"Kalau Tuhan itu beranak, terus bidannya siapa?" penggalan ceramah Habib Rizieq Shihab beberapa waktu lalu. Seketika saja, membuat umat kristiani dadanya terbakar menyala-nyala. Kupingnya memerah merasa tersinggung.

Seperti asap hitam-kelam menyebar dengan cepat, bagai cepatnya rentetan status Facebook dalam hitungan detik. Badai pasir itu membentuk dinding besar yang belum pernah dilihat manusia. Menderu mengeluarkan suara mengerikan “Om Toleran Om”. Melibas keangkuhan yang bersandar pada mayoritas. Kemudian Habib Rizieq terbangun dari tidurnya, ia merasakan mimpinya malam itu aneh.  

Tak lama kemudian, Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP-PMKRI) melaporkan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab. Sama halnya dengan Ahok ia dituding menistakan agama Kristen melalui ceramahnya pada Ahad (25/12) di Pondok Kelapa.

“Tak disangka, ternyata ini makna mimpi malam itu,” Habib Rizieq menggerutu.

Dugaan penistaan agama sontak mengundang ribuan pasang mata. Beragam komentar pedas, miring, mengsle dan apapun itu namanya.  Pro dan kontra saling sahut menyahut. Banyak yang menghujat, mencela, tak sedikit pula yang membelanya. Dari ribuan komentar, ada satu komentar dan saya pun akhirnya cenderung setuju bahwa; Habib Rizieq Shihab telah mendapatkan “Karma”.

Menurut beberapa ahli karma merupakan hukum bahasa universal artinya setiap perbuatan akan mendatangkan hasil. Siapa yang berbuat dia juga yang akan menerima hasilnya, bukan orang lain. Jika perbuatan baik maka baik pula hasilnya. Jika perbuatan jahat maka keburukan yang diterimanya, begitu seharusnya.   

Habib Rizieq Shihab adalah aktor intelektual Aksi 411 dan 212 yang konon diikuti jutaan umat muslim. Pria bersurban itu juga yang telah mempolisikan Gubernur Nonaktif Basuki Tjahaya Purnama. Kini, sang Imam Besar itu sedang memetik buah dari apa yang telah ditanamnya. Menerima hasil dari perbuatannya.

Reaksi keras PMKRI tersebut merupakan konsekuensi logis karena akidahnya diolok-olok. Tidak ada unsur kesengajaan yang dibuat-buat, apalagi dorongan politik yang berujung pada sentimen agama.

Saya amat yakin PMKRI tidak mempunyai alasan mengintai Habib Rizieq berbuat salah dan menelisik kesalahannya. Manakala Habib Rizieq terperangkap kesalahan dalam berucap, spontan akan diproses melalui jalur hukum. Kasus ini juga tidak ada pemotongan video dikarenakan tukang editing video, Buni Yani sedang sibuk dengan proses hukumnya sendiri. Sari Roti juga tak perlu khawatir, tidak akan diboikot seperti sebelumnya .

Tudingan penistaan agama yang dialamatkan kepada Ahok maupun Habib Rizieq menunjukkan Indonesia dalam keadaan “sakit”. Indonesia diliputi kabut hitam bernuansa SARA. ketersinggungan agama menguat. egoisme agama meningkat, seakan kedamaian sulit dicapai.

Sejumlah kasus berbau SARA seperti; baik penistaan ucapan, radikalisme hingga terorisme terus mendera bangsa ini. Baru-baru ini umat islam mempunyai kebiasan tak wajar, mereka suka teriak “Takbir” dan meneriaki “Kapir”.  Dalam konteks berbangsa dan bernegara, hal itu seakan menjawab bahwa masyarakat Indonesia sudah lari meninggalkan Pancasila.

Mumpung dipenghujung tahun 2016 dan dalam situasi seperti ini, tak ada salahnya kita mengingat dan merenungi kembali rasa kebangsaan kita.

Soekarno dalam pidatonya berulang kali selalu menekankan bahwa; negara yang sedang dibangun itu adalah negara "semua untuk semua” bukan negara untuk satu orang, bukan negara untuk satu golongan. Dengan demikian negara yang hendak dibangun adalah negara kebangsaan.   

Oleh sebab itu, kehadiran islam sebagai agama mayoritas tidak memiliki nilai tambah tertentu, setiap agama secara prinsip diperlakukan setara. Begitu juga dengan kesukuan dan ras adalah berlaku hal yang sama juga.

Tak bisa disa dipungkiri, Indonesia adalah negara multikultur dan multiagama. Dengan pertimbangan tersebut, Soekarno merumuskan konsepsi Ketuhanan yang berkebudayaan, Ketuhanan yang Berbudi Luhur dan Ketuhanan yang hormat-menghormati satu sama lain.

Bung Karno, dalam pidatonya tentang Dasar Negara pada 1 Juni 1945 menegaskan.

“Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi setiap orang Indonesia hendaknya bertuhan dengan Tuhannya sendiri. Hendaknya rakyat bertuhan secara kebudayaan, dengan tiada egoisme agama. Marilah kita jalankan agama secara berkeadaban, saling menghormati. Ketuhanan yang berbudi pekerti luhur.”

Menurut Yudi Latif (2011:114), Nilai-nilai yang dikehendaki Pancasila adalah nilai Ketuhanan yang positif, yang digali dari nilai-nilai profetis agama-agama yang bersifat inklusif, membebaskan, memuliakan keadilan dan persaudaraan. Ketuhanan yang lapang dan toleran yang memberi semangat kegotong-royongan dalam rangka pengisian etika sosial dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Lebih lanjut, Yudi Latif menambahkan, dengan penempatan sila Ketuhanan diatas sila-sila yang lain, politik negara mendapat akar kerohanian dan dasar moral yang kuat. Ketuhanan Yang Maha Esa tidak hanya lagi dasar hormat-menghormati agama masing-masing‒seperti yang dikemukakan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945‒melainkan jadi dasar memimpin kejalan kebenaran, keadilan, kebaikan, kejujuran dan persaudaraan.

Dalam perumpamaan amat sangat sederhana meski tidak sesederhana itu, mari berfikir radikal; kalaupun setiap agama-agama meyakini kehadiran Tuhannya kenapa seluruh umat lintas iman tidak pernah mendengar keributan Tuhan satu dengan lainnya. Tentu saja, karena Tuhan setiap agama tersebut dapat hidup berdampingan, hormat dan menghormati di alam sana.

Jika Tuhan toleran kenapa umatnya tidak?