Sebelum saya memulai tulisan ini, saya meminta maaf kepada Anda jika tulisan ini kurang sesuai dengan sesuatu yang membuat Anda penasaran. Kali ini saya ingin membahas sesuatu yang cukup masyhur di telinga kita –khususnya pelajar dan mahasiswa—yaitu tentang nilai.

Banyak orang yang  sering mencampur-adukkan arti “nilai” secara tidak kondusif. Nilai dianggap sama dengan skor. Permasalahan tersebut bisa dirumuskan dalam beberapa pertanyaan berikut : apa maksud dari istilah nilai dan skor? Apa maksud dari istilah value dan score?

Apakah nilai sama dengan skor? Apakah kedua istilah tersebut bisa digunakan secara bersamaan? Apakah kata "nilai" dalam nilai raport tepat penggunaannya?

Menurut KBBI, nilai : (n) sifat-sifat (hal-hal) yang penting atau berguna bagi kemanusiaan ; sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya.

Sedangkan skor : (n) jumlah angka kemenangan; kedudukan atau hasil pertandingan; angka perolehan dll.  Tes (ujian, ulangan).

Dalam buku “Pengantar filsafat-Louis O Katsoff” pada bab 15, dibahas juga tentang apa yang dimaksud dengan nlai.

1. Nilai sebagai Kualitas Empiris

Kualitas ialah sesuatu yang dapat disebutkan dari suatu objek. Kualitas adalah suatu segi dari barang sesuatu yang merupakan bagian dari barang tersebut dan dapat membantu melukiskannya. Nama sesuatu kualitas dapat dipakai sebagai kata sifat. Contohnya, kuning, menunjukkan suatu kualitas—yaitu suatu warna—objek tertentu dan dapat dipakai sebagai kata sifat.

Kualitas empiris ialah kualitas yang diketahui atau dapat diketahui melalui pengalaman. Kuning merupakan kualitas empiris, artinya satu-satunya cara mengetahui kuning hanya dengan melihatnya dengan mata kepala sendiri. Sebagai kualitas empiris, kuning tidak dapat didefinisikan; tidak bisa dijelaskan bahwa begini, begitu, kecuali melihatnya langsung; kuning tidak dipulangkan kepada unsur-unsur yang lain.

2. Nilai sebagai Objek Kepentingan

Sering dijumpai orang tidak bersepakat tentang nilai. Hal ini berarti setiap nilai juga menyangkut sikap. Sikap setuju atau menentang terhadap nilai itu menunjukkan adanya kepentingan. Artinya, nilai ialah kepentingan.

Nilai sebagai objek kepentingan berarti: setiap objek yang ada dalam kenyataan maupun pikiran, yang dilakukan maupun yang dipikirkan, dapat memperoleh nilai jika pada suatu ketika berhubungan dengan subjek yang mempunyai kepentingan.

Dengan kata lain, jika seseorang mempunyai kepentingan pada suatu apa pun, maka hal tersebut mempunyai nilai. Namun ada keberatan, misalnya, jika orang tidak berkepentingan atas kesusilaan atau keadilan, apakah berarti kesusilaan atau keadilan itu tidak baik? Tentu tidak. Dalam kenyataannya, hal itu tetap bernilai, walaupun seseorang tidak berkepentingan terhadapnya.

3. Teori Pragmatis tentang Nilai

Keberatan atau penolakan atas nilai sebagai kepentingan, mengakibatkan munculnya teori pragmatis tentang nilai. Teori pragmatis memandang nilai bukan kepentingan, tetapi sebagai hasil pemberian nilai atau berhubungan dengan akibat. Nilai berpusat pada perbuatan memberi nilai. Dengan demikian, nilai terletak pada kesesuaian hubungan antara sarana dan tujuan (tindakan pragmatis).

Kedua hal ini—sarana dan tujuan—tidak terpisahkan. Memisahkan antarkeduanya dapat menyebabkan sesuatu tidak bernilai atau tidak baik.

Umpamanya, jika kita inginkan perdamaian, dapatkah dibenarkan tindakan membunuh setiap penguasa yang menginginkan perang? Apakah yang demikian ini baik?

Setiap situasi menciptakan nilai. Situasi kehidupan sehari-hari menciptakan nilai. Sehubungan dengan ini, tidak ada nilai yang abadi, yang ada hanya nilai yang berubah-ubah, tergantung pada situasi atau keadaan.

Selama penilai memajukan tujuan bersama, maka selama itu hasil penilaian dalam kehidupan tersebut benar, meskipun tidak jarang juga terjadi adanya ketidaksepakatan mengenai nilai, baik ketidaksepakatan faktual maupun ketidaksepakatan semu (keduanya menunjuk ketidaksepakatan mengenai sarana yang digunakan dan tujuan yang hendak dicapai).

4. Nilai sebagai Esensi

Jika nilai merupakan sesuatu yang diciptakan atau diinginkan, maka tentu kita dapat membuat baik menjadi buruk dan buruk menjadi baik. Ini bertentangan dengan kenyataan; bagaimanapun kita ingin membuat buruk menjadi baik, maka ia tetap buruk juga, demikian pula sebaliknya. Yang demikian ini berarti nilai yang bukan merupakan esensi.

Sesungguhnya nilai ada dalam kenyataan, namun tidak bereksistensi. Nilai haruslah merupakan esensi-esensi, yang terkandung dalam sesuatu objek atau perbuatan (forma-forma).

Sebagai esensi, nilai tidak bereksistensi, namun ada dalam kenyataan. Nilai mendasari sesuatu dan bersifat tetap. Jika berkata “Perdamaian itu bernilai,” maka ini dipahami bahwa di dalam hakekat perdamaian itu sendiri terdapat nilai yang mendasarinya.

Esensi bukan merupakan kualitas. Esensi tidak dapat ditangkap secara inderawi. Ini berarti, memahami nilai tidak sama dengan memahami warna. Jika demikian, bagaimana cara memahaminya? Nilai esensi dapat dipahami secara langsung melalui apa yang dinamakan “indera nilai,” artinya, pengetahuan nilai yang tidak bergantung pada pengalaman.

Nilai tidak mengubah apa pun di alam semesta, manusia sekadar memberi respons terhadap nilai dan berusaha mewujudkannya. Dengan demikian, jika eksistensi dikatakan dapat berubah dan mengalami perubahan, maka nilai tidak berubah dan bersifat tetap.

Nilai bukan hanya tidak bergantung pada eksistensi, melainkan juga pada jiwa. Nilai adalah bentuk yang dipunyai oleh jiwa, alam mendasari nilai, yang nyata ada dan yang abadi. Inilah yang dinamakan esensi nilai atau nilai sebagai esensi.

Apa maksud dari istilah value dan score?

Menurut oxford dictionary:

  • Value (n). 1[mass noun] The regard that something is held to deserve; the importance, worth, or usefulness of something. (Penghargaan kepada sesuatu yang pantas dihargai; kepentingan; bernilai; bermanfaat; kegunaan sesuatu).
  • Score (n): 1 The number of points, goals, runs, etc. achieved in a game or by a team or an individual. (Angka point, gol, lari dll. Pencapaian di game baik tim atau individual).

Apakah kedua istilah tersebut bisa digunakan secara bersamaan?

Dari beberapa penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa nilai adalah sesuatu yang sulit didefinisikan. Sehingga banyak para tokoh yang mencoba memberikan batas-batas pengertian tentang nilai.

Nilai tidak bisa secara mudah dinyatakan dengan angka, karena nilai bukanlah sesuatu yang bereksistensi. Nilai pun kualitasnya harus selalu bertambah.

Jikalau nilai itu pun sebagai penghargaan yang dimanifestasikan dalam angka-angka di raport, maka hal itu masih kurang tepat. Karena angka-angka di raport tersebut adalah skor ujian ataupun test dan tugas yang dirata-rata. Kemudian angka hasil rata-rata tadi dimasukkan dalam kolom yang disebut sebagai "nilai raport".

Masyarakat awam mengartikan kedua istilah tersebut dengan kata “nilai”. Keduanya memang secara sekilas terlihat berarti sama. Apalagi jika digunakan dalam percakapan sehari-hari. Keduanya seperti katak dan kodok, udang dan lobster, dan lain sebagainya.

Memang masih dimaklumi jika dalam bahasa percakapan susunan kalimatnya banyak yang agak tidak sesuai gramatika dalam berbahasa. Akan tetapi, diperhatikan juga beberapa istilah khusus yang perlu diartikan berbeda karena pejelasannya yang panjang lebar.

Kesimpulannya, kata "nilai" yang sering disebut dalam perkataan"nilai ujian, nilai raport, nilai tes" adalah kurang tepat. Kata yang paling tepat untuk pengganti kata "nilai" adalah kata "skor".