Terdengar tudingan, tasawuf sebagai biang keladi dari kemunduran dan kejumudan. Tudingan negatif tersebut merupakan akumulasi dari pemahaman tidak utuh terhadap teori yang dikembangkan untuk mencapai kesempurnaan sufistik. Karena itu, dikembangkan tasawuf modern sebagai tasawuf tandingan.

Mereka sebenarnya sudah tahu, meskipun hanya sebatas di bawah alam sadar, tasawuf itu terlepas dari semua tudingan negatif itu. Mereka ingin tetap memakai term tasawuf, tetapi juga ingin melepaskan tudingan negatif itu. Ditambahkanlah, term modern di belakang term tasawuf sebagai lawan tasawuf klasik.

Tiga Spare Part Manusia

Tasawuf, pelakunya dikenal dengan terrminologi sufi, tidak lain adalah sebuah upaya optimalisasi spare part (bagian) manusia. Di dalam pandangan seorang sufi, manusia terdiri dari tiga spare part utama. Pertama, tubuhnya. Kedua, akalnya. Ketiga, hatinya.

Mayoritas manusia sudah terbiasa menggunakan spare part pertama, yaitu tubuhnya. Hampir semua manusia sudah tahu bagaimana cara mengoptimalkan sekaligus memanjakan tubuhnya.

Optimalisasi tubuh bisa ditempuh dengan cara olahraga, fitnes, yoga, dan macam-macam kegiatan kesehatan tubuh manusia. Memanjakan tubuh bisa ditempuh dengan menikmati kuliner, wisata, jajan, berenang, make up, dan macam-macam kegiatan fun lainnya.

Mengapa semua manusia mampu menempuh tahapan spare part pertama ini? Jawabannya, karena optimalisasi tubuh bisa diketahui hasilnya oleh mata telanjang. Karena itu, tanpa berpikir pun, seseorang bisa memahami optimalisasi dan memanjakan tubuhnya.

Bahkan sebenarnya, anak kecil pun mampu merasakan dan sudah mempunyai spare part pertama ini, tanpa harus menunggu waktu baligh. Bahkan bukan hanya anak kecil, hewan dan mayat pun mempunyai spare part ini.

Spare part kedua adalah akal atau pikiran. Pada tahap ini, sudah agak banyak manusia yang tidak mampu mengoptimalkan daya pikirnya. Kita, sebagai manusia, kadang lebih memilih bekerja keras daripada bekerja cerdas. Ini artinya, kecerdasan kita masih didominasi oleh cerdas tubuh, dibanding cerdas otak/cerdas pikir.

Seseorang yang mampu menggunakan, mengoptimalkan, dan memanjakan dua spare part itu sekaligus (tubuh dan akalnya) lebih sempurna daripada seseorang yang hanya menggunakan salah satunya (tubuhnya saja, atau akalnya saja). Jika harus memilih salah satu dari keduanya, akal itu lebih utama daripada tubuh.

Tubuh, Lawan Atau Kawan Akal?

Di abad ini, tepatnya di tahun 2017, akal sedang maju-majunya untuk mengoptimalkan dan memanjakan tubuh. Akal berpikir sangat maju untuk mengoptimalkan tubuh. Kemajuan ilmu pengetahuan yang sangat positifistik hampir membunuh sepenuhnya spare part ketiga manusia, hatinya.

Manusia hanya dilihat sebagai tubuh fisik, sebagai akibat dari kemajuan ilmu biologi. Manusia adalah kumpulan sistem yang mengorganisir semua anggota tubuh hingga melahirkan kehidupan. Paling jauh, ilmu pengetahuan positifistik itu sudah mau membuka diri pada pengetahuan tentang jiwa, yang dibidani oleh ilmu psikologi. Sayangnya, jiwa yang menjadi objek analisa psikologi sangat jauh berbeda dengan hati perspektif seorang sufi.

Hati, Seorang Manusia Sempurna

Seorang sufi dituding meninggalkan spare part pertama dan kedua, dan hanya mementingkan spare part ketiga. Akibatnya, seorang sufi dituding membenci dunia, memilih kehidupan miskin, dan hanya memikirkan akhirat. Ini adalah simplifikasi pemahaman dan sangat tidak utuh.

Seorang sufi tidak lari dari dunia, tetapi mengejar dunia mati-matian. Baginya, dunia adalah ladang akhirat. Tanpa dunia, seorang sufi tidak akan memanen apa-apa di akhirat. Seorang sufi sudah selesai dengan spare part pertama dan kedua. Sekarang sudah waktunya untuk menghidupkan spare part ketiga. Spare part pertama dan kedua sudah hidup. Kini, waktunya spare part ketiga untuk dihidupkan.

Spare part ketiga adalah hatinya. Hati manusia adalah manusia itu sendiri secara sempurna. Spare part ketiga ini bukan hati yang dikenal oleh para dokter sebagai liver. Hati di sini adalah semacam software yang ditanam di dalam liver itu.

Tidak banyak orang yang tahu bagaimana cara untuk menanam software itu. Begitu pula, tidak banyak orang yang tahu di mana saklar untuk menekan tombol on (menghidupkan) hati. Banyak orang yang ingin menghidupkan hatinya, memasuki istana hatinya, dan mengoptimalkan daya kerja hatinya.

Akhirnya, mereka mengambil jalan pintas. Tasawuf, yang asalnya merupakan mekanisme untuk meng-instal software hati, diganti dengan tasawuf modern yang mementingkan topeng belaka. Maka kemudian, dijajakan topeng sabar, topeng ikhlas, topeng tawadhu’, dan kamuflase topeng-topeng lainnya. Lalu, dikenal dikotomi tasawuf klasik dan tasawuf modern.

Tasawuf Klasik Vs Tasawuf Modern

Tasawuf merupakan perjalanan seorang hati, dari satu stasiun spiritual (maqamat) ke stasiun spiritual lainnya, hingga mencapai puncak spiritualitas. Jarak perjalanan itu tidak ditempuh dengan menggunakan kaki, melainkan melalui terbukanya tirai (kasyf) jiwa, dari satu lapisan jiwa menuju lapisan jiwa lainnya, hingga mencapai keimanan yang utuh.

Pertanyaan yang sangat basic, di mana perjalanan itu ditempuh? Jawabannya, perjalanan spiritual itu ditempuh di dalam hati. Bagaimana cara kita memulai perjalanan itu? Jawabannya, kita harus melewati pintu gerbangnya. Di mana pintu gerbang spiritual itu? Jawabannya, pintu gerbang itu adalah taubat.

Iya, di saat seseorang bertaubat, bukan bertaubat di lidahnya saja, tetapi bertaubat dengan hatinya, dia sudah mulai mengetuk pintu Allah, puncak spiritual tertinggi.

Karena perjalanan ini tidak bisa dilihat dengan mata telanjang, kita membutuhkan seseorang yang telah sampai kepada Allah, dan kembali lagi ke alam manusia untuk mengantarkan kita yang belum sampai, agar kita juga sampai kepada Allah Swt. Inilah tasawuf itu. Dari Allah, menuju Allah.

Apa maksud, “Dari Allah, menuju Allah?”. Dari Allah, berarti kita melakukan perjalanan ini sebagai bentuk penghambaan kepada Allah, karena Allah semata-mata, bukan karena alasan lain. Menuju Allah, maksudnya, tujuan kita adalah Allah, bukan surga, bukan takut neraka, dan bukan lainnya. Dari Allah, Dia sebagai Mahaawal. Menuju Allah, Dia sebagai Mahaakhir.

Satu Langkah Mengetuk Pintu-Nya

Langkah pertama tasawuf adalah taubat, baik dari dosa, kelalaian, maupun dari selain-Nya. Iya, cara meng-instal software hati adalah taubat. Orang yang belum taubat, tetapi sudah sibuk dengan topeng-topeng ikhlas, sabar, dan kamuflase topeng lainnya, kata al-Gazali, adalah seperti orang yang sibuk make up wajahnya, sedangkan di balik bajunya penuh dengan kalajengking, ular, dan hewan-hewan berbisa yang siap menerkamnya setiap saat.

Taubat berarti kita mengakui kesalahan kita. Artinya, kita tahu bahwa kita sudah melakukan kesalahan. Konsekuensinya, kita adalah ahli neraka. Seberapa siap kita mengaku sebagai ahli neraka!? Kita semua hanya siap mengaku ahli surga, dan menyalah-nyalahkan orang lain.

“Hanya saya yang ahli surga. Orang lain adalah ahli neraka”, menjadi santapan rohani yang sangat lezat. Bagaimana mungkin kita bisa bertaubat, kalau begini terus. Kapan kita akan berpuasa dari rohani busuk itu dan mulai memasuki kerinduan kepada kekasih sejati.