Bahaya Melihat Hanya yang Tampak Saja

Pernahkah terpukau oleh sesuatu yang memikat hingga tidak dapat berpaling sedetik pun? Yang oleh karenanya kita terus-menerus memikirkannya, bahkan terbawa ke alam mimpi, dan dalam beberapa kasus menjadi pedoman tindak-tanduk menjalani hidup sehari-hari (contohnya; idealisme).

Jika pernah, maka kuanjurkan untuk sekali lagi merenung, menimbang mengenai kebenaran sesuatu yang telah berhasil memikat dan menjadikan dirinya sebagai obyek obsesi kalian. 

Pernah dengar tentang taqlid buta? Singkatnya, taqlid buta adalah suatu sikap menerima dan mengikuti sebuah ajaran dengan pasrah tanpa kecurigaan sedikit pun. Ya, taqlid buta merupakan salah satu dari banyak jenis obsesi, obsesi terhadap sang ustaz.

Terdapat sebuah kisah yang mencontohkan sisi buruk obsesi. Kisah tersebut berada di dataran Rusia pada rentang tahun 1890 - 1900-an. Pada tahun tersebut, tatanan masyarakatnya sangat kental dengan hierarki. Setiap anggota keluarga bangsawan telah dilatih tindak-tanduknya sejak kecil.

Bahkan terdapat kontras yang cukup kentara antara seseorang terdidik dengan seseorang tidak terdidik. Intinya, seseorang harus terlebih dahulu dididik dalam segala aspek—yang berfokus untuk menampilkan kesan—agar ia pantas disebut sebagai bangsawan.

Pada waktu itu, banyak dari pelayan yang rela mengabdikan diri kepada tuannya hingga akhir hayat hanya karena tindak-tanduk sang tuan sangat memesona. Tentu saja hal tersebut disebabkan oleh obsesi sang pelayan terhadap tindak-tanduk seorang bangsawan.

Selain tindak-tanduk, aspek penting yang harus dimiliki oleh seorang bangsawan ialah paras. Ya, cukup dengan paras dan tindak-tanduk bangsawan, seseorang mampu untuk memperbudak orang lain. Seperti Nicolenka yang pernah rela diperalat oleh Seriosha. (dikutip dari novel berjudul Masa Kecil, karya Leo Tolstoy, yang diterjemahkan oleh Deasy Serviana).

Contoh obsesi lain yang dapat dilihat, yaitu dari fans garis keras. Perlu diketahui bahwa setiap bidang punya fans garis kerasnya sendiri.

Para anggota boyband/girlband, misalnya. Satu di antara mereka—biasanya paling populer—pasti mempunyai penguntit. Motif sang penguntit hanyalah sebuah obsesi terhadap idolanya.

Bahkan kemajuan teknologi dapat berubah menjadi objek obsesi seseorang.

Dewasa ini, internet telah masuk dalam kehidupan manusia. Segala pertanyaan dapat dijawab oleh Google. Karena alasan tersebut, terdapat sekelompok orang yang menyembah Google. Hal tersebut terjadi lantaran obsesi mereka terhadap kecanggihan yang diberikan oleh Google.

Belum lagi jika membicarakan tentang Artificial Intelligence. Bahkan dalam sebuah buku berjudul Homo Deus telah meramalkan ketergeseran posisi Tuhan yang banyak disembah orang saat ini oleh Artificial Intelligence. Ya, satu lagi contoh obsesi yang dapat kita ketahui.

Semua yang telah disebutkan oleh artikel ini sebagai contoh obsesi menempatkan objek obsesinya di luar diri individu. Namun sebenarnya ada lho obsesi terhadap diri sendiri. Nama penyakitnya ialah Narsistic. Hayoo, siapa yang di saat bercermin sering senyam-senyum sendiri, bangga dengan kegantengan/kecantikan diri?Hati-hati, ya.

Jadi apabila digeneralisasi, maka akar permasalahan munculnya kasus-kasus obsesi yang telah disebutkan dalam artikel ini ialah penglihatan sebagai alat satu-satunya dalam mengakses informasi. Seseorang yang memakai indra penglihatan ketika mengakses informasi hanya akan mendapat satu sudut pandang. Itu sebabnya sering terdapat imbauan untuk membaca lebih dari satu buku.

Selain itu, fisik luar manusia bisa diibaratkan sebagai koin, sama-sama mempunyai dua sisi. Apakah mata dapat melihat sisi depan sekaligus sisi belakang tubuhnya secara bersamaan? Apalagi kalau sudah terpesona dengan pemandangan di hadapannya, tanpa mengetahui banyak sudut pandang, maka jadinya gelap mata.

Obsesi; Sebuah Pedang Bermata Dua

Sebelum mengira obsesi adalah hal yang salah, sehingga meyakini bahwa manusia seharusnya tidak perlu terobsesi terhadap apa pun, maka akan kuceritakan sebuah kisah mengenai sosok inspiratif yang karena obsesinya ia mampu bangkit dari jurang keterputus-asaan.

Sosok tersebut bernama Helen Keller, seorang yang berjuang mengatasi keterbatasan fisiknya, sehingga menjadi penderita buta-tuli pertama yang meraih gelar sarjana dan disegani dunia atas kariernya sebagai pembicara publik.

Helen lahir pada tanggal 27 Juni 1880 di Tuscumbia USA sebagai bayi yang normal. Sayang, di usianya ketika baru menginjak sembilan belas bulan, Helen terjangkit sebuah penyakit yang merenggut paksa fungsi indra penglihatan dan pendengarannya. 

Dalam buku karangan Helen sendiri berjudul The Story of My Life, terdapat sebuah bab yang menceritakan bagaimana seorang Helen pernah mengalami depresi akibat ketidakmampuannya untuk mengutarakan segala yang dipikirkan kepada anggota keluarga.

Sering, bahkan nyaris selalu terjadi miss-komunikasi antara Helen dengan anggota keluarga. Namun akhirnya penderitaan Helen berangsur-angsur mereda ketika ia didampingi oleh seorang pengasuh sekaligus guru privat bernama Anne Sullivan. 

Dengan kesabaran yang luar biasa, Anne Sullivan mengenalkan banyak kosakata kepada Helen, menjadi penghubung Helen dengan anggota keluarga lainnya, hingga ia mampu berkomunikasi sendiri dengan orang lain, dan mengenalkan dunia kepadanya sembari selalu mendampinginya setiap saat sekadar untuk memuaskan obsesi Helen terhadap kemegahan dunia.

Mungkin jika saja Anne Sullivan tidak mengenalkan dunia kepada Helen, bisa jadi Helen akan mati (dalam artian; tidak bergairah menjalani hidup). Helen hidup karena obsesinya terhadap kemegahan dunia.

Mau tahu bagaimana cara Helen memuaskan obsesinya? Dengan menggunakan indra peraba, dan penciumannya, bahkan Helen mampu menikmati berbagai sajian suara dunia hanya melalui getaran. 

Karena keterbatasan yang dimiliki Helen, ia bercerita bahwa tidak pernah mengamati sesuatu dalam sekejap lalu berpuas diri seperti kebanyakan orang yang hanya mengamati ketika menggunakan indra penglihatannya.