada yang salah. Banyak hal yang bisa menjelaskan mengapa merayakan Halloween artinya mengingatkan bahwa kita harus memundurkan jam mengikuti British Summer Time, mengingatkan anak pentingnya memahami siklus perputaran planet mengelilingi tata surya, mengingatkan sudut kemiringan bumi yang membuat negara-negara memiliki musim yang berbeda, hingga mengingatkan anak antara dialog utara dan selatan yang kerap kali menjadi dasar pemicu konflik dunia modern.

Buat orang yang tinggal di negara tropis, siklus pergantian musim bukanlah sesuatu yang signifikan. Matahari yang bersinar sepanjang tahun, hujan yang turun dengan deras seringkali membuat orang lupa bahwa segala sesuatu didunia ini terjadi melalui sebuah siklus yang konsisten, plausible dan bisa dijelaskan. Lupa akan suatu hal yang fundamental, lupa mengenai waktu.

Halloween kalau dimaknai sangatlah sejuk. Dunia rasanya tidak pernah kehilangan momen untuk memaknai eksistensinya. Hanya saja, buat seorang anak, makna Halloween tidak lebih sebagai sebuah permainan dan pupuk imajinasinya saja.

Maraknya pemberitaan mengenai Killer Clown atau orang-orang yang bercanda kelewatan dengan menggunakan topeng badut, bisa membuat anak begadang semalaman tidak bisa tidur karena ketakutan bila si Killer Clown datang.

Entah darimana cerita diantara anak-anak berusia 8-9 tahun disekolah dasar yang membicarakan mengenai badut pembunuh yang di kota berjumlah 9 orang dimana 5 diantaranya sudah ditangkap polisi beredar dikantin-kantin sekolah. Anak yang seharusnya takut dengan hantu, laba-laba atau tengkorak Halloween justru takut setengah mati dengan badut pembunuh.

Sistem sosial memang terlalu kompleks untuk dianalisa. Suatu perayaan budaya yang awalnya baik bisa menjadi sebuah perayaan yang berdampak negatif. Halloween yang tadinya merupakan perayaan bersenang-senang dengan mengolok-olok hantu sekarang bisa berubah menjadi mimpi buruk anak.

Buat saya, ini mengajarkan pada diri saya pribadi untuk tidak berlebih-lebihan menyikapi sesuatu. Sesuatu yang pada dasarnya baik, secara konsep dan eksekusi baik, bisa berubah menjadi sesuatu yang buruk dengan dan tanpa kita sadari.

Akhirnya di sore itu, saya sampaikan pada anak-anak saya bahwa Halloween sudah berakhir. Ghastly, Haunter dan Cubone sudah tidak akan lagi muncul di Pokemon Go sebanyak sekarang. Killer Clown sudah tidak ada lagi -sudah "put in the jail" oleh polisi di kota. Kini saatnya kita bersiap menghadapi musim yang baru, "Winter is coming". Dan saya berdoa agar Halloween tahun tahun berikutnya akan lebih baik lagi dari Halloween tahun ini.