Manusia adalah makhluk paling rumit. Revolusi kognitif yang secara acak menimpa manusia kira-kira 70 ribu tahun lalu adalah salah satu biang keladinya. Sejak saat itu, manusia tidak pernah bisa berhenti berpikir. Pikiran mendorong imajinasi, imajinasi melahirkan cipta.

Berdasar 3 komponen yang saling bertaut itu, manusia berhasil menaklukan alam, sekaligus makhluk hidup lainnya, dan menduduki tingkat paling atas dari kingdom animalia.

Saudara dekat simpanse ini memang bukan yang terkuat secara fisik, tapi spesies inilah yang paling bisa dan cepat beradaptasi dengan alam dan dinamika di dalamnya.

Manusia telah memegang kunci dari pintu-pintu sempit seleksi alam: bukan survival of the finest, melainkan survival of the fittest; dan dengan kunci tersebut, manusia menjadi penguasa.

Sejak Jericho, kota pertama yang dibangun oleh manusia, peradaban terus bergulir. Darah menjelma saksi pada peradaban yang lahir, mati, hingga tak berbekas. Tangan Tuhan di dunia tumbang. Raja-raja tidak lagi berkuasa. Dunia diselimuti kegelapan yang sangat pekat. 

Manusia-manusia baru muncul berteriak, “kesetaraan dan kebebasan!” Secercah sinar harapan lamat-lamat terlihat. Mayoritas manusia sepakat bahwa industri adalah solusinya. Namun, alam menjadi korbannya, iklim berubah. 

Tak lama, ketimpangan menyeruak. Satu sisi belahan dunia tampak begitu indah dan berwarna. Bagian lainnya? Hitam, sekarat, menunggu mati.

Pada ranah individu, manusia juga mengalami hal serupa. Angan-angannya tentang hidup selalu mengaburkan pandangannnya.

Makna hidup versi manusia tidak akan jauh-jauh dari manifestasi bentuk ideal, seperti kekayaan, keadilan, kemapanan, kenyamanan, ketertiban, kemewahan, kemenangan, dan semacamnya. Demi mencapainya, manusia mengorbankan segalanya, meski kehilangan dirinya sendiri. 

Realitasnya, hidup adalah tentang penundaan penderitaan. Dunia adalah lanskap yang kontradiktif terhadap pikiran-pikiran manusia. Dunia ini acak dan tidak memiliki arah yang pasti. Terkadang, manusia siap, namun lebih kerap tidak.

Sudah seberapa jauh kau melangkah, manusia? Atau sebenarnya manusia tidak bergerak sama sekali? Atau, ia bergerak dengan menumpahkan begitu banyak air mata dan air darah, hanya untuk kembali ke titik 0 lagi?

Albert Camus menyebut perjalanan hidup manusia yang “aneh” itu dengan absurditas. “Apa itu absurditas?”, tulis Camus. “Absurditas adalah konfrontasi antara dunia yang irasional dan kerinduan hebat akan kejelasan yang panggilannya menggema di kedalaman hati manusia,” sambungnya. 

Manusia terjebak pada idealita-idealita yang ada dalam pikirannya. Lalu, pada akhirnya, manusia terlempar dalam kubangan lumpur faktisitas-faktisitas yang sama sekali berbeda dengan kondisi ideal yang manusia idam-idamkan. 

Saat manusia merasa sedang berada di puncak, manusia sering terlena, sibuk dengan mabuk kemenangan karena berhasil mencapai kondisi yang dianggapnya ideal. Tak sadar, realitas-realitas lebih buas di puncak, ia mencengkeram dan menusuk manusia yang sedang mabuk dari berbagai arah. 

Manusia terpaksa jatuh ke dasar lagi. Dari dasar jurang, manusia memandang ke puncak gunung, dan berpikir, “bagaimana aku bisa naik ke puncak?” Terus berulang.

Di mitos Sisifus, esainya yang terkenal itu, Camus menulis kisah yang menarik untuk menjelaskan absurditas hidup. Sisifus adalah putra Raja Aeolus yang memerintah wilayah Thessaly dan Enarete. Sisifus yang merupakan putra penguasa kerap menyalahgunakan kekuasaannya untuk bertindak zalim.

Para dewa geram dan menghukumnya masuk neraka. Di neraka, Sisifus tidak kehilangan akal liciknya. Dirayunya para dewa agar mengizinkannya pergi sebentar ke bumi, dan berjanji akan cepat kembali.

Sesampainya di bumi, Sisifus terbius lagi pada keindahan bumi: air yang sejuk, cahaya matahari yang hangat, dan semerbak wangi tumbuh-tumbuhan. Ia tak sudi kembali lagi dalam kegelapan neraka. Di mata para dewa, kebenciannya terhadap kematian, dan gairahnya akan kehidupan, adalah kejahatan terbesar Sisifus.

Para dewa menghukum Sisifus dengan hukuman paling berat: mendorong sebuah batu ke puncak gunung; dan setelah tiba di puncak, batu terguling lagi ke bawah. Lalu Sisifus harus turun ke dasar gunung, mendorong batu lagi sampai ke puncak; setelah sampai puncak, lagi-lagi batu menggelinding ke bawah. Begitu seterusnya. Tak habis-habis.

Hukuman yang dijatuhkan kepada Sisifus adalah hukuman paling mengerikan, sebab usahanya selalu berbuah sia-sia dan tidak ada lagi harapan. 

Adakah kutukan yang lebih mengerikan daripada itu? Apakah manusia juga mengalami apa yang dialami Sisifus? Sejarah memberi jawabannya: iya. Sisifus adalah kita. Kita adalah Sisifus, disadari atau tidak.

Lantas, apa solusi Camus untuk menghadapi absurditas hidup ini?

Pertama-tama, manusia mesti menerima bahwa hidup ini absurd. Menurut Camus, manusia tidak perlu menyangkal dan mencari-cari argumen bahwa hidup ini rapi, bahwa manusia bisa mengendalikan dunia. 

Akui bahwa dunia memang serba tak terduga, dan akui bahwa memang begitulah dunia bekerja. Setelah menerima absurditas hidup dan tidak mencari sandaran untuk melarikan diri (act of elusion), manusia dapat memaknai hidupnya menurut versinya sendiri tanpa harus memiliki pretensi kepada hidup yang ideal. 

Dengan begitu, manusia menjadi subjek atas dirinya sendiri, bukan hanya sekadar objek yang dibelenggu oleh pikiran, harapan, atau apa pun dalam hidup, yang sering kali tidak sesuai dengan realitas. 

Camus ingin manusia eksis atas dirinya sendiri, menjalani hidup dengan makna versinya sendiri, tanpa perlu memikirkan makna yang hakiki dan bentuk idealnya. Penerimaan terhadap absurditas hidup bukan berarti pasrah lalu menyerah. 

Camus menyebutnya acceptance without resignation, menerima tanpa menyerah. Iya, menerima bahwa hidup ini absurd, tapi tak pernah berhenti untuk menghidupi hidup sesuai versinya.

Dalam ujung dari esainya, Camus menunjukkan rasa optimisme yang tampak janggal. “Perjuangan itu sendiri, menuju ke ketinggian, cukup untuk memenuhi hati manusia. Kita harus membayangkan Sisifus berbahagia.”

Dengan absurdismenya, Camus mengajak manusia untuk mencoba bahagia sebagaimanapun absurdnya kehidupan ini. Tulisan ini penulis tutup dengan potongan tulisan Albert Camus, dalam esainya, Return to Tipasa:

"Di tengah kebencian, kutemukan, dalam diriku, cinta yang tak terkalahkan.

Di tengah air mata, kutemukan, dalam diriku, senyum yang tak terkalahkan.

Di tengah kekacauan, kutemukan, dalam diriku, ketenangan yang tak terkalahkan. Aku sadari, melalui semua itu bahwa,

Di tengah musim dingin, kutemukan, dalam diriku, musim panas yang tak terkalahkan.

Dan itu membuatku bahagia. Karena, betapapun kerasnya dunia ini menekanku, dalam diriku, ada sesuatu yang lebih kuat, yang akan melawan balik."