Canggih. Satu kata yang tepatnya sering dilabeli dan dihegemonikan para penikmat keterbaruan interkoneksi teknologi. Banyak yang mungkin tersesat ‘kaprah’ dengan makna utama kata ini, yang pada umumnya diilhami sebagai konsep atau suatu kemajuan yang meningkat. Ya, itu tidak salah. Satu dari enam arti harfiah ‘canggih’ dalam KBBI ialah sesuatu yang dalam tidak keadaan wajar, murni atau asli.

Interpretasi tentang canggih tidaklah selalu monoton tentang progress penciptaan benda-benda yang merombak cara baru manusia dalam menangani hal di kehidupan. Teknologi yang dengan elok berevolusi, tak ayal mendesain gaya pikir, reaksi, dan interaksi para penggunanya.

Banyak referensi tentang penggambaran budaya dan era gaya dari masa ke masa. Saya cukup terpesona dengan budaya di era sebelum 2000-an selama dengan kemajuan teknologi yang kiranya cukup baik kala itu.

Berkumpul ria, bercanda gurau tanpa sibuk menjadi seksi dokumenter bagi lainnya, menurut saya sangatlah artistik. Mereka tidak perlu memusingkan bagaimana pandangan orang lain mengenai kompleksitas aktivitas harian kita melalui tangkapan layar sekilas.

Mengulik narasi, menceritrakan ulang objek ulasan dari buku-buku yang dibaca bersama, semacam rutinitas yang terjadwal secara alamiah bagi orang tempo dulu. Setidaknya begitulah yang saya tangkap dari kisah ibu dan keluarga saya tumpahkan. Bagi mereka yang dulu, teknologi hanya menjadi esensi terbatas oleh keperluan dan waktu, bukan ajang untuk memanipulasi ataupun alat mengubah “entitas diri” yang sesungguhnya.

Tidak ada yang menyangkal bahwa kebutuhan kita terkait teknologi dan segala caruk maruknya bisa sekronis ini. Hampir semua lini kehidupan saling terkait dengannya. Walau kita termasuk sekelompok umat yang beruntung terlebih di masa pandemi yang menglobal ini kita masih bisa terhubung satu sama lainnya, setidaknya jika dibandingkan pandemi flu Spanyol kekacauan kita tak berujung kekronisan yang amat meradang.

Namun, tanpa mengelakkan pandangan memang esensi dari berbagai program yang elit ciptakan mengenai teknologi, salah satunya perihal penggunaan keliru sosial media. Pelbagai platform yang gampang dienyami dengan sasaran tersendiri. Takdir fungsionalnya juga terkadang sering diabaikan. Komunikasi dan interkoneksi yang dijalin di dunia maya bukan yang genting di era sekarang, sebab ada yang jauh lebih esensial dan seremonial yaitu: atensi.

Tidak berperihal menampik, sosial media sungguh diciptakan salah satunya berfungsi untuk menggapai perhatian orang seluas-luasnya. Saya tak menyangkal. Namun, jenis perhatian apakah yang sebenarnya kita cari? Apakah dengan mem-posting half-naked? Saya lebih terkesima dipertontonkan keterlanjangan alam pikiran dibanding sesuatu yang superfisial dan hanya memanjakan mata.

Kita lupa menyadari bahwa produk teknologi sejatinya properti modern demi meningkatkan produktivitas, bukan raga hidup yang senantiasa diberhalakan sampai lupa akan batasan. Teknologi bisa hidup berbarengan dengan kultur yang kita bangun dan selami selama ini, tidak selamanya ada yang harus ditinggalkan. 

Jepang sedang mempersiapkan suatu gagasan tentang revolusi umat manusia terbaru yang dinamai  “The Society 5.0” yang tak lain ingin mengkreasikan ranah kehidupan berintegrasi antara cara baru konseptualisasi bisnis, teknologi, dan interaksi sosial nyata. Terdengar tidak asing, tapi mereka mengupayakan bagaimana caranya manusia era ini bisa tinggal berjalinan dengan kompleksitas teknologi informasi, uang, dan energi spiritualitas (kultur).

Melihat bahwa Jepang ialah negara yang sangat memegang teguh adat leluhur sampai detik ini, dan menelaah bahwa faktanya hari ini kita jauh dan bahkan tersesat dari kultur yang membuat kita kokoh. Kita dibasmi oleh kode elektromaknetik dan bias komputerisasi yang menerjunkan kita menjadi budak digitalisator.

Menyedihkan? Sedikit. Belum lagi kita temui banyak dari kita yang gemar “doubling personality”, maksudnya dengan sengaja bertransisi menjadi seseorang yang berkepribadian dengan ekstrem berbeda apabila berselancar di internet. Mengomentari gaya orang lain, merundungi pilihan hidup yang sangat intim konkretnya, dan banyak hal lain yang pastinya  tidak berani diaktualisasikan di dunia nyata.

Mungkin dan memang hal tersulit adalah menyesuaikan dan menyelaraskan gaya menginterpretasikan sesuatu di kehidupan nyata dengan daring. Faktornya bisa jadi mereka tidak bisa lantang (vokal) seperti di kondisi aslinya. Kita memang sudah tersesat, tapi masih ada waktu untuk memperbaiki segalanya.

Agaknya yang penting kita tahui bahwa sistem sosial media tidaklah sebaik yang dilihat. Kehidupan intra-personal yang sehat ditenggelamkan oleh sensasi adiktif yang dikelabui oleh social media networking. Tidak hanya berorientasi kepada bisnis dan uang, mimpi baru yang diiidamkan penggunanya melampaui hakikat yakni ketenaran dan kebutuhan akan pujian yang terus-menerus. Kembali lagi, tulisan ini tidak akan menyinggung mereka yang di-moneytized platform internet, santai saja.

Kabar baik datang di Amerika, sebuah survei terkemuka tahun 2018 memastikan bahwa satu dari empat orang di sana telah mengentaskan aplikasi Facebook dari gawai mereka dengan berbagai alasan yang mana juga 42% dari mereka benar-benar berhenti menggunakan Facebook. Lantas, yang menjadi pertanyaan ialah apa yang akan dilakukan setelah itu?

Apakah motif utama dari putusan itu sebab kejenuhan dengan toxicity di dalamnya atau hanya sekadar bosan dan mencari alternatif jejaring sosial lainnya, dan jika iya, apa yang akan mereka lagi di sana?

Kepelikan persepsi kita menyikapi tentang bagaimana hidup dengan damai tanpa diracuni pengaruh negatif teknologi membuat kita tersegmentasi tak berkesudahan. Destinasi setiap orang pastilah disesuaikan dengan tujuan (terselubung atau frontal) mereka sendiri.

Banyak hal yang sangat saya sesalkan dari semua euforia maya ini, lahirnya orang-orang judgemental merasa punya hak valid untuk mengomentari sesuatu yang bukan arena sewajarnya, mereka yang haus akan perhatian manis.

Sebab satu hal perlu disadari tidak semua yang dilihat, benar seperti itu adanya. Sudah penat dihadang buntut candu dunia maya, namun ada sesuatu lebih substansial yaitu menjungjung resam dan budaya terbina yang membuat momen peradaban kita jauh lebih bernilai dari sekadar tangkapan layar semata.