Pada tanggal 9 dan 10 Desember 2015 yang lalu, saya mengikuti suatu acara yang menurut saya sangat menarik. Acara tersebut adalah Kongres Peradaban Aceh. Wah, berat ya nama kongresnya. Tapi yang membuat saya tertarik justru bukan karena nama kongresnya, tapi tema yang diangkat. Kongres Peradaban Aceh (KPA) yang diselenggarakan di awal bulan Desember lalu itu mengangkat tema "Penguatan Bahasa-bahasa Lokal di Aceh."

Saya bukan seorang ahli bahasa, apalagi budayawan, tapi saya selalu menyukai hal-hal bernuansa etnik. Bahasa daerah, kesenian, lagu daerah selalu membuat saya tertarik. Makanya, saat itu saya memaksakan diri yang pemalas ini untuk mengikuti kongres tersebut.

Saya tidak akan menceritakan secara terperinci apa saja yang terjadi pada saat kongres, namun ada satu hal yang lucu. Pada kongres itu, beberapa kali muncul pendapat atau keluhan bahwa bahasa lokal terkikis dan terancam punah karena adanya invasi dari bahasa-bahasa lain, apakah itu bahasa asing atau bahasa lokal dari daerah lain.

Kebetulan yang mengeluhkan atau melontarkan pendapat tersebut saya lihat adalah para senior-senior. Mereka keukeuh bahwa kita harus menjaga bahasa lokal dari invasi kata-kata yang berasal dari bahasa lain. Jangan sampai ada pencemaran terhadap bahasa lokal. Kira-kira seperti itu.

Padahal, ketika Pak Anies Baswedan membuka acara Kongres, beliau mengatakan bahwa kita tidak boleh menutup dan mengeksklusifkan diri. Justru kita harus membuka diri dan mengembangkan bahasa yang dimiliki. Ucapan Pak Anies Baswedan masuk akal, yang kemudian diaminkan oleh beberapa ahli bahasa yang hadir pada saat itu.

Ketika zaman berubah, bahasa sebagai suatu bentuk kebudayaan akan mengalami penyesuaian dan perubahan, minimal dari kosa kata. Maka, akan ada kata-kata yang diserap menjadi bahasa lokal. Ada pula kosa kata bahasa lokal yang bisa diserap ke dalam bahasa nasional atau bahasa asing. Apa pun bisa terjadi. Bahkan dengan lebih membuka diri, kita ikut membantu melestarikan keberadaan bahasa lokal tersebut.

Namun keluhan dan pendapat bahwa kita harus melakukan intervensi terhadap invasi yang ditujukan pada bahasa lokal masih tetap muncul hingga kongres berakhir. Bahkan baru-baru ini saya membaca artikel di laman web ini, di mana penulisnya mengungkapkan kekhawatiran akan adanya invasi bahasa negeri tetangga ke bahasa percakapan kita sehari-hari.

Kedua hal ini saya pikir berkaitan, meskipun berbeda penekanan. Bila pada KPA yang menjadi perhatian adalah bahasa daerah, maka pada artikel “Cintailah Bahasa Indonesia” yang menjadi perhatian adalah bahasa nasional kita. Ternyata kita sama-sama merasakan kekhawatiran bahwa bahasa Indonesia dan bahasa daerah lama-lama akan punah atau tergantikan dengan bahasa lain.

Sebelum kita mengeluhkan terancamnya bahasa yang kita miliki, ada baiknya kita bertanya terlebih dahulu pada diri kita sendiri, apakah dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah aktif menggunakan Bahasa Indonesia atau bahasa lokal? Apakah kita sudah merangsang diri kita sendiri, keluarga, dan lingkungan kita untuk berbahasa dengan baik?

Salah satu kekhawatiran yang menjadi dasar diadakannya Kongres Peradaban Aceh kemarin adalah mulai ada indikasi punahnya beberapa bahasa lokal di Aceh. Punah karena jarang digunakan. Punah karena penuturnya tinggal sedikit. Punah karena tidak dilestarikan, tidak dikembangkan.

Kita tidak ingin bahasa kita menghilang. Kita sibuk menuding bahasa kita digusur penggunaannya karena media ini dan itu. Tapi kita lupa, bahasa adalah alat komunikasi paling dasar suatu makhluk hidup. Apabila bahasa kita terancam tergusur atau bahkan terancam punah, berarti bahasa itu sudah mulai jarang digunakan dalam berkomunikasi.

Maka, sungguh naif bila kita sibuk menuding ke luar, menuding bahwa ada invasi tertentu yang menyebabkan bahasa kita rusak atau hilang. Tunggu dulu. Kita sudah melakukan apa untuk memastikan bahasa kita (baik bahasa Indonesia maupun bahasa lokal) tetap hidup? Apakah dalam keluarga kecil kita, kita menggunakan bahasa lokal/bahasa Indonesia dengan baik? Atau kita lebih bangga menggunakan bahasa asing karena hal itu melambangkan kecerdasan atau prestise tertentu?

Jangan-jangan di beberapa tempat, masih ada orang-orang yang justru memandang rendah rekannya yang bercakap-cakap menggunakan bahasa lokal. Karena dianggap kampungan, misalnya. Atau karena dianggap dialeknya aneh, tidak modern. Jangan-jangan kita sendiri yang malu menggunakan bahasa lokal karena nanti akan kentara kita berasal dari daerah mana, kentara sekali bahwa kita perantau.

Barangkali juga kita sendiri yang menyabotase orang lain yang antusias belajar bahasa atau dialek setempat, karena kita punya anggapan kalau bukan orang lokal, tidak usahlah sok bicara bahasa lokal, terlalu aneh untuk didengar. Bikin sakit telinga.

Bisa juga kita menganggap Bahasa Indonesia itu nggak gaul, kaku dan aneh bila digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari atau bahkan sekedar digunakan sebagai bahasa dalam pesan singkat. Memangnya kita J.S. Badudu apa, harus berbahasa dengan baik dan benar? Uh, it's so weird.

Bahkan dalam forum resmi nasional, kita lebih sering melihat penggunaan bahasa asing ketimbang bahasa Indonesia. Dalam pidato-pidato pejabat, tak jarang naskahnya bertaburan bahasa asing yang seringkali ketika diucapkan oleh yang bersangkutan malah membuat keriting lidah dan membuat yang mendengar bingung, apa sih yang sedang diucapkan? Jangan-jangan kita menganggap lebih keren menggunakan bahasa asing campur sari yang kita sendiri belum tahu makna katanya apa.

Dari seluruh pertanyaan saya di atas, ada baiknya kita merenung sejenak. Berkontemplasi, bertanya secara jujur pada diri kita. Apakah pantas kita sibuk menuding pengaruh eksternal terhadap ketergusuran atau kepunahan bahasa kita, padahal kita jualah yang mengabaikan bahasa yang kita miliki sendiri? Apakah pantas kita berkoar-koar tentang buruknya invasi bahasa lain pada bahasa kita, padahal di rumah kita sendiri, kita tidak berbahasa dengan baik?

Apa-apa yang menjadi milik kita, harus kita jaga sendiri, agar dia tidak hilang. Begitulah halnya dengan bahasa. Agar ia tidak tergusur, tidak punah, marilah kita yang menjaga keberadaannya dengan menghidupkan bahasa itu mulai dari diri sendiri, keluarga, dan lingkungan dengan cara menggunakannya.

Seperti yang tertulis pada gambar,

Utamakan Bahasa Indonesia, Pelihara Bahasa Daerah, Kuasai Bahasa Asing.

Dalam berinteraksi dengan keluarga, kita boleh (malah dianjurkan) mengutamakan penggunaan bahasa daerah agar anak-anak kita tak lupa dengan bahasa ibunya. Dalam berinteraksi di lingkungan sekolah atau kerja, ada baiknya kita mengombinasikan penggunaan bahasa Indonesia dengan bahasa daerah. Pada acara-acara pemerintahan atau yang berskala nasional, bahasa pengantar baik untuk slogan acara, pidato, atau presentasi sebisa mungkin diantarkan dalam bahasa Indonesia.

Menjaga dan melestarikan bahasa adalah tanggung jawab kita semua. Mengeluh dan bersikap curiga terhadap faktor eksternal tidak akan menyelesaikan masalah yang ada. Maka dari sekarang, mari kita sama-sama berbahasa dengan baik.

Mari kita lestarikan bahasa daerah kita masing-masing. Jangan malu berbahasa daerah. Mari kita menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar baik dalam percakapan lisan maupun dalam bentuk tulisan. Kalau bukan kita yang menjaga dan melestarikan, siapa lagi?