Sebelum nama-nama besar seperti Montesquieu dan August Comte memperkenalkan pemikirannya tentang masyarakat, seorang pemikir besar kelahiran Tunisia telah lebih dulu menjelaskan tentang penyebab kejatuhan dan kebangkitan sebuah peradaban. Sosiolog sekaligus sejarawan ini bernama Ibnu Khaldun (1332-1406) yang terkenal dengan karya fenomenalnya Mukaddimah.  Pada mulanya, Ibnu Khaldun ingin menulis tentang sejarah timbul dan tenggelamnya dinasti bangsa-bangsa Arab dan Berber di Afrika Utara, tapi saat mengumpulkan materi tulisannya, dia menemukan metode-metode sejarah yang dilakukan para pendahulunya tidak memadai untuk dijadikan refrensi. Untuk itulah dia menulis Mukaddimah yang digunakannya sebagai metode ilmiah dalam memisahkan sejarah yang bisa dipercaya dari cerita-cerita khurafat pada masanya.

                Ada banyak hal yang bisa dipelajari dalam Mukaddimah, namun salah satu yang paling mencolok dari pemikirannya adalah ashabiyah. Beberapa bahkan beranggapan bahwa  tidak mungkin membicarakan Ibnu Khaldun tanpa membahas ashabiyah. Namun, karena ashabiyah ini terkadang diasosasikan sebagai kata yang bermakna negatif, maka pembahasan tentangnya seringkali memicu perdebatan. Beberapa menganggap bahwa ashabiyah merupakan fanatisme buta yang bisa menimbulkan perpecahan, tapi beberapa lagi menganggap ashabiyah sebagai salah satu jalan untuk memupuk nasionalisme.

                Secara etimologi, ashabiyah beradal dari kata ashab yang berarti hubungan dan ‘ishabah yang berarti ikatan. Dengan demikian, ashabiyah bisa dimaknai sebagai ikatan atau solidaritas sosial. Dalam Mukaddimah sendiri, Ibn Khaldun tidak menjelaskan secara gamblang definisi ashabiyah. Pemahaman tentangnya harus ditelusuri lebih lanjut dari bagaimana dia memberikan contoh, penjelasan, atau bagaimana menurutnya orang-orang gagal memahami ashabiyah.

                Jika dicermati, ashabiyah dalam Mukaddimah sekurang-kurangnya harus memiliki tiga unsur; rumah nasab, loyalitas, dan fungsi pengendalian. Rumah nasab adalah silsilah keluarga yang menghubungkan orang-orang dalam komunitas. Loyalitas ditunjukkan dengan sikap tolong-menolong dan saling menjaga kehormatan sesama anggota rumah nasab. Sementara fungsi pengendalian adalah mekanisme yang digunakan untuk menjaga nilai dan solidaritas dalam rumah nasab. Pengendalian ini bertujuan memberikan sosialiasi tentang nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi sekaligus memberikan kekuasan pada orang-orang tertentu untuk menengahi konflik internal atau menghadapi pihak eksternal.

                Dari ketiga hal tersebut, kita bisa membedakan antara orang-orang yang benar-benar memiliki ashabiyah dengan orang yang hanya mengaku memilikinya. Seseorang bisa saja memiliki keluarga besar dengan beberapa orang sukses di dalamnya. Namun, jika keluarga besar tersebut hanya terhubung dari sisi nasab saja tanpa loyalitas dan pengendalian internal, rumah nasab tersebut tidak bisa disebut memiliki ashabiyah.

                Ashabiyah yang diada-adakan ini, biasanya muncul jika ada seseorang yang berusaha menarik simpati orang banyak. Saat pilkada atau pilkades, beberapa calon mungkin akan menerangkan mengenai rumah nasabnya untuk mendapatkan simpati dari para pemilih. Akan tetapi, jika rumah nasabnya tidak lagi terhubung satu sama lain, maka hal tersebut tidak bisa disebut ashabiyah. Calon tersebut mungkin bisa menyebutkan nasabnya dari awal sampai kakeknya yang dulu menjabat sebagai raja, tapi apa gunanya hal tersebut jika tidak dihubungkan oleh loyalitas dan fungsi pengendalian satu sama lain?

                Menurut Ibnu Khaldun, dulu orang-orang menghafal silsilah keluarganya karena mereka ingin menjaga fungsi pengendalian dan loyalitas dalam rumah nasabnya. Namun, sejak zaman Ibn Khaldun sampai sekarang, usaha menghafal silsilah keluarga tersebut tidak lagi betul-betul berguna. Orang-orang hanya mengetahui nama-nama pendahulunya tapi tidak memahami apa yang menjadi penyebab keluhurannya, apalagi harus menjaga nilai dan loyalitas antar keluarga yang ada di dalamnya.

                Salah satu cara menghidupkan ashabiyah adalah dengan saling mengunjungi. Saat ada yang sakit, anggota yang lain datang menjenguk. Saat ada yang berbahagia, mereka saling berbagi suka. Mereka saling mengingatkan dan menjaga nilai-nilai yang mereka anggap penting dan menjaga kehormatan satu sama lain. Para tetua diperlakukan dengan hormat, sementara generasi yang lebih muda menjadi kebanggaan rumah nasab.

                Biasanya, rumah nasab memiliki satu atau beberapa orang yang mendapatkan posisi istimewa untuk menengahi konflik internal. Orang ini mampu berdiri di depan semua kalangan dalam rumah nasab. Sekurang-kurangnya, orang ini harus memiliki beberapa kriteria. Pertama, menguasai retorika sehingga bisa menengahi permasalahan atau mengajukan tuntutan dalam rumah nasab. Kedua, memiliki karisma dan kepribadian yang luhur sehingga bisa menjadi panutan dalam rumah nasab. Terakhir, mampu terhubung dengan semua kalangan dalam rumah nasab.

                Ashabiyah dalam Konteks Kekuasaan

                Menurut Ibnu Khaldun, tujuan utama dari ashabiyah adalah kekuasaan. Sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya, ashabiyah yang baik meniscayakan adanya pemberian kekuasaan pada orang-orang tertentu untuk menjaga kondisi internal rumah nasab. Dalam komunitas yang lebih besar, mereka yang berasal dari ashabiyah yang lebih kuat akan memimpin mereka yang berasal dari ikatan ashabiyah yang lebih lemah. Loyalitas antar keluarga dalam rumah nasab, yang diwujudkan dengan sikap saling tolong-menolong dan saling jaga kehormatan, lebih berhak mendapatkan kekuasaan ketimbang rumah nasab yang anggotanya tercerai berai dan tidak mampu saling menjaga kehormatan.

                Akan tetapi,  menggunakan ashabiyah dalam konteks kekuasaan rasanya tidak tepat lagi digunakan di masa sekarang. Ibnu Khaldun sendiri mengatakan bahwa ketika peradaban sudah semakin kokoh, ashabiyah tidak lagi begitu dibutuhkan. Mungkin kita masih bisa menghubungkan keduanya, tapi hal tersebut bukan tujuan utama dari tulisan ini. Saya sendiri memandang bahwa kekuasaan hanyalah fungsi latensi alih-alih fungsi manifestasi dari ashabiyah. 

                Ashabiyah tidak melulu soal kekuasaan. Dia juga tidak sama dengan sikap selalu mengutamakan kepentingan anggota keluarga dengan segala cara. Ashabiyah adalah tentang bagaimana anggota rumah nasab saling jaga dan saling memastikan dalam kebaikan dan keselamatan. Seseorang yang memahami ashabiyah dengan baik tidak akan melakukan nepotisme. Sekiranya anaknya mencuri, ikatan ashabiyah akan tetap memastikannya untuk mendapatkan hukuman sekalipun anaknya harus kehilangan tangan.  Ashabiyah juga tidak akan memaksa anggota keluarganya untuk memegang kekuasaan sekiranya dia mengetahui anggota keluarga tersebut tidak bisa amanah. Melakukan berbagai perbuatan tercela tersebut hanya akan mengotori rumah nasabnya sendiri.

                Ashabiyah dan Fungsi Pengendalian Sosial 

                Oleh karena itu, saya lebih suka memandang konsep ashabiyah dari sisi yang lain. Meskipun kita tidak lagi menjadikan kekuasaan sebagai tujuan utamah dari ashabiyah, kita bisa menggali beberapa fungsi lain yang melekat padanya.

                Untuk konteks sekarang, ashabiyah bisa berfungsi sebagai lembaga pertama yang mengajarkan pengendalian sosial. Anggota keluarga yang sudah dewasa akan meneruskan nilai-nilai yang dianggap luhur kepada anggota yang lebih muda. Generasi muda juga diperkenalkan dengan konsekuensi sosial dari tindakan mereka. Jika melakukan sesuatu yang baik, mereka akan mendapatkan sanksi positif. Di sisi lain, mereka juga akan mendapatkan sanksi negatif jika terbukti melakukan hal tercela.

                Sosialiasi nilai ini bisa dilakukan secara langsung. Misalnya, melalui wejangan yang diberikan orang tua setelah mendudukkan anak-anak setelah maghrib. Akan tetapi, bentuk tidak langsungnya bisa lebih banyak lagi dan terkadang lebih efektif. Generasi mudah biasanya lebih mudah belajar tentang nilai dan loyalitas ketika diajak ke acara keluarga, mengunjungi tempat kerja, atau melalui interaksi keseharian sesama anggota keluarga.

                Ashabiyah juga bisa menjadi tempat pertama bagi anggota keluarga untuk mengaktualisasikan diri sebagai makhluk sosial. Dalam fungsi ini, anggota rumah nasab akan diberi pengalaman saling membantu, saling bekerja sama, saling menjaga kehormatan, ataupun bermusyawarah untuk pertama kalinya. Anggota muda yang diikutsertakan dalam kegiatan kebudayaan, pengambilan keputusan,  pembangunan desa, dan penyelenggaran pesta pernikahan berikut segala adatnya, akan memberi pengalaman berharga kepada mereka sebagai makhluk sosial.  

                Terakhir, ashabiyah juga bisa menjadi tempat kembali dan perlindungan bagi semua anggota rumah nasab. Ashabiyah adalah sistem sosial di mana seharusnya tidak ada orang yang merasa yatim baik dari segi sosial, ekonomi, maupun hukum. Di sini, orang yang dituakan dalam rumah nasab, akan mengambil peran yang penting. Mereka akan menengahi konflik internal dan mencarikan solusi untuk permasalahan yang tidak bisa diselesaikan secara mandiri.

                Penutup: Ashabiyah sebagai Sesuatu yang Netral

                Al-Quran memberikan banyak penekanan mengenai pentingnya keluarga. Tidak hanya dalam konteks hubungan rumah tangga tapi juga dalam konteks sosial. Salah satu cerita yang menarik dalam kitab suci tersebut adalah kisah Nabi Luth yang pernah berharap memiliki keluarga yang kuat yang bisa melindungi beliau a.s. dalam melakukan dakwahya. Sewaktu menghadapi kaumya yang memaksanya menyerahkan tamu-tamu yang suci, beliau berkata, “Sekiranya aku memiliki kekuatan (untuk menolakmu) atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat.” Para nabi yang diutus setelahnya pun rata-rata dianugerahi keluarga yang kuat sebagai pelindungnya (kalau bukan semuanya) termasuk nabi Muhammad Saw.

                Ashabiyah Ibnu Khaldun harus dipahami sebagai sesuatu yang bersifat netral. Dalam arti, baik dan buruknya ashabiyah tergantung pada nilai-nilai yang dilekatkan kepadanya. Kita tidak bersepakat dengan ashabiyah yang dijadikan sebagai alat untuk melakukan nepotisme atau sebagai alasan untuk membela anggota keluarga yang telah melakukan perbuatan merugikan atau melanggar hukum. Akan tetapi, tentunya tidak ada yang salah jika kita menggunakan ashabiyah sebagai alat untuk saling tolong-menolong dalam kebaikan. Kita tentunya harus menjadikan Rasulullah Saw sebagai teladan dalam hal ini. Beliau tidak akan segan-segan menegakkan hukum potong tangan kepada Fatimah Az-Zahrah sekiranya putrinya yang tercinta mencuri. Di sisi lain, beliau juga menekankan pentingnya sikap saling tolong-menolong sesama anggota keluarga termasuk cinta kepada tanah kelahiran.

                Beberapa orang mungkin mengira bahwa mencintai kemanusiaan berarti mengabaikan ikatan nasionalisme, keagamaan, atau kekeluargaan. Padahal, usaha mencintai kemanusiaan tersebut justru bisa dimulai dari hal yang terdekat dengan kita. Sama seperti mencintai diri sendiri adalah landasan untuk mencintai sesama manusia, mencintai dan menjaga ikatan dalam rumah nasab pun bisa menjadi pondasi awal dalam mencintai dan menjaga nilai-nilai kemanusiaan yang lebih universal.