Obat sudah menjadi bagian kehidupan masyarakat, sejak lahir hingga lanjut usia. Kendati obat cukup populer dalam keseharian, penggunaan yang tidak tepat masih menjadi masalah yang rawan.

Masyarakat biasa membeli obat di apotek berbekal dengan arahan iklan. Jika iklan tidak cukup membantu, periksa ke dokter dirasa perlu. Sayangnya, dari beragam cara perolehan, informasi obat masih minim diterima warga.

Meskipun bukan tenaga kesehatan apalagi farmasi, pengguna juga perlu memahami informasi obat untuk pengobatan yang rasional. Tidak banyak, setidaknya lima informasi dasar obat yang perlu diketahui masyarakat.

Pertama, nama dan kandungan obat. Kandungan obat adalah isi, inti, komposisi, atau bahan aktif yang menyebabkan benda itu disebut obat. Nama obat yang dimaksud adalah merek obat. Nama dan kandungan obat menjadi informasi paling utama diketahui.

Contoh kandungan obat seperti parasetamol. Parasetamol kemudian diproduksi oleh banyak pabrik dengan mendaftarkan merek yang beragam.

Satu produk obat bisa mengandung satu atau lebih bahan aktif obat. Parasetamol adalah nama bahan aktif obat. Ada yang diproduksi tunggal mengandung parasetamol saja, ada pula dikombinasi dengan zat aktif lain misal kafein. Ada juga yang ditambah zat aktif pereda batuk atau pilek, dan sebagainya.

Tanpa mengetahui kandungan obat, seseorang makin kesulitan untuk memanfaatkan obat. Selain memudahkan pembelian, Anda juga bisa menggali informasi berbekal nama kandungan obat sehingga pencarian lebih terarah.

Nama obat yang dikonsumsi juga menjadi penting ketika hendak memeriksakan diri ke dokter. Dokter atau rumah sakit biasanya akan menanyakan obat-obat yang sudah digunakan. Hal ini dilakukan untuk penelusuran riwayat penyakit atau pengobatan.

Maka saat memeriksakan diri ke dokter, tak perlu sungkan untuk bercerita obat yang telah dikonsumsi. Lalu mengonfirmasi kembali obat apa yang perlu dilanjutkan atau dihentikan, sehingga mencegah penggunaan yang berlebih atau kurang obat.

Jadi bila Anda meyakini bahwa tulisan resep dokter tidak mudah dibaca adalah kesengajaan untuk menyembunyikan nama obat dari pasien, sebaiknya Anda murtad dari kepercayaan tersebut. Nama dan kandungan obat harus dijelaskan kepada pasien saat menerima obat, kalau perlu ditulis dalam etiket obat.

Kedua, khasiat atau indikasi obat. Indikasi obat adalah efek yang diharapkan setelah obat digunakan. Indikasi parasetamol ialah meredakan demam dan mengurangi nyeri. Contoh lain, antibiotik untuk membunuh atau menghambat pertumbuhan bakteri, tidak untuk mengobati pilek yang disebabkan oleh virus.

Terkadang pasien yang menggunakan banyak obat kurang memperhatikan informasi mengenai indikasi, apalagi bagi pengguna pertama. Pengetahuan ini diperlukan untuk menyesuaikan dengan kondisi yang dialami.

Setidaknya kemantapan akan timbul jika tahu bahwa obat yang dikonsumsi adalah benar obat yang dibutuhkan. Lantas bila ada obat yang tampak berlebih dapat dikonfirmasi ulang ke dokter. Cukup hemat untuk mengurangi biaya bila ada obat berlebih.

Hal penting ketiga berkaitan dengan dosis obat. Dosis menyatakan banyaknya jumlah obat agar memberikan efek yang diharapkan. Obat tidak mampu bekerja bila takaran kurang. Tapi jika takaran berlebih dapat menimbulkan keracunan hingga kematian.

Maka tidak salah bila apoteker sering mengampanyekan bahwa obat adalah racun. Bayangkan apa yang terjadi ketika obat yang seharusnya diminum seperempat tablet, justru diminum empat tablet sekali telan karena salah baca etiket obat.

Terkait dosis untuk obat yang berbentuk sirup, Anda bisa membiasakan memakai sendok khusus obat yang ada ukurannya. Banyaknya ragam sendok di pasar dan dapur merancukan takaran yang tepat untuk obat.

Selain sendok, takaran untuk sirup ada yang berbentuk gelas kecil, biasanya ditutupkan pada mulut botol obat. Alat takar lain berupa pipet obat yang sering digunakan untuk pemberian obat pada bayi.

Keempat, cara pakai. Ada obat yang ditelan, dikunyah, dihisap, diminum, diselipkan di bawah lidah, dimasukkan melalui dubur, ditempel, dioles, ditetes, disemprot, dan sebagainya. Jangan sampai obat yang seharusnya dimasukkan melalui dubur justru dimakan dengan alasan rasanya enak, rasa coklat.

Cara pakai juga berhubungan dengan frekuensi penggunaan. Frekuensi obat menyatakan berapa kali obat dikonsumsi dalam rentang waktu tertentu.

Frekuensi penggunaan obat tidak bisa dipukul rata tiga kali sehari untuk semua obat. Ada obat yang diminum tiap enam jam. Ada yang digunakan memang saat merasakan gejala. Ada pula yang harus tetap dipakai bahkan tanpa gejala dirasa. Pastikan Anda memahami hal itu loh ya.

Hal dasar terakhir perlu diketahui adalah efek samping. Setiap obat memiliki efek samping. Jika Anda pernah mencari informasi efek samping suatu obat di internet, maka muncul banyak efek samping untuk satu jenis obat saja. Tapi semua efek samping tersebut tidak nyata timbul pada semua orang.

Walau efek samping tidak melulu terjadi, beberapa obat memiliki efek samping khas yang kerap terjadi pada tiap orang yang mengonsumsinya. Efek samping demikian yang sebaiknya Anda tahu.

Perlu diketahui agar dapat menghindari atau mengurangi resiko akibat efek samping yang terjadi. Contohnya CTM yang menyebabkan kantuk, maka sebaiknya tidak berkendara setelah mengonsumsi CTM.

Jadi jelas, lima informasi dasar sebelum menelan obat perlu diketahui. Informasi tersebut tidak perlu dihapal, hanya wajib dipahami. Dan yang terpenting adalah bila belum tahu, bisa mencari informasi dari sumber yang tepat.