Wartawan
2 tahun lalu · 127 view · 4 menit baca · Lingkungan 83941.jpg
Ilustrasi Mangrove, Republika

Pengelolaan Nyamplung Solusi Rehabilitasi Hutan Mangrove

Indonesia sebagai negara yang terdiri dari banyak kepulauan, mempunyai panjang garis pantai yang mencapai 99.093 km2 dengan luas wilayah perairan sekitar 6.315.222 km2 (Badan Informasi Geospasial, 2017).

Dengan panjang garis pantai yang panjang, Indonesia merupakan pemilik hutan mangrove terbesar di dunia yang memiliki peranan penting dan manfaat untuk penduduk pesisir di sekitarnya.

Hutan mangrove memiliki manfaat karena dapat mencegah intrusi air laut, mencegah erosi dan abrasi pantai, sebagai pencegah dan penyaring alami limbah organik atau bahan kimia, sebagai tempat hidup berbagai satwa, dan terakhir menstabilkan daerah pesisir.

Namun, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Menteri LHK) RI, Siti Nurbaya mengatakan kondisi sebagian besar tanaman mangrove di pesisir pantai Tanah Air kurang baik (Tempo, 2017). Berdasarkan data Kementerian tersebut, tanaman mangrove yang kondisinya kurang baik mencapai 52%, sedangkan yang masih baik tercatat hanya 48%.

Luas tanaman mangrove di Tanah Air, menurut Menteri LHK juga mencapai 3,49 juta hektare dan tersebar pada 257 kabupaten/kota, sedangkan setiap tahun terdapat ratusan ribu hektare kondisinya mengalami penurunan.

Terutama di daerah Langkat yang menempati urutan pertama lahan hutan mangrove paling rusak di Sumatera Utara. Dari total 50.650 hektare lahan hutan mangrove, 13.526 hektare mengalami kerusakan (Republika, 2016).

Menurut data Dinas Perikanan dan Kelautan Sumatera Utara kerusakan tersebut dikarenakan masyarakat banyak menebang mangrove untuk kayu bakar, bahan bangunan, dan arang bahkan banyak pengusahamenjadikan lahan mangrove untuk membuka ladang kelapa sawit.

Dengan keadaan hutan mangrove yang sangat kronis di Langkat, Sumatera Utara ini maka dibutuhkan langkah strategis agar tidak semakin parah kerusakan yang terjadi dan akhirnya berdampak buruk untuk masyarakat pesisir dan ekosistem makhluk hidup di sekitarnya.

Perlu adanya rehabilitasi segera, dengan menjadikan mangrove bukan hanya sekedar hutan yang melindungi ekosistem atau melindungi pulau tapi juga sebagai hutan penopang perekonomian rakyat pesisir agar terdapat manfaat lebih untuk membuat masyarakat sadar serta tertarik dalam menanam dan menjaga mangrove.

Nyamplung sebagai Solusi

Hutan mangrove di Indonesia sebenarnya memiliki berbagai jenis tanaman dan bisa berdaya ekonomi yang tinggi, salah satunya adalah Calophyllum inophyllum yang merupakan salah satu spesies tanaman mangrove atau biasa disebut nyamplung.

Nyamplung ini merupakan jenis asli tanaman Indonesia yang tersebar hampir di seluruh wilayah Nusantara dari ketinggian 0-200 m dpl.

Nyamplung sebenarnya memiliki potensi yang cukup besar karena bisa menjadi bahan baku untuk pembuatan biodiesel yang digunakan untuk bahan bakar dalam menggerakkan mesin diesel karena memiliki beberapa keunggulan dengan tingkat rendemen yang relatif tinggi (50-73%).

Biodiesel ini merupakan energi alternatif pengganti bahan bakar fosil atau bahan bakar minyak (BBM) yang keberadaannya semakin menipis.

Fungsi biodiesel ini sebenarnya bisa digunakan oleh para nelayan sebagai bahan bakar perahu atau kapal mereka dalam rangka mencari ikan di laut karena lebih murah harganya daripada bahan bakar solar, serta lebih ramah lingkungan.

Menurut data Kementerian LHK tahun 2017 bahan bakar biodesel dari nyamplung pernah diuji coba pada bus dan jeep pada jarak tempuh 300 km dan peforma bahan bakar ini sangat baik. Selain itu dalam percobaan untuk menggerakkan generator dalam 1 jam hanya membutuhkan 0,94 liter biodesel.

Pengolahan biji nyamplung menjadi minyak biji nyamplung dilakukan melalui tahapan sortasi yang dilanjutkan dengan pengulitan, pengecilan ukuran (pengirisan), pengeringan di oven, dan pengepresan. Minyak hasil pengepresan yang diperoleh selanjutnya dilakukan proses degumming.

Selanjutnya minyak yang terbentuk dibiarkan satu malam, endapan yang terjadi dipindahkan, kemudian dicuci dengan air hangat pada suhu 65ºC.

Setelah minyak nyamplung dipisahkan getahnya, selanjutnya dianalisis kadar asam lemak bebasnya (FFA). Karena kadar FFA. Selanjutnya proses pengolahan minyak nyamplung menjadi biodiesel adalah melalui proses EET (Esterifikasi – Esterifikasi – Trans esterifikasi).

Sifat fisika dan kimia biodiesel nyamplung hasil purifikasi, menurut Kementerian LHK seluruhnya memenuhi persyaratan SNI 04-7182-2006 jadi aman untuk bahan bakar.

Analisa Dampak Sosial Ekonomi Tanaman Nyamplung

Menurut data dari Kementerian LHK produksi buah nyamplung bisa mencapai 16-20 ton per hektare selama setahunnya sehingga tingkat produksinya sangat tinggi selain itu juga relatif mudah dibudidayakan dan cocok didaerah beriklim kering.

Pemanfaatan biji nyamplung sebagai biodiesel dapat menekan laju penebangan pohon hutan sebagai kayu bakar. Akibat yang ditimbulkan adalah tumbuhnya kesadaran masyarakat bahwa daripada menebang hutan dan habis dibakar, lebih baik untuk diolah dan digunakan sebagai bahan bakar.

Menurut data PUSLITBANG Departemen Kehutanan RI tahun 2008, apabila terdapat produktivitas nyamplung minimal 50 kg perpohon setahunnya maka diproyeksikan total produksi akan mencapai 500 ribu ton yang setara dengan 255 juta liter biodiesel yang bernilai sekitar Rp 5,02 triliun.

Dengan manfaat ekonomi yang tinggi tersebut, hal ini bisa menjadi alternatif mata pencaharian baru untuk masyarakat di Langkat, Sumatera Utara apalagi harga indeks pasar (HIP) bahan bakar biodiesel Februari 2017 kembali naik hingga menyentuh angka Rp 9.493 per liter (Tempo, 2017).

Apalagi Pemerintah sebenarnya juga telah mengeluarkan kebijakan yang mendorong pengembangan bahan bakar nabati (BBN), antara lain Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 1 Tahun 2006 tentang Penyediaan dan Pemanfaatan BBN sebagai Bahan Bakar Lain.

Kemudian, Keputusan Presiden Nomor 10 Tahun 2006 mengenai Pembentukan dan Tugas Tim Nasional Percepatan Pemanfaatan BBN untuk Mengurangi Kemiskinan dan Pengangguran (Timnas BBN).

Penanaman nyamplung ini bisa menjadi alternatif mata pencaharian baru karena menurut data dari Bappeda Langkat di tahun 2017 untuk tanaman kehutanan masyarakat masih berfokus dengan hasil utamanya yang didominasi oleh kayu dan hasil lainnya.

Adapun luas kawasan hutan berdasarkan fungsinya SM Langkat Timur Laut 9.520 hektare, Hutan Lindung 4.573 hektare, Taman Nasional Gunung Leuser 204.102 hektare, Hutan Produksi Terbatas (HPT) 40.376 hektare, Hutan produksi (HP) 25.110 hektare.

Kesimpulan

Nyamplung dapat memberikan dampak yang positif untuk memacu kesadaran dan keberminatan masyarakat untuk menanam dan melestarikan hutan mangrove di Langkat, Sumatera Utara dikarenakan manfaat ekonominya yang cukup besar.

Namun masih perlu adanya perencanaan matang dari sinergi pemerintah dan masyarakat mengenai pelestarian mangrove berjenis nyamplung kedepannya.

Artikel Terkait