Di balik tebalnya kabut dan dinginya angin malam yang menerpa wajahku, membawa sebuah keheningan yang menyadarkanku dari diri yang terus mengejar dunia menuruti raga dan melalaikan sukma yang ingin dekat kepada yang Maha Kuasa.

Aku duduk di tepian telaga di bawah pohon sengon, meratapi diriku, dan akupun teringat silam masa laluku yang indah menurutku sekarang.

Kang Danu, sampean dicari Gus Sholeh, katanya mau disuruh bantu panen ikan di tambak Kyai Mim dan sampean langsung ke tambak kang, sudah ditunggu.

Teriak seorang santri yang hendak ke musholla di seberang sungai padaku. Aku hanya menganggukkan kepala dan tersenyum sebagai tanda mengerti dan terima kasih padanya.

Nampaknya hari sudah siang dan akhirnya kubereskan cucianku dan setelah menjemurnya, aku siap-siap untuk menyusul Gus Sholeh ke tambak. Setiap langkah kaki yang kuayunkan membuka nostalgia.

Sebuah cerita perjalanan diriku memasuki ruang waktu di masa lalu, tepatnya waktu meninggalnya bapak yang bersamaan dengan tamatnya aku dari pendidikan sekolah dasar.

Hal itulah yang membuatku terpuruk dan enggan melanjutkan pendidikanku ke jenjang berikutnya, dan akupun hendak ikut untuk mencari pekerjaan membantu ibu memenuhi kebutuhan keluarga dan untuk sekolah adik-adikku.

Di ujung senja bulan Juli, sebuah keluarga kecil berkumpul dengan kehangatan hati membahas masa depan putra sulung mereka dalam gegap gempita.

Yang akhirnya membawaku tiba di sini, malam itu ibu memutuskan agar aku melanjutkan pendidikanku di kampung adat sedayu, menimba ilmu di salah satu ponpes disana yang diasah oleh kyai Mim.

Ibu juga bilang kalau aku akan dititipkan kepada Gus Sholeh yang merupakan teman karip bapak sejak kecil, dan akupun langsung menyetujuinya karena pastilah itu yang terbaik pilihan ibu.

Dari pilihanku untuk masuk ponpes ini aku masih ragu apakah aku dapat betah dan bahkan lulus dari sini dengan husnul khotimah, karena sebenarnya inilah aku anak kecil yang selalu membuat dan mencari maslahnya dengan orang lain, dan benar saja baru satu minggu aku sudah kena takzir karena meminjam sepeda temen tanpa izin yang bahsa santrinya “ghosob” dan sepeda itu kugunakan seharian bahkan baru kukembalikan dua hari berikutnya.

Setelah kejadian itu Gus Sholeh memanggilku ke “ndalem” dan beliaupun berkata padaku, Danu awakmu wingi kok kena takzir gimana to? Tanya Gus Sholeh.

Akupun diam. Kemudian menceritakan semuanya. Dan beliaupun lalu nampak bersedih yang kulihat dari raut wajahnya.

Kang, ibukmu nitipke awakmuning kene supoyo nambah apik lan supoyo awakmu biso golek ngelmu sing bener, orak mikir liyo, kang “ kata Gus Sholeh”. Cobalah kang ngatur awakmu supoyo orak gawek neko-neko, setidake inget ibukmu kalau kerja keras kanggo awakmu lan adik-adikmu,imbuhnya sambil meninggalkanku kebelakang untuk mengambil wudhu.

Tetasan embun pagi bagai ayunan keheningan tertinggi diam yang membawaku duduk sendiri dalam renungan melodi jiwa. Setelah kejadian tersebut aku mencoba merubah diriku karena akupun berfikir kalau aku begini bagaimana cara aku mengajari adik agar lebih baik dari aku.

Sekarang inilah tahun ke enam aku disini dan inilah tahun terakhirku disini yang pasti akan menjadi kenangan terindah bagaiku ketika aku meninggalkannya.

Danu kalau jalan jangan melamun to! Kata Gus Sholeh menepuk pundakku dari belakang. “inggih Gus!” jawabku terbatas karena masih kaget.

Lagi pula panen ikannya sudah selesai kok baru datangnya, kemana aja dari tadi Nu? Kata Gus Shaleh sambil tersenyum. Tadi saya mencuci baju di sungai Gus lalu menjemurnya dan setelah itu nyusul panjengenan kesini, jawabku.

Kemudian Gus Sholeh mengajakku istirahat sebentar di bawah pohon sengon karena kecapean panen ikan tadi di tambak Kyai. Danu awakmu tahun iku lulusan to? Tanyanya membuka percakapan. “injeh, Gus, jawabku. “Wah wis gede awakmu” katanya, lalu beliau diam dan melanjutkan.

“Begini saya pesen agar janganlah ketika kamu mencari ilmu karena ingin dipuji atau ingin meraih kesuksesan dunia semata karena sungguh hubbu ad-dunya ro’su kulli khotiah.

Cinta dunia adalah kunci dari segala keburukan, cung! Kata Gus Sholeh, dan akupun hanya diam dan menganggukkan kepala lalu beliau berkata:

Lan menjadi apapun awakmu tolonglah luangkan wakyu untuk mengamalkan dan mengajarkan ilmu yang kamu punya agar ilmu kuwi ndak mung sampe awakmu, kerono al-ilmu bila amalin kasy-syajari bila tsamarin mengkono to, imbuhnya. Kamipun tidur sebentar di sana lalu gotong royong membawa hasil panen ke pondok kyai Mim.

Ba’da isya setelah jama’ah aku duduk di serambi masjid dan tiba-tiba salah seorang santri berlari ke arahku lalu duduk di sampingku dan berkata “ kang ada berita duka” kata santri tersebut. “loh, innalillahi wa inna ilaihi rojiun ada berita apa to? Tanyaku.

“Tadi siang ketika Gus Sholeh membawa hasil ke pondok beliau mengalami kecelakaan di perjalanan lalu beliau sempat dilarikan ke rumah sakit tapi tidak tertolong kang”. Kata santri tersebut dengan wajah bersedih.

Aku seperti tak sanggup lagi berdiri setelah mendengarnya, bagaimanapun juga aku sudah menganggap Gus Sholeh sebagai guru da ayah bagaiku. Sungguh kesedihan yang sangat mendalam itu kembali menimpaku.

Tepat pukul 9 malam pemakaman berlangsung. Dinginnya angin yang menerpa kami membuat air mata kami seperti membeku dan tak mampu lagi menetes dan kamipun mencoba melapangkan dada kami. Menerima kepergian Gus Sholeh dengan ikhlas.

Nampakny aku merasa kesedihanku dulu seperti terulang. Kesedihan atas kehilangan yang mencekam dan kesedihan dalam kehenigan.

Ku coba berdiri dari dudukku, menjadikan masa lalu sebagai “ibroh” bagiku. Menatap masa depan dengan penuh harap dan pohon sengon tetapi telaga ini akan mengingatkanku diri, karena awalnya aku bukan apa-apa dan yang aku dapat bukan sepenuhnya hasil usahaku.