Hadits merupakan sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an. Sehingga eksistensinya tidak diragukan lagi. Pembahasan mengenai hadits pun cukup beragam dan penting untuk dipelajari. Salah satunya mengenai hadits tematik.

Hadits tematik atau disebut juga maudhu’i, secara berasal dari kata موضوع yang merupakan isim maf’ul dari kata wada’a yang artinya masalah atau pokok permasalahan. Menurut Mustafa Muslim bahwa yang dimaksud maudhu’i adalah meletakkan sesuatu pada suatu tempat.

Menurut al-Farmawi sebagaimana dikutip oleh Maizuddin dalam bukunya Metodologi Pemahaman Hadits, disebutkan bahwa metode maudhu’i adalah mengumpulkan hadits-hadits yang terkait dengan satu topik atau satu tujuan kemudian disusun sesuai dengan asbab alwurud dan pemahamannya yang disertai dengan penjelasan, peng-ungkapan dan penafsiran tentang masalah tertentu.

Maka, yang dimaksud dengan metode maudhu’i adalah mengumpulkan ayat-ayat yang bertebaran dalam Alquran atau hadits-hadits yang bertebaran dalam kitab-kitab hadits yang terkait dengan topik tertentu atau tujuan tertentu.

Kemudian disusun sesuai dengan sebab-sebab munculnya dan pemahamannya dengan penjelasan, pengkajian dan penafsiran dalam masalah tertentu tersebut.

Metode maudhu’i adalah metode pembahasan hadits sesuai dengan tema tertentu yang dikeluarkan dari sebuah buku hadits. Semua hadits yang berkaitan dengan tema tertentu, ditelusuri dan dihimpun yang kemudian dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek.

Contohnya seperti menghimpun hadits-hadits yang membicarakan tentang hukum minum sambil berdiri, khitan perempuan menurut hadits-hadits, dan, Hadits-hadits yang berkaitan dengan keutamaan  hadits-hadits tentang perpecahan Umat Nabi Muhammad menjadi 73 golongan.

Tema-Tema tersebut sedang dikembangkan melalui tulisan seperti tesis, disertasi, dan skripsi di berbagai perguruan tinggi.

Dalam kaitannya dengan pemahaman hadits, pendekatan tematik (mawdu'i) adalah memahami makna dan menangkap maksud yang terkandung di dalam hadits dengan cara mempelajari hadits-hadits lain yang terkait dalam tema pembicaraan yang sama dan memperhatikan korelasi masing-masingnya sehingga didapatkan pemahaman yang utuh.

Layakanya metode pada umumnya, metode hadits tematik atau maudhu’i pun memiliki kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihannya ialah metode ini dapat diandalkan untuk memecahkan permasalahan yang terdapat dalam masyarakat.

Bukan tanpa sebab, karena metode ini memberikan kesempatan kepada seseorang untuk berusaha memberikan jawaban bagi permasalahan tersebut yang diambil dari petunjuk-petunjuk Al-Qur’an dan Hadits, di samping memperhatikan penemuan manusia.

Sebagai hasilnya, banyak bermunculan karya ilmiah yang membahas topik tertentu menurut perspektif al-Qur’an dan Hadits. Contohnya, perempuan dalam pandangan Al-Qur’an dan hadits, dan lain-lain.

Kelebihan metode hadits tematik selain karena dapat menjawab tantangan zaman dengan permasalahannya yang semakin kompleks dan rumit, metode ini juga memiliki kelebihan yang lain, diantaranya adalah sebagai berikut :

Pertama, praktis dan sistematis. Metode tematik disusun secara praktis dan sistematis dalam memecahkan permasalahan yang timbul. Hal ini memungkinkan masyarakat untuk mendapatkan petunjuk al-Qur’an dan hadits dengan waktu yang lebih efektif dan efesien.

Kedua, dinamis. Metode tematik membuat tafsir Al-Qur’an dan hadits selalu dinamis sesuai dengan tuntutan zaman.

Sehingga, masyarakat akan terasa bahwa al-Qur’an dan hadits selalu aktual, tak pernah ketinggalan zaman dan mereka tertarik untuk mengamalkan ajaran-ajarannya. Meski tidak mustahil hal ini didapatkan dari ketiga metode yang lain, namun hal itu bukan menjadi sasaran yang pokok.

Baca Juga: Politisasi Hadis

Ketiga, membuat pemahaman menjadi utuh. Dengan ditetapkannya tema tertentu, maka pemahaman kita terhadap hadits Nabi saw. menjadi utuh. Kita hanya perlu membahas segala aspek yang berkaitan dengan tema tersebut tanpa perlu membahas hal-hal lain diluar tema yang ditetapkan.

Keempat, Penjelasan antar hadits dalam metode maudhu’i bersifat lebih integral dan kesimpulan yang dihasilkan mudah dipahami.

Selain memiliki kelebihan metode ini pun memiliki kekurangan. Diantaranya ialah metode ini terikat pada tema yang telah ditetapkannya dan tidak membahas lebih jauh hal-hal diluar dari tema tersebut, sehingga metode ini kurang tepat bagi orang yang menginginkan penjelasan yang terperinci mengenai suatu hadits dari segala aspek.

Untuk menerapkan studi hadits tematik ini, ada beberapa langkah yang harus dilakukan oleh. Langkah-langkah nya adalah sebagai berikut :

Pertama, Menentukan tema atau masalah yang akan dibahas. Kedua, Menghimpun atau mengumpulkan hadits-hadits yang terkait dalam satu tema, baik secara lafal maupun secara makna melalui kegiatan takhrij al-hadits.

Ketiga, Melakukan kategorisasi berdasarkan kandungan hadits dengan memperhatikan kemungkinan perbedaan peristiwa asbabul wurud-nya hadits (tanawwu‘) dan perbedaan periwayatan hadits.

Keempat, Melakukan kegiatan i‘tibar dengan melengkapi seluruh sanad. Kelima, Melakukan penelitian sanad yang meliputi penelitian kualitas pribadi perawi, kapasitas intelektualnya dan metode periwayatan yang digunakan

Keenam, Melakukan penelitian matan yang meliputi kemungkinan adanya ‘illat (cacat) dan syaz (kejanggalan). Ketujuh, Mempelajari tema-tema yang mengandung arti serupa. Kedelapan, Membandingkan berbagai syarah hadits.

Kesembilan, Melengkapi pembahasan dengan hadits-hadits atau ayat-ayat pendukung. Kesepuluh, Menyusun hasil penelitian menurut kerangka besar konsep-konsep. Dan yang terakhir adalah Menarik suatu kesimpulan dengan menggunakan dasar argumentasi ilmiah.


Wallahu A’lam.