Orang-orang lebih mengenalnya sebagai si pembunuh Tuhan (got is tot). Dialah Friedrich Wilhelm Nietzsche, salah satu filsuf berpengaruh yang membuka gerbang post-modern atau panggil saja dia si "gila" tanpa pengikut.

Banyak orang menyanjung Hegel atau Marx dengan bangga menyematkan embel Marxis atau Hegelian. Tapi untuk Nietzsche, dia tak membutuhkan pengikut. Mereka adalah si anonim yang katanya harus mengikuti dirinya sendiri dan bukan siapa pun.

Jelasnya, Nietzsche ingin setiap anonim yang membaca karyanya dapat mengasimilasi sendiri pemikirannya menjadi gagasan baru versi si pembaca. Julukan untuk pengikut yang dimaksud oleh Nietzsche adalah "diri sendiri".

Kesakitan, kesunyian, dan kegelisahan ia jadikan nestapa berkontemplasi. Bagi beberapa orang yang mengasimilasi pemikiran berdasarkan teori dari karyanya akan merasakan kebingungan yang begitu lama, serta akan terkesan berpikir bahwa Nietzsche adalah sosok filsuf aneh (anti mainstream).

Sebenarnya ini juga terjadi kepada saya yang membaca beberapa karyanya. Entah karena kedunguan diri atau logika menalar saya yang masih di bawah rata-rata dalam memahaminya, namun yang pasti selalu ada alasan mengapa diri saya tak berjodoh dengan pemikiran Nietzsche.

Alasan para pembaca sulit memahami karyanya karena mereka tak menyelam ke dalam samudera nestapa. Jikalau disesuaikan dengan istilah masa kini, Nieztche adalah sosok yang selalu "galau dan merana". Inilah yang melatarbelakangi banyak buah pemikirannya jatuh dan bertumbuh menjadi ratusan teori dan gagasan dalam berbagai karya masyurnya.

Gaya tulisan Nietzsche juga memiliki warna tersendiri yang membedakannya dari filsuf lain. Tulisannya selalu bernada sinis dan sarkas dengan sedikit sentuhan puitis dalam mengkritisi keadaan kala itu. Salah satu teori dalam karyanya The Will To Power, yaitu "teori keletihan" yang mana ia satir terhadap para seniman, anarkis dan penjahat bukanlah kaum tertindas melainkan sampah masyarakat yang sakit mental.

Tak hanya itu, ia juga sinis terhadap masyarakat modern bukanlah sebuah "masyarakat" ataupun "sebuah badan", melainkan sebagai konglomerat yang sakit-sakitan, di mana masyarakat modern tak memiliki kekuatan apa pun karena hakikatnya mereka hidup mengutang dari simbiosis berabad-abad, menjadikan kebajikan modern = spiritualitas modern = sebagai bentuk penyakit. 

Apakah kalian mampu memahami teori keletihan ala Nietzsche? Teori berbau satir ini adalah kritik yang dituju bukan hanya untuk satu golongan namun untuk kedua yang saling bersinggungan, yaitu masyarakat biasa "jelata" yang dianggapnya sebagai sampah masyarakat modern nan letih dengan pergolakan hidup yang diciptakan oleh masyarakat modern.

Dan masyarakat modern si konglomerat sakit "hedon" yang hanya hidup dari ketergantungan masa lalu tanpa pernah merasa puas dan hanya menjadikan spiritual ala modern sebagai penawar sakit yang nyatanya hanya menjadi penyakit. Perlu dipahami karena Nietzsche adalah si pengkritik moralitas, tentunya satir terhadap spiritualitasnya berasal dari perspektif ateismenya. 

Nietzsche terkenal akan teorinya yang selalu kontradiksi satu sama lain. Kadang ia feminis namun kadang ia dapat menjadi misoginis, atau dia dapat menjadi begitu nihilis dan lalu dia bisa berbicara mengenai Eternal Recurrence (pengulangan abadi) hanya karena ia merasa pernah melihat sebuah batu besar pada kehidupan sebelumnya ketika melintas di sebuah sungai, dan lagi ia selalu dapat melebur menjadi pro atau kontra bahkan kritiknya atas Descartes atau pemahamannya akan logika.

Bukan hanya satir aforisme yang menunjukkan betapa satir dan sarkas serta kontradiktifnya, namun karena Nietzsche adalah sosok filsuf yang tak suka terikat dengan gagasan dahulu atau dengan kata lain ia tak ingin menjadi "nihil orsinilitas" sehingga banyak dari gagasannya kadang menunjukkan sisi lain dari dirinya, dan salah satunya adalah jiwa senimannya yang tergambar dalam beberapa kutipannya tentang musik;

"Without music life would be a mistake"; "And those who were seen dancing were thought to be insane by those who could not hear the music."

Menjadi sebuah pertanyaan, "logika" seperti apa yang dipahami atau dipakai olehnya sehingga teorinya kadang mengundang banyak tanda tanya?

Dalam salah satu bukunya, The Will To Power, menjelaskan logika yang dipahami oleh Nietzsche. Hal itu ia jabarkan dalam beberapa poin, tapi lagi memerlukan penalaran yang mumpuni untuk mengerti gagasannya tentang logika sebagai berikut;

Asal Muasal Logika

Dari catatan Nietzsche, ia berpendapat awal mula akal dan logika ada karena terjadinya saling tumpang tindih gagasan-gagasan. Menurutnya, ini mengenai kerajaan duniawi, jika kita artikan kerajaan duniawi sendiri adalah bentuk cinta akan dunia karena darinya terbentuk atas nafsu menumbuhkan logika.

Naluri hewan sebagai latar belakangnya, dari hal ini Nietzsche berpendapat logika ada demi kepentingan, kesepakatan bersama dan kekuasaan. Sebenarnya saya merasa bahwa ini adalah bentuk kritiknya terhadap orang-orang yang menyalahgunakan logika. Dia mengaitkan antara logika dan naluri hewan yang ditariknya menyentil kekuasaan dan kroninya.

Adapun realitas masa kini, logika setiap individu dipaksa sama. Asal muasal logika menurut Nietzsche sendiri adalah kecenderungan mendasar untuk memberi kesan sama, melihat hal hal yang setara, telah berubah, diadakan dengan penelitian, dengan pertimbangan, kemanfaatan dan ancaman. 

Munculnya Logika

Logika berkait pada keadaan: mengasumsikan kasus-kasus yang identik. Sebenarnya, untuk membuat pemikiran logis dan simpulan mungkin, kondisi ini pertama-tama harus dianggap secara fiktif terpenuhi. 

Dari kesimpulannya lagi Nietzsche satir terhadap munculnya logika. Baginya, logika tidak muncul dari kehendak kepada kebenaran. Karena baginya ini berkaitan dengan teori kehendak, masing-masing orang yang berkehendak menentukan kebenaran logis apa yang diinginkan dapat juga melakukan pemalsuan mendasar.

Baginya, kehendak memegang kendali yang mampu menggunakan kedua cara, yaitu: pemalsuan, dan yang kedua adalah implementasi dari sudut pandangnya sendiri. Jadi terkadang kita selalu menganggap hal yang logis adalah bagian dari logika yang telah kita percaya, tapi nyatanya logika tersebut bisa jadi telah dipalsukan demi kepentingan tertentu sehingga berujung pada satu pandangan yang sama.

Dalam salah satu pendapatnya, pembentukan akal, logika, kategori dibutuhkan seseorang yang berpengaruh: yang dibutuhkan bukan untuk "mengetahui", tapi untuk menampung, untuk mengategorikan, untuk tujuan pemahaman dan perhitungan. Kategori itu sendiri kebenaran yang apabila adalah syarat kehidupan bagi kita, dan ini adalah kebenaran yang diciptakan hanya oleh orang yang berkuasa. 

Fungsi Logika

Kita tidak dapat menerima dan menolak satu dan hal lain yang sama: ini adalah hukum empiris subjektif, bukan ekspresi dari "Keharusan" tapi hanya ketidakmampuan.

Pembuka awal dalam pendapatnya dalam poin fungsi logika, ini berkaitan dengan pemikiran yang paling awal mengenai penerimaan dan penolakan. Bukan hanya kebiasaan mempercayai sesuatu dan tidak, tapi hak untuk melakukan ini adalah sebuah ketidakmampuan. Kita akan merasa terpengaruh dengan keyakinan bahwa logika ini dapat membawa memperoleh pengetahuan. 

Akibatnya, "Pengetahuan" pastilah sesuatu yang lain, terlebih dahulu harus ada kehendak untuk mencari tahu. Karena logika adalah usaha untuk memahami dunia nyata melalui skema yang diajukan oleh diri kita sendiri, lebih tepatnya untuk membuatnya dapat diformulasikan dan dapat diperhitungkan untuk kita.

Selain itu, pendapat Nietzsche terhadap pandangan Aristoteles mengenai hukum kontradiksi, baginya logika akan menjadi sebuah keharusan bukan untuk mengetahui kebenaran tapi untuk menempatkan dan mengatur dunia yang akan kita sebut benar oleh kita.

Logika yang dipahami Nietzsche adalah kehendak untuk menciptakan sebuah kebenaran dalam skema versi setiap individu. Ini mengenai yang benar dan salah. Masing masing dari kita akan melihat perspektif keberadaan (being) adalah bagian dari "ego" dan jika kita jadikan ego satu satunya yang membentuk dan memahami semua hal maka jadilah.

Sebenarnya logika seperti geometri dan aritmatika ia hanya berlaku untuk entitas fiktif yang telah kita cipta, maksudnya adalah kita tau dalam geometri dan aritmatika hasil yang didapatkan adalah penambahan dari hasil sebelumnya untuk mendapatkan hasil lainnya. Inilah mengapa konsep yang tercipta adalah lanjutan dari konsep lainnya yang tidak hanya menentukan inti dari satu hal tetapi juga mengarahkannya ke lain hal.

Kesimpulan

Membutuhkan penalaran yang mumpuni dalam memahami argumen yang disampaikan Nietzsche, dalam hal ini saya pribadi menarik kesimpulan setiap argumen yang disampaikannya terpengaruh dari masalah kala itu serta dari kondisi psikologisnya jika berdasar pada penafsiran secara hermeneutika. 

Dalam hal ini, secara hermeneutika, untuk menerjemahkan sebuah teks harus melalui dua tahapan, interpretasi gramatikal, yakni memahami keadaan rohani pengarang ketika menulis teks di masa lalu; dan psikologis, yakni mentransformasikan diri ke dalam diri si pengarang.

Meskipun secara hermeneutika saya dipaksa untuk dapat masuk merasakan jiwanya agar memahami setiap gagasan yang disampaikan, namun mengingat Nietzsche adalah sosok yang kontradiktif, bagi saya, penafsiran secara hermeneutika pun tak akan cukup.

Namun yang pasti logika si gila ala Nietzsche adalah bentuk kritiknya terhadap logika yang selalu dipaksakan sama dan setara. Setiap individu terkesan akan memaksakan kehendak untuk menciptakan kebenaran dari logikanya versi masing masing menurut konsep dan skema yang dibangun.

Ia juga menarik hal ini pada konsep keberadaan yang baginya hanyalah sebuah "ego". Karena nyatanya logika yang diyakini adalah entitas fiktif yang hanya mendapatkan penambahan dari entitas fiktif sebelumnya, dan fakta lainnya entitas fiktif yang mendapat penambahan berdasarkan kehendak semata dapat pula dipalsukan secara mendasar.

Kesimpulannya, Nietzsche mengkritik golongan yang selalu mendahulukan kehendak berkuasa dalam memaksakan logika yang sama.