Segala yang terjadi di alam semesta ini sudah menjadi ketetapan sang pencipta. Allah telah menetapkan takdir semua ciptaan-Nya. Tetapi, bagi manusia, Allah memberi keistimewaan freewill untuk menentukan nasibnya.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, perdebatan tentang takdir cukup sering muncul di media sosial maupun media mainstream. Ada yang mengatakan bahwa virus ini muncul atas kehendak Yang Maha Kuasa sehingga kita tidak bisa lari darinya. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa ini adalah ulah sekelompok elit yang sengaja memanfaatkannya seperti dalam teori konspirasi.

Bahkan ada yang mengatakan bahwa kita tidak perlu takut sama virus. Kalau kita berkumpul dalam suatu majelis ilmu dan terkena virus, berarti itu sudah takdir Allah.

“Manusia sekarang banyak yang lebih takut kepada virus daripada Allah,” kata seorang teman suatu waktu.

Tentu semua pernyataan dan pendapat di atas tidak salah. Semuanya benar, bagi mereka yang mengatakan dan meyakininya benar.

Saya meyakini semua yang terjadi di alam raya ini adalah takdir Allah. Sudah menjadi ketetapan-Nya. Munculnya Covid-19, mereka yang terpapar, jumlah yang meninggal dan sembuh. Bahkan mereka yang berbeda pendapat sekalipun, sudah menjadi kehendak Allah.

Hanya saja, saya merasa perlu belajar lebih banyak lagi bagaimana memahami takdir Allah. Mungkin saja takdir yang saya pahami selama ini masih banyak yang keliru. Semoga dengan berbagi pengetahuan dalam tullisan ini, bisa mendapat nasihat dan masukan dalam menyempurnakan pemahaman saya.

Baiklah, dalam KBBI, takdir berarti ketetapan Tuhan. Sementara Quraish Shihab menafsirkan takdir sebagai ukuran, kadar, serta urutan yang ditetapkan Tuhan.

Kita tidak bisa keluar dari takdir Tuhan, namun kita dapat memilihnya. Kita dapat memilih takdir-Nya melalui usaha dan doa. (quraishshihab.com)

Segala yang diciptakan Allah memiliki ukuran. Ukuran pada pergantian siang dan malam, usia, rezeki, dan seterusnya.

Bahkan hujan pun memiliki ukuran. Sehingga, setiap hujan tidak selalu banjir. Cukup untuk menyuburkan tanaman dan segala keperluan manusia di muka bumi.

Saya rasa Covid-19 ini juga seperti itu. Memiliki ukuran, dan pada waktunya akan berakhir. Seperti halnya wabah sampar pada tahun 1720, Kolera tahun 1820, dan Flu Spanyol tahun 1920. Jika kita perhatikan selama tiga abad, pandemi selalu terjadi setiap 100 tahun.

Steve Jobs pernah bilang, “you can’t connect the dots looking forward; you can only connect them looking backwards. So you have to trust that the dots will somehow connect in your future.

Jadi kita memang perlu belajar sejarah. Mempelajari peristiwa di masa lampau kemudian menghubungkan dengan masa sekarang.

Mungkin itu sebabnya, dalam Al-Quran, sangat banyak peristiwa-peristiwa di masa lampau yang diceritakan. Agar kita bisa menghubungkannya dengan kejadian sekarang. Tentu dengan cara membaca tanda-tanda alam dan belajar darinya.

Bukankah perintah pertama yang diterima oleh Nabi Muhammad saw adalah membaca? Bukan hanya sekadar membaca kitab suci, buku, apalagi status di media sosial. Tetapi yang lebih penting adalah membaca dan memahami setiap peristiwa yang diberikan Tuhan.

Dalam Islam, takdir juga disebutkan dalam rukun iman yang terakhir. Qada dan Qadar.

Fahruddin Faiz menafsirkan Qada atau sunnatullah sebagai ketetapan Allah sejak zaman azali untuk alam semesta. Ada pola di dalamnya sehingga kita bisa memprediksi takdir Allah.

Pemahaman saya tentang takdir ini, manusia diberi pilihan-pilihan dalam hidup serta kebebasan untuk memilih sesuai kehendak-Nya. Tetapi tetap dalam ukuran dan sesuai kadar yang ditetapkan Allah. Inilah yang disebut sebagai freewill.

Dengan adanya freewill, manusia bisa menentukan nasibnya sendiri. Seperti yang disebutkan dalam Al-Quran.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya dan tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS. Ar-Ra’d: 11).

Tentu dalam kebebasan memilih takdir ini, Tuhan terlebih dulu memberi pedoman dan petunjuk. Ada begitu banyak kisah masa lampau yang diceritakan dalam Al-Quran. Kisah para nabi dalam berdakwah, masalah-masalah yang dihadapi, serta azab Allah terhadap kaum-kaum yang menyekutukan-Nya. Banyak kisah yang diceritakan dalam Al-Quran, kembali terulang di masa kini.

Itulah sunnatullah. Dengan mempelajari dan memahaminya, kita bisa memprediksi takdir di masa depan.

Ketika mendung dan berawan hitam tebal misalnya, kita pasti prediksi akan turun hujan. Dan setelah hujan, kembali kita akan memprediksi akan muncul pelangi. Kemudian dalam hati para petani pasti akan senang karena berkat air hujan, tanaman mereka bisa tumbuh dengan subur.

Manusia juga bisa memprediksi kapan terjadinya gerhana bulan, gerhana matahari dan seterusnya dengan melihat tanda-tanda alam.

Di tengah pandemi ini, kita juga bisa belajar dari masa lalu. Bagaimana Khalifah Umar dalam menghadapi wabah. Menghindari daerah yang terjangkit virus bukan berarti melawan takdir. Tetapi menghindari takdir yang satu menuju takdir yang lain.

Sementara Qadar atau Qadratullah adalah ketetapan Allah sesuai dengan keinginan-Nya. Ketika Allah dengan kekuasaan-Nya mengintervensi kehidupan kita. Ketetapan ini yang tidak bisa diprediksi terjadinya.

Qadar ini berada di luar kendali manusia. Kita tidak bisa memprediksinya. Seperti mukjizat para nabi dan rasul, kiamat, dan berbagai kejadian di muka bumi yang terjadi di luar nalar manusia.

Sebagai mahasiswa Teknik Otomotif, saya menyimpulkan dengan sebuah analogi kendaraan.

Ketika mekanik di industri otomotif membuat sebuah kendaraan pasti telah menetapkan ukuran dan spesifikasi. Mulai bahan bakar, oli, onderdil, bahkan kecepatan kendaraan dalam hitungan jam.

Tapi dalam penerapannya, apalagi di Indonesia, kendaraan tersebut banyak yang dimodifikasi. Kadang menggunakan bahan bakar, onderdil, oli dan sebagainya tidak sesuai dengan spesifikasi. Ketika kita menggunakan yang tidak sesuai dengan spesifikasi, apakah kendaraan akan bertahan lama? Saya rasa tidak. Pasti berbeda jika menggunakan yang sesuai dengan ukuran dan spesifikasi.

Begitupun dengan kecepatan kendaraan. Ada yang ditentukan batas kecepatan 120, 140, bahkan 180 km/jam. Tapi apakah setiap kendaraan tersebut digunakan, mencapai batas kecepatannya?

Tentu tidak. Tergantung dari orang yang menggunakan. Ketika gas hanya diputar setengah, pasti kendaraan juga hanya berjalan pelan. Mungkin hanya 40 atau 60 km/jam.

Dari beberapa penjelasan tentang takdir, freewill, dan nasib, saya bisa menganalogikan dengan kendaraan. Takdir adalah spesifikasi dan ukuran yang telah ditentukan oleh pabrik. Freewill adalah pilihan yang digunakan konsumen. Dan nasib adalah hasil atau kejadian atas freewill yang kita lakukan.

Oleh karena itu, ada ayat dalam Al-Quran yang mengatakan bahwa nasib seseorang itu ditentukan oleh dirinya sendiri. Meskipun Tuhan telah menetapkan takdir, tetapi Dia juga memberi pedoman kepada kita dalam menyikapi takdir.

Mungkin saja apa yang saya sampaikan masih memiliki banyak kekeliruan. Allahu a’lam.