“Teman perempuan pribumi yang kasar, senang bertengkar, tidak bisa diajak bicara lebih dari dua kata, dan hanya bisa memasak daging alot serta sayuran seperti rumput yang baru diambil dari hutan oleh jongos yang malas seperempat jam sebelum makan.”

Itulah salah satu keluhan tentang Nyai yang direkam di buku Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda karya Reggie Baay ini.

Saat membaca bagian ini saya ingin sekali membalas dengan “Pardon Meneer, itu namanya gepuk dan lalap. Bukan malas masak.” Soal ketidakmampuan Meneer berbahasa Indonesia sehingga nyai tidak bisa menjadi teman berbicara, apa hendak dikata, seabad kemudian Tenaga Kerja Asing di Indonesia pun tak wajib mengerti Bahasa Indonesia. Cuma, kalau Meneer tidak tahu nama teman hidup puluhan tahun hingga memanggilnya jelema (red: orang. Bahasa Sunda) agak keterlaluan tidak sih. Masa’ menanyakan nama saja tidak bisa.

Buku yang diterjemahkan dari Bahasa Belanda ini menceritakan tentang sejarah perempuan-perempuan nusantara yang dijadikan gundik oleh laki-laki pendatang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gundik adalah istri tidak resmi atau perempuan piaraan. Perempuan-perempuan yang terlibat pergundikan ini sering dipanggil sebagai Nyai.

Buku ini merekam perkembangan kedudukan para nyai dan praktek pergundikan di Hindia Belanda dari masa ke masa. Awalnya pergundikan tidak jauh berbeda dengan pelacuran. Ia muncul dari kebutuhan raga para pegawai VOC yang merantau sendirian. Mula-mula praktik ini diizinkan oleh VOC.

Mereka hanya melarang pegawainya mengambil gundik dari Jawa untuk mengurangi risiko sabotase. Namun, karena di masa itu hubungan antar ras dianggap tidak bermoral, pergundikan pun dilarang. Untuk memenuhi kebutuhan jasmani para pegawainya, VOC mengimpor perempuan-perempuan yatim piatu dari Eropa untuk dijadikan pengantin.

Akan tetapi, mahalnya biaya mengirim calon pengantin dari Belanda membuat pemerintah VOC berubah pikiran lagi. Pergundikan kembali dilegalkan. Selain bebas ongkos kirim, biaya hidup para nyai juga lebih rendah sehingga mengurangi risiko korupsi. Nantinya saat para pegawai akan kembali ke Belanda, mereka juga tidak perlu membawa ataupun membiayai anak-anak hasil pergundikan. Menyelesaikan masalah tanpa masalah.

Awalnya para Nyai diperlakukan semena-mena. Begitu Sang Tuan memiliki cukup uang untuk mengirim pengantin dari Eropa, ia lalu mengusir sang Nyai dan anak-anak mereka.  Bahkan ada masanya memukuli gundik atau membantu orang memukuli gundik akan diwartakan di koran dengan penuh rasa bangga. Bangga karena hal itu merupakan tindakan mendidik. 

Namun, lama-kelamaan ada beberapa Tuan yang mengakui dan merawat anak-anak hasil pergundikan. Anak-anak ini akan diberi nama keluarga Si Tuan yang ditulis terbalik; misalnya Coen menjadi Neoc. Anak-anak hasil pergundikan juga disekolahkan ke Belanda karena ibunya dianggap tidak mampu mendidik mereka dengan standar pendidikan dan kesopanan Belanda. Sehingga sangat wajar di masa itu para nyai terpisah dari anak-anaknya. Beberapa nyai yang cukup beruntung diajak pindah ke Belanda atau ditinggalkan di Hindia Belanda dengan rumah serta tabungan yang cukup.

Selain di kehidupan sipil, buku ini juga menceritakan pergundikan di dunia militer. Jika di masyarakat sipil, para nyai direkrut sebagai pembantu rumah tangga dengan “tugas tambahan”, di dunia militer para nyai diwariskan dari satu tentara ke tentara lainnya. Tentara yang sudah meyelesaikan masa dinas dan kembali ke Belanda biasanya merekomendasikan gundik yang ia miliki, beserta anak-anaknya, ke tentara lain yang baru datang.

Hal ini dilakukan karena para gundik tangsi, atau moentji, sudah mengetahui kehidupan dan peraturan militer. Mentor merangkap teman tidur. Selain sebagai mentor, pergundikan di tangsi sangat dianjurkan guna menghidari penyakit kelamin yang melemahkan fisik dan membutuhkan biaya pengobatan yang cukup besar.

Dari buku ini saya jadi tahu asal muasal istilah "anak kolong" untuk anak tentara. Dulu saya kira istilah tersebut lahir karena bapak-bapak tentara bersembunyi di kolong jembatan saat berperang. Ternyata bukan. Mereka dipanggil anak kolong karena dahulu tentara-tentara KNIL tinggal bersama di bangsal yang besar dan luas. Berkeluarga ataupun lajang, mereka tidur di tempat tidur tingkat. Satu tentara difasilitasi satu tempat tidur dan anak-anak mereka tidur di kolong tempat tidur orang tuanya.

Yang paling menyedihkan adalah kehidupan gundik di daerah perkebunan-perkebunan Deli. Awalnya, perempuan-perempuan pribumi tersebut didatangkan dari Jawa sebagai buruh kontrak. Namun, para pemilik perkebunan dengan sengaja memaksa mereka melacur dengan tidak memberi pekerjaan atau memberi upah lebih rendah daripada buruh lelaki. Pelacuran di perkebunan Deli diperlukan, lagi-lagi, untuk memenuhi kebutuhan seksual para buruh lelaki dan menghilangkan perilaku seks sesama jenis.

Buruh-buruh perempuan yang naik pangkat menjadi gundik orang Belanda di perkebunan Deli, nasibnya tidak lebih baik. Beberapa catatan mengungkapan nyai-nyai ini dikurung, dipukuli sampai berdarah, disetrum, bahkan diinjak-injak saat hamil hanya karena masalah-masalah sepele seperti mengangkat sarung terlalu tinggi.

Kekurangan buku ini, menurut saya, cuma satu, ia banyak mengutip kisah-kisah fiksi sebagai salah satu sumber informasi. Alasannya sih karena kondisi yang sering diungkap di karya-karya sastra suatu zaman, kemungkinan besar menggambarkan kondisi masyarakat saat ituJadi, pembaca harus pintar-pintar mencerna suatu informasi saat membaca buku ini. Apakah pernyataan ini berdasarkan catatan perjalanan orang, berita di koran, atau novel?

Saya pikir keputusan Reggie Baay untuk memasukkan cerita-cerita sastra terpaksa dilakukan akibat sedikitnya sumber informasi mengenai pergundikan. Praktik ini dianggap memalukan sehingga tidak dibicarakan. Nasib para nyai juga tidak bisa ditelusuri karena identitas mereka dihilangkan dari akta kelahiran keturunan-keturunannya. Gundik-gundik yang diakui juga tidak bisa berbahasa Belanda sehingga kesulitan mewariskan kisahnya.

Meskipun begitu, di akhir buku penulis berhasil melengkapi buku ini dengan beberapa foto dan kisah hidup beberapa nyai. Menarik sekali melihat potret para Nyai bersama Tuan dan anak-anaknya juga membaca cerita mereka yang sebagian besar berakhir bahagia.

Judul: Nyai dan Pergundikan di Hindia Belanda

Penulis: Reggie Baay

Penerbit: Komunitas Bambu

Tahun Terbit: 2009

Jumlah Halaman: 320 halaman     


------

Suci Humaira

Pecinta buku, film, dan museum.