Gema takbir gagah berkumandang, memenuhi segala penjuru langit. Dikuatkan rentet pijar yang menyalak, zikir-zikir kekinian dari proyektil 7,62 mm. Ganasnya merobek kerapatan udara panas Kota Mosul, di Irak itu.

Jubah-jubah hitam yang dipadu kevlar-kevlar warna hijau olive itu, mereka berloncatan dari truk. Seorang dengan wajah bersih dan jambang awut-awutan mendekat ke arah pojok jalanan berdebu itu.

Langkah gembong penuntut khilafah itu terlihat bergegas menuju bangunan yang setengah rimpuk. Sebuah reruntuhan benteng kota kuno Kota Tua Ninive, Kerajaan Assyiria. Akhirnya, situs arkeologi yang berusia hampir 3.000 tahun itu dikencinginya.

“Hmmm…..ini yang membuat distorsi,” gumamnya sambil memainkan batang kelaminnya, diputar-putarnya membentuk lintasan elips, memancarkan air kencingnya sedemikian rupa.  

Basahan itu mengguyuri pori-pori tembok kerontang. Menyisakan lesak bau pesing khas dehidrasi.

Uapnya yang tak sempat membumbung ke langit, balik lagi ke batang kelaminnya. Sebuah gelanggang aksi (repertoire) yang maha bangsat.

Hadzihi ‘aqidatuna,” desis dari mulutnya sambil memainkan batang kemaluannya agar tuntas yang mengalir itu.

Mungkin arti dari desisannya itu, “Ini akidah kami.” Sebuah pernyataan yang berbau penunjukkan. Entah apa yang ditunjuk, apakah kemaluannya yang kekar itu. Akidah yang melengkung pisang.

Digesek-gesekkannya ke tembok tua Kota Ninive kemaluannya untuk hilangkan najisnya. Tertib juga si gembong Mosuli ini dalam kultur darurat cara istinja (cebok) ala agamanya.

Matanya terpejam, nikmat mungkin. Gesekan ke tembok Ninive membuat kelaminnya makin kekar saja, hingga membentuk sudut arah jam dua.

“Syekh!” suara itu membuyarkan kokang arah jam duanya. Sang gembong Mosuli terkejut bukan kepalang.

Baca Juga: Peluit Kreol

“Ente naar!!” (neraka!!)

“Maaf, Syekh.” Anak buah gembong Mosuli itu ketakutan mendapatkan “naar” (neraka) dari mulutnya yang hampir tertutup oleh jambang dan kumis lebat yang menumpuk bak tahi kerbau itu.

Hadzihi yadun la tamatsaha narun abada.” Gembong Mosuli itu mendesis lagi. Kali ini menciumi tangannya sendiri yang bau tengik kelaminnya.

Jari-jarinya tampak kapalan, terlalu sering menarik pelatuk dan menahan hantaman rekoil senapan yang entah sudah berapa kali membunuhi nyawa penduduk Ninive.

Anak buahnya, si Juhudi Alkefarat manggut-manggut saja. Ia mencoba memahami kata-kata yang diucapkan gembong Mosuli di atas, yang tak jauh dari arti seperti ini: inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka selama-lamanya.

Pikirannya melayang ke gaya istinjak (cebok) pimpinannya itu. Apakah tangan itu yang dimaksud?

“Wahai, Juhudi, kesinilah, cepat!” perintah gembong Mosuli kepada anak buahnya, si Juhudi Alkefarat yang sedang merangkai tebakan-tebakan ala Abu Nuwas di kepalanya.

Juhudi Alkefarat cepat-cepat memenuhi titah junjungannya. Mendekatlah ia setengah berlari.

“Bawa sini tawanan itu!”

“Baik, Syekh!”

Sejak kehadiran ISIS di wilayah itu, warga Yazidi dan Kristen sangat menderita. ISIS akan mengancam untuk menghancurkan tembok Ninive yang menjadi ibu kota kerajaan Asyur kuno.

Tindakan vandalisme budaya itu dijadikan daya penggempur mental penduduk sekitaran reruntuhan Kota Tua Ninive.

Sambil menunggu tawanan yang dimaksud, gembong Syekh Mosuli merebahkan tubuhnya di bawah tenda jaring kamuflase yang salah motif itu. Sungguh, kepandiran yang tiada tara.

Semestinya berlindung dibalik motif kamuflase “chocolate chips” ala tahi unta kering. Eh, ini malah di balik motif “dazzle” ala strip hitam putuh yang mencolok ala kuda zebra itu.

Di pojok tenda ada rak buku. Wah, kutu buku juga ini gembong Mosuli. Di sana terpajang dengan jelas salah satu booklet ISIS yang terkenal “Muqarrar fit-Tauhid” (Buku Daras Tauhid) yang berisi gradasi 10 poin “auto-kafir” itu.

Kemudiann di sampingnya ada buku kecil lainnya berjudul “Al-Jihad: al-Faridhah al-Ghaibah” (Jihad: Kewajiban yang Hilang) yang ditulis Muhammad Abdus-Salam Faraj, otak serangan pembunuhan Presiden Mesir Anwar Sadat pada tahun 1981 itu.

Assalamu’alaikum,” salam si Juhudi Alkafarat dari luar tenda.

Tanpa menjawab Syekh Mosuli langsung terburu-buru menekan tombol “home” pada layar ponsel pintarnya. Rupanya siang yang panas itu, ia mengunjungi situs dewasa yang bebas akses.

“Masuk!” dilemparnya begitu saja ponsel itu ke tumpukan karung goni. .

Dengan setengah gugup sebuah buku di rak dengan judul, “Idarah al-Tawahhusy (Manajemen Brutalisme), karya Abu Bakar Naji. Dibukanya sembarang halaman utuk menutupi kegugupannya. 

“Ini tawanannya, Syekh!” seru si Juhud Alkafarat sambil menyeret seorang wanita muda. 

“Goblok, unta gurun, haraaaamm!!!” Syekh Mosuli ngamuk.

Ternyata si anak buah salah ambil tawanan. Yang diambilnya malah harta rampasan perang (ghonimah) yang berwujud seorang wanita suku Kurdi yang tanpa cadar itu. Karena kecantikannya, urunglah dia menyuruh si Juhudi mengembalikan tawanan yang salah ambil itu.

“Baiklah, duduk!!” Syekh Mosuli mulai tampak berwibawa. Maka berhadap-hadapanlah antara Syekh Mosuli dengan tawanannya.

“Siapa namamu?”

“Sabrina.”

“Siapa Tuhanmu?”

“Tuan.”

Mendadak mata Syekh Mosuli memerah mendapat jawaban seperti itu. Sepertinya amarah besar akan tumpah!

“Dasar kaum Pagan!” Syekh Mosuli membuang muka dari tatapan tajam Sabrina.

Sepertinya Syekh Mosuli yang garang itu kalah adu pandang dengan mata bulat kecoklatan milik Sabrina yang indah itu.

“Salahkah saya, Syekh?”

“Salah!!”

Suasana mendadak hening. Si anak buah, Juhud Alkafarat masih saja berdiri menjaga di pojok tenda dengan senapan yang tak jelas kemana arah moncongnya. Sedari tadi tak konsentrasi dengan tawanan perang yang satu ini.

“Kalau begitu Tuhanku adalah Tuhannya Yunus,” suara Sabrina merendah pada titik pemberhentiannya. Pas dengan dengus nafasnya yang terengah. Begitu emosional ia menyebut Yunus, si utusan Tuhan itu.

“Jadi ini dia orangnya, Syekh!” tiba-tiba saja si Juhudi Alkefarat angkat suara sambil mendekat ke Sabrina dengan senjata yang terkokang.

“Jadi kau putri Dzun Alif itu?” tanya Syeikh Mosuli setengah terperanjat.

Keduanya, Syekh Mosuli dan Juhudi Alkefarat kembali menarik runutan peristiwa beberapa hari yang lalu, ketika utusan suku Kurdi menawarkan genjatan senjata bersyarat.

Suku Kurdi tidak akan menyerang wilayah ISIS di Mosul dengan catatan ISIS tidak merusak tembok bersejarah Kota Tua Ninive.

Namun, kesepakatan gagal bulat, beberapa pejuang Kurdi secara bergerilya masuk kota untuk melakukan perang kota. Serangan sporadis itu dapat dihalau oleh pasukan ISIS.

Dan salah anggota pasukan itu adalah anak pimpinan Kurdi, yang kini ada dihadapan mereka berdua.

“Jadi apa isi surat Bapakku?” Sabrina tak sabar ingin tahu surat pertukaran tawanan yang sekarang sedang diambil oleh Syekh Mosuli dari laci meja di sampingnya ia berdiri.

“Bapakmu menukarmu dengan sejarah Yunus,” jawab Syekh Mosuli.

“Maksudnya?” Sabrina tak sabar, mulai rileks dan berani menggeser duduknya. Pergeserannya menimbulkan gesekan yang keras sepata botnya dengan lantai.

“Jangan bergerak!!” gertak Juhudi Alkefarat. Begitu takutnya mereka dengan ketenaran akan keberanian pejuang wanita-wanita Kurdi yang ganas itu.

“Jika kau mampu mnegalahkan aku, kau pulang dengan bebas,” Syekh Mosuli melanjutkan.

Rakyat Kurdi sangat menyayangi peninggalan kebudayaan besar itu, apapun yang terjadi, jangan sampai hancur bekas peradaban yang bertembok sejauh 7,5 mil itu. Ninive pernah menjadi kota terbesar di dunia tahun 700 SM. 

Dan, Nabi Yunus bin Mata yang diyakini oleh Syekh Mosuli yang Islam, serta Sabrina yang Nasrani itu, ikut dalam peradaban besar tersebut. Nabi Yunus bin Mata identik dengan Ninive. 

Kisahnya tergambar jelas dan hampir persis sama di kedua Kitab Suci orang yang sedang berhadap-hadapan itu. 

“Apa tantanganmu, Syekh?”

“Kita beradu Yunus untuk Ninive!”

‘Baiklah, apa pertanyaanmu Syekh?”

Tampaknya Syekh Mosuli mulai menyusun pertanyaan berdasarkan Kitab Suci yang dia yakini. Sedang si Sabrina juga siap dengan jawaban dari Kitab Suci yang dia yakini.

“Sudahlah Syekh, kisah di Kitabmu sama di Kitabku,” sela Sabrina memecah kesunyian yang diciptakan oleh Syekh Mosuli yang lambat mengeluarkan pertanyaan.

“Malah ulama-ulamamu berselisih tentang berapa hari Yunus di dalam perut ikan,” Sabrina puas tersenyum.

“Diam kau!!!” Syekh Mosul berang, merasa dilecehkan agamanya. Agama dengan perselisihan yang tak penting, seperti berapa hari Yunus di dalam perut ikan, membuatnya sekarang bisa buas seperti Iblis untuk mempertahankan selisihnya.

Sabrina kembali menyurutkan pandangannya yang sedari tadi nanar mendendam, menanti pertanyaan dari Syekh Mosuli.

“Bukan dengan cara seperti itu Tuhan bekerja, Syekh!” Sabrina kembali memberanikan diri untuk memancing agar Syekh Mosuli mengeluarkan pertanyaan.

"Cukup!" Syekh Mosuli makin terpojok.

"Ayo, Syeikh apa pertanyaanmu, aku mau pulang," Sabrina kembali mereda.

"Bagaimana tentang pohon Labu yang ditumbuhkan?" tiba-tiba Syekh Mosuli melempar sebuah pertanyaan

Tampak Sabrina tersenyum dengan percaya diri. Mengatur duduknya lebih rileks, sambil melirik si Juhudi Alkefarat yang sekarang tampak membisu. Senapan yang dipegangnya kini menjadi sandaran dagunya sambl terus menyimak keduanya. 

Syekh Mosuli tampak tegang, duduknya sudah tak nyaman, menanti jawaban dari Sabrina. Sekarang dia sudah tidak memperdulikan kalah-menang, Ia mulai tertarik dengan gaya nalar Sabrina.

"Syekh, tentang pohon labu juga tidak ada perbedaan di antara kita," jawab Sabrina enteng.

"Bukan dengan cara itu Tuhan bekerja Syeikh, bukan dengan mukjizat-mukjizat yang ditampakkan dan diceritakan sama persis, bukan kehebatan bertahan di perut ikan, bukan tentang buah labu ajaib, dan bukan tentang buah labu yang tiba-tiba layu, ataupun marahnya Nabi Yunus........."

"Hmmm........" Syekh Mosuli tiba-tiba mendehem, memutus Sabrina yang telah bersemangat.  Tampak kepala Syekh Mosuli manggut-manggut seperti kepala ayam yang memagut bijian.

"Lantas apa?" buru Syekh Mosuli.

"Tapi, yang terang dan dan bersinar adalah bagaimana Tuhan mengampuni ribuan penduduk Ninive yang ribuan itu, yang di dalamnya ada anak-anak kecil, yang di dalamnya ada pendosa, yang beriman, yang ada orang jompo, yang ada moyang-moyang kita, hingga hari ini, detik ini membuat kita berrtiga bisa duduk bersama di dalam tenda ini!" 

"Juhudi!!!!"

'Siap, Syekh!" 

"Antarkan dia pulang!"