A. EMILE DURKHEIM DAN RESPON TERHADAP INDUSTRIALISASI

       Salah satu tokoh utama sosiologi klasik adalah Emile Durkheim. Durkheim menghasilkan banyak sekali tulisannya tentang bagaimana masyarakat berubah sebagai respon terhadap perkembangan teknologi. Topik lain yang tak kalah terkenal, ialah tulisan Durkheim tentang faktor sosial yang menyebabkan perilaku bunuh diri. Di dalam bukunya berjudul Le Suicide yang dipublikasikan tahun 1897 ia secara komperhensif membicarakan sebab-sebab sosial perilaku bunuh diri sebagai fenomena sosial bahkan membicarakan hubungannya kepada fenomena sosial lainnya. (Durkheim 2002: 97-291)

      Durkheim ialah seorang pemikir Perancis yang lahir pada 1858 dan meninggal pada 1917 (Malczewski, 2015).  Hal ini berarti bahwa Durkheim hidup pada masa ketika dunia sedang mengalami banyak berubah yang disebabkan oleh industrialisasi. Revolusi industri ialah sebuah keadaan ketika teknologi dapat secara optimal melakukan proses produksi masal (Mohajan, 2019). Perkembangan drastis teknologi industri yang terjadi sekitar tahun 1760 – 1840 ini merubah kondisi sosioekonomi Inggris saat itu. Hal ini membuat para buruh pabrik menjadi penggerak roda perekonomian.

      Secara masal, orang-orang mulai yang berasal dari area rural mulai berdatangan ke kota untuk bekerja di pabrik pada daerah urban (Crafts, 2011). Fenomena ini sontak merombak sama sekali corak kehidupan masyarakat saat itu. Dampak perkembangan industri terhadap bagaimana struktur sosial mempengaruhi sistem kemasyarakatan (solidaritas sosial). Durkheim memperkenalkan dua jenis sistem yang ia sebut sebagai solidaritas mekanik (mechanic solidarity) dan solidaritas organik (organic solidarity). Durkheim tertarik untuk memperhatikan bagaimana kedua jenis masyarakat yang berbeda menjaga norma sosial tetap berfungsi dan menjaga sistem  sosial tetap berfungsi (Segre, 2004).

        Pertama, tipe masyarakat mekanik. Masyarakat jenis ini bercorak pra-industri dengan ekonomi bertumpu pada sektor agraris yakni dengan memproduksi hasil pertanian, peternakan, dan menjaga ketat kebudayaan tradisional. Masyarakat mekanik biasanya hidup di pedesaan dan terpisah dari hiruk pikuk perkotaan. Kedua, masyarakat organik. Masyarakat organik inilah yang banyak dipengaruhi oleh gelombang revolusi industri. Masyarakat organik hidup di perkotaan dan memegang konsep modernisme. (Segre, 2004)

       Salah satu faktor yang membuat sistem sosial tetap bekerja pada jenis masyarakat mekanik menurut Durkheim ialah karena mereka  mempunyai kesadaran kolektif yang kuat (collective conscience). Mereka memiliki banyak kesamaan. Orang-orang yang yang diindentifikasikan sebagai anggota kelompok solidaritas mekanik biasanya mengenal sebagian besar orang di dalam kelompok mereka. Tidak banyak perbedaan yang begitu nampak antara mereka, agama, ras, dan etnis yang sama sehingga masyarakat cenderung homogen. 

       Masyarakat jenis solidaritas ini juga menghukum keras setiap siapa saja yang melanggar norma sosial. Model hukuman macam ini disebut sebagai keadilan retributif (retributive justice) yang fokus menghukum si pelanggar atas segala setiap pelanggaran yang telah dilakukan dengan sesuatu yang bersifat negatif (misal hukuman yang mengandung penderitaan atau merugikan) si pelanggar (Wenzel, Sabbagh, dan Schmitt 2016: 238) Masyarakat jenis ini sangatlah tradisionalis. Masyarakat ini disebut sebagai masyarakat mekanis karena nilai dan norma sosial menyebar secara eksplisit (Abramovitch 2001: 3267) lalu  supaya sistem sosial tetap berjalan maka segala sesuatu harus dikerjakan dengan cara yang sama dan tak boleh diubah. (Petković, 2007).

       Di sisi lain, pada jenis masyarakat organik, sistem sosial tetap bekerja karena setiap orang di dalam sistem ini saling bergantung satu sama lain (Petković, 2007). Misalnya, seorang buruh pabrik bergantung pada perjual bahan makanan, sedangkan seorang penjual makanan bergantung kepada buruh pabrik sebagai pembeli barang dagangannya. Akademisi, penulis, politisi, musisi, pengacara, dan semua orang di dalam sistem saling terkait dan punya peranan masing-masing terhadap keberlangsungan sebuah sistem sosial.  Dalam jenis masyarakat solidaritas ini, terdapat pembagian kerja yang lebih beragam (Britannica, T 2010). Dalam sebuah bidang profesi yang sama terdapat spesialisasi spesifik. Setiap anggota dalam sistem berlaku selayaknya organ yang membuat sistem tetap berjalan. 

       Telah saya katakan di awal bahwa masyarakat organik dipengaruhi oleh gelombang revolusi industri dan bahwa kelompok pekerja menjadi penggerak utama roda perekonomian, maka menurut Durkheim pengikat utama bagi setiap individu pada jenis masyarakat yang terindentifikasi sebagai solidaritas organik adalah ekonomi. Setiap bagian bekerja sama menopang keberlangsungan sistem sosial. Semacam fungsi tubuh yang saling bekerja sama demi keberlangsungan suatu organisme.  

       Pembagian kedua sistem sosial ini oleh Durkheim dijelaskan secara panjang lebar dalam karyanya berjudul The Division of Labour in Society yang terbit pada tahun 1893 (Pope & Johnson, 1983). Melalui tesisnya, nampak bahwa kedua sistem ini dapat berfungsi secara terpisah dengan karakteristrik yang berbeda.

Permasalahannya, revolusi yang terjadi semasa hidup Emile Durkheim membuat kedua sistem sosial ini membaur sehingga mulai memunculkan masalah.

       Masyarakat tradisionalis dari pedesaaan mulai pindah ke area perkotaan, sedangkan masyarakat moderen mulai berekspansi memperluas area industri (Spielvogel 2005: 588). Lalu kedua sistem sosial ini mulai bergesekkan. Akibatnya, orang-orang dilanda kebingungan dengan dunia di sekitar mereka. Beberapa beranggapan bahwa bersikeras mempertahankan tradisi dan supramasi etnis adalah hal yang tepat untuk dilakukan, sedangkan yang lainnya berpandangan bahwa mengikuti gaya hidup modern dan bersikap lebih permisif terhadap pelanggaran tradisi ialah hal yang wajar. 

       Dalam pandangan Durkheim, kedua sistem ini tidak dapat melebur dan hidup karena sedikit banyak akan melahirkan berbagai konfrontasi. Bentrok yang terjadi antar dua sistem sosial ini akan menciptakan anomie. Anomie adalah perasaan terputus dari masyarakat sebagai individu. Seorang menjadi kesulitan untuk mengidentifikasi standar nilai yang mesti dianut atau mengalami konflik nilai. Durkheim mendefiniskan anomie sebagai konsekuensi dari perpindahan sistem sosial (Willis, 1982). Anomie dianggap membahayakan karena individu mulai kehilangan kompas moral dan bersikap tak patuh hukum (Durkheim 1960: 431) Bahkan Durkheim menganggapnya sebagai salah satu faktor dari perilaku bunuh diri. 

B. KRITIK TERHADAP TEORI SOLIDARITAS MEKANIK DAN ORGANIK DURKHEIM

       Pandangan Durkheim sebagaimana yang telah saya paparkan sebelumnya, merupakan bentuk dari apa yang kita sebut sebagai perspektif fungsionalis. Pandangan ini fokus membahas tentang bagaimana sistem sosial berfungsi (Little 2016: 44). Teori Durkheim secara sederhana menjelaskan bahwa sebuah sistem sosial dapat berjalan dengan baik selama setiap struktur sosial menjalankan peran masing-masing. 

       Anomie hanya akan muncul akibat dari malfungsi struktur sosial sehingga menyebabkan ketidakstabilan sistem sosial. Maka jika kita amati lebih jeli, berdasarkan perspektif para fungsionalis seperti Durkheim, hanya mampu bagaimana sistem sosial berjalan di luar keadaan yang ekstrim, tetapi tidak benarbenar mampu menjelaskan kenapa sistem sosial bisa terganggu. Misalnya, Durkheim menilai bahwa sistem solidaritas organik berhasil karena semua orang berkontribusi pada perekonomian, lalu kita bisa bertanya-tanya perihal, 

bagaimana dengan orang-orang yang tidak dapat berkontribusi untuk ekonomi, bagaimana jika terdapat penyebab yang menghalangi kita untuk bekerja dan berkontribusi terhadap perekonomian dalam istilah kapitalistik? 

       Orang-orang yang tidak dapat bekerja karena alasan tertentu lalu tidak dapat berkontribusi terhadap perekonomian, maka bila ditinjau lewt perspektif Durkheim, mereka juga dianggap tidak berkontribusi terhadap keberlangsungan sistem sosial. Padahal, barangkali mereka bisa saja berkontribusi lewat sektor lain yang lebih sesuai. 

        Pandangan Durkheim juga sepertinya akan lebih sesuai di negara yang menerapkan ekonomi kapitalis seperti German, Amerika, Kanada, dan Inggris sedangkan terasa kurang cocok diterapkan di negara yang tidak menganut sistem ekonomi kapitalis dan tidak termasuk sebagai negara industri. Teori Durkheim juga banyak menginspirasi sosiolog dipeninggalnya yang melanjutkan estafet perspektif fungsionalisme. Talcott Parsons salah satunya. Ia lahir pada 1902 dan banyak menulis tentang teori struktural fungsionalis. (Little 2016: 24). Lewat tulisannya ia mencoba untuk menjelaskan bagaimana setiap aspek abad ke-20 dapat bersinergi dalam menjalankan sebuah sitem sosial. 

       Misalnya ia menjelaskan bahwa, nuclear familly (istilah untuk menyebut sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang orang tua yakni seorang laki-laki dan seorang perempuan) sebagai struktur terkecil dari sebuah sistem sosial yang bekerja dengan saling melengkapi. Peran seorang laki-laki ialah mencari nafkah untuk keluarga, laki-laki pergi bekerja dan memiliki karir di luar rumah, sedangkan perempuan memiliki peran untuk melakukan pekerjaan domestik seperti menjaga rumah serta mengasuh anak-anak, begitulah sistem dijalankan (Little 2016: 28). Perempuan tidak seharusnya mencoba untuk berkarir dan laki-laki tak semestinya merawat anak-anak karena menurut Parsons tak dapat dibenarkan. Ia beranggapan bahwa peran laki-laki dan perempuan dalam keluarga adalah bawaan dan bersifat genetis, tidak dapat dipelajari ataupun dirubah. Pemahaman ini kita sebut sebagai biological determinism (Sedjo, 1996). Maka dalam perspektif struktural fungsionalis nuclear familly merupakan contoh ideal yang memaksimalkan efisiensi kerja dari sebuah sistem kapitalis. 

         Eksploitasi gender, penindasan terhadap perempuan, serta berbagai bentuk perbuatan sejenis lainnya merupakan sesuatu yang diperlukan supaya sistem sosial dapat tetap berjalan. Era 1950-an menurut Parsons akan menjadi sangat indah apabila semua orang bersikap abai dengan semua penindasan yang terjadi pada orang lain. Sesuatu yang tidaklah menjadi masalah, jika tidak berpengaruh secara individu. 

C. TEORI KONFLIK: PERLAWANAN TERHADAP TEORI FUNGSIONALIS

        Karl Marx lahir, seorang filosof sekaligus Sosiolog yang lahir tahun 1818-an merupakan salah satu tokoh pertama yang menjadi pioner teori konflik (Dahrendorf, 2006). Karya utamanya yang berjudul Communist Manifesto and Das Capital dipublikasikan berbarengan dengan berakhirnya masa revolusi industri. Marx melalui tulisannya menempatkan fokusnya kepada berbagai tindakan eksploitatif yang dialami oleh kelas pekerja oleh para kapitalis. Dia memperhatikan bagaimana pemilik pabrik punya kuasa untuk memanipulasi dan mengeksploitasi pekerja mereka dengan mengambil untung sebanyak-banyaknya dari hasil penjualan barang produksi pekerja. Karl Marx menilai apabila para kapitalis mempertahankan perilaku eksploitatifya terhadap kelas pekerja maka revolusi akan segera terjadi (Sitton, 2010). 

        Toeri Marx tentang eksploitasi tenaga kerja adalah apa yang kita sebut sebagai teori konflik. Para fungsionalis yang kita bicarakan sebelumnya berbicara tentang berbagai ikatan yang membuat sistem sosial dapat berfungsi. Anggapan ini dibangun dengan asumsi awal bahwa “Sistem sosial berjalan”. Sedangkan, teori konflik sebaliknya. Asumsi dasar teori ini berupa pengandaian apabila masyarakat secara inheren disfungsional, lalu menjelaskan bagaimana dan mengapa keadaan demikian itu bisa terjadi. 

       Berbeda dengan pandangan Durkheim yang melihat ekonomi ikatan utama dalam sistem sosial, Marx malah berpandangan bahwa perilaku menghargai tenaga kerja daripada kehidupan orang lain tidak akan mampu lama bertahan. Sistem sosial macam itu tidak hanya kacau dan inefisien, tetapi kita juga sedang mempersiapkan diri menuju kehancuran.

D. MEMANDANG DIGITALISASI LEWAT TEORI SOLIDARITAS MEKANIK DAN ORGANIK

      Teori Durkheim tentang dua jenis solidaritas pada dasarnya menjelaskan bagaimana masyarakat pra-industrialisasi dan tradisionalis dapat mempertahankan sistem sosial mereka, begitu pula dengan bagaimana masyarakat industrialis dan moderenis menjaga sistem sosial mereka tetap berjalan. Seperti yang telah saya tulis di awal pembahasan bahwa Emile Durkheim hidup zaman ketika terjadi perubahan yang sangat signifikan dalam bidang teknologi yang merubah wajah perekonomian Eropa.

       Durkheim lahir pada tahun 1858 dan meninggal pada tahun 1917. Anggaplah kebanyakan dari kita lahir pada tahun 1996 dan akan meninggal pada 2079. Maka kebanyakan orang pada generasi kita juga hidup di saat terjadi banyak perubahan besar di bidang teknologi. Apa yang terjadi pada zaman Durkheim ialah teknologi berkembang mempengaruhi industrialisasi (baca: pabrik), sedangkan pada generasi kita revolusi mempengaruhi bagaimana cara kita bertukar informasi dan berbagai kemudahan untuk terhubung satu sama lain. Digitalisasi bahkan terjadi dalam skala yang lebih besar daripada revolusi indusitri tahun 1800-an yang terjadi di Eropa, digitalisasi melibatkan hampir seluruh dunia. 

      Revolusi digital yang terjadi merubah ekonomi secara drastis. Telah banyak penelitian yang membahas bagaimana digitalisme mengubah pola konsumsi kita. Ecommerce (Electronic commerce) yakni pola distribusi barang dari penjual ke pembeli secara elektronik (Lauren dan Loudon; 1995; Achjari, 2000) khas digitalisasi tentu saja telah merubah bagaimana ekonomi berjalan. Lewat berbagai platform belanja daring tidak ada lagi hambatan untuk mempromosikan produk. Penjualan produk dapat menggapai seluruh calon pembeli di seluruh dunia memanfaatkan jaringan internet untuk bertukar informasi. 

      Begitu pun dengan pembeli produk, digitalisasi membuat aktivitas berbelanja menjadi sangat mudah. Dengan memanfaatkan ponsel pintar, pembeli dengan gampang dapat mencari barang yang dibutuhkan dari seluruh dunia, membayar dengan uang elektronik, lalu menunggu barang yang dimaksud sampai ke rumah. Pada tahun 1800-an, teknologi telah meningkatkan kapasistas produksi pabrik sehingga buruh pabrik menjadi ujung tombak ekonomi, maka digitalisasi sepertinya akan membuat industri kecil dapat berkembang. Semua orang dapat memulai bisnis sendiri dengan memanfaatkan digitalisasi. 

      Digitalisasi membuat berbagai peluang menjadi terbuka lebar, ketimbang revolusi industri abad ke 18 yang memaksa orang-orang di desa untuk pergi mencari kerja ke kota dan bekerja sebagai buruh pabrik. Dengan kemudahan akses informasi, orang-orang di seluruh dunia dapat saling bertukar nilai. Masyarakat tradisionalis dengan mudah dapat berinteraksi dengan masyarakat modernis. Bukan tidak mungkin orang yang tercirikan sebagai masyarakat mekanik yang sangat konservatif terhadap nilai bertemu dengan masyarakat organik yang menjunjung tinggi diversitas. Maka barang tentu, anomie akan muncul dan membuat sistem sosial menjadi tidak stabil.