Pada akhir 2019, saya sempat membatin kepada Tuhan, jika ada yang ingin saya tingkatkan dalam hidup di tahun-tahun yang akan datang, maka itu adalah rasa empati. Pengalaman merantau selama 6 bulan di Kalimantan Timur tahun lalu mengajarkan kepada saya simpati tidaklah cukup tanpa empati.

Empati sering saya sebut dalam bahasa 'memahami suasana batin', mencoba menempatkan diri saya pada posisi orang itu. Demikianlah sedikit doa saya pada Tuhan.

1 Januari 2020, saya bangun jam setengah 6. Niatnya saya mau olahraga pagi bersama ayah saya. Namun hujan tak kunjung reda sejak semalam. Saya cek handphone, sejumlah titik sudah dilanda banjir. Beberapa kawan wartawan yang rumahnya di Bekasi sudah mengatakan rumahnya kebanjiran.

Sepanjang hidup 21 tahun di Vila Mahkota Pesona, Jatiasih namun definitif masuk Kabupaten Bogor, kami tidak pernah terkena banjir. Sebaliknya, Vila Nusa Indah memang sering langganan banjir. Siang-siang, saat saya sedang mengetik berita, bapak saya bilang bahwa umat Lingkungan Santa Monika, Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Kota Wisata yang mana adalah lingkungan saya sedang menggalang dana dan dapur umum untuk korban banjir di Vila Nusa Indah. Spontan ayah saya mengajak kami sekeluarga.

Seharian itu hujan tidak menghampiri, namun di Bogor hujan tak kunjung berhenti. Begitu jam 4 sore, saya mengajak keluarga untuk gereja awal tahun. Namun karena suasana masih hujan, saya izin kepada ayah saya agar saya pergi sendiri ke gereja. Nah, karena tidak ada gereja jam 6 sore di sekitar rumah kami yakni Paroki MBSB maupun Gereja Katolik Servatius Kampung Sawah, ataupun Gereja Katolik Bartolomeus di Galaxy, maka saya melancong ke Gereja Mikael di Kranji.

Saat itu gereja mati lampu, umat harus menunggu genset sebelum misa dimulai. Ternyata di bagian belakang gereja yang berbentuk agak lembah memang sedang banjir.

Ibadah misa selesai sekitar jam 19.30 WIB. Saya langsung melancong kembali ke rumah, sebab harus mengirim sedikit tambahan berita untuk halaman 1. Namun sudah 3 ojeg yang saya pesan terpaksa cancel karena terlampau macet. Padahal di sekitar jalanan saya menunggu arus sangat sepi, disertai mati lampu. Saya jadi bingung dan saya menangis karena cemas. Sudah satu jam menanti, di Pasar Kranji Baru saya tak kunjung dapat angkutan. Adik saya pun yang membantu saya namun katanya tetap di-cancel.

Adik saya lalu mengirim pesan bahwa rumah kebanjiran. Wah, saya tak bisa menunggu abang ojek yang entah kapan akan tiba. Apa pun yang lewat depan mata saya harus naik. Untung saja, angkotan jurusan Kranji - Galaxy lewat, langsung saja saya naik dan minta diturunkan di Galaxy, depan Kecamatan yang ada Pangkalan Ojeknya.

Untung saja, abang Ojek di Pangkalan mau mengantarkan saya ke rumah. Padahal semua jalanan sudah ditutup, baik yang lewat di Kemang IFI, Pondok Gede Permai, dan Vila Nusa Indah. Komsen-Jatiasih macet luar biasa.

Bapak saya juga mengirim pesan saya tak perlu masuk ke rumah. Katanya saya disuruh menunggu di gerbang kompleks saja. Siapa disangka, setibanya saya di jembatan antara rumah saya, Vila Mahkota Pesona, dan Puri Nusapala, air sudah sejajar dengan jembatan. Tanggul di dua perumahan itu jebol sekitar pukul 21.00 WIB. Dalam hitungan menit, air sudah sepinggang, dan arus sangat kencang.

Mau tak mau, saya harus menyeberangi jembatan untuk bisa sampai di gerbang kompleks rumah. Ketika saya hendak menyeberang saya dilarang jalan sendiri karena arus begitu kencang. Mau tak mau saya harus bergandengan dengan 6 mas-mas untuk menyeberang sampai ke komplek.

Hal pertama yang terlintas dalam benak saya ketika hendak menyebrang arus adalah, "Hai banjir kita ketemu lagi. Sudah 10 tahun sejak lulus dari SMA Tarakanita saya tidak ngobok dan tidak nyebrang arus yang deras. Mari bersua." Uraian doa, "Dalam Nama Yesus" dan "Bismillah" terucap dari mulut kami, 7 orang yang hendak menyebrang arus menemui keluarga mereka. Arusnya memang deras sekali karena arus sungai menyatu di jalan. Ini jauh lebih deras dari yang biasa saya lalui di Tarakanita dulu.

Saya hanya bisa terpana melihat di depan komplek banjir sudah setinggi dada. Tim SAR melarang saya masuk. Tim tersedia di tengah malam itu sangat sedikit. Cuma sekitar 6 kapal karet. Tim SAR meminta data orang yang masih dalam rumah, saya pun ikut mengantri, namun nama keluarga saya di urutan terakhir karena rumah kami jauh dari sungai.

"Maaf ya bapak-ibu, satu-satu ya. Kami utamakan yang di pinggir sungai dulu. Yang udah seatap, di daerah belakang itu juga ada yang digigit ular belum kami evakuasi."

Saya menghela nafas, menangis, bingung. Merasa sendirian ditengah ratusan orang. Saya serahkan nasib adik saya, ibu saya, ayah saya dalam berkat Tuhan saja. Untuk pertama kalinya merasa bersalah dan pasrah.

Tiba-tiba saya bertemu Om Doni, salah satu umat lingkungan Santa Monika.

"Loh Gloria, nggak bisa masuk ya?"
"Iya Om. Mama, Papa, Adek masih di dalam."
"Yaudah gapapa, Om juga ga bisa masuk rumah. Pasrah saja. Kamu ke rumah Bu Florentina aja, di kampung atas. Ngungsi dulu disitu. Ada tante Eli sama Andah disana."

Dengan modal sendal tinggal sebelah karena hanyut saat menerjang arus, saya ke rumah Bu Florentina dan Pak Henry, salah satu umat lingkungan kami di kampung Bojong Kulur. Rumah keluarga ini ada di bukit, jadi tidak terkena banjir.

Saya menghabiskan malam bersama beberapa umat lingkungan yang terjebak banjir. Saya diminta jangan panik meskipun arus sangat deras dan Tim SAR pun mulai sulit menerjang untuk evakuasi warga.

Adik saya mengirim pesan, bahwa banjir sudah sepinggang orang dewasa. Mobil Xenia bapak bisa diselamatkan, tapi mobil Ayla kami terendam. Anjing kami Mas Bradley selamat, meski sempat kecemplung banjir namun dia bisa berenang.

Malam itu sangat menakutkan, kata adik saya. Tetangga kami banyak yang teriak-teriak minta pertolongan evakuasi. Apalagi rumah mereka tidak bertingkat. Syukurlah keluarga saya masih bisa mengungsi di lantai 2.

Malam itu malam yang berat bagi kami, adik saya berdoa agar tidak sakit hernia selama melakukan evakuasi. Adik saya juga sangat cepat tanggap dalam mendampingi orangtua kami dan membereskan rumah. Saya sangat bangga kepada adik saya. Lalu si periang ini malah berkelakar...

"Iyalah gue kan anak Tarki, udah berkali-kali alami banjir dan evakuasi. Masak gak cepat tanggap sih?"

Saya dan beberapa umat dijamu dengan baik oleh keluarga Pak Henry. Hujan masih turun, saya berdoa agar matahari lekas muncul. Semoga banjir lekas surut. Namun biarlah penyelenggaraan ilahi bekerja atas kami.

Hujan tengah malam 1 Januari 2020 adalah salah satu malam yang tidak akan saya lupakan. Ibu Florentina dan Pak Henry menyediakan mie rebus untuk sesama umat Lingkungan Santa Monika yang terjebak banjir. Tiba-tiba, adik saya mengirim pesan lagi.

"Kak, tolong kasih tahu SAR di depan, tetangga kita pada teriak-teriak tolong dievakuasi. Disini gelap banget. Serem kak. Kasihan mereka."

Saya spontan panik dan bangkit berdiri mau kembali ke pos tim SAR, namun Om Doni dan Om Rio mencegah saya.

"Gloria, tadi kan Om Rio ikut SAR gak bisa tembus. Arusnya terlalu kencang. Kamu suruh keluargamu tenang aja dulu." kata Om Doni kepada saya.

"Iya Om, kasihan itu tetangga saya Om. Satu jalan, seRT belum ada yg dievakuasi. Banjirnya sudah masuk rumah semua. Kasihan yang rumahnya gak tingkat. Malam-malam kehujanan di loteng."

"Iya, Om tahu Gloria. Tapi gak bisa ditembus airnya. Tim SAR aja ga bisa. Kamu minta keluarga dan tetanggamu saling menenangkan diri. Kita harus yakin airnya lekas surut ya."

Malam itu saya tidur dengan sangat tidak tenang. Waswas menjadi salah satu perasaan saya. Meski sudah minum setengah cangkir Amer dari Pak Henry saya masih belum tenang.

Pagi hari, 2 Januari 2020 sekitar pukul 05.30 WIB, Om Doni dan Om Rio membangunkan kami. Katanya air sudah mulai surut jadi kami bisa kembali ke rumah masing-masing.

Kami lalu melangkah menuju gerbang perumahan. Disana saya langsung berjumpa dengan ayah saya, dan spontan saya lari dan memeluk ayah saya.

Kami berdua kembali ke rumah dan menemukan rumah kami yang sudah dalam keadaan kacau. Meja televisi sudah pindah ke ruang tamu. Kursi makan sudah terbalik bahkan ada yang nyasar nongkrong di tangga. Sofa di ruang tamu posisinya udah amburadul jungkir balik. Lantai rumah yang biasanya putih jadi lumpur dekil dan tentu saja bau. Mobil Ayla saya sudah jelas jadi belang coklat-hitam.

Perasaan saya sudah langsung "ya sudah ikhlas." Lalu saya naik ke lantai dua menemukan ibu dan adik saya di kamar, mereka baru bisa tidur jam 4 pagi, ketika air banjir mulai surut. Saya menemukan anjing saya, Bradley, mukanya lemas abis shock kecemplung. Dia tidak menggonggong dan terbaring di depan kamar. Seolah dia tahu kami serumah sedang terkena musibah, dia tidak meloncat kegirangan menyambut saya malah memasang muka sedih dan memelas.

Saya juga baru sadar, banjir besar sukses merobohkan pagar rumah saya. Untung saja dia hanya hanyut sampai di depan rumah tetangga, gak kebayang kalau pagar itu hanyut entah kemana.

Saya langsung berinisiatif mengambil serokan dan mendorong lumpur dari dapur, kamar tidur, ruang keluarga dan ruang tamu ke teras. Sekali diserok tak cukup, mesti diserok dua sampai tiga kali, belum cukup. Plus karbol saja masih kurang, butuh kaporit.

Sepanjang membersihkan lantai, saya menemukan banyak sampah plastik yang dibawa arus banjir. Kekesalan saya muncul bukan hanya kepada pemangku kebijakan yang tidak punya amanah ekologis. Saya juga kesal pada pola konsumsi berlebih yang tidak bijaksana khususnya dalam masalah penggunaan plastik.

Banjir perdana yang kami sekeluarga rasakan murni adalah banjir kiriman. Ini bukti dari amburadulnya pembangunan kita. Atas nama pertumbuhan ekonomi, keseimbangan alam diabaikan. Pemda yang satu menuding Pemda yang lain, padahal dua-duanya sama-sama bermental rente yang tidak punya program apalagi kesadaran soal ekosistem dan keseimbangan pembangunan. Iya, saya mulai sadar dengan banjir yang menerpa banyak lokasi untuk pertama kali menandakan perubahan iklim bukan mitos. Perubahan iklim itu nyata, dan saya semakin menciut merasa tidak ada tempat yang aman lagi. Apalagi, punya wakil dan pemimpin yang juga tidak memiliki visi soal penanganan perubahan iklim, baik di pusat maupun daerah. Lelah.

Atas sejumlah alasan tersebut, saya jadi malas membuka media sosial dan melihat adu mulut netizen. Baik yang mengaku social justice warrior, pendukung rezim, ataupun golongan oposisi. Tidak semua dari yang berkomentar saya lihat punya 'pemahaman pada suasana batin korban' saat itu.

Cukup lama saya beres-beres, hingga tak sanggup lagi ditambah belum makan sama sekali, adik saya memberi usul coba minta bantuan pembantuku(dot)id lumayan ada tambahan tenaga, jauh lebih murah dibandingkan jasa bersih-bersih dari Go-Clean. Datanglah dua mbak sudah seperti malaikat membantu saya dan adik saya bebenah rumah. Dalam kurun waktu 4 jam saja, rumah sudah kembali kinclong. Fiuhhh terima kasih banget Mbak Eka dan Mbak Nirmala.

Malam hari, karena seharian bekerja dan badan masih lengket air banjir mau tak mau kami harus mandi. Sayangnya listrik masih mati dan kami kekurangan air. Saya mengusulkan untuk menumpang mandi di toilet paroki kami, Gereja Maria Bunda Segala Bangsa Kota Wisata. Untung saja, di gereja ada Posko Banjir dari OMK. Lantas Romo Ben dan Romo Nat malah mengizinkan kami sekeluarga mandi di kamar penginapan milik paroki. Lumayan ada water heater jadi bisa mandi pakai air hangat di fasilitas milik gereja.

Selama 3 hari itu kami menerima sumbangan makanan dari Paroki Maria Bunda Segala Bangsa. Kami lumayan beruntung di saat banyak tetangga kami tidak kebagian makanan sama sekali. 

Ternyata begini kalau jadi korban banjir, makanan susah, dan yang namanya bantuan tidak pernah dibagi merata. Bingung juga jadinya padahal postingan sumbangan banyak sekali namun dibagi tak kepada semua pengungsi ataupun yang di rumah.

Sebagai korban banjir kini saya sadar kebutuhan pengungsi bukan hanya makanan atau perlengkapan mandi, namun ada beberapa yang kerap abai misalnya pembalut wanita dan popok bayi. Selain itu bagi yang sedang membersihkan rumah, percayalah, kalau banjir dari kaporit, karbon, sapu, serokan, kain pel, mendadak habis. Yap, demand terlampau tinggi dan supply terbatas.

Sementara itu berkaca dari keterbatasan tim SAR dan tenaga medis, saya baru sadar ternyata masih sedikit sekali tenaga atau SDM pada bidang penanggulangan bencana. Padahal selain banjir, gempa bumi di wilayah cincin api selalu mengintai kita.

Kami masih punya agenda harus membereskan buku-buku dan baju-baju. Menurut adik saya, buku-buku kami adalah barang yang diutamakan untuk dievakuasi. Syukurlah buku kami semua aman, begitu pula barang elektronik seperti TV dan magic jar. Saya bersyukur dan berterima kasih pada adik saya dan Bapak yang responsif pada barang-barang tersebut.

Berkat banjir ini kami jadi tahu, ada banyak barang kami yang bisa disumbangkan agar tak banyak memenuhi isi rumah. Saya merefleksikan ini sebagai tanda agar untuk menjaga iklim, hidup minimalis harus segera dicanangkan. Pola konsumsi yang bijaksana harus diterapkan.

Berkat banjir ini, kami juga jadi tidur satu kamar. Sudah tidak pernah saya tidur bareng orangtua dan kini harus tidur bersama. Setiap malam kami berdoa bersama, sebab saya percaya 'family who prays together, stays together.'

Saya banyak merefleksikan banjir ini sebagai ajakan Tuhan atau penyelenggaraan Ilahi atas masa depan saya. Banjir ini memberi saya keyakinan bahwa hidup berkeluarga itu sangat menyenangkan, apalagi bisa berbagi dengan sesama yang membutuhkan. Banjir juga membangun sebuah keyakinan atas apa yang harus saya perjuangkan di masa depan.

Banjir di Jatiasih bagi saya adalah penyelenggaraan Ilahi dan ada jejak Tuhan dalam pengalaman-pengalaman itu. Ada pengajaran dari Tuhan secara implisit, soal pentingnya kita berpikir tentang janji politik kepala daerah soal alam dan perubahan iklim, ketimbang soal semata kesejahteraan apalagi agama. Meminjam status sejumlah kawan di Facebook, bahwa siklus alam tidak mengenal wilayah administratif, dan banjir yang masuk tidak pernah bertanya apa agama si empunya rumah.

Awal tahun, saya diajak Tuhan keluar dari zona nyaman. Semoga kejutan-kejutan lain yang Allah berikan, siap saya terima dan saya jalani sesuai kehendakNya.

Akhir kata, terima kasih Tuhan, satu permintaanku telah Kau kabulkan soal "Bagaimana Memahami Suasana Batin" dimulai dari korban banjir. 

Terima kasih juga untuk semua orang yang membantu kami; terutama umat paroki Gereja Maria Bunda Segala Bangsa, Kota Wisata, Lingkungan Santa Monika, segenap warga Vila Mahkota Pesona, tim SAR dan tenaga medis, petugas bengkel mobil dan semua yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu.