Tauhid itu bukan membahas tentang minta tolong langsung kepada Allah. Berdoa langsung kepada Allah tidak dibahas di dalam ilmu tauhid. Tauhid hanya membahas Allah dari perspektif sifat-sifat-Nya, baik sifat wajib, sifat mustahil, maupun sifat mubah. Jadi, orang yang menegur, “Kenapa tidak minta langsung kepada Allah? Kenapa masih melalui perantara para nabi, wali, atau orang saleh?”, atas dasar ilmu tauhid, adalah salah alamat.

Ilmu tauhid membahas tentang sifat-sifat Allah, sifat-sifat para nabi, para malaikat, dan sam’iyyat (doktrin-doktrin gaib). Sedangkan kajian tentang hubungan langsung dengan Allah dibahas di dalam ilmu tasawuf. Hubungan langsung kepada Allah itu bisa melalui zikir (kendaraan ilahi), doa (senjata ilahi), wirid (charger ilahi), hizib (instrumen ilahi), dan peralatan ilahi lainnya.

Adapun status hukum doa itu sunah, adalah wilayah kajian fikih (hukum Islam). Tetapi, sunah yang dimaksud di dalam kajian fikih bukan sunah sebagai antonim dari bidah. Sunah di dalam fikih adalah antonim makruh, sebagaimana wajib adalah antonim haram. 

Bahkan, menurut Dr. Sa’id al-Kamali, membagi segala sesuatu hanya kepada sunah dan bidah adalah kedangkalan akal. Lalu, jika “nabi mengangkat kedua tangannya ketika berdoa” atau “beliau berdoa hingga kedua ketiaknya terlihat”, maka itu termasuk kajian matan hadis.

Hubungan Kausal Tauhid

Berkaitan dengan hubungan langsung kepada Allah, tauhid membahas hubungan kausal (sebab-akibat). Lihat misalnya kitab ad-Dasuqi Syarh Umm al-Barahin, membagi hubungan kausal antara Allah dan makhluk-Nya menjadi tiga kategori. Sebagai contoh, hubungan kausal antara makan dan kenyang.

Pertama, jika seseorang makan, lalu kenyang, maka yang membuatnya kenyang adalah Allah, bukan karena nasi itu sendiri, dan bukan pula karena kekuatan yang ada di dalam nasi itu. Nasi hanya sebab. Sedangkan yang membuat seseorang adalah Allah.

Kedua, seseorang yang yakin bahwa yang membuat kenyang adalah nasi itu sendiri, tanpa dihubungkan dengan Allah sama sekali. Orang yang berpendapat demikian masuk dalam kategori kafir.

Ketiga, seseorang yang yakin bahwa yang membuatnya kenyang adalah kekuatan yang ada di dalam nasi itu yang dititipkan oleh Allah. Sebab, tradisi sudah membuktikan bahwa dengan makan, seseorang bisa kenyang. Menurut pendapat yang unggul, orang ini tetap masuk dalam kategori orang mukmin.

Dengan melihat ketiga kategori ini, maka secara tauhid, tradisi-tradisi Nusantara yang dituding kafir, syirik, bidah, khurafat, dan lain-lain, merupakan tudingan yang tidak tepat sasaran. Sebab, tradisi-tradisi itu masih dihubungkan dengan kekuasaan Allah.

Berkomunikasi dengan Jin

Begitu juga berhubungan dengan jin atau makhluk halus lainnya, tidak masuk kategori syirik dan kafir, apalagi bidah. Seseorang yang mempunyai kemampuan berkomunikasi dengan hal-hal gaib, tidak masuk ke dalam kategori syirik dan kafir, selama medianya mubah. Media-media mubah itu seperti keris, daun-daunan, bunga, batu, air, dan lainnya.

Jika medianya haram, misal dengan meminum darah, maka status hukum perbuatan itu haram, tetapi tidak sampai masuk kategori kafir, apalagi musyrik. Kecuali jika dia menyatakan bahwa memakan benda haram itu boleh, maka dia kafir karena telah membolehkan sesuatu yang haram. Meskipun demikian, hal itu tidak masuk dalam kajian tauhid, tetapi masuk dalam kajian fikih.

Ilmu Tauhid vs Keramat Para Wali

Di dalam ilmu tauhid, juga dibahas tentang keramat (karomah). Pembahasan tersebut dimaksudkan untuk menyatakan kekuasaan Allah dan bahwa kekuatan akal manusia mempunyai batas. Sebab, dasar ilmu tauhid itu adalah akal. Karena itu, untuk memberi tahu bahwa ada banyak hal yang tidak bisa dijangkau akal, kajian khariq al-‘adat (sesuatu di luar kebiasaan) perlu dirumuskan.

Jika ada yang berkata, “Keramat itu tidak masuk akal.” Saya jawab, “Memang tidak masuk akal.” Karena itu, pembahasan keramat di dalam ilmu tauhid dibahas bersama pembahasan mukjizat (peristiwa luar biasa seorang nabi/rasul), irhas (peristiwa luar biasa seorang calon nabi/rasul), keramat (peristiwa luar biasa seorang wali), ma’unah (peristiwa luar biasa orang saleh), dan istidraj (peristiwa luar biasa seorang durhaka).

Penting dicermati kenapa pembahasan keramat orang wali dibahas di dalam ilmu tauhid. Hal ini setidaknya menunjukkan tiga hal. Pertama, ilmu tauhid tidak melulu harus masuk akal.

Fenomena akhir-akhir ini, banyak orang yang belajar tauhid, lalu menafikan adanya keramat, ilmu hikmah, kesaktian, kanuragan, dan kekuatan spiritual. Mereka berdalih bahwa hal-hal yang luar biasa itu hanya milik Allah. Lalu mereka mengafirkan semua orang yang mengambil sebab sesuatu di luar kebiasaan. Padahal, di dalam ilmu tauhid sendiri, hal-hal yang luar biasa itu termasuk kajian yang tidak terpisah.

Kedua, ilmu tauhid melahirkan keramat, kesaktian, dan kekuatan spiritual. Orang yang sangat yakin kepada Allah, lalu dia melakukan tirakat atau riyadhah untuk menempa ruhaninya, maka Allah akan memberikannya kekuatan itu. Karena itu, ilmu tauhid memasukkan pembahasan hal-hal luar biasa di dalam kajiannya.

Ketiga, ilmu tauhid mempunyai ilmu lanjutan, yaitu ilmu tasawuf. Seseorang yang ilmu tauhidnya kokoh, lalu melakukan riyadhah tasawuf, diiringi dengan batas-batas fikih, maka Allah akan menganugerahkannya keramat.