1 tahun lalu · 463 view · 4 menit baca · Filsafat 34031_87434.jpg

Memahami Keterkaitan Antar Dalalah

(Ngaji Mantik Bag. 10)

Dalam pembahasan mengenai dalalah lafzhiyyah wadh’iyyah, kita sudah diperkenalkan dengan tiga macam dalalah, yaitu muthabaqiyyah, tadhammuniyyah, dan iltizamiyyah.

Pengertian beserta contoh-contohnya juga sudah kita terangkan. Yang pertama menunjuk makna utuh dari suatu lafaz, yang kedua menunjukan makna sebagian, dan yang ketiga menunjuk hal lain yang berada di luar.

Pada tulisan ini kita akan membahas tentang keterkaitan antar tiga macam dalalah tersebut (al-Talazum baina al-Dalalat). Bahasan mengenai hal ini erat kaitannya dengan pembahasan luzum yang sudah saya jelaskan pada tulisan yang lalu.

Kita tahu bahwa luzum itu artinya keterkaitan. Nah, pada tulisan kali ini, kita akan membahas tentang keterkaitan antar masing-masing dalalah yang sudah kita terangkan itu. Kapan masing-masing dalalah itu saling terkait? Dan kapan mereka terpisah? Tulisan ini akan menjawab pertanyaan tersebut.

Terkait Dalam Dua Hal

Ketika disebut suatu lafaz yang menunjukan sebagian maknanya, maka pastilah lafaz tersebut juga menunjukan makna utuhnya, meskipun hanya perkiraan. Begitu juga ketika disebut suatu lafaz yang menunjukan makna di luar esensinya, pastilah lafaz tersebut juga menunjukan makna utuhnya.

Karena itu, dari sini para ahli ilmu mantik merumuskan bahwa “dalalah tadhammuniyyah terkait erat dengan dalalah muthabaqiyyah, sebagaimana dalalah iltizamiyyah juga meniscayakan adanya dalalah muthabaqiyyah.”

Dengan kata lain, di mana ada tadhammuniyyah dan iltizamiyyah, maka pastilah di sana ada muthabaqiyyah. Mengapa? Alasannya sangat logis: Manakala disebut pengikut, yang diikutinya juga pasti ikut.

Tadhammuniyyah dan iltizamiyyah dalam hal ini sebagai pengikut (al-Tâbi). Sedangkan muthabaqiyyah statusnya sebagai matbu’, atau yang diikuti. Karena itu keduanya saling terkait dengan muthabaqiyyah. Di mana ada keduanya, pastilah ada muthabaqiyyah, sebagai dalalah yang diikutinya.

Misalnya seperti kata rumah yang saya contohkan dalam tulisan ini. Ketika yang bersangkutan menyebut kata rumah, dan yang dimaksud adalah atap, tentu makna utuh dari kata rumah sudah terbayang di benak kita. Meskipun yang dimaksud adalah sebagian maknanya.  

Begitu juga ketika ada orang menyebut kata api dan yang dimaksud adalah panas, makna utuh dari kata api sudah pasti terbayang sekalipun yang dimaksud adalah makna di luar esensinya.

Dengan demikian, baik dalalah tadhammuniyyah maupun dalalah iltizamiyyah keduanya meniscayakan adanya dalalah muthabaqiyyah. Dengan kata lain, dua dalalah tersebut terkait erat dengan dalalah muthabaqiyyah sebagai dalalah yang diikutinya.  

Tidak Terkait Dalam Empat Hal

Ada suatu lafaz yang maknanya tersusun, ada juga lafaz yang maknanya simpel alias tidak tersusun. Dalam istilah Arabnya, ada lafaz yang maknanya basith, dan ada lafaz yang maknanya murakkab.

Kata rumah yang saya contohkan di atas adalah contoh dari model lafaz yang kedua, yakni lafaz yang maknanya murakkab. Karena itu, manakala disebut kata rumah, dan yang dimaksud dengan kata tersebut adalah makna utuhnya, maka makna sebagiannya juga pasti mengikuti.

Tapi bagaimana kalau makna dari suatu lafaz itu tidak tersusun, seperti contoh yang pertama? Dengan pertanyaan lain: Bagaimana kalau seandainya suatu lafaz itu maknanya simpel, tidak tersusun? Apakah lafaz tersebut juga menunjukan sebagian kandungan maknanya (tadhammun), atau tidak?

Karena lafaz tersebut maknanya tidak tersusun, maka jawabannya sangat jelas: Dia tidak menunjukan sebagian maknanya. Mengapa? Karena dia tidak memiliki makna bagian.

Nah, melihat adanya kemungkinan ini—yakni kemungkinan adanya suatu lafaz yang maknanya tidak tersusun—maka para ahli ilmu mantik merumuskan bahwa “dalalah muthabaqiyyah tidak selamanya meniscayakan adanya dalalah tadhammuniyyah”, berkebalikan dengan kaidah sebelumnya.  

Mengapa? Karena bisa jadi ada suatu lafaz yang memiliki makna utuh, tapi lafaz tersebut tidak memiliki makna bagian. Contohnya seperti lafaz jauhar fard. Lafaz tersebut memiliki makna utuh, tapi dia tidak memiliki makna bagian. Karena jauhar fard, seperti kata para teolog, merupakan substansi terkecil dari sesuatu (al-Juz alladzi la yatajazza)

Begitu juga, keberadaan dalalah muthabaqiyyah tidak mengharuskan adanya dalalah iltizamiyyah. Mengapa? Karena, seperti yang sudah penulis singgung pada tulisan yang lalu, luzum yang dijadikan dasar dalam ilmu mantik hanya ada satu, yaitu luzum bayyin bilma’na al-Akhassh.

Bisa jadi ada suatu lafaz yang memiliki makna utuh, juga memiliki makna bagian, tapi tidak memiliki makna lazim yang masuk dalam kategori luzum bayyin bilma’na al-Akassh. Karena itu, keberadaan dalalah muthabaqiyyah tak mengharuskan adanya dalalah iltizamiyyah.

Selanjutnya, dalalah tadhammuniyyah juga tidak meniscayakan adanya dalalah iltizamiyyah, sebagaimana dalalah iltizamiyyah juga tidak mengharuskan adanya dalalah tadhammuniyyah. Dengan kata lain, keduanya tidak saling terkait.

Mengapa? Alasannya sederhana: Bisa jadi ada suatu lafaz yang memiliki makna bagian tapi tak memiliki makna yang lazim. Juga boleh jadi ada suatu lafaz yang memiliki makna lazim, tapi tidak memiliki makna bagian. Karena itu, kedua dalalah tersebut tidak saling terkait satu sama lain.

Kesimpulannya, keberadaan dalalah tadhammuniyyah dan iltizamiyyah meniscayakan adanya dalalah muthabaqiyyah. Sedangkan dalalah muthabaqiyyah tidak meniscayakan adanya tadhammuniyyah, juga tidak mengharuskan adanya dalalah iltizamiyyah.

Dalalah tadhammuniyyah tidak mengharuskan adanya dalalah iltizamiyyah. Sebagaimana dalalah iltizamiyyah juga tidak meniscayakan adanya dalalah tadhammuniyyah. Dengan demikian, kesimpulan akhirnya ialah: Masing-masing dari dalalah tersebut saling terkait dalam dua hal, dan tidak terkait dalam empat hal.

Pandangan Imam al-Razi

Mengenai keterkaitan antar dalalah ini, Fakhr al-Din al-Razi (w. 606 H) punya pandangan yang sedikit berbeda. Baginya, “penggambaran atas esensi sesuatu meniscayakan adanya penggambaran mengenai sesuatu yang menyertai esensi sesuatu tersebut. Setidaknya kita membayangkan bahwa dia itu bukan selain dia.”

Tapi pandangan ini kemudian dibantah bahwa hal yang menyertai sesuatu (lazim) itu tidak selamanya masuk dalam kategori bayyin bilma’na al-Akhassh, yang merupakan syarat dalalah iltizamiyyah. Bayangan kita terhadap sesuatu bahwa dia bukan selain dia itu masuk kategori luzum bayyin bilma’na al-A’am, bukan luzum bayyin bilma’na al-Akhassh.

Dalam konteks ini, al-Razi seolah-olah ingin menyatakan bahwa syarat utama dan yang paling terpenting dalam luzum itu ialah jelas (bayyin), baik ia jelas dengan pemaknaan yang lebih umum (bayyin bilma’na al-A’am), maupun jelas dengan pemaknaan yang lebih khusus (bayyin bilma’na al-Akhassh).

Namun, seperti yang sudah penulis jelaskan pada tulisan sebelumnya, para ahli ilmu mantik bersepakat bahwa luzum yang dijadikan dasar dalam ilmu ini hanya ada satu, yaitu luzum bayyin bilma’na al-Akhassh, yakni keterkaitan yang bisa ditangkap cukup dengan membayangkan malzum-nya saja. Sementara luzum bayyin bilma’na al-A’am tidak bisa dijadikan dasar.