Bunuh diri lewat tragedi mengakhiri nasib dengan gantung diri, menjatuhkan diri, atau menembakan selongsong api di kepala menjadi cara kurang waras manusia mengakhiri kekhawatiran internalnya. Cara-cara demikian kerap jadi pelarian terakhir dari kekhawatiran internal yang kian menggerogoti eksistensi diri. Penghentian paksa kadang menjadi kebutuhan untuk mengakhiri kesakitan internal seseorang.

Orang-orang yang mencari efektivitas dari bunuh diri ialah lewat rasa nyeri yang paling maksimum yaitu mati cukup masuk akal untuk mengobati nyeri yang temporal namun tidak pasti. Dihantui oleh cemas dan kurangnya perhatian jadi pelarian eksistensial. Kekosongan arti menjadi cerobong bagi masuknya iming-iming untuk mati.

Apalagi bila itu merupakan hasil dari akumulasi-akumulasi perih, mengenai data dari memori-memori selubung seperti, kemalangan, kesedihan dan kekurangan arti. Manusia terus menggali selubung memori itu dengan ilmu dan ideasi-ideasi pada kepercayaan atau dogma. Namun dari beberapa pencarian tersebut, orang-orang sering termenung menanyai arti dari ilmu serta langkah penebusan bagi kemalangan arti yang tak mudah dimengerti.

Kemalangan, kekosongan serta kejatuhan eksistensi membuat tarikan pada gradasi nadir. Manusia mulai kehilangan indra perabanya. Dunia tenggelam dalam sekat kegelapan, arti-arti dunia terreduksi pada solipsisme pilihan subjek yang dirundungi pilihan pesimistik. 

Pada momen-momen tersebutlah manusia mengalami histeria atas ketidakmengertiannya. Alih-alih teriakan histeris berlaku pada soal yang dimengerti namun absen dalam realitas, pada histeria ini konsep yang nihilis terdireksi pada dunia tanpa inferensi. Begitu sempurna hingga kekosongan arti itu mendelusi manusia pada kemalangan arti.

Hingga akhirnya kegelapan dari asumsi itu telah melahap sedikit demi sedikit eksistensinya. Rasa nyeri atas kehampaan dan kekosongan arti tersebut menggoyangkan keimanan, kepercayaan dan harap-harap sebuah kebahagiaan. Sampai di titik kulminatif manusia melongo dan berhenti berfikir serta hayut pada sebuah pilihan untuk berputus asa. 

Putus asa kemudian menjadi sebuah pembenaran untuk mengakhiri hidup. Sayangnya problematika memilih mati sebagai penyelesaian hidup kerap jadi misteri untuk layak dianggap sebagai pilihan atas kehendak hidup atau merupakan kehendak anonim yang jelas-jelas tidak beralamat ?

Merujuk para pemikir besar yang mengulas kematian sebagai sebuah tindakan sadar. Kaum eksistensialis seperti Heiddeger yang mengungkap kematian adalah peristiwa eksistensial. Keterpisahan being dengan time menjadi konsekuensi atas momen-momen eksistensial seseorang memasuki fase baru dalam hidupnya. 

Sekalipun merupakan peristiwa eksistensial, manusia selalu dibayangi oleh ketakutan. Ketakutan itu meliputi segala kesakitan fisik dan psikis. Lantas apakah bunuh diri memberi sensasi atas ketakutan dan kekhawatiran tersebut pula ?

Para filsuf banyak mengartikan bahwa mati seharusnya bukan menjadi sesuatu hal yang di takutkan. Bahkan Immanuel Kant menyebut bahwa kematian adalah suatu peristiwa yang rasional, sebab kematian adalah bagian dari siklus kehidupan. 

Filsuf seperti Socrates memberikan dua argumentasi yang mampu mengakomodir kekhawatiran akan kematian. Socrates mengatakan bila mati adalah akhir dari sebuah kehidupan, maka apa yang harus ditakutkan dari berakhirnya sesuatu. Bila mati adalah sebuah fase dimana kehidupan akan berlanjut, maka akan nampak menyenangkan dengan dapat bertemu orang-orang dahulu.

Kaum Stoik pun menerjemahkan mati sebagai satu siklusitas normal. Penerimaan momen kematian adalah cara seorang stoikis memaknai mati sebagai sikap tanpa protes yang naturalis. 

Lewat mengambil jarak objektif dengan membandingkan kematian sebagai peristiwa negatif atau positif, Stoik akan mengatakan bahwa dengan mengambil sikap kematian sebagai peristiwa negatif, tidaklah membantu dirinya terjauh dari kematian itu sendiri. 

Tetapi akankah pengambilan sikap atas bunuh diri menghilangkan ketakutan dan perasaan khawatir? Layaknya Seneca seorang Stoikis yang dimintai Nero sebagai seorang penguasa Romawi kala itu untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, apakah lantas itu menguatkan dirinya pada perasaan cemas dan ketakutannya?

Setidaknya kita anggap sebagai tindakan pemberani, alih-alih pengetahuan dan argumentasi itu hanya menyandarkan seseorang pada harapan semu, kekhawatiran dan rasa takut menghadapi mati selalu menjadi pre-condition termasuk pada tindakan bunuh diri. 

Sejauh uraian ini, apakah benar bunuh diri dapat diartikan sebagai tindakan yang bertanggungjawab, setidaknya menjadi kehendak hidup yang rasional. Shally Kagan seorang dosen filsafat di Yale University pernah membahas bunuh diri (suicide) dalam rangkaian mata kuliahnya tentang kematian (philosophy of death). 

Satu hal yang menarik adalah, Kagan menganggap bahwa bunuh diri akan tampak rasional jika kualitas dari hidup kita berada pada kondisi yang paling kritis. Namun anggapan ini akan sangat bergantung pada setiap personal tertentu. Boleh jadi takaran setiap orang dalam mengartikan kritis dalam level-nya yang variatif. 

Argumentasi ini pun cenderung menyesatkan bilamana kondisi kritis menjadi dasar dari rasionalnya tindakan bunuh diri, satu hal yang tidak dapat diukur ialah kemungkinan-kemungkinan yang berlaku pasca titik kritis tersebut. Tidak ada yang bisa memastikan kemungkinan dan kondisi tersebut.

Kemungkinan pada setiap bagian-bagian kehidupan seseorang selalu menjadi rahasia yang tidak bisa diungkap, hanya dengan kehendak untuk hiduplah rahasia-rahasia tersebut dapat diungkap satu demi satu. 

Artinya, tidak ada alasan yang cukup rasional yang mampu memberi jawaban yang memuaskan terhadap tindakan bunuh diri sebagai aktifitas rasional dan merupakan kehendak hidup yang layak diapresiasi keberadaannya. Sebaliknya, bunuh diri adalah jalan yang kurang waras sebagai sebuah pilihan atas kehendak.