Dalam tulisan ini, saya ingin mengajak saudara FPI untuk tidak melakukan perilaku-perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keislaman sebagaimana yang terjadi pada kasus pembubaran terhadap acara diskusi yang dilaksanakan oleh kader HMI di Pekanbaru, Riau. Pembubaran itu dilakukan karena pemateri dianggap menyebarkan aliran Syiah dalam diskusi itu.

Padahal, acara HMI itu adalah bagian dari implementasi dari firman Allah, yaitu semangat membaca, Iqra’.

Membaca adalah simbol akademis. Allah menurunkan wahyu pertama yang berbunyi Iqra’ (Bacalah). Firman ini berupa fi’il ‘amr. Kata perintah. Dan kalimat perintah ini bersifat umum.

Dalam ayat ini, tidak ada maf’ul bih, atau objek, misalnya Iqra’ kitabaka (bacalah kitabmu). Jadi perintah Iqra’ ini bersifat luas. Tidak hanya terbatas pada teks, yang tersurat, tapi juga yang tersirat. Perintah membaca ini juga tidak hanya untuk yang qauliyah tapi juga kauniyah.

Kita tahu bahwa dalam sejarah peradaban Islam, Islam bangkit dan menjadi mercusuar peradaban dunia. Iut karena umat Islam sangat mengutamakan semangat akademis, semangat Iqra. Cinta ilmu pengetahuan. Dalam Alquran, disebutkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang yang beriman dan orang yang berilmu.

Kalau sekarang umat Islam terpuruk dan terperosok ke jurang kebodohan dan keterbelakangan, hal itu bukan karena Islam-nya. Tetapi karena umat Islam sendiri yang gampang mendikotomikan ilmu pengetahuan. Misalnya, sering kali kita dengar ilmu umum, ilmu agama, ilmunya orang orieantalis, ilmunya orang yahudi, ilmunya orang syi’ah, Ilmu orang wahabi, ilmu orang ateis, dan masih banyak lagi istilah yang justru bisa mempersempit ruang gerak belajar.

Sesunguhnya FPI masih terkungkung oleh pola pikirnya sendiri. Padahal dalam Alquran banyak sekali ayat yang menganjurkan untuk suka berdiskusi, berdialog. Misalnya dalam firman Allah yang berbunyi: fas alu ahlad dzikri ingkuntum laa ta’lamun (bertanyalah kalian pada ahli zikir--ilmuwan, akademisi, dan orang yang fak di bidangnya jika kalian tidak tahu).

Dengan model berdialog, kita meraih kesepahaman. Kesehapaman ini akan tercapai apabila ada jalan “ta’aruf”, saling kenal.

Sebagaimana firman Allah dalam kitab suci Alquran yang berbunyi: Yaa ayyuhannasu inna khalaqnaku min dzakarin wa untsa wa ja’alnakum syu uban wa qabaila li ta’arafu, inna akramakum ‘indallahi adzqaku. Artinya: Hai Manusia, susungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu.

Hadis nabi: man aradad dun-ya fa’alaihi bil ilmi, wa man aradal akhirata fa’alaihi bil ilmi, wa man arada humaa fa alaihi bil ilmiI. Artinya: Barangsiapa yang ingin pangkat derajat dunia, maka lakukanlah dengan ilmu. Barangsiapa yang ingin pangkat derajat akhirat, maka milikilah ilmu. Dan barangsiapa yang ingin memiliki kedua-duanya, maka kuasailah ilmunya

Pada suatu keterangan yang lain disebutkan Al Islam Mahjubun bil Muslim. Cahaya Islam diredupkan oleh umat Islam itu sendiri. Siapa mereka? Mereka adalah golongan umat Islam yang dalam pemahaman keberislamannya sangat literlek. Imadzhab dzahiri. Kelompok tekstualis. Paradiqma bayani. Mereka memahai ayat Alquran secara tekstual. Padahal Alquran ibarat batu berlian, setiap sisinya selalu miliki kilauan. Pendaran cahayanya. Satu ayat beribu tafsir.

Dari model yang ada, FPI merupakan organisasi umat Islam fundamental. Hal ini bisa dilihat dari model dia yang anti-intelektual. Menafikan pluralisme. Padahal kalau FPI memang benar-benar ingin membela Islam, sejatinya bukan Islamnya yang dibela, melainkan umat Islam yang dibela.

Pemahaman "dibela" di sini bukan dalam arti sempit. Misalnya ada umat Islam yang dipukul, lalu FPI datang membela, ingin memukul balik. Tetapi tetap sesuai dengan model-model Qurani.

Bagaimana cara melakukan perubahan sosial, cara berdakwah, sebaiknya saudara FPI bisa merujuk pada Alquran surat Ali Imran ayat 110: Kuntum Khaira Ummatin Ukhrijat lilnaasi takmurunah bil Ma’fur  watanhawna anil mungkari. Artinya: Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. (QS. Ali Imran 110).

Dari ayat di atas ini, saudara FPI harus pahami bahwa kalimat “takmurunah bil makruf” menyuruh, merintah kepada kebaikan. Tidak sekadar menyuruh, tapi ada etikanya, ada akhlaqnya. Mengajak kebaikan dengan cara kekasaran, maka kebaikan tidak akan tercapai. Bukan simpatik yang diperoleh, tapi malah cibiran dan cacian.

Rasulullah, dalam berdakwah, mengajak umat manusia, khususnya orang-orang Quraisy dengan cara yang halus dan bijaksana. Banyak sekali kisah-kisah rasul waktu rasul dicaci maki, dilemparin kotoran unta, bahkan dijebak pada suatu lubang.

Bahkan malaikat Jibril ingin membalas perilaku itu semua, namun rasulullah melarang malaikat jibril. Apa alasan rasulullah? Innahum laa ya’lamun  (karena mereka tidak mengetahui) begitu berjiwa besar rasulullah, sehingga tidak heran kalau seorang penulis terkemuka dari Amerika Serikat Michael H. Hart menulis buku “100 tokoh paling berpengaruh di dunia” meletakkan Nabi Muhammad pada urutan nomor wahid.

Dalam berdakwah, kalau kita ingin mengikuti Alquran, maka sudah ada tahapan. Tahapan itu sebagaimana termaktub dalam QS an-Nahl: 125: Ud’u ilaa sabili rabbika bil hikmati wa mauidatil hasanati wajadilhum billati hiya ahsan. Artinya: Serulah (manusia) kepada Jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara baik.

Dalam ayat tersebut, ada tiga kata kunci dalam berdakwah. Pertama: Bil hikmah. Kedua, Muidatil hasanah. Ketiga bil Mujadalah. Kalau FPI paham betul tentang tafsir dari tiga kata kunci ini, saya yakin, FPI tidak akan melakukan tindakan-tindakan yang tidak simpatik (anarkis).

Sebagai sesama umat Islam, yang sama-sama berpedoman pada kitab suci Alquran, maka merupakan suatu kewajiban bagi saya untuk saling memberi nasihat kepada saudara FPI. Karena memang, sebagaimana hadis nabi: Ad Dienu Nashihah. Artinya: Agama itu adalah nasihat.

Maka, sebagai orang yang beragama, maka tidak ada salahnya kalau kita saling menasihati. Kalau nasihat itu benar, maka itu semata-mata dari Allah. Kalau nasihat itu salah, maka itu semata-mata dari khilaf saya.

Dalam Alquran, Allah sangat melarang kita untuk saling mencaci maki, saling mengolok-olok. Sebagaimana termaktub dalam kitab suci Alquran yang artinya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olokkan kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olokkan) wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zhalim.” (QS 49:11).

Kalau FPI merasa orang yang beriman, segeralah ingat pada ayat ini dan janganlah suka mengolok-olok, mencaci maki suatu kelompok lain, golongan lain, ormas lain hanya karena perbedaan pandangan, sudut pandang. Apalagi dengan sebutan “engkau kafir”, “engkau musyrik”, dan olok-olokan lainnya. Karena kita tidak pernah tahu siapa yang paling baik di mata Allah.