Simone de Beauvoir. Kita yang tertarik dengan feminisme pasti mengenal nama ini. Ia penulis The Second Sex (Le Deuxième sexe). Kita tidak terlahir sebagai perempuan tetapi berproses menjadi perempuan—feminis mana yang belum pernah mendengar kalimat ini? 

Tapi tahukah Anda bahwa Beauvoir bukan feminis saat ia menulis buku The Second Sex? Dan tahukah Anda bahwa perlu menunggu 20 tahun kemudian sampai ia mendeklarasikan diri “Saya feminis”? Bagaimana seorang yang tidak feminis bisa menulis esai yang dijadikan pondasi pembentukan teori-teori feminis di Prancis, dan dijadikan rujukan feminis internasional? 

Tahukah Anda bahwa karya-karya Beauvoir mencapai puluhan, bukan hanya The Second Sex saja? Apa saja karya-karyanya yang lain? Apakah tentang feminisme juga? Bagaimana akhirnya ia bisa menjadi feminis eksistensialis? Ups, feminis eksistensialis? Tahukah Anda bahwa istilah ini sebenarnya hampir tidak pernah disebut di Prancis?

Saya kira akan ada begitu banyak pertanyaan muncul mengenai tokoh ini. Kita yang sudah lebih mengenalnya mungkin juga akan bertanya bagaimana hubungannya dengan Jean-Paul Sartre? Apakah benar roman The Mandarins (Les Mandarins) diambil dari kisah cintanya dengan Nelson Algren? Siapa Nelson Algren? Apakah benar Beauvoir lesbian? Apakah benar ia telah menjadikan murid-murid perempuannya sebagai “mangsa” Sartre untuk bisa terus mengikat Sartre? Dan seterusnya. 

Namun jika saya menulis buku ini, tujuan utamanya bukan untuk memuaskan keingintahuan akan pertanyaan-pertanyaan semacam ini, tetapi lebih pada pengungkapan kebenaran tentang Beauvoir. 

Beauvoir yang pertama-tama adalah seorang filsuf, meski status filsuf ini juga baru diberikan negara Prancis kepadanya dua tahun ini. Sebelumnya ia selalu ditempatkan dalam bayang-bayang Sartre. Semaju apa pun Prancis dalam hal kesetaraan perempuan dan laki-laki, kekuasaan patriarki belum bisa dihapuskan sepenuhnya. 

Karya-karya Beauvoir sendiri mencapai puluhan; tidak hanya berupa esai, tetapi juga roman, kumpulan cerpen, memoar, naskah sandiwara, kumpulan surat-surat, dan buku harian. Semua karyanya ini didasarkan pada landasan filsafat yang sangat kuat. 

Filsafat ala Beauvoir punya kekhasan yang tidak dimiliki filsuf-filsuf lain termasuk Sartre, yang dengannya Beauvoir menjalin diskusi tanpa henti setiap hari sejak keduanya saling mengenal sampai akhir usia. Sayang rasanya jika kita tidak mengenal pemikiran-pemikiran Beauvoir yang luar biasa, yang juga dimungkinkan oleh kehidupan tidak biasa* yang telah ia jalani. 

“Dalam kenyataannya, tidak ada perceraian antara filsafat dan kehidupan. Setiap langkah yang diambil manusia dalam kehidupannya adalah pilihan filosofis.” Demikian pernyataan Simone de Beauvoir dalam L’existentialisme et la sagesse des nations (p. 9). 

Pilihan-pilihan yang Beauvoir ambil dalam hidupnya telah didasarkan pada nilai, prinsip, dan pemikiran filosofisnya. Sebaliknya, kehidupan yang telah ia jalani memengaruhi pemikiran-pemikirannya. Demikian terus berkelanjutan, karena seperti yang ia katakan: Kehidupan adalah invensi tanpa henti. 

Oleh sebab itulah, untuk dapat memahami bagaimana filsafat ala Beauvoir bisa tercipta dan bagaimana sebenarnya filsafat ala Beauvoir ini (yang tidak terbatas pada apa yang tertulis dalam The Second Sex), apa yang khas, apa yang luar biasa, saya merasa perlu untuk terlebih dahulu menelusuri perjalanan kehidupan Beauvoir. 

Buku biografi ini pun hadir untuk mengawali buku (-buku) selanjutnya yang diharapkan dapat menjadi pengantar untuk memahami filsafat dan feminisme ala Beauvoir. Namun demikian, keterkaitan erat antara filsafat dan kehidupan Beauvoir membuat buku biografi ini tidak sekadar berisikan perjalanan hidupnya, tetapi juga mengandung pemikiran-pemikiran filsafatnya. 

Perlu saya sampaikan pula, sejak Beauvoir menyadari bahwa setiap manusia “dikutuk” untuk mati, ia tidak ingin kehilangan waktu sedetik pun. Ia justru bersiap memasuki petualangan besar menjadi dirinya. 

Jadi bersiaplah, dalam lembar demi lembar buku ini, Anda akan menemukan kehidupan yang penuh, yang melahap, yang menggairahkan, sebagaimana yang ia dambakan dan senantiasa ia upayakan. Dengan ini, saya mengundang Anda semua, mari melintas abad bersama Simone de Beauvoir. 

Catatan : 

*Bisa dibilang semua orang, termasuk yang mengkritiknya, tidak bisa menyangkal bahwa Beauvoir punya kecerdasan luar biasa. Namun tidak semua orang sepakat untuk menyatakan bahwa kehidupannya luar biasa, khususnya mereka yang masih memberlakukan prinsip-prinsip moral baik dan jahat, bermoral dan tak bermoral

Buku ini akan diterbitkan EA Books pada akhir Juli 2021. Peluncuran dan diskusi buku dengan Sylvie Le Bon de Beauvoir (pakar literatur dan filsafat yang juga pewaris karya-karya Beauvoir) pada tanggal 14 Agustus 2021.