1 tahun lalu · 513 view · 5 min baca menit baca · Filsafat 37776_89650.jpg

Memahami Hubungan Antara Dua Lafaz Kulliy

Ngaji Mantik Bag. 20

Pada tulisan yang lalu kita sudah menjelaskan konsep mafhum dan mashadaq beserta contoh-contoh dan kaidah yang dibakukan untuk keduanya. Dari uraian yang lalu kita tahu bahwa mafhum itu adalah pemahaman, sedangkan mashadaq adalah cakupan. Mafhum itu adalah apa yang kita pahami dari sesuatu, sedangkan mashadaq ialah individu yang tercakup oleh apa yang kita pahami itu.

Pada tulisan kali ini kita akan membahas tentang hubungan antara dua lafaz kulliy berdasarkan mashadaq atau individu yang berada dalam cakupannya. Dalam konteks ini, para ahli ilmu mantik menjelaskan bahwa jika kita menemukan dua lafaz kulliy, dan kita ingin mengetahui hubungan antara keduanya, maka hubungan antara keduanya tidak akan keluar dari empat kemungkinan.

Adakalanya dua lafaz kulliy itu memiliki mashadaq yang sama, adakalanya mashadaq dari lafaz kulliy yang satu tercakup oleh mafhum lafaz kulliy yang lainnya, adakalanya mashadaq keduanya bertemu dalam satu titik, dan berpisah pada titik yang lain. Dan adakalanya juga dua lafaz kulliy itu memilik mashadaq yang berbeda-beda sehingga keduanya tidak bisa berjumpa.

Dari sinilah kita mengenal istilah “al-Nisab al-Arba’” (hubungan yang empat) dalam konteks pembahasan mengenai hubungan antara dua lafaz kulliy itu. Lantas, apa saja hubungan yang empat itu? Mari kita simak uraiannya sebagai berikut: 

[1] Nisbah Tasawi

Nisbah Tasawi berlaku bagi dua lafaz kulliy yang masing-masing mashadaq-nya tidak berbeda alias sama. Dengan ungkapan lain, jika seluruh mashadaq dari satu lafaz kulliy itu berlaku juga bagi lafaz kulliy yang lain, maka ketika itu hubungan atau nisbah antara keduanya ialah nisbah tasawi. Tasawi artinya “kesamaan”. Ia dinamai tasawi karena mashadaq yang dimiliki oleh dua lafaz kulliy tersebut memiliki kesamaan. 

Contohnya seperti kata insan dan nathiq. Insan artinya manusia. Nathiq artinya orang yang berpikir. Individu yang tercakup oleh kata insan adalah individu yang juga tercakup oleh kata nathiq. Sehingga kita bisa mengatakan bahwa setiap insan itu nathiq, dan setiap nathiq itu adalah insan.

Setiap manusia itu adalah makhluk hidup yang mampu berpikir. Dan setiap makhluk hidup yang mampu berpikir pastilah disebut sebagai manusia. Dengan demikian, nisbah keduanya adalah nisbah tasawi. Mengapa? Karena individu yang tercakup oleh kata yang satu juga tercakup oleh kata yang lain.

Contoh lain ialah kata laits dan asad. Keduanya memiliki makna yang sama, yaitu singa. Selain maknanya sama, mashadaq yang dimiliki keduanya juga tidak jauh berbeda. Karena mashadaq keduanya sama, maka kita bisa mengatakan bahwa setiap laits itu asad, dan setiap asad itu laits. Nisbah keduanya adalah nisbah tasawi. Mengapa? Karena masing-masing dari keduanya berlaku untuk mashadaq yang sama.

[2] Nisbah ‘Umum wa Khushush Muthlaq

Hubungan dua lafaz kulliy bisa masuk kategori ini jika mafhum salah satu dari keduanya berlaku untuk seluruh mashadaq yang tercakup oleh lafaz kulliy yang lain. Lebih jelasnya, hubungan tersebut terjadi antara dua lafaz, yang satu lebih khusus (akhassh), dan yang satu lagi lebih umum (a’am)

Lafaz yang lebih umum ini berlaku bagi semua individu dari lafaz yang lebih khusus, dan juga individu-individu lainnya. Sedangkan lafaz yang lebih khusus tidak berlaku bagi semua individu yang tercakup oleh lafaz yang lebih umum, karena dia termasuk salah satu individu yang tercakup oleh lafaz yang lebih umum itu.   

Contohnya seperti kata hewan dan manusia. Keduanya adalah lafaz kulliy karena keduanya berlaku bagi individu atau mashadaq yang banyak. Mashadaq dari kata manusia ialah Ozil, Mustafi, Xhaka, Kolasinac, Diaby, dan manusia-manusia lainnya.

Sedangkan mashadaq dari kata hewan ialah jerapah, singa, onta, kuda, kambing, sapi, dan tentunya ialah manusia itu sendiri. Dengan demikian, kata manusia merupakan salah satu individu yang tercakup oleh kata hewan. Karena ia tercakup oleh kata hewan, dan kata hewan tidak tercakup oleh kata manusia, maka kita bisa mengatakan bahwa setiap manusia itu hewan, tapi tidak semua hewan itu manusia.

Contoh lain: Tumbuhan dan bunga. Mashadaq dari kata bunga ialah bunga mawar, bunga anggrek, bunga anyelir, bunga aster, bunga matahari, bunga terompet, bunga melati dan bunga-bunga lainnya. 

Sedangkan mashadaq dari kata tumbuhan ialah padi, kelapa, jagung, jahe, kunyi, kentang, tembakau, cengkeh, dan tentunya ialah bunga itu sendiri. Dengan demikian, bunga adalah salah satu dari individu yang tercakup oleh kata tumbuhan. Karena ia tercakup oleh kata tumbuhan, maka kita bisa mengatakan bahwa setiap bunga itu adalah tumbuhan. Tapi tidak semua tumbuhan itu bunga. Mengapa? Karena kata tumbuhan lebih umum dari kata bunga.

[3] Nisbah ‘Umum wa Khushush min Wajhin

Hubungan ini terjadi antara dua lafaz kulliy yang masing-masing dari keduanya berlaku untuk sebagian dari mashadaq yang tercakup oleh lafaz kulliy yang lainnya, tapi dalam saat yang sama, mereka juga berpisah pada mashadaq yang berbeda. Lebih jelasnya, dua lafaz kulliy itu bertemu pada mashadaq tertentu, lalu kemudian mereka berpisah dalam mashadaq yang lain.

Contohnya seperti kata Mishriy (orang Mesir) dengan kata Muslim (orang Muslim). Mashadaq dari kata mishriy ialah semua orang Mesir, baik ia beragama Islam, Yahudi ataupun Kristen. Sedangkan mashadaq dari kata Muslim ialah siapa saja yang berstatus sebagai Muslim, baik dia itu orang Mesir ataupun bukan orang Mesir.

Keduanya bertemu pada satu mashadaq tertentu, yakni orang Muslim yang berkewarganegaraan Mesir. Tapi dalam saat yang sama keduanya berpisah dalam mashadaq yang lain, yakni orang Mesir yang bukan Muslim, dan orang Muslim yang bukan warga negara Mesir. Dengan demikian, hubungan antara keduanya adalah ‘umum wa khusush min wajhin.

Contoh lain: kata indunisiy (orang Indonesia) dan kata thalib (pelajar). Masing-masing memiliki afrad atau mashadaq yang berbeda-beda. Kata indunisiy berlaku bagi siapa saja yang berkewarganegaraan Indonesia, sekalipun dia bukan pelajar, sebagaimana kata thalib juga berlaku bagi siapa saja yang berstatus sebagai pelajar, sekalipun dia bukan orang Indonesia.

Keduanya bertemu pada satu titik, yakni pada pelajar yang berkewarganegaraan Indonesia. Tapi keduanya juga berpisah pada titik yang lain, yakni pada orang Indonesia yang bukan pelajar, dan pelajar yang bukan warga negara Indonesia. Hubungan antara keduanya ialah ‘umum wa khusus min wajhin. Karena keumuman dan kekhususannya ketika itu hanya dari satu sisi saja.  

[4] Nisbah Tabayun

Hubungan antara dua lafaz kulliy dikatakan tabayun apabila mashadaq dari lafaz kulliy yang satu berbeda sama sekali dengan mashadaq dari lafaz kulliy yang lain. Contohnya seperti kata buku dan mobil. Mashadaq dari kata buku ialah buku tafsir, buku hadits, buku filsafat, buku sejarah, buku politik, dan buku-buku lainnya.

Sedangkan mashadaq dari kata kata mobil ialah kijang, mercedes, BMW, ferrari, toyota, dan mobil-mobilnya lainnya. Mashadaq keduanya jelas berbeda, karena itu nisbah antara keduanya disebut dengan nisbah tabayun, yang artinya “perbedaan”. Contoh lain, saya kira, cukup banyak. Intinya, selama mashadaq antara keduanya berbeda sama sekali, sekali tidak bisa bertemu, maka dia masuk kategori tabayun.

Kesimpulannya, hubungan antara dua lafaz kulliy hanya terangkum dalam empat macam. Jika mashadaq yang satu persis sama dengan mashadaq lafaz yang lain, maka hubungannya adalah tasawi. Tapi jika mashadaq yang satu tercakup oleh mafhum lafaz yang lain, sehingga yang satu lebih khusus, dan yang satu lagi lebih umum, maka hubungannya ialah ‘umum wa khusush muthlaq.

Selanjutnya, jika masing-masing dari lafaz kulliy itu bertemu dalam satu titik, dan berpisah pada titik lain, maka hubungannya ketika itu ialah ‘umum wa khusus min wajhin. Tapi jika mashadaq dari kedua lafaz kulliy itu berbeda sama sekali, sehingga keduanya tidak bisa berjumpa, maka ketika itu hubungannya adalah tabayun.

Artikel Terkait