1 tahun lalu · 529 view · 6 min baca menit baca · Filsafat 48138_65936.jpg

Memahami Perbedaan Kulliy dengan Juziy

(Ngaji Mantik Bag. 14)

Dalam percakapan sehari-hari seringkali kita membaca, menyimak atau melafalkan suatu kata yang kalau kita bayangkan maknanya maka akal kita tidak mencegah adanya persekutuan dan keberbilangan, sekalipun keberbilangan tersebut hanya ada dalam bayangan.

Dengan kata lain, kata yang satu ini adalah kata yang bersifat umum. Karena dia bersifat umum, maka ia berlaku bagi setiap individu (afrâd) yang tercakup, terekat dan terikat oleh kata tersebut.  

Ada orang, misalnya, menyebut kata artis di hadapan Anda. Kira-kira apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kata itu? Saya yakin, ketika menyimak kata tersebut, akal Anda akan membayangkan nama banyak orang, karena kata tersebut bersifat umum.

Yang cewek mungkin akan membayangkan Dude Harlino, Ariel Noah, Vino G Bastian, Adipati Dolken, Herjunot Ali, Reza Rahadian, Stefan William, dan lain-lain. Yang cowok mungkin akan membayangkan Alyssa Soebandono, Natasha Rizki, Raisa, Chelsea Islan, Nina Zatulini, Isyana Sarasvati, Maudy Ayunda, Mikha Tambayong, dan lain-lain.     

Kalaupun ketika menyimak kata tersebut kepala Anda hanya tertuju pada satu artis, setidaknya Anda tahu bahwa kata tersebut berlaku bagi siapa saja yang menyandang gelar artis, baik itu artis dalam negeri, maupun artis luar negeri. Baik itu artis yang berprofesi sebagai penyanyi, maupun artis yang kerjaannya main sinetron di televisi.

Singkatnya, kata artis bersifat umum. Dengan membayangkan maknanya kita akan tahu bahwa kata tersebut berlaku bagi banyak individu, bukan hanya untuk satu individu tertentu.

Nah, dalam bahasa ilmu mantik, suatu kata yang kalau dibayangkan oleh akal tidak mencegah adanya persekutuan dan keberbilangan itu disebut dengan istilah kulliy (universal/umum). Ia dinamai kulliy karena maknanya bersifat universal, dalam arti berlaku bagi banyak individu, sekalipun keberlakuan tersebut hanya ada dalam bayangan.

Di sisi lain, kita juga sering membaca, menyimak atau melafalkan sebuah kata yang kalau kita bayangkan maknanya maka akal kita hanya akan tertuju pada sesuatu atau individu tertentu.

Dengan kata lain, ketika membayangkan kata tersebut akal kita mencegah adanya persekutuan dan keberbilangan, berbeda halnya dengan yang pertama. Mengapa? Karena kata yang kedua ini bersifat khusus. Karena ia bersifat khusus, maka ia tidak berlaku bagi sesuatu yang lain.  

Misalnya ada orang yang mengeluk-elukkan nama Raisa di hadapan Anda. “Aduh pek, gua pengen banget punya istri kaya Raisa. Udah cantik, aduhai, pintar nyanyi pula!” Ketika menyimak nama itu, saya yakin bayangan Anda akan langsung tertuju pada satu sosok yang kita kenal sebagai penyanyi terkenal bernama Raisa.

Memang tidak selamanya ketika ada orang menyebut nama Raisa lantas akal kita tertuju kepada seorang penyanyi. Tapi, yang pasti, kalau ada orang menyebut nama tersebut di hadapan Anda, pastilah yang dia maksudkan adalah satu orang tertentu yang bernama Raisa, entah dia itu artis, ustazah, pramugari, penari, penjaga kebun, dan lain sebagainya.

Dan ketika itu, akal kita mencegah adanya persekutuan atau perkumpulan sesuatu yang disatukan oleh ke-raisa-an. Mengapa? Karena yang ditunjuk oleh kata tersebut hanya ada satu, yakni orang yang bernama Raisa.

Lain halnya dengan yang pertama. Ketika disebut kata artis, maka akal kita bisa membayangkan adanya persekutuan atau perkumpulan sesuatu yang disatukan oleh ke-artis-an, yang salah satu di antaranya adalah Raisa.  

Nah, dalam bahasa ilmu mantik, lafaz atau kata yang maknanya bersifat khusus yang kalau kita bayangkan hanya tertuju kepada sesuatu tertentu itu disebut dengan istilah juziyy (parsial/khusus). Ia dinamai juz’iyy karena ia menunjuk salah satu bagian (juz) yang berada di bawah lafaz kulliy. Berkebalikan dengan yang pertama.

Singkatnya, jika yang pertama tidak mencegah adanya persekutuan, maka yang kedua ini mencegah adanya keberbilangan. Jika yang pertama berlaku bagi individu yang banyak, maka yang kedua ini hanya berlaku bagi individu tertentu.

Jika yang pertama bersifat umum, maka yang kedua bersifat khusus. Jika yang pertama bersifat universal, maka yang kedua ini bersifat parsial. Yang pertama disebut kulliy, dan yang kedua disebut juziyy.     

Dua contoh di atas, saya kira, cukup untuk memberikan gambaran terkait apa yang dimaksud dengan kulliy dan apa yang dimaksud dengan istilah juziyy, dalam ilmu mantik.

Penjelasan mengenai dua istilah ini sangat penting agar, setidaknya, kita mampu memahami kulliyat al-Khamsah, sebagai unsur-unsur yang membangun ta’rif. Dua istilah ini sering diulang-ulang, baik dalam buku-buku tauhid klasik maupun dalam buku-buku mantik.

Dengan mengetahui pengertian, definisi beserta contoh-contoh keduanya, kita juga akan tahu kapan suatu lafaz itu dikatakan umum, dan kapan ia dikatakan sebagai lafaz yang khusus. Kapan ia disebut kulliy, dan kapan ia disebut juziyy.

Lantas, apa itu kulliy? Dan apa itu juziyy? Untuk sementara, tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut terlebih dahulu.

Pengertian Kulliy dan Juziy

Singkatnya, kulliy itu, seperti yang sudah penulis jelaskan di atas, adalah lafaz yang bersifat umum. Atau, jika ingin menggunakan kata yang lebih ilmiah, kulliy adalah lafaz yang bersifat universal.

Dalam buku al-Manthiq al-Qadim; 'Ardh wa Naqd, Prof. Mazru'ah, Guru Besar Ilmu Kalam di Universitas al-Azhar, menjelaskan bahwa kulliy itu adalah “suatu lafaz yang jika dibayangkan maknanya tidak mencegah adanya persekutuan di dalamnya” (ma la yamna tashawwur ma’nahu min wuqu’ al-Syarikati fihi)”.

Sedangkan juziyy adalah “suatu lafaz yang jika dibayangkan maknanya maka akan mencegah adanya perserikatan di dalamnya.” (ma yamna’ tashawwur ma’nahu min wuqu’ al-Syarikati fihi)

Pengertian lainnya: Kulliy itu ialah lafaz atau mafhum yang bisa berlaku bagi banyak individu, sekalipun (keberlakukan tersebut) hanya ada dalam bayangan (ma la yamtani’ shidquhu ‘ala katsirin walau bilfardh).

Sedangkan juziyy ialah lafaz atau mafhum yang tidak berlaku bagi individu yang lebih dari satu, sekalipun (keberlakukan tersebut) hanya ada dalam bayangan.” (ma yamtani’ shidquhu ‘ala aktsar min wahid walau bilfardh)

Contohnya seperti yang sudah penulis paparkan di atas. Kata artis termasuk kulliy, karena dia berlaku bagi banyak individu. Sedangkan Raisa—yang merupakan individu di bawahnya—adalah juziyy, karena dia hanya berlaku bagi individu tertentu.

Untuk lebih memperjelas, kita ambil contoh yang lain. Misalnya kata kunci. Ada orang menyebut kata kunci. Apa yang Anda bayangkan ketika mendengar kata tersebut?

Kita semua tentu tahu bahwa kata kunci itu berlaku bagi segala macam jenis kunci. Dari mulai kunci motor, kunci mobil, kunci rumah, kunci kamar, kunci kandang, dan kunci-kunci lainnya.

Nah, karena dia berlaku bagi banyak individu, dan ketika dibayangkan akal kita tidak mencegah adanya keberbilangan dan persekutuan sesuatu yang disatukan oleh hakikat kunci, maka ketika itu dia dinamai kulliy.

Tapi kunci rumah—yang merupakan individu di bawah kata kunci—disebut juz’iyy. Mengapa? Karena kata kedua lebih khusus ketimbang yang pertama. Kata kunci berlaku untuk semua macam kunci. Sedangkan kunci rumah hanya berlaku bagi salah satu macam kunci yang tercakup oleh kata kunci.

Contoh lain: Kata laptop. Ketika disebut kata laptop, kita akan membayangkan banyak macam laptop, dari yang paling murah sampai yang paling mahal. Dari yang paling canggih sampai yang paling butut. Dari yang paling cantik sampai yang paling jelek.

Di sana ada Asus, Lenovo, Samsung, Acer, Dell, dan lain-lain. Meski nama mereka berbeda-beda, tapi mereka semua direkatkan oleh satu hakikat, yaitu sebagai laptop. Dengan demikian, kata laptop itu berlaku bagi banyak individu.

Karena dia berlaku bagi banyak individu, atau afrad dalam istilah Arabnya, maka dia dinamai kulliy. Sedangkan laptop Asus—yang berada di bawah kata laptop—termasuk kategori juziyy. Kata laptop berlaku untuk semua macam laptop. Sedangkan laptop Asus hanya berlaku untuk salah satu macam laptop yang tercakup oleh kata laptop.

Terlepas dari itu, ada satu poin penting yang perlu dicatat bahwa yang menjadi tolak ukur apakah suatu lafaz itu kulliy atau juziyy bukan ada atau tidak adanya individu dari lafaz tersebut di alam nyata. Dengan kata lain, yang menentukan suatu lafaz itu kulliy atau juziyy bukan wujud nyata individunya, melainkan tashawwur atau bayangan kita atas lafaz tersebut.

Karena itu, bisa saja suatu lafaz itu dikatakan kulliy, tapi di alam nyata tidak ada individunya sama sekali. Mengapa? Karena yang menjadi tolak ukur, sekali lagi, adalah imajinasi (tashawwur), bukan wujud nyata individunya di alam inderawi.

Selama imajinasi kita bisa membayangkan adanya persekutuan dan keberbilangan, maka lafaz tersebut bisa dikatakan sebagai lafaz yang kulliy. Selama suatu kata itu hanya berlaku bagi satu individu tertentu—sekalipun individu tersebut tidak ada di dalam nyata—maka ia masuk dalam kategori juziyy.

Berangkat dari ketentuan itulah para ahli mantik membagi lafaz kulliy ini kedalam beberapa bagian. Uraian mengenai hal ini, insya Allah, akan diulas pada tulisan mendatang.

Kesimpulannya sekarang, kulliy adalah lafaz yang bersifat umum, sedangkan juziyy adalah lafaz yang bersifat khusus. Kulliy adalah lafaz universal, sedangkan juziyy adalah lafaz parsial. Kulliy berlaku bagi banyak individu, sedangkan juziyy hanya berlaku bagi individu tertentu.

 

Artikel Terkait