Beberapa waktu lalu komputer kesayangan saya rusak secara tiba-tiba. Dan, resikonya, beberapa tulisan yang pernah saya buat tidak bisa saya akses dan tidak bisa saya baca. Kejadian itupun sedikit banyak cukup membuat saya sedih dan kecewa.

Betapa tidak, komputer itu menyimpan sekian banyak tulisan penting yang jumlahnya cukup melimpah. Dan untuk membuatnya sayapun banyak memeras kepala dengan pengorbanan waktu cukup terbilang lama.

Namun, untungnya, selang beberapa hari kemudian ada adik kelas yang dengan baik hati membawa hardisk komputer saya sehingga pada akhirnya tulisan-tulisan itu bisa terselamatkan dan bisa saya akses kembali.

Mulanya hardisk itu tak terbaca. Tapi, berkat ketulusannya, tulisan saya bisa kembali seperti sedia kala. Mendengar kabar itu saya gembira setengah mati. Melampaui kegembiraan jomblo karatan yang di kemudian hari pinangan cintanya diterima oleh seorang perawan.

Dua istilah yang akan kita bahas sekarang bisa kita pahami melalui ilustrasi pendek yang saya sebutkan di atas. Perhatikan ilustrasi di atas dengan baik. Untuk memahami kedua istilah tersebut, saya ingin mengambil contoh komputer yang saya sebutkan tadi itu. Ingat, di atas menyertakan sekian banyak kalimat, yang salah satunya menyatakan bahwa “komputer saya rusak.” 

Lebih jelasnya, melalui ungkapan tersebut, saya sebetulnya sedang memberlakukan makna kerusakan kepada sesuatu yang kita sebut sebagai komputer. Dalam bahasa Ilmu logika, komputer dalam kalimat tersebut berposisi sebagai subjek (maudhû’), sedangkan rusak berposisi sebagai predikat (mahmûl). Dan proposisi seperti ini sering disebut dengan istilah proposisi kategoris (qadhiyyah hamliyyah).

Sekarang pusatkan perhatian kita pada kata komputer. Kalau Anda cermati dengan baik, komputer itu sendiri—sebagai sebuah komputer—sebenarnya terbebas dari sifat rusak, sebagaimana ia juga terlepas dari sifat bagus, dan sifat-sifat lainnya. Rusak dan bagus itu adalah atribut/sifat yang datang belakangan, bukan sesuatu yang membentuk hakikat komputer itu sendiri.

Artinya, baik rusak ataupun tidak, mahal ataupun murah, bagus ataupun jelek, pendek ataupun panjang, lebar ataupun sempit, lancar ataupun lemot, hitam ataupun putih, merek ternama maupun merek abal-abal, komputer itu tetaplah komputer sebagaimana adanya. Hakikatnya tidak dipengaruhi oleh atribut-atribut sampingan itu.

Jadi, kalau ada pernyataan “komputer itu rusak”, seperti yang saya sebutkan di atas, makna kerusakan yang kita lekatkan kepada komputer itu bukan sesuatu yang membentuk hakikat ke-komputer-an. Dia merupakan sesuatu yang datang dan merintang pada tahap kemudian.

Nah, dalam bahasa logika, sesuatu yang diatribusikan (baca: diberlakukan) kepada sesuatu, tapi dia sendiri bukan bagian dari pembentuk (hakikat) sesuatu itu, disebut dengan istilah ‘âridh. Sementara sesuatu yang menjadi subjeknya—yang kepadanya diberlakukan atribut tertentu itu—disebut dengan istilah ma’rûdh. Dan pemberlakuannya itu sendiri disebut dengan istilah ‘urûdh.

Dari sini kita sudah menemukan tiga istilah kunci, yaitu ‘âridh, ma’rûdh, dan ‘urûdh. Dalam contoh di atas, komputer itu disebut sebagai ma’rûdh. Sedangkan kerusakan, sebagai atribut yang kita berlakukan kepada komputer, disebut sebagai ‘âridh. Dan keberlakuan rusak atas komputer disebut dengan istilah ‘urudh.

Saya belum mendapatkan terjemahan yang pas untuk kedua istilah itu. Untuk sementara Anda bisa menerjemahkannya dengan subjek dan predikat. Tapi, yang perlu dicatat, tidak semua predikat bisa dibilang ‘âridh. Karena adakalanya kita memberlakukan sesuatu kepada sesuatu, dan sesuatu yang kita jadikan sebagai predikat itu menjadi bagian yang membentuk esensi dari sesuatu itu.

Contoh paling sederhana: Laptop itu adalah suatu alat. Perhatikan kalimat tersebut dengan baik. Di sana kita memberlakukan makna alat kepada laptop. Alat ketika itu menjadi predikat (mahmûl), dan laptop menjadi subjek (maudhû’). Tapi, kendatipun dia menjadi predikat, makna kealatan bukan termasuk ‘âridh, karena dia membentuk separuh dari hakikat laptop itu sendiri.

Kecuali kalau Anda berkata begini: “Laptop itu mahal”. Nah, ketika itu, makna mahal yang kita berlakukan kepada laptop bisa disebut sebagai ‘âridh. Dan laptop itu sendiri disebut sebagai ma’rûdh. Mengapa bisa begitu? Karena laptop itu sendiri—sebagai laptop—tidak mengandung makna mahal ataupun murah.

Baik murah ataupun tidak, laptop itu tetaplah laptop. “Kemurahan” itu merupakan suatu atribut yang datang dan merintang (‘âridh) kemudian. Dia tidak membentuk hakikat laptop itu sendiri. Saya kira itulah cara termudah untuk memahami istilah ‘âridh dan ma’rûdh.

Dua istilah ini tentu berbeda dengan istilah malzûm (yang disertai) dan lâzim (yang disertai), yang pernah kita bahas dalam pembahasan tentang luzûm (keikut-sertaan/keterkaitan). Karena malzûm dan lâzim merupakan dua hal yang tak terpisah. Sementara ‘âridh dan ma’rûdh memungkinkan adanya keterpisahan itu.

Dalam ilmu kalam—dan begitu juga dalam pembahasan filsafat—dua istilah ini kerap kita jumpai. Dalam pembahasan tentang wujud (eksistensi) dan mâhiyyah (esensi), misalnya, para filsuf mencatat satu ungkapan yang menyatakan bahwa mâhiyyah itu, sebagai mâhiyyah, tidak bisa dikatakan ada (maujûd), juga tidak bisa dikatakan tidak ada (ma’dûm).

Keadaan (wujûd) dan ketiadaan (‘adam) itu merupakan ‘amrun ‘âridh bagi mâhiyyah. Artinya dia merupakan sesuatu yang kita berlakukan kemudian, yang tidak ada dalam mâhiyyah itu sendiri, sebagai sebuah mâhiyyah. Saya yakin Anda tak akan begitu paham dengan persoalan ini. Mungkin persoalan ini bisa kita diskusikan secara terpisah dalam tulisan yang lain.

Kita kembali lagi kedua istilah tadi. Saya mau beri contoh sederhana lagi. Anggap Anda punya pacar bernama Tiqoh. Kemudian Anda berkata kepada saya bahwa Tiqoh itu adalah perempuan yang cantik. Perhatikan pernyataan yang berbunyi, “Tiqoh itu cantik”. Di sana kita memberlakukan makna kecantikan kepada perempuan yang bernama Tiqoh.

Sekarang saya mau tanya: Tiqoh itu sendiri—sebagai seorang manusia yang bernama Tiqoh—apakah mengandung makna kecantikan sehingga kalau tidak cantik dia tidak menjadi Tiqoh? Cermati sejenak pertanyaan ini dengan baik. Pejamkan mata sedikit. Renggangkan baut kepala Anda beberapa centi. Dan, kalau sudah, saya dan Anda pasti akan sama-sama berkata tidak!

Mengapa tidak? Karena kecantikan itu merupakan suatu sifat yang diberlakukan kemudian. Tiqoh itu sendiri—sebagai Tiqoh—tidak dibilang cantik ataupun jelek. Tidak dibilang pintar ataupun bodoh. Tidak dibilang kaya ataupun miskin. Tidak dibilang santun ataupun kurang ajar. Semua atribut itu baru diberlakukan kemudian. Karena itu ia disebut sebagai ‘âridh. Sedangkan Tiqoh, yang menerima pemberlakukan sifat-sifat itu, disebut sebagai ma’rûdh.

Baca Juga: Ngaji Logika

Kecuali kalau Anda berkata bahwa “Tiqoh itu adalah manusia.” Makna kemanusiaan yang Anda berlakukan kepada Tiqoh, ketika itu, bukan disebut amrun ‘âridh lagi, karena makna kemanusiaan sudah membentuk esensi dari Tiqoh itu sendiri, yang tanpanya, Tiqoh tidak akan menjadi Tiqoh.

Sampai di sini mungkin ada yang bertanya lagi: Lalu, kalau begitu, bisa tidak apa yang disebut ‘âridh kita artikan sebagai aksiden, yang dalam bahasa Arab diistilahkan dengan kata ‘aradh? Saya belum bisa berkata iya. Karena tidak semua yang disebut sebagai ‘âridh itu bisa disebut sebagai aksiden ('aradh).

Buktinya, ketika membahas tentang mâhiyyah, makna wujud yang diberlakukan kepada mâhiyyah itu bukan termasuk aksiden, tetapi dia dikatakan sebagai ‘âridh, dan mâhiyyah disebut sebagai ma’rûdh. Apakah penjelasan ini sulit? Semoga saja tidak. Demikian, wallahu ‘alam bisshawâb.