Selain dikenal sebagai pemikir besar dan orator ulung yang suaranya menggelegar. Sejak muda Sukarno sudah dikenal sebagai orang yang mampu menuangkan pemikirannya secara jernih melalui tulisannya. Hal inilah yang kemudian, mewariskan serpihan-serpihan pemikirannya yang berserak diantara banyak tulisannya yang hingga hari ini, masih relevan dan hangat untuk diperbincangkan.

Tidak syak lagi, diantara banyak tulisannya, salah satu yang termahsyur ialah, Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme. Ironisnya, tulisan yang mengandung nafas persatuan dan perlawanan terhadap penjajah ini sering kali disalahartikan. Hal ini pun, seiring sejalan dengan peranan Sukarno yang kerapkali dipelintir sedemikian rupa khususnya pada masa Orde Baru. Hal inilah, yang kemudian turut menggeser pemaknaan terhadap Sukarno di kemudian harinya.

Turut bergesernya bandul tersebut ke arah yang lebih buruk, bukanlah sesuatu hal yang terpisah dengan propaganda de-Soekarnoisasi dan antikomunis yang digencarkan pada masa Orde Baru. Ditambah, pada masa demokrasi terpimpin, PKI merupakan salah satu pusaran kekuasaan utama dalam konsepsi politik NASAKOM yang ditawarkan Sukarno. Hal inilah yang kemudian, membuat pemikiran Sukarno kerap dikaitkan dengan komunisme.

Padahal, Sukarno dalam pemikirannya dikenal sangatlah konsisten dalam menekankan akan pentingnya persatuan. Sehingga, sangatlah tidak logis dan mendasar untuk menuduhkan Sukarno adalah seorang komunis. Dalam hal ini, memang tidak dapat ditampikkan bahwasanya, pemikirannya dipengaruhi oleh marxisme. 

Tetapi, Sukarno tidaklah menelan bulat-bulat nilai-nilai marxis. Bahkan, Sukarno dalam beberapa titik tidak menyetujui hal-hal fundamental dalam marxisme. Ambil contoh, karena pemikirannya didasari atas keinginan untuk merdeka dan persatuan nasional, Sukarno tidak menyetujui pertentangan kelas. Kemudian, sebagai muslim yang taat. Sukarno pun menolak materialisme dan lebih memilih untuk memandang marxisme sebagai cita-cita dalam membangun masyarakat tanpa penindasan.

Berangkat dari hal tersebut, melalui tulisan singkat ini, penulis mencoba meluruskan pemaknaan terkait pemikiran Sukarno yang sering kali disalahartikan dan pada sisi lainnya, menjadi refleksi bagi kita sebagai penerusnya untuk tetap merawat dan meneruskan pemikirannya.

Kontemplasi Sukarno atas Realitas pada Masanya

Tulisan Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme merupakan kontemplasi Sukarno terhadap kondisi dan realitas ekonomi, politik, dan kultural bangsanya. Sehingga, tulisan tersebut  pun, bukanlah sesuatu yang berlainan dengan realitas dan konstelasi politik Indonesia pada saat itu. 

Pada saat tulisan tersebut dibuat, gerakan kemerdekaan sedang terpecah dengan konflik ideologi sebagai penyebabnya. Pertama, pecahnya Sarekat Islam yang kemudian salah satu pecahannya menjadi cikal bakal PKI. Kedua, pemberontakan PKI pada 1926 yang kemudian berujung kepada perselisihan yang cukup serius antara kelompok komunis dengan islam. Khususnya, pada tataran akar rumput yang mencapai titiknya yang paling ekstrem.

Dengan mendasarkan atas konflik-konflik yang terjadi sebelumnya, Sukarno pun tampil dengan ide segarnya yang menekankan kepada pentingnya persatuan nasional dan bahaya akan perpecahan yang justru, menjerumuskan perjuangan menjadi sia-sia.

Lebih dalam daripada itu, tulisan inilah yang kemudian membawa Sukarno tampil sebagai eksponen sentral perjuangan kemerdekaan kala itu. Sederhananya, tulisan inilah yang menggambarkan posisi Sukarno sebagai titik temu diantara tiga kelompok besar tersebut..

Konvergensi Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme

Sebelum lebih jauh, hal yang perlu ditekankan ialah, ketiga aliran ini merupakan aliran yang secara fundamental sangatlah bersebrangan antara yang satu dengan yang lainnya. Ambil saja contohnya, islam sebagai suatu agama dengan marxisme yang berpondasikan materialisme, ataupun, islam dan marxisme yang tidak terbatas terhadap satu bangsa sementara, nasionalisme yang menekankan kepada nilai-nilai kebangsaan. 

Melalui tulisan singkatnya ini, Sukarno tanpa mengenyampingkan perbedaan-perbedaan yang fundamental tersebut pun, mencoba menguraikan ihwal, melawan penjajah dan meninggikan derajat manusia ketiga aliran tersebut saling berkelindan bahkan, menguatkan. Sehingga, perpecahan antara ketiga golongan tersebut hanyalah membuat pergerakan menjadi  sia-sia.

Pertama, persamaan yang paling besar irisannya diantara ketiga paham ini ialah, keinginan untuk merdeka. Terkhusus, dalam konteks asia yang mayoritasnya merupakan negara jajahan. Pada prateknya, memang ketiganya berjuang dengan cara dan dasar filosofisnya masing-masing. Tetapi, ihwal memperjutangkan kemerdekaan, ketiganya bertemu di tengah.

Mendasarkan dengan hal inilah kemudian, penulis memandang, nasionalisme merupakan titik temu diantara golongan yang lainnya. Sederhananya, apapun golongannya yang menjadi tujuan pertamanya ialah, kemerdekaan.

Bahkan, pergerakan dibawah panji islam ataupun marxisme pada tahun 1920-an  tidaklah dapat dipisahkan dengan gerakan nasionalisme dan perjuangan merebut kemerdekaan. Inilah yang kemudian membuat nasionalisme tampil sebagai arus utama kala itu.

Contohnya, gerakan perlawanan yang digencarkan oleh Sarekat Islam, PKI, maupun gerakan buruh semata-mata ialah untuk mencapai Indonesia merdeka.

Selanjutnya, Sebagai contoh keberhasilan konvergensi antara ketiga aliran tersebut, Sukarno mengambil apa yang terjadi terhadap pergerakan nasionalis yang bersatu dengan islam di India dibawah pimpinan Gandhi, kemudian, gerakan nasionalis Kuomintang pimpinan Sun Yat Sen yang bekerjasama dengan kaum Marxis di Cina.

Dalam konteks marxis, hal inilah yang kemudian menjadi pembeda antara gerakan marxis di eropa dengan apa yang terjadi di asia. Jika di eropa yang menjadi penekanan ialah, perlawanan akan kapitalisme bangsa sendiri. Berlainan dengan yang terjadi di asia, apa yang menjadi lawan ialah, kapitalisme bangsa asing.

Kedua, berangkat dari kesamaan rasa ingin merdeka tersebut, dapat disimpulkan, musuh utama daripada ketiga golongan ini tidak lain dan tidak bukan ialah, Kolonialisme dan Imperialisme yang didalamnya terkandung kapitalisme. Ketiga hal inilah yang kemudian, merupakan musuh utama daripada ketiga golongan tersebut.

Dalam konteks ini, ketiganya salinglah berkelindan satu sama lain. Jika ditinjau melalui pendekatan marxis, sudah sangatlah jelas kapitalisme merupakan musuh utamanya. Lalu, jika ditinjau melalui kacamata nasionalis, sudahlah sangat jelas, kolonialisme merupakan musuh utamanya.

Lebih lanjut, Sukarno pun mencoba menyejajarkan antara riba yang dilarang dengan islam dan teori nilai lebih yang merupakaan salah satu instrumen para kapitalis dalam mengeksploitasi buruh dan merupakan musuh utama dari kaum marxis.

Sederhananya, dalam konteks ini sudahlah sepatutnya bagi setiap golongan untuk dapat melihat irisan-irisan yang sama dengan golongan lainnya untuk kemudian bergabung dan bersama-sama untuk melawan penjajah.

 

Makna Pemikiran Sukarno Hari Ini

Diantara pemikir dan pejuang kala itu, pemikirannya merupakan arus utama. Sehingga, pemikiran Sukarno bukanlah sesuatu yang terpisah dengan berdirinya bangsa Indonesia hingga hari ini. Sederhananya, tidaklah akan ada kemerdekaan diproklamasikan tanpa peran besar dan sumbangsih pemikiran Bung Karno di dalamnya.

Sehingga, ‘dosa besar’ bagi kita sebagai penerusnya jika pemikirannya kian hari kian tergerus oleh zaman dan pada titik ekstremnya, tidaklah lagi diamalkan. kewajiban kitalah untuk menghindari hal ini terjadi.

Akhir kata, sejauh mana arti dari sekian banyak pidato yang diucapkan, pemikiran yang dituliskan, dan cita-citanya yang luhur akan kemerdekaan. Semuanya bergantung bagaimana kita memaknainya. Kemerdekaan yang diproklamasikan pada 1945 tidaklah memiliki arti jika kita tidak mencoba menggali maknanya.