1 tahun lalu · 1311 view · 6 menit baca · Filsafat 45648_55343.jpg

Memahami Perbedaan Mafhum dengan Mashadaq
Ngaji Mantik Bag. 19

Bahasan mengenai mafhum dan mashadaq merupakan salah satu pembahasan terpenting dalam ilmu mantik. Tak hanya terserak dalam buku-buku mantik, dua istilah ini juga sering kita jumpai dalam buku-buku filsafat Islam dan juga buku-buku tauhid klasik.

Dalam pembahasan mengenai sifat Tuhan, misalnya, ulama Asyairah mengatakan bahwa sifat Allah yang berbilang itu bukan Allah, dari sudut mafhum-nya, tapi juga bukan selain Allah, dari sudut mashadaq-nya.

Dengan kata lain, sifat Allah itu bukan Allah, karena mafhum Allah dengan sifat Allah jelas berbeda. Tapi ia juga bukan selain Allah, karena sifat Allah dan Allah itu sendiri mashadaq-nya sama.

Pemahaman akan dua istilah ini pada akhirnya akan menepis kesalahpamahan bahwa konsep keberbilangan sifat itu bertentangan dengan prinsip-prinsip tauhid, seperti yang dikemukakan oleh mazhab Muktazilah.

Juga, pemahaman akan dua istilah ini dapat membantu kita untuk membedakan konsep keberbilangan sifat dalam teologi Islam, dengan konsep keberbilangan dzat yang dikenal dalam teologi Kristen, yang selama ini sering dipersamakan oleh sebagian kalangan. 

Bahasan mengenai dua istilah ini tentu erat kaitannya dengan tulisan-tulisan lalu yang menguraikan pembagian dari lafaz kulliy. Para ahli ilmu mantik menjelaskan bahwa setiap lafaz kulliy—yang sudah kita uraiakan pengertian dan contoh-contohnya itu—memiliki dua dalalah (petunjuk). Pertama, dalalah mafhum. Kedua, dalalah mashadaq.

Lantas, apa itu mafhum? Dan apa itu mashadaq? Tulisan ini akan menjelaskan dua istilah tersebut beserta contoh-contohnya.

Pengertian Mafhum dan Mashadaq

Secara kebahasaan mafhum artinya sesuatu yang dipahami dari sesuatu (ma fuhima min syai). Dari makna kebahasaan ini kita bisa mengartikan dalalah mafhum sebagai “petunjuk suatu lafaz atas makna dasar yang dipahami dari lafaz tersebut” (dalalat al-Lafzhi ‘ala ma’nahu alladzi yufhamu minhu).

Sedangkan mashadaq secara kebahasaan terangkai dari kata ma dan shadaqa. Ma artinya sesuatu, shadaqa artinya berlaku. Dengan demikian, dalalah mashadaq bisa diartikan sebagai “petunjuk suatu lafaz atas individu-individu yang kepadanya diberlakukan lafaz tersebut”.

Untuk lebih mempermudah pemahaman, kita ambil beberapa contoh sederhana sebagai berikut:

 Ada orang misalnya menyebut kata mobil di hadapan Anda. Atau suatu ketika Anda melihat mobil di pinggiran jalan. Kira-kira apa yang Anda pahami dari mobil itu? Yang biasanya kita pahami ialah: Mobil itu adalah kendaraan bermesin yang beroda empat atau lebih, yang biasanya beroperasi di jalanan, dengan bentuk, merek dan warna yang beraneka ragam. Itulah yang kita pahami dari mobil.

Nah, sesuatu yang kita pahami dari mobil itu namanya mafhum. Sedangkan individu yang tercakup oleh kata mobil—dari mulai Toyota, Ferrari, Kijang, BMW, Jaguar, Mercedes, Lamborghini, dan mobil-mobil lainnya—disebut sebagai mashadaq. Karena kata mobil berlaku (shadaqa) untuk mereka semua.

Contoh lain kata Insan. Kata insan, sebagai lafaz yang kulliy, memiliki dua sisi. Ada mafhum, dan ada mashadaq. Mafhum dari kata insan adalah apa yang kita pahami dari kata insan. Kita tahu dalam buku-buku mantik sering dikatakan bahwa insan itu adalah hayawan nathiq, atau hewan yang berpikir. Itu artinya hayawan nathiq adalah mafhum dari kata insan.

Sedangkan afrad atau individu yang tercakup oleh kata insan, seperti Paul, Mei, Nabila, Vero, Nurma, Elin, Ulfi, Ulfa, Rif’ah, dan insan-insan lainnya, disebut mashadaq. Karena kata insan berlaku bagi mereka semua secara setara.

Begitu juga dengan kata laptop. Makna yang kita pahami dari kata laptop adalah mafhum. Sedangkan individu yang tercakup oleh kata laptop, seperti laptop Samsung, Lenovo, Asus, Dell, Acer, dan laptop-laptop lainnya adalah mashadaq.

Singkatnya, pemahaman kita terhadap suatu lafaz yang universal itu namanya mafhum. Sedangkan individu yang tercakup oleh lafaz universal yang kita pahami maknanya itu disebut sebagai mashadaq

Penting dicatat bahwa mashadaq tidak selamanya juziyy, seperti contoh-contoh di atas, tapi juga bisa kulliy. Contohnya seperti kata hewan. Kata tersebut kulliy, tapi di bawahnya juga ada lafaz kulliy, seperti manusia, karena manusia merupakan individu dari kata hewan. Dengan demikian, manusia adalah mashadaq dari kata hewan. Dan dia kulliy, bukan juziyy haqiqiy.  

Juga, wujud mashadaq itu tidak diharuskan ada di alam inderawi. Selama sesuatu itu memiliki mafhum, baik itu kulliy ataupun juziyy, maka dia pasti memiliki mashadaq, baik mashadaq-nya itu ada di alam inderawi, maupun hanya ada dalam imajinasi. Contohnya seperti kata ‘adam (ketiadaan). Kata tersebut memiliki mafhum, sekaligus memiliki mashadaq. Tapi mashadaq-nya tidak ada di alam nyata.    

Intinya, mafhum itu artinya pemahaman. Sedangkan mashadaq artinya cakupan. Mafhum itu ialah makna yang kita tangkap dari sesuatu. Sedangkan mashadaq adalah cakupan dari sesuatu yang kita pahami maknanya itu.

Kaitannya dengan pembahasan mengenai sifat Tuhan tadi, kiranya sekarang kita paham mengapa ulama Asyairah berpandangan bahwa sifat Allah itu bukan Allah, secara mafhum, tapi dia juga bukan selain Allah secara mashadaq. Karena sifat Allah dan Allah memiliki mafhum yang berbeda. Tapi mashadaq atau cakupan dari Allah dan sifat Allah adalah sama, yaitu Allah.

Kesimpulannya, dalalah mafhum adalah petunjuk suatu lafaz atas makna atau sifat-sifat dasar yang dipahami dari lafaz tersebut. Sedangkan dalalah mashadaq adalah petunjuk suatu lafaz atas individu yang tercakup oleh lafaz tersebut.

Mafhum artinya pemahaman. Sedangkan mashadaq artinya cakupan. Mafhum adalah apa yang kita pahami dari sesuatu. Sedangkan mashadaq adalah individu yang tercakup oleh apa yang kita pahami itu.

Satu Kaidah yang Harus Diketahui

Ada satu kaidah yang harus kita ketahui dalam konteks hubungan antara mafhum dengan mashadaq ini. Kaidah itu berbunyi: kullama izdada al-Mafhum, qalla al-Mashadaq, wa kullama naqusha al-Mafhum, izdada al-Mashadaq (setiap kali mafhum bertambah, maka mashadaq-nya menyempit. Dan setiap kali mafhum berkurang, maka mashadaq-nya juga bertambah)

Apa maksud dari kaidah ini? Maksudnya sangat logis, yakni apabila pemahaman kita terhadap sesuatu itu bertambah, maka cakupannya juga pasti menyempit. Sebaliknya, jika pemahaman kita terhadap sesuatu itu menyempit, maka cakupannya juga pasti meluas.

Misalnya ada orang menyebut kata Universitas di hadapan Anda. Mafhum atau yang kita pahami dari kata universitas ialah suatu institusi perguruan tinggi yang memberikan gelar akademik kepada para mahasiswanya dalam berbagai bidang. Kata tersebut bersifat universal. Cakupan atau mashadaqnya juga luas karena mencakup berbagai macam universitas, baik dalam negeri maupun luar negeri.

Tapi ketika mafhumnya ditambah dengan kata Indonesia, misalnya, maka secara otomatis mashadaq-nya juga menyempit, karena ketika itu yang dimaksud hanyalah universitas yang ada di suatu negara bernama Indonesia, tidak termasuk universitas di negara lainnya.

Apalagi kalau ditambah dengan kata Islam, sehingga menjadi Universitas Islam Indonesia. Ketika itu mashadaq-nya semakin menyempit lagi, karena yang dimaksud hanyalah Universitas berbasis Islam dan letaknya hanya berada di Indonesia. Dengan demikian, universitas yang tak berlabel Islam, sekalipun berada di Indonesia, keluar dari cakupan kata tersebut.

Contoh lain kata artis. Mafhum dari kata artis ialah seniman yang mahir dalam berbagai macam seni. Kata tersebut juga bersifat universal karena ia mencakup semua artis yang ada di muka bumi ini. Tapi ketika disisipi kata Muslim/Muslimah, misalnya, sehingga menjadi artis Muslim, maka tentu cakupannya semakin menyempit, karena ketika itu artis non-muslim keluar dari lingkaran.

Mashadaq-nya akan lebih menyempit lagi kalau kita menyisipkan kata Jakarta dan kata berjilbab, sehingga menjadi “Artis Muslimah Jakarta yang berjilbab”, karena ketika itu artis Muslim di luar Jakarta dan yang tidak berjilbab tidak ikut masuk.

Begitu juga halnya dengan kata insan. Mafhum dari kata tersebut ialah hewan yang berpikir. Kata tersebut mencakup semua manusia yang tergolong jenis hewan dan mampu berpikir. Tapi ketika mafhumnya kita tambah dengan membaca, misalnya, sehingga menjadi “hewan berpikir yang mampu membaca”, tentu mashadaq-nya ketika itu mulai menyempit, karena ia tidak berlaku bagi manusia yang tidak bisa membaca.

Mashadaq-nya akan lebih menyempit lagi kalau disertai dengan kata menulis, sehingga menjadi “hewan berpikir yang mampu membaca dan menulis”, karena ketika itu yang tercakup hanyalah manusia yang pandai membaca dan menulis.   

Itulah yang dimaksud manakala mafhum sesuatu itu bertambah, maka mashadaq-nya semakin menyempit. Sebaliknya, jika suatu mafhum itu berkurang, maka mashadaqnya juga meluas.

Kesimpulannya, hubungan antara mafhum dan mashadaq adalah hubungan terbalik (‘alaqah ‘aksiyyah). Jika yang satu bertambah, maka yang lain berkurang. Dan jika yang satu berkurang, maka yang lain bertambah.