Membicarakan filsafat rasanya kurang sempurna jika kita tidak mengambil salah satu tokoh dari Prancis. Negara itu memang lebih banyak menyumbang pemikir-pemikir andal dalam dunia filsafat. Termasuk Jean Francois Lyotard yang dianggap sebagai imam besar postmodernisme.

Lyotard lahir 10 Agustus 1924. Selain dikenal sebagai filsuf, ia juga sebagai ahli sastra. Ia menyelesaikan program doktor di bidang sastra pada tahun 1971. Gagasan yang membuatnya tenar tercantum dalam bukunya yang berjudul The Postmodern Condition.  Buku itu memuat gagasan posmodernisme yang menentang kaum modernis.

Ketidakpuasan terhadap status ilmu pengetahuan modern merupakan salah satu pemicu lahirnya mazhab postmodernisme. Pengetahuan modern dianggap menutup diri terhadap kemungkinan-kemungkinan kebenaran yang datang dari sisi non-ilmiah. Padahal sifat mutlak ilmu pengetahuan selalu berkembang dan berkembang.

Aturan main modernisme selama ini, untuk menemukan kebenaran dan pengambilan keputusan, masih terpaku pada objektivitas alamiah sehingga menggerakkan kesadaran dan tanggung jawab setiap individu untuk berbenah demi sebuah legitimasi ilmu pengetahuan dan kemajuan intelektual di masa yang akan datang.

Pada mulanya filsafat posmodernisme ini lahir dalam bidang seni. Hal ini muncul sebagai kritik dekonstruktif terhadap budaya seni modern. Seiring berjalannya waktu kemudian merambah ke berbagai bidang lainnya seperti literatur, arsitektur dan sebagainya.

Walaupun masih diperdebatkan siapa pertama kali pencetus gagasan ini namun Charles Jenks salah satu tokoh arsitektur postmodern menyatakan bahwa konsep postmodern lahir dari tulisan Frederico de Onis seorang ahli Spanyol melalui tulisannya yang berjudul, Antologia de la Poesia Espanola e Hispanoamericana (1934) (Lubis, 2013:138).

Peristiwa sebelumnya yang membawa postmodernisme ini ke permukaan adalah seniman kebangsaan Prancis Marcel Duchamp 1917 memamerkan karya seninya yang diberi judul Fountain. Hanya seonggok jamban tempat pembuangan tinja yang biasa kita temui di rumah masing-masing. Sontak hal itu menuai protes pada zamannya.

Selain Fountain, pada tahun 1961 Merda d’artista (tahi seniman) karya Piero Manzoni juga menjadi buah bibir di dunia seni. Kedua karya ini merupakan kritik serta gerakan perlawanan terhadap standar konsesnsus estetika yang fokus pada takaran indrawi.

Lyotard memberikan pengertian postmodernisme sebagai segala kritik atas pengetahuan universal, atas tradisi metafisik, fondasionalisme maupun atas modernisme (Maksum dalam Sudrajat dan Setiawan, 2018:27-28). Artinya modernis sudah tidak layak pakai perlu direvisi dengan teori-teori baru seiring berkembangnya zaman.

Menurut Emanuel, Posmodernisme adalah keseluruhan usaha yang bermaksud merevisi kembali paradigma modern (Sudrajat dan Setiawan, 2018:28). Dari dua definisi ini sudah jelas kebenaran modern perlu diperbarui dan disempurnakan kembali dengan filsafat modernisme sebab kebenaran saat ini belum tentu benar di masa akan datang.

Lyotard telah mengemukakan gagasannya tentang status: pengetahuan “narasi” postmodern dengan pengetahuan ilmiah modern.

Pengetahuan narasi postmodern merupakan pengetahuan tanpa harus merujuk pada bukti-bukti ilmiah. Sehingga pengetahuan “narasi” dapat dibuktikan dengan sudut pandang yang berbeda dan luas melalui bahasa metafor dan kebenaran paling mungkin dihasilkan oleh subjek bukan objek.

Sedangkan pengetahuan ilmiah modern hanya terpusat pada satu sisi (objektivitas) benar salah, hitam putih, artinya terpaku pada satu permainan bahasa denotatif. Adapun kerangka berpikirnya dianggap lemah dalam melegitimasi pengetahuan karena peraktenya pengungkapan kebenaran hanya menggunakan satu sudut pandang indrawi manusia.

Sisi negatifnya kebenaran versi modern tidak otentik sebab proses awal telah dipengerahui oleh kepentingan sosio-politis tidak sebagai ilmu pengetahuan yang otentik tetapi lebih kepada kebutuhan individu untuk menciptakan legitimasi ilmu pengetahuan.

Menurut Lyotard kita harus membuka kembali berbagai teori baru dan kemungkinan-kemungkinan kebenaran baru serta menolak pemikiran totaliter. Postmodern mendobrak filsafat rasio yang selama ini menganggap di luar nalar panca indra adalah omong kosong.

Contoh cara kerja modernisme dan postmodernisme akan saya jabarkan sesederhana mungkin dalam kalimat berikut adalah: Udin akan tidur

Orang modernis akan berpikir bahwa Udin sedang mengantuk sehingga ia akan tidur. Karena logika sederhananya tidur identik dengan kantuk. Tapi orang postmo akan berpikir lebih luas, bisa jadi Udin akan tidur karena stress sehingga ia ingin menenangkan diri. Atau Udin sedang lari dari masalah, atau Udin tidur agar di kegiatannya nanti tidak mengantuk.

Nah, di sinilah kita dapat melihat bahwa pengetahuan ilmiah modern yang selama ini dianggap sebagai kebenaran tertinggi ternyata lebih sempit dalam mengungkap kebenaran dan ilmu pengetahuan.

Ciri seorang postmodernis di antaranya, terbuka, subjektif, pluralis, progresif, skeptis terhadap fakta ilmiah, menekankan sisi hermeneutik dalam mengidentifikasi ilmu pengetahuan. Jadi seorang postmo tidak hanya memberikan jawaban matematik pada soal matematik tapi juga menerima jawaban versi sosiologis, psikologis, ekonomi dan lain.

Oleh sebab itu postmodernis sengaja diutus ke muka bumi untuk menyempurnakan kaum modernis dan ilmu pengetahuan agar terbuka dan berkembang. Sebab kebenaran itu relatif tergantung dari sudut pandang mana kita melihat.

Tepat hari ini, 22 tahun yang lalu sebelum teori postmodernisme rampung dan benar-benar diterima oleh para akademis, sang penggagas berpulang. Sehingga menyisakan banyak pertanyaan dan problem yang belum dituntaskan.