Penikmat Kopi Senja
1 tahun lalu · 124 view · 4 menit baca · Politik 16826_53115.jpg
https://3.bp.blogspot.com/Surat Suara Pemilu 1955

Memahami Politik Melalui Sepak Bola

Liga Politik Indonesia

Sepak bola atau bola kaki merupakan olahraga terpopuler di dunia (4 Milyar lebih penggemar), termasuk di Indonesia. Olahraga ini bisa dimainkan siapapun, dengan latar belakang agama, warna kulit, bahasa, yang berbeda bisa menjadi satu tim. Cabang olahraga ini bukan hanya mengandalkan kemampuan individu pemainnya akan tetapi kekompakan tim lebih utama. Sehebat apapun seorang pemain Sepak bola, akan tetap membutuhkan 10 teman lainnya.

http://www.totalsportek.com

Sepak bola bukan sebatas permainan fisik dan skill dalam memainkan bola. Para pemain harus paham dengan tupoksi masing-masing. Meninggalkan posisi dapat mengakibatkan kekalahan. Irama permainan antar satu pemain dengan pemain lainnya harus selaras.

Peran pelatih dalam melihat potensi pemain memiliki pengaruh besar. Pelatih harus menempatkan pemain sesuai dengan mental dan skill mereka. Pemain bermental penyerang jangan diposisikan sebagai stopper atau libero. Selain tak efektif, dapat menjadi biang kekalahan tim. 

Hal itu mirip dengan politik, setiap pemain memiliki talenta masing-masing, tugas pelatih untuk menempatkan mereka sesuai kemampuan.

Tahun 2019 Indonesia akan melaksanakan pemilu dan pilpres, harapan kita semua agar parpol dalam mencalonkan kadernya dilegislatif agar melihat kemampuan mereka bukan uang mereka. Keputusan parpol menempatkan calon legislatif akan berbanding dengan hasil legislatif. 

Data dari Global Corruption Barometer menyebutkan  Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menjadi lembaga terkorup di Indonesia pada tahun 2016 (Tribunews, 9/3/2017).

Itu artinya proses rekrutmen yang dilakukan parpol kurang ketat atau jangan-jangan parpol memang memberdayakan kader yang mampu korupsi guna mengisi pundi-pundi rupiah parpol. Political cost kita memang tergolong mahal namun penyebabnya politisi itu sendiri.

Konstituen maunya dibayar merupakan manifestasi prilaku politisi kita. Mereka sangat sering ingkar janji, tak amanah, bahkan menipu dan korupsi. Pengkhianatan terhadap konstituen dibalas dengan pemerasan konstituen terhadap politisi.

Praktik ini masih berlangsung dan akan terus berlangsung bila seorang politisi tidak belajar dari para pemain sepakbola. Mereka dibayar dan dielukan penonton, mereka seolah pahlawan yang selalu dinantikan penampilannya dilapangan.

Semakin baik permainan seorang pemain semakin mahal harganya. Demikian pula bila seorang politisi memahami apa itu politik dan fungsi politik bagi kehidupan berbangsa dan bernegara. Konstituen pastinya rela menyumbangkan tenaga bahkan materi secara ikhlas.

Barangkali untuk mencapai titik itu masih terlalu lama namun harus dimulai dari sekarang. Tahun 2019 nanti konstituen harus dididik dengan benar, para politisi harus berani jujur dalam meraih hati pemilih sehingga tidak ada lagi politik uang dalam pileg mendatang.

Bila parpol diibaratkan sebuah tim kesebelasan maka pembagian peran setiap pemain sangatlah penting. Tidak boleh ada pemain yang merasa paling top, paling hebat, super star karena akan merusak kekuatan tim.

Strategi apapun menjadi mubazir bila kekompakan tim tidak ada. Pemain belakang tak boleh iri pada pemain depan dan pemain depan tak boleh jumawa karena selalu mencetak gol. Hal ini bukan hanya berlaku bagi sepakbola dan parpol, dalam bernegara pun kita harus begitu.

Kaya dan miskin, elit dan awan, sama-sama saling membutuhkan satu sama lainnya. Bos perusahaan butuh karyawan guna menjalankan perusahaan dan sebaliknya pun demikian. Hanya Tuhan yang tidak butuh manusia walaupun sebaliknya manusia sangat butuh Tuhan.

Kehidupan kita saling bergantung satu sama lainnya, dalam politik maupun sepakbola pun demikian. Sehebat apapun tim sepakbola butuh penonton, tanpa penonton pertandingan ibarat latihan biasa. Politisi pun harus merasakan hal yang sama, politisi butuh konstituen dan sebaliknya pun demikian.

Sepakbola juga mengajarkan bagaimana sebuah tim yang tangguh harus konsisten sepanjang permainan dan musim. Konsistensi merupakan barang mahal, tidak semua orang mampu konsisten. Bangsa ini pun mengidap inkonsistensi dalam perjalanannya.

Sama halnya ketika politisi menjual program saat kampanye namun tidak benar-benar melakukan apa yang sudah dijanjikan. Inkonsistensi bukan hanya penyakit pada politisi, kita pun kerap melakukan hal yang sama. Suatu hari kita berjanji ingin Indonesia lebih baik akan tetapi tetap memilih orang yang hanya mengandalkan pencitraan, jauh panggang dari api

Kita percaya dan yakin perbedaan adalah fitrah kehidupan namun kita sangat senang mencari-cari perbedaan. Masih banyak lagi inkonsistensi yang kita lakukan sehingga sebagai negara kita sulit menjadi tim yang solid. Sebuah tim yang siap berkompetisi dengan negara lain dalam segala bidang kehidupan.

Permainan sepakbola juga dapat memberi gambaran bagaimana pentingnya politik mengatur ritme. Ada kalanya menyerang, ada kalanya bertahan, kadang bermain cepat dan kadang menurunkan tempo.

Sepakbola dan politik memiliki kesamaan dalam menghadang laju serangan lawan. Itulah sebabnya wasit menyediakan kartu kuning dan merah. Baru-baru ini kabarnya Presiden Jokowi diganjar kartu kuning oleh mahasiswa.

Polemik pun terjadi, ada yang mendukung dan tak sedikit pula yang menolak kartu kuning. Kontroversial dalam permainan sepakbola juga sering terjadi, terkadang seorang pemain berpura-pura dilanggar pemain lawan agar mendapat hadiah pinalti, tendangan bebas atau sekedar memancing emosi lawan.

Sebagai manusia biasa, wasit bisa saja salah demikian pula dengan mahasiswa. Satu hal yang pasti, pemain yang sudah terkena kartu kuning rawan dikeluarkan wasit bila mendapat akumulasi kartu atau langsung kartu merah diberikan wasit.

Menurut pandangan saya, Jokowi dan pendukungnya tak perlu bereaksi berlebihan dengan pemberian kartu kuning. Lebih bijak bila melakukan evaluasi diri, lebih baik dikartu kuningkan mahasiswa dari pada langsung dikartu merahkan rakyat.

Ibarat permainan sepakbola, reaksi berlebihan malah dapat diberikannya kartu tambahan. Penonton butuh kerjasama tim bukan ajang unjuk kekuatan yang tak sportif. Soeharto tidak pernah diberikan kartu kuning akan tetapi langsung kartu merah.

Belajar dari sejarah itu bagus untuk kesehatan jiwa, Al-Qur'an, Injil, dan kitab agama-agama kontennya juga tentang peristiwa masa lalu. Hanya orang-orang yang berpikir yang dapat menemukan pelajaran penting dari masa lalu.

Mari belajar politik dari sepakbola