Menurut UNESCO, anak memiliki dua hak yang harus dipenuhi, yaitu hak untuk hidup dan hak mendapat jaminan kesehatan dan setiap anak berhak dengan standar hidup yang cukup untuk memenuhi kebutuhan fisik dan mental

Kebutuhan fisik yang dimaksud adalah untuk memenuhi kebutuhan gizi yang menunjang perkembangan fisiknya. Sedangkan kesehatan mental bagi anak adalah kasih sayang keluarga, rasa percaya diri, dan perlindungan dari lingkungan sekitar.

Anak usia dini merupakan individu yang memiliki karakteristik unik sesuai dengan tahap perkembangannya. Usia dini disebut juga dengan masa keemasan (golden age) di mana stimulus seluruh perkembangan anak berperan penting bagi pertumbuhan dan perkembangan fisik dan psikologisnya.

Dalam konteks psikologi perkembangan, bahwa masa usia 0-8 tahun periode dengan perkembangan otak yang cepat sehingga memudahkan untuk menyerap beragam informasi yang berarti anak memiliki peluang lebih besar untuk mencapai potensi maksimalnya.

Seperti yang kita pahami bersama, waktu akan terus berjalan. Segala entitas makhluk akan berputar dan tergantikan. Maka, untuk mempersiapkan generasi masa depan, anak harus diberikan perhatian. Sebab yang kita temukan di lapangan, anak-anak hanya dibesarkan oleh lingkungan di mana orangtua absen memberi perhatian terhadap perkembangan anak.

Penghambat Perkembangan Psikologis Anak 

Ada beberapa hal yang menghambat perkembangan psikologis anak. Dalam psikologi, dijelaskan bahwa memanjakan anak adalah perilaku tidak baik bagi perkembangan kepribadian anak. Sikap memanjakan anak dapat terlihat dari pemuasan kebutuhan anak secara berlebihan.

Sikap orangtua yang memanjakan anak secara berlebihan akan berdampak pada ketergantungan, ego mementingkan keinginan diri sendiri. Memanjakan anak juga akan mengubur potensi anak, sebab anak yang dimanja selalu mendapatkan kesenangan dan kepuasan. Akibatnya, anak akan tumbuh dengan pribadi yang lemah dan ketergantungan terhadap orang lain.

Selain itu, faktor orangtua tidak menyadari bahwa sesungguhnya anak memiliki sensitivitas atau kepekaan terhadap reaksi orangtua. Apabila orangtua memberi respons kurang baik, maka anak akan bereaksi. 

Misalnya, membandingkan kemampuan, pribadi, dan penampilan anak dengan anak lainnya. Bahkan, kadang-kadang orangtua memaksa anak untuk menjadi yang terbaik sementara potensi anak terbatas. Maka reaksi anak adalah sikap malas dan tidak menuruti orangtuanya.

Kekerasan terhadap anak juga disinyalir menjadi penyebab dan bahkan merusak perkembangan psikologis pada anak. Tindakan kekerasan yang dilakukan orangtua kepada anak akan merugikan perkembangannya. 

Tindakan kekerasan ini tidak selalu berupa kekerasan fisik; pukulan dan hukuman lain yang menyebabkan anak cacat, tetapi kekerasan dapat pula berupa kekerasan mental, seperti membentak dan mengancam, memanggil anak dengan kasar. Hal ini memiliki efek psikologis jangka panjang bagi anak. Meskipun secara hukum belum dapat dikatakan sebagai tindakan kekerasan terhadap anak.

Membentuk Kepribadian Anak

Berpikir moral adalah menjunjung tinggi dan membela nilai-nilai kemanusiaan berlandaskan pada prinsip. Oleh karenanya, membentuk kepribadian anak harus bersumber pada prinsip moralitas, yaitu kemerdekaan, kesamaan, dan saling menerima. 

Artinya, apa pun yang dipikirkan dan dilakukan orangtua di rumah dalam interaksi dan komunikasinya, harus dikembalikan pada nilai moralitas itu sendiri. Sebab, orangtua terlebih dahulu benar-benar memahami dan mampu menerapkan prinsip moral itu sendiri.

Selain prinsip moralitas, orangtua disarankan menjalin hubungan baik dengan anak. Menurut Rankel, orangtua harus mengenal anaknya. Bahkan, dituntut memberitahu 5 hingga 10 kali pada anak sebagai reaksi perhatian orangtua terhadap anak. Wujud dari hubungan baik anak dan orangtua secara sederhana dengan membiasakan makan malam, menikmati kebersamaan, dan membuat anak merasa lebih istimewa.

Selain faktor prinsip moral dan relasi yang baik dengan orangtua, lingkungan juga berkontribusi besar terhadap baik buruknya perkembangan psikologis anak. Maka, orangtua wajib memberikan lingkungan yang baik terhadap anaknya. Sebab, lingkungan yang baik sangat membantu perkembangan otak anak. Dalam hal ini, orangtua dituntut memahami efek warna pada otak anak, seperti warna hijau dan warna terang yang menyenangkan bagi anak.

Selain lingkungan luar, orangtua juga harus memastikan dan menyediakan lingkungan positif dalam rumah. Rumah harus selalu aman dan baik secara fisik, psikologis, dan terbebas dari ancaman. Senyum, tawa, hubungan yang akrab, dan rasa memiliki harus melekat dalam interaksi sehari-hari bahkan ketika orangtua bicara dengan anak yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan anak.

Lingkungan dalam rumah adalah ketika orangtua memberi dorongan agar anak-anak terus belajar tanpa memaksa mereka. Cara ini berguna untuk meningkatkan motivasi belajar anak bahwa belajar adalah sesuatu yang menyenangkan tanpa dipaksa. Misalnya, dengan cara membiarkan anak untuk menentukan pilihan tugas yang menurut anak paling mudah diselesaikan.

Terkait dengan motivasi anak, hal yang perlu dipahami adalah bagaimana meningkatkan motivasi pada anak. Umumnya, anak yang cerdas memiliki tingkat aktivitas yang tinggi, banyak bergerak, dan keingintahuan yang tinggi. 

Jika anak sudah menemukan sesuatu yang menarik, ia akan fokus pada objek tersebut meskipun anak mengalami kesulitan untuk menguasai salah satu atau dua objek sekaligus. Oleh karena itu, orangtua perlu membantu anak meningkatkan motivasi anak dengan kapasitas yang dimiliki dengan cara; anak tetap antusias mengerjakan kegiatannya, menyediakan tempat yang kondusif, dan dampingi anak hingga menyelesaikan tugas-tugasnya.