Kopi merupakan komoditas yang saat ini dijadikan industri kreatif bagi generasi milenial. Berbagai coffee shop kini marak ditemui di berbagai sudut dan tengah perkotaan. Dulu kopi merupakan minuman wajib orang tua, namun kini kopi justru dinikmati juga oleh generasi milenial. 

Menikmati kopi dan mengunggahnya di media sosial kini menjadi tren bagi generasi milenial. Di satu sisi mereka menikmati kopi dengan citra rasanya, dan di sisi lain mereka juga mengunggahnya di media sebagai ekspresi generasi milenial. 

Istilah-istilah anak senja atau anak indie tidak bisa dilepaskan dengan pandangan tentang kopi yang mereka nikmati di senja hari. Berbicara tentang kopi tentu tidak bisa lepas dari sejarahnya, tentang bagaimana awalnya kopi di menyebar Nusantara dengan praktik penanamanya ?

Secara historis, Penyebaran kopi di Nusantara khususnya Jawa telah di mulai dari masa VOC ketika melebarkan hegemoninya di Nusantara.  Awalnya VOC menemukan perkebunan kopi di Malabar, India di mana banyak orang Arab yang berkebun di sana. 

Pada tahun 1696 pemerintah VOC membawa bibit tanaman kopi di Malabar ditanam oleh orang Arab. Saat itu bibit kopi yang di bawa dari Malabar kemudian disebarkan di Pulau Jawa, khususnya daerah Priangan, Cirebon, dan Batavia.  Gubernur Jenderal VOC Joan van Hoorn yang berkuasa dari 1704-1709, menjadi pelopor penyebaran kopi di Nusantara.

Awalnya peyebaran kopi yang dilakukan van Hoorn ini atas dasar alasan ekonomi, dikarenakan pada abad ke-17 kopi menjadi komoditas yang laku di pasaran Eropa. Pemerintah VOC juga menilai bahwa kopi dapat ditanam baik di wilayah tropis seperti Nusantara. 

Hal ini  dikarenakan uji coba van Hoorn tentang penanaman biji kopi Batavia. Melihat biji kopi yang ditanamnya dinilai baik dan subur tumbuh di Nusantara, pemerintah VOC akhirnya memerintahkan penanam kopi di Batavia, Priangan, dan Cirebon. 

Pemerintah VOC tidak secara langsung untuk terjun dan memerintahkan rakyat pribumi agar menanam kopi sebagai kebutuhan indutri dan komoditas ekspor di pasaran. Namun, pemerintah VOC menjadikan para bupati yang berasal dari golongan pribumi untuk memerintah rakyatnya menanam kopi.

Meskipun kebijakan  penanam kopi ini umumnya dilaksanakan di Pulau Jawa, namun secara khusus penanaman biji kopi ini difokuskan di wilayah Priangan. Pada abad ke 17 setelah VOC menguasai daerah Priangan, Pemerintah VOC menerapkan kebijakan Preangerstesel yaitu kebijakan penanaman kopi secara paksa di wilayah Priangan. 

Hal ini dikarenakan secara geografis wilayah ini sangat subur, wilayah Priangan memiliki tanah vulkanik dan ketinggiannya pun mencapai kurang lebih 1.800 meter ke atas, tentunya hal ini sangat cocok untuk penanaman kopi. Bupati Cianjur Raden Aria Wiranantu III berhasil menyetorkan 100 pikul kopi untuk VOC. 

Menurut sejarawan Breemen , VOC berrhasil menguasai ¾ perdagangan kopi dunia, yang di mana kopi yang dihasilkan tersebut berdasar dari daerah Priangan khususnya Cianjur. Namun, penguasaan VOC atas perdagangan kopi dunia tidak sejalan dengan kesejahteraan petani kopi saat itu.

Pada masa Hindia Belanda, ketika Gubernur Jenderal Hindia Belanda H.W Daendels berkuasa (1808-1811) setiap keluarga diwajibkan menanam 200 bibit kopi setiap tahunnya. Hal ini mengakibatkan panen kopi mengalami peningkatan hingga 120.000 pikul. 

Menurut Lasmiyanti, pada masa Daendels berkuasa, Daendels memberi komisi kepada para bupati yaitu 1 rijkdaalder per pikul seberat 128 pon. Pada masa Daendels para petani kopi dipaksa untuk meningkatkan jumlah hasil produksinya, dengan ini uang kas pemerintah kolonial semakin meningkat dan harga kopi Priangan pun semakin naik di pasaran. Namun peningkatan uang kas pemerintah kolonial di masa Daendels juga tidak sejalan dengan kesejahteraan para petani kopi.

 Tahun 1830 setelah  Daendel hengkang dari jabatannya, Culturstesel atau Tanam Paksa diterapakan oleh pemerintah kolonial. Pada masa ini tidak hanya kopi yang menjadi tanaman wajib seperti sebelum-sebelumnya, namun juga teh, kina,tebu, lada, dan nila menjadi tanaman wajib yang harus disetorkan untuk ekspor. 

Kopi tetap diutanamkan dalam Sistem Tanam Paksa. Produksi kopi semakin meningkat, bahkan pemerintah kolonial menerapkan kebijakan untuk menanam kopi lebih dari 40 juta pohon pertahun dan penanam ini di perluas ke Pulau Jawa bagian Tengah dan Timur. 

Kewajiban penanaman kopi secara paksa ini tentunya menimbulkan penderitaan para petani kopi yang kesejahteraanya tidak sesuai dengan apa yang diproduksi, hingga pada tahun 1917 penanaman paksa atas kopi dihapuskan.

Sejarah munculnya penanam kopi di Nusantara tentunya memakan proses yang panjang, meliputi penanaman paksa para petani kopi, penguasaan Belanda atas perdagangan kopi di pasaran, hingga kemelaratan para petaninya. 

Industri kopi saat ini sangat digandrungi generasi milenial, kedai-kedai kopi semakin populer di kalangan masyarakat Indonesia saat ini. Pemerintah juga memberikan fasilitas untuk menunjang industri kopi agar semakin meningkatkan pertumbuhan ekonomi. 

Kejayaan kopi dari Indonesia di masa lalu, tentu bisa menjadi rujukan bagi penduduk masa kini untuk meningkatkan industri kopi yang dapat memberi kontribusi bagi pertumbuhan ekonomi.