Sepulang berenang saya membeli sebotol air dingin dari sebuah warung untuk menghilangkan rasa haus yang meronta-ronta di bagian tenggorokan. Di samping membeli air minum, saya juga membeli beberapa makanan untuk menyudahi pembrontakan rasa lapar yang terjadi selepas saya berenang. 

Setelah makan dan minum saya merasakan rasa kenyang yang luar biasa. Hampir satu jam setengah saya berenang. Dan setelah makan, rasanya waktu istirahat saya akan terasa nyaman.

Air yang saya beli dari warung tadi adalah air dingin. Dengan bentuknya yang khas—dan dengan dampak-dampak tertentu yang dihasilkannya—air dingin yang saya beli itu bisa dibilang sebagai air dingin secara aktual (bilfi’il). 

Tapi, kalau saya campur dia dengan sebungkus indomie, kemudian saya panaskan keduanya di atas kompor, otomatis air itu akan berubah menjadi air panas. Dan warnanya pun sudah pasti akan berubah menjadi warna kuning seperti indomie. 

Itu artinya, air dingin yang saya beli dari warung itu punya ketersiapan untuk menjadi air panas. Dan itulah sebenarnya yang dimaksud dengan istilah potensi (al-Quwwah) dalam filsafat Aristotelian.

Dari sini saya bisa mengatakan bahwa kendatipun air yang saya beli itu adalah air dingin secara aktual (bilfi’il/actually), tapi dia juga bisa dikatakan sebagai air panas secara potensial (bilquwwah/potentially). 

Kalau air itu saya campur dengan buah mangga, misalnya, kemudian keduanya saya masukkan kedalam blender, yang terlahir bukan air dingin yang putih lagi, tetapi sudah menjadi air jus. Apakah air jus dan air putih bentuknya sama? Jelas beda. Rasanyapun sudah pasti beda. 

Dari situ saya bisa berkata bahwa meskipun air putih itu adalah air putih secara aktual (bilfi’il), tapi dia sebenarnya adalah air jus secara potensial (bilquwwah). Maksudnya “dia air jus secara potensial” ialah ia memiliki potensi dan kemungkinan untuk menjadi air jus. Sekalipun sekarang dia hanya berupa air putih.

Makanan yang saya makan juga begitu. Dia punya sisi potensial dan sisi aktual. Punya sisi potensialitas dan aktualitas. Makanan yang saya beli itu namanya thaghin. Thaghin yang ada di hadapan saya itu—dengan bentuknya yang khas—adalah thagin secara aktual (bilfi’il). Tapi bukankah dia berpotensi untuk menjadi sesuatu yang lain selain thaghin

Ya. Sangat mungkin. Kalau makanan berupa thaghin itu saya racik ulang, dengan menyertakan bahan dan bumbu-bumbu yang lain, bisa saja makanan yang tadinya thaghin itu berubah menjadi pasta, misalnya. Atau Pizza. Atau apa saja. Sehingga dia tidak menjadi thaghin lagi. Artinya, dia memang thaghin secara aktual, tapi dia bisa kita katakan sebagai pasta secara potensial. Maksudnya pasta secara potensial ialah dia dimungkinkan untuk menjadi pasta.

Sekarang saya duduk di hadapan laptop sambil menulis. Artinya, dengan posisi seperti ini, Anda bisa mengatakan saya duduk secara aktual (bilfi’il). Tapi, kalau beberapa menit lagi azan isya berkumandang, kemudian saya ikut salat berjamaah di masjid, tentu posisi saya tidak duduk lagi. Kalau salat, saya sudah pasti dalam keadaan berdiri. 

Itu artinya, ketika saya dikatakan duduk secara aktual, saya juga bisa dikatakan berdiri secara potensial. Maksudnya saya berpotensi untuk berdiri. Dan ketika saya benar-benar berdiri, maka Anda bisa mengatakan saya berdiri secara aktual, bukan potensial lagi. Karena ketika itu saya sudah benar-benar berdiri.

Saya kira itulah cara termudah untuk memahami istilah potensi dan aksi dalam filsafat Aristotelian. Intinya, potensi itu ialah ketersiapan. Sementara aksi ialah perwujudan. Buku filsafat yang tadi saya baca itu, dengan bentuknya yang khas, adalah buku secara aktual. Tapi, karena dia berpotensi untuk menjadi abu, misalnya, kalau saya bakar, maka buku tersebut juga bisa saya katakan sebagai abu secara potensial.

Kalau Anda punya bayi yang baru lahir, sudah pasti bayi Anda tidak bisa berjalan. Katakanlah sekarang bayi Anda berada dalam posisi telentang. Dengan posisi tersebut, Anda bisa berkata bahwa bayi Anda telentang secara aktual. Tetapi, berhubung bayi Anda bisa berjalan ketika dia sudah beranjak dewasa, seperti manusia-manusia lainnya, maka saya bisa berkata bahwa bayi Anda itu berjalan secara potensial (bilquwaah).

Tak ada yang sulit untuk membedakan istilah potensi dan aksi dalam contoh-contoh tersebut. Intinya, sekali lagi, potensi itu ketersiapan. Sementara aksi ialah perwujudan dari ketersiapan itu. Kata al-Quwaah itu sendiri kadang dimaknai sebagai kekuatan. 

Namun, makna yang dimaksud dalam pembicaraan kita kali ini ialah “ketersiapan” materi untuk menerima bentuk tertentu (isti’dâd al-Mâddah li qabûl shûrah). Contohnya seperti air putih yang dengan air jus yang saya sebutkan tadi. Dan masih banyak contoh-contoh yang lain.

Karena yang dimaksud dengan potensi itu ialah ketersiapan materi untuk menerima bentuk tertentu, maka jelas bahwa yang namanya potensi itu yang berkaitan dengan dunia materi saja. Tidak bersinggungan dengan dunia yang non-materi. Sementara aksi sifatnya lebih luas. Dia mencakup materi dan yang non-materi. Mencakup substansi material (jauhar mâddi) dan mencakup substansi non-material (jauhar mujarrad/ghair mâddi).

Artinya di luar sana ada wujud-wujud yang bersifat aktual semata. Tidak memiliki potensi untuk menjadi apa-apa. Dan wujud-wujud itu bersifat non-materi. Contohnya seperti akal (bukan akal manusia), yang oleh para filsuf diyakini sebagai substansi non-materi baik dalam dzat maupun aktualisasinya (jauhar mujarrad dzâtan wa fi’lan). Karena dia terbebas dari materi, maka dia juga terbebas dari potensi. Karena potensi hanya berkaitan dengan materi saja.

Sesuatu bisa dikatakan ada secara aktual, atau memiliki aksi, kalau dia ada di alam luar dan bisa melahirkan dampak-dampak tertentu. Telur yang Anda masak itu adalah telur secara aktual. Mengapa dikatakan aktual? Karena dia bisa memberikan dampak tertentu. Kalau dimakan, misalnya, telur itu akan membuahkan rasa kenyang. Tapi, telur itu juga punya aspek potensialitas. Dia berpotensi untuk menjadi seeekor ayam. Manakala dia benar-benar menjadi seekor ayam, maka dia menjadi ayam secara aktual.

Nah, dalam filsafat Aristotelian, substansi yang membawa sisi potensialitas itu sering disebut dengan istilah hayûlâ/mâddah (hyle/first matter). Sedangkan substansi yang membawa aspek aktualitas sering disebut dengan istilah shûrah (form). Dan keduanya saling terkait satu sama lain. Segala sesuatu, dalam pandangan para filsuf, terangkai dari dua aspek itu, yakni hayûla (materi) dan shûrah (forma). 

Materi itu yang membawa aspek ketersiapan, sedangkan forma ialah substansi yang membawa aspek perwujudan. Bentuk khas telur itu forma. Lalu mana yang disebut materi? Ingat, materi dalam filsafat berbeda dengan materi dalam dunia sains. Juga berbeda dengan materi yang sering kita pahami, sebagai sesuatu yang bisa diraba, dilihat, dan diterka oleh pancaindera. Bukan itu materi yang dimaksud dalam filsafat Aristotelian. 

Yang dimaksud dengan materi dalam filsafat ini ialah substansi yang membawa ketersiapan tertentu, yang dalam hal ini adalah telur (bukan wujud telurnya, melainkan ketersiapannya), untuk menjadi sesuatu yang lain, yang dalam contoh tersebut saya misalkan dengan ayam. 

Karena itu, telur bisa saya katakan telur secara aktual. Tapi dia juga bisa saya katakan sebagai ayam secara potensial. Telur itu bisa dikatakan ada secara aktual karena, sekali lagi, dia bisa melahirkan dampak-dampak. Sedangkan potensi hanyalah ketersiapan yang tidak bisa melahirkan dampak apa-apa.   

Contoh lainnya seperti air yang saya beli tadi. Air tersebut dikatakan ada secara aktual (maujûd bilfi’il) karena dia bisa memberikan dampak. Kalau saya meminumnya, dia bisa menghilangkan rasa haus. Rasa haus itu dampak yang dihasilkan oleh air. Begitu juga dengan api yang bisa membakar. 

Kertas yang bisa dijadikan sebagai tempat untuk menulis. Laptop yang bisa menampilkan video. Dan contoh-contoh lainnya. Itu semua bisa dikatakan ada secara aktual karena masing-masing bisa memberikan dampak. Sementara potensi hanyalah ketersiapan. Dan karena itu dia tidak bisa melahirkan dampak. Demikian, wallahu ‘alam bisshawâb.