Sebagai dokter yang bertugas di Puskesmas, tidak jarang saya kumpul-kumpul dengan masyarakat. Dalam penyuluhan, saya merasa trenyuh. Pasalnya dalam pertemuan itu tidak sedikit warga yang belum memahami bahaya darah tinggi (hipertensi), si pembunuh numero uno di dunia.

Ada warga yang percaya bahwa darah tinggi itu tidak berbahaya. Paling efeknya cumin pusing-pusing. Ada juga yang bilang kalau minum obat darah tinggi itu berbahaya jika terus menerus. “Minumnya sesekali aja kalau bergejala, biar tidak kenal ginjal dok”, begitu katanya. Aduhh ambyar.

Cerita di atas adalah klise yang banyak ditemui di lapangan. Salah kaprah masyarakat dalam memandang darah tinggi membuat orang gagal paham, pengobatan tidak maksimal dan jeduuaaar. Timbul komplikasi. Mengingat satu dari dua orang adalah penderita darah tinggi, memahami darah tinggi bisa dikatakan jadi salah satu kunci umur panjang yang berkualitas bagi setengah populasi manusia. Salah satu cara mudah memahami bahaya darah tinggi bagi non-medis adalah menganalogikanya dengan teori balon.

Manusia hidup karena jantungnya memompa darah ke organ seperti otak, ginjal, paru, dan ke semua organ, bahkan jantung itu sendiri. Darah berada di dalam pembuluh darah dan mengandung oksigen serta nutrisi untuk kelangsungan berbagai organ tubuh. Ketika jantung memompa darah, otomatis ada tekanan yang meregang pembuluh darah. Bisa dianalogikan seperti balon yang ditiup. Tekanan dari dalam akan semakin besar meregangkan balon.

Layaknya balon bisa meletus kalau ditiup terlalu kenceng, pembuluh darah pun sama. Baik pada balon dan pembuluh darah tekanannya tidak boleh terlalu tinggi. Tekanan tinggi pembuluh darah itu berapa? Dikatakan tekanan darah tinggi kalau lebih dari 140/90mmHg.

Coba kita bayangkan kalau pembuluh darah meletus. Duarrr… Maka darah akan bocor keluar dari jalurnya dan organ yang dikasih makan pun bisa mati kekurangan aliran darah!!

Komplikasi darah tinggi berupa pecahnya pembuluh darah bermacam-macam gejalanya. Tergantung pembuluh darah mana yang terkena. Kita sebut ya, kalau yang terkena pembuluh darah yang ngasih aliran darah ke otak pecah. Maka akan ada bagian otak yang mati dan alhasilpun terjadi CVA (cerebrovascular accident) atau orang umum menyebutnya dengan stroke. Gejalanya mulai dari gangguan atau ketidak mampuan berbicara dan bergerak, yang sering (mohon maaf) menimbulkan kecacatan permanen.

Nah kalau yang terkena itu pembuluh darah menuju jantung nanti gejalanya ya gejala gagal jantung. Kalau pembuluh darah ginjal, ya gejala gagal ginjal. Semua tergantung dari pembuluh darah organ apa yang terkena ya situ nanti gejalanya.

Mengutip pernyataan salah seorang warga “Gejala darah tinggi ya cuman pusing-pusing gitu dok”. Memang benar salah satu gejala darah tinggi adalah kepala terasa pusing atau pundak yang berat. Layaknya balon, ketika dipompang “jedup.. jedup.. jedup.. jedup” dengan tiupan yang tekanan tinggi maka balon akan meregan. Pembuluh darah yang teregang inilah yang terasa sebagai pusing.

Jadi ketika sudah dirasakan perasaan tidak enak di kepala atau pundak. Itu artinya pembuluh darah sudah teregang dan bisa pecah kapanpun. Tidak berlaku bagi semua orang, namun sering kali gejala ini terjadi ketika tekanan darah di atas 180/120mmHg. Jika sudah ada gejala nyeri kepala, penglihatan kabur atau nyeri perut maka tekanan darah harus diturunkan segera agar tidak terjadi pecahnya pembuluh darah. Kondisi tersebut adalah kegawat daruratan pada pasien darah tinggi.

Selain bisa menyebabkan pembuluh darah pecah, darah tinggi juga punya cara lain dalam menyebabkan komplikasi. Tekanan darah yang dibiarkan tinggi terus menerus akan membuat pori-pori dinding pembuluh darah akan semakin terbuka. Jika kita analogikan, balon yang teregang pori-porinya juga akan semakin terbuka. Masalahnya, isinya balon itu udara dan isinya pembuluh darah itu darah.

Darah mengandung nutrisi termasuk lemak dan gula. Kita pasti sering mendengar kalau terlalu banyak mengkonsumsi lemak dan gula tidak baik untuk kesehatan karena bisa menyebabkan sakit jantung, stroke dan kawan-kawanya. Itu karena lemak dan gula di darah masuk ke dalam pori-pori pembuluh darah, lalu mengendap di dinding pembuluh darah. Alhasil timbullah plak di dinding pembuluh darah (atherosclerosis) yang membuat pembuluh darah mejadi kaku dan terbuntu. Jika kita bayangkan mungkin seperti selang balon yang karatan sampai menutup 90% lubang balon itu.

Plak (karat) itupun menghentikan aliran pembuluh darah ke organ. Membuat organ kelaparan bahkan sampai mati. Tidak jarang plak menyebabkan pembuntuan aliran arah ke jantung sehingga menyebabkan jantung koroner dan gagal jantung, ke otak menyebabkan stroke, ke ginjal menyebabkan gagal ginjal dan ke mata menyebabkan kebutaan permanen.

Kalau kita pikir-pikir semua komplikasi darah tinggi itu mengerikan. Bahkan mungkin kita punya kenalan yang lumpuh karena stroke, tidak bisa beraktivitas karena gagal jantung, buta karena kerusakan pembuluh darah di mata atau bengkak dan rutin cuci darah karena gagal ginjal. Lebih dari setengahnya diperkirakan memiliki darah tinggi yang tidak terkontrol.

Karena komplikasinya yang begitu mengerikan dengan gejala yang mungkin tidak ada atau bahkan ringan, darah tinggi dijuluki sebagai silent killer. Korban komplikasinya akan mengalami penurunan kualitas hidup, membebani keluarga, menghancurkan ekonomi, dan menyebabkan kematian. Pada tahun 2019 saja BPJS telah menggelontrokan 75% anggaranya atau setara 15 trilyun rupiah untuk menangani komplikasi darah tinggi. Jadi siapa bilang gejala darah tinggi hanya pusing?

Sebagai penutup, meskipun komplikasi darah tinggi bisa menyebabkan kerugian yang luar bisa, namun komplikasi bisa dicegah secara efektif dengan mengontrol tekanan darah. Jadi semua dari kita berpotensi memiliki darah tinggi dan semua dari kita dapat pula mencegah komplikasinya.

Pertanyaan menariknya, setelah kita memahami bagaimana darah tinggi bisa begitu berbahaya dengan teori balon karatan, sudahkah kita memahami cara mencegah komplikasi darah tinggi untuk kita dan keluarga tercinta?