Sambil menikmati sejuknya pagi dan rintik-rintik hujan yang ritmis, saya mencoba membuka Facebook. Biasalah, aktivitas generasi digital, tiada hari tanpa Facebook. “Aku ber-Facebook maka aku ada.” Tiba-tiba saya menjumpai di timeline recent updates; status om Felix Siauw yang berbunyi:

“Tanggal 3 Maret 1924 (28 Rajab 1342H) adalah tanggal yang meninggalkan luka menganga bagi umat Islam. Pasalnya, pada tanggal itu, Khilafah Islamiyah secara resmi dibubarkan oleh Mustafa Kamal, seorang antek Inggris keturunan Yahudi.”

“Hanya dengan Khilafah, penderitaan umat akan berakhir dan kehormatannya akan terjaga. Hanya dengan Khilafah, seluruh syariat Islam akan dapat diterapkan dengan sempurna.”

Dari cuplikan statusnya itu, kita bisa menarik dua hal: Pertama, begitu bencinya om Felix kepada “Attaturk”. Kedua, kuatnya hasrat dan keyakinan om Felix bahwa Khilafah adalah solusi bagi seluruh permasalahan umat Islam. 

Selepas membaca status itu, saya menutup kembali Facebook dan mencoba merenungi tausiahnya om Felix itu.  

Sambil berbaring melanjutkan permenungan itu, tiba-tiba mata saya tertuju pada buku “Di Bawah Bendera Revolusi Jilid I” karya Soekarno. Buku ini berisi kompilasi tulisan-tulisanya tentang isu-isu perjuangan, pergerakan, politik, negara, dan kemasyarakatan, yang ditulisnya pada masa pra-kemerdekaan. 

Lalu saya mengambilnya, membuka daftar isi, tiba-tiba saya menemukan satu judul: “Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara?” Nah, menarik, pas sekali dengan tema statusnya om Felix yang di Facebook itu.  

Jika status om Felix kelihatan baper, agak lebay, dan “romantisisme” sejarah yang over dosis, serta sangat menyesali runtuhnya Kekhalifahan Turki, bahkan melebihi orang Turki sendiri, tidak demikian halnya Soekarno. Ia punya sudut pandang berbeda, khas, dan lebih berimbang ihwal sekularisme Turki.

Well, mari kita mencoba meringkas pandangan Soekarno dari artikelnya itu yang merupakan lanjutan dari tulisan Soekarno sebelumnya dalam Panji Islam No. 13 yang berjudul “Memudakan Pengertian Islam”.

Dalam pendahuluannya, Soekarno mengatakan:

Memang, sebenarnya siapa yang ingin mengetahui hal ini lebih luas, haruslah ia membaca buku-buku tentang Turki modern itu banyak-banyak: Pidato-pidato di majelis perwakilan, pidato-pidatonya Kamal Attaturk, biografinya, buku-buku tulisannya Halide Edib Hanoum, Zia Keuk Alp, bukunya Stephen Ronart; Turkey Today, bukunya Klinghardt; Anggora Kostantinopels, Frances Woodsmall; Moslem Women Enter a New World, Harold Amstrong; Turkey In travial. (DBR Jilid I, hlm. 403)            

Hayoo, kira-kira om Felix sudah baca buku-buku yang disebutkan Soekarno, belum? Kalau misalnya belum, maka bicaralah secukupnya, jangan terlalu sotoy(afwan ustaz, hanya minjem bahasa anak muda sekarang, biar gaul). 

Soekarno saja, meskipun menyebut begitu banyak referensi di atas, ia tetap rendah hati dengan mengatakan:

Hanya dengan membaca buku-buku di atas, kita yang tidak ada kesempatan datang sendiri ke negeri Turki buat mengadakan penyelidikan yang dalam dapat menyusun suatu “gambar” yang adil tentang hal-hal mengenai agama dan negara di sana itu. (DBR Jilid I, hlm.405)

Soekarno menambahkan:

Orang yang tidak datang menyelidiki Turki dan tidak membaca buku-buku mengenai Turki itu tidak mempunyailah hak untuk membicarakan soal Turki itu di muka umum. Dan lebih dari itu, ia tidak mempunyai hak untuk menjatuhkan vonis atas negeri Turki itu di muka umum. (DBR Jilid I, hlm.405.) 

Nah lho, piye, om Felix? Semoga antum mendengar nasihat dari bapak bangsa ini selaku orang tua kita, orang yang telah lama malang-melintang dan bergulat dengan isu-isu kebangsaan secara internasional. Kita tak cukup bekal untuk memvonis apa yang terjadi di Turki saat itu. Kita generasi yang terlahir belakangan dan jauh dari zaman itu.

Dan, bukankah tindakan permurtadan, tuduhan kafir terhadap seseorang itu perkara yang amat berat? Lalu bagaimana antum begitu berani menulis secara terbuka di Fanpage Facebook yang di-like jutaan orang itu dengan dengan mengatakan "murtad" kepada Attaturk? Bukankah iman itu perkara hati? 

Ya, tapi terserah antumlah. Saya yakin antum lebih tahu soal itu.

Okelah, mari kembali ke topik. Soekarno sendiri, dalam pengakuannya, mengoleksi sekitar hampir 20-an buku tentang Turki Modern. Meskipun demikian, ia tetap mengatakan: saya tidak punya hak untuk mengemukakan pendapat tentang Turki.

Oleh karena itu, ketika menulis artikelnya ini, ia mengatakan bahwa tulisannya ini hanya “sumbangan material” atau “sumbangan bahan untuk dipikirkan sahaja”, bukan untuk menghakimi, apalagi mencaci maki.

Dalam uraiannya, Soekarno menyetir pendapat Menteri Kehakiman Turki, Mahmud Essad Bey: “Agama itu perlu dimerdekakan dari belenggu pemerintah agar ia menjadi subur.” Karena ketika agama dipakai untuk memerintah, ia selalu digunakan sebagai alat penghukum oleh tangan raja-raja, orang-orang zalim yang bertangan besi.

Bahkan Attaturk sendiri mengatakan: “Saya merdekakan Islam dari ikatan negara, agar agama Islam bukan hanya menjadi agama memutar tasbih di dalam masjid saja, tapi agar menjadi satu gerakan yang membawa kepada perjuangan.”

Menurut Soekarno, sekularisasi Turki itu memiliki beberapa alasan. Pertama, posisi Turki setelah perang dunia (1914-1981) yang sangat terpuruk. Kedua, faktor ekonomi. Perilaku umat Islam di Turki tak mampu menyehatkan perekonomian. Ingat, bukan ajaran Islam-nya yang dikritik, tapi perilaku pemeluknya yang cenderung fatalis karena pengaruh ajaran-ajaran tarekat.

Ketiga, persatuan agama dan negara di Turki acap kali melahirkan dualisme -meminjam bahasa Soekarno- “Satu hal berbatin dua”. Sebagai contoh; kekhalifahan berlandaskan hukum-hukum Islam, tetapi di sisi lain, “sabda-sabda” Sultan juga menjadi aturan-aturan yang diberlakukan di dalam kehidupan masyarakat, dan tak jarang sabda tersebut tak sejalan dengan syariat.

Soekarno juga tidak menafikan motif-motif lain dari sekularisasi Turki seperti: alasan tabiat, personal, gila kebaratan, netral kepada agama, bahkan kediktatoran. Tapi, bagi Soekarno, kita harus menilai secara adil bahwa maksud pembaruan/sekularisasi Turki bukanlah untuk menindas, merugikan, mendurhakai Islam.

Attaturk hanya menghendaki Islam itu bebas dari belenggu kejumudan, bebas dari penguasa zalim yang berpikiran sempit. Attaturk juga tidak mau tindakan-tindakan urgen negara harus diatur oleh fatwa-fatwa ulama/Syakhul Islam yang membelenggu.

Oleh sebab itu, inti sari pemikiran Attaturk menurut Soekarno: “Memerdekakan Islam dari negara agar Islam bisa kuat, dan memerdekakan negara dari agama agar negara bisa kuat.”

Lalu, bukankah syariat Islam itu juga mengatur negara, dan menjadi satu dengan negara (ad-din wa-daulah)? Bagi Soekarno, dalam hal ini, sebenarnya tidak ada ijma yang bulat di kalangan para ulama. 

Soekarno mengutip pendapat salah seorang Syaikh al-Azhar, Syeikh Abdurrazik dalam kitabnya al-wa usu al-hukm yang berpendapat bahwa nabi itu hanya bermaksud menegakkan agama, tanpa bermaksud mendirikan negara. Bahkan nabi juga tidak pernah menetapkan adanya satu khalifah secara “baku” untuk mengurus negara-negara.

Oleh karena itu, menurut Soekarno, “Suatu negeri yang sudah ada demokrasi dan sistem perwakilan rakyatnya, maka rakyat dapat memasukkan segala macam 'keagamaanya' ke dalam tiap-tiap tindakan negara, undang-undang, ke dalam tiap tindakan politik, walaupun di situ agama dipisahkan dari negara.”

Bahkan seorang pribumi Turki pun sudah move-on dari isu Khilafah. Adalah Fethullah Gulen, seorang Sufi, pemikir, pemimpin gerakan sosial, berpendapat:

Dewasa ini, sistem pemerintahan yang paling rasional adalah demokrasi. Meskipun demokrasi masih harus diperbaiki di sana-sini, kecenderungan Islam politik adalah hanya sebuah bentuk pembajakan atas nama Islam, padahal untuk kepentingan golongan.

Om Felix, paham, jelas? Masih mau memperjuangkan khilafah? Ayo, please dong move on, sebagaimana nasihat-nasihat bijak antum mengajak "ABG-ABG GALAU" macam saya ini untuk move on dari mantan pacar. Kata orang, "yang lalu biarkan berlalu, mari buka lembaran baru"; begitu, bukan? Karena menegakkan kembali khilafah itu teramat sulit- kalau tidak mau dikatakan utopis-.

Bayangkan bagaimana susahnya membangun kembali otoritas tunggal di antara negara-negara bangsa dan kerajaan yang berpenduduk muslim di berbagai belahan dunia saat ini. Oleh karena itu, bukankah lebih baik berpartsipasi secara sehat untuk memperbaiki demokrasi merupakan sesuatu yang lebih realistis? 

Eh, ternyata jadi serius dan panjang juga ya artikel ini. Ah, sudahlah, cukup sampai di sini. Silakan baca sendiri secara lengkap di DBR jilid I. Setelah itu, para pembaca yang budiman bebas memilih: mau percaya Soekarno sang Founding Father Endonesia atau Om Felix Siauw sang Pengusung Khilafah yang tinggal di Endonesia. Monggo, tentukan pilihamu!

Pesan moral dari artikel Soekarno adalah: jangan karena kebencianmu terhadap suatu kaum menyebabkan kamu berlaku tidak adil kepada mereka. Dan janganlah banyak “bicara” jikalau pengetahuanmu tentang sesuatu itu masih sangat terbatas. Pesan ini terutama buat saya pribadi!

Oh ya, sebelum menutup "tulisan" sederhana ini, dengan segala hormat, saya mohon maaf kepada ustaz Felix Siauw, mungkin ada silap-silap kata. Dan, setelah ini, saya akan tetap setia menjadi "liker Fanpage Facebook" antum, agar tetap bisa membaca upadate-update status antum. 

Meskipun saya tak selalu sepakat, tapi bukan berarti benci. Ini cuma soal perbedaan sudut pandang. Itu saja. Syukron, ustaz.