Researcher
1 minggu lalu · 308 view · 5 min baca menit baca · Filsafat 93885_48108.jpg
Dok. Pribadi

Melihat Waria sebagai Manusia

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul Waria Al-Fattah Yogyakarta yang Mandiri dan Merdeka. Jika tulisan tersebut merupakan catatan pengalaman mengenai panggilan jiwa belajar-mengajar bersama teman-teman waria, maka di tulisan ini lebih kepada menjawab pertanyaan yang biasa dilontarkan oleh peneliti maupun wartawan.

Peneliti maupun wartawan biasanya selalu bertanya, yaitu sebagai seorang muslim, bagaimana Anda melihat waria di pondok pesantren waria Al-Fatah Yogyakarta? Pertanyaan itu tidak sekali dua kali diajukan kepada saya. Hampir setiap kali ada tamu yang datang, pertanyaan itu menjadi pertanyaan kunci.

Tulisan ini mencoba mendeskripsikan jawaban dari pertanyaan di atas dengan pendekatan filsafat.

Waria Adalah Manusia

Secara pribadi, saya tidak memiliki keluarga seorang waria. Sebelum aktif membantu mengajar di pondok pesantren waria, saya melihat waria adalah seorang pengamen di lampu merah di pinggiran kota-kota di Indonesia.


Kala itu, ada rasa iba melihat mereka mengamen dengan dandanan minor di bawah terik matahari, tapi tidak diacuhkan oleh para pengendara. Ketika saya mengenal waria lebih jauh, tepatnya ketika aktif di pondok pesantren waria, rasa iba itu berubah menjadi rasa bangga dan salut.

Salut karena mereka bisa hidup survive manakala keluarga, masyarakat, negara, bahkan tafsir agama tidak ”berpihak” kepada mereka. Rasa salut itu tidak tumbuh secara instan. Ia ada ketika saya belajar menjadi pendengar yang baik atas apa yang para waria rasakan, dan empati mendengar pengalaman hidup mereka hingga rentang usia yang sudah tidak lagi muda. 

Jujur, jika saya di posisi mereka, mungkin saya tidak akan kuat.

Ya, saya tidak akan kuat dengan sindiran teman-teman, kucilan dari keluarga dan masyarakat, dan diskriminasi dari pelayanan negara hanya karena pilihan identitas gender yang saya pilih. 

Hidup memang pilihan, dan pilihan menjadi waria bukanlah pilihan hidup mereka. Mereka tidak minta untuk dilahirkan ke dunia menjadi seorang waria. Tetapi kelahiran itu sebuah keniscayaan.

Kehadiran waria nyata adanya, mereka ada di sekiling kita. Dan ketika diri saya memposisikan sebagai mereka, para waria, kesadaran itu tumbuh. Bahwa waria adalah manusia, yang selayaknya mendapat perlakuan sebagaimana layaknya manusia.

Manusia lahir dengan atribut hak-hak asasi yang masyarakat dan negara berkewajiban untuk menjamin hak-hak tiap warga masyarakat dan negaranya. Tidak boleh ada diskriminasi dan kekerasan yang membuat kelompok waria termarginalisasi dari ruang lingkup sosial.

Dalam kajian agama Islam, Allah menyebut manusia sebagai "Yang paling baik ciptaan". Sebagaimana dalam Firman-Nya, Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. At-Tin (95):4). Dalam konteks waria, teks tersebut memberikan penegasan bahwa waria adalah sebaik-baiknya penciptaan Allah.


Dalam makna yang lebih luas, kehadiran waria yang dianggap oleh masyarakat sebagai sebuah anomali, maka itu adalah bentuk pengingkaran terhadap kehidupan. Karena Allah dengan tegas berfirman bahwa tidak ada yang sia-sia dalam penciptaanNya. Karenanya, ada maksud dan kehendak Tuhan kenapa waria hadir di bumi manusia.

Jika boleh saya menjawab, berdasarkan Firman Allah dalam QS. Al-Hujurat (49):13 bahwa maksud dan kehendak Tuhan menghadirkan waria di muka bumi adalah untuk saling mengenal (lii ta’arofuu). Mengenal dalam arti yang lebih luas, mengenal pengalaman hidup waria, mengenal identitas gender waria, mengenal orientasi seksual waria, dan mengenal serba-serbi kehidupan waria.

Dalam konteks hidup bermasyarakat, mengenal itu sangat urgen. Karena dengan mengenal, kita bisa menghadirkan rasa empati dan tidak mudah menghakimi orang lain yang berbeda. Karena apa? Karena di hadapan Tuhan, semua umat manusia itu derajatnya sama, yang berbeda adalah iman dan takwanya.

Iman dan takwa adalah urusan personal antara manusia dengan Tuhan. Manusia tidak bisa mengintervensi itu. Makna yang lain, manusia tidak bisa memosisikan sebagai Tuhan untuk mendeteksi keimanan dan ketakwaan seseorang. Karena iman itu berada di hati (qalb), hanya Tuhan Yang Maha Tahu (Allahu a’lamu), dan manusia tidak tahu itu (maalaa ta’lamuun).

Oleh karena itu, jika ada sekelompok orang yang mengatasnamakan diri sebagai "pembela" Tuhan, kemudian melakukan tindak anarkis terhadap kelompok lain atas dasar pandangan subjektif tentang imam dan Islam, bahkan dalam aksi fatal, melakukan pemboikotan terhadap kegiatan keagamaan kelompok lain, maka kelompok yang demikian inilah yang disebut oleh Khaled M Abou El-Fadl sebagai tindakan otoritarianisme atau kesewenang-wenangan dalam membaca Firman Tuhan (Alquran).

Saya Bersama Waria 

Jika ada yang bertanya kepada saya, "bagaimana Anda melihat seorang waria?”, maka dengan tegas saya jawab: saya melihat waria adalah manusia; waria sama seperti saya, ingin dicinta dan dicintai, ingin dipeluk dan dicium, ingin diperlakukan hormat dan menghormati, ingin hidup aman dan sejahtera.

Karenanya, jika ada yang melakukan tindakan kekerasan terhadap waria, maka saya bersama waria. Asas humanisme menjadi satu-satunya argumentasi logis untuk melihat waria sebagai manusia. Dalam bahasa filsafat, humanisme dipahami sebagai upaya untuk meneguhkan sisi kemanusiaan manusia (Al-karomah al-insaniyah).

Baca Juga: Islam dan Waria

Dalam pandangan Islam, humanisme dipahami sebagai suatu konsep dasar kemanusiaan yang tidak berdiri dalam posisi bebas (Abu Hatsin dalam buku Islam & Humanisme). Artinya, memanusiakan manusia terkait dengan konsep teologis. Sehingga penyebutan Alquran bahwa manusia adalah wakil Tuhan dan khalifah di bumi adalah peran yang melekat pada diri manusia, untuk terus menjaga nilai-nilai hak asasi manusia.

Dalam Islam, hak-hak asasi manusia terdiri dari lima macam (al-Dharuriyyat al-Khamsah), yaitu hak atas agama, kehidupan, akal, keturunan, dan harta. Hak-hak ini merupakan hak dasar manusia yang harus dijaga, dihormati, dan diperjuangkan melalui sistem politik dan hukum.

Dalam konteks waria, membunuh waria karena dia waria, menggiring opini publik untuk membenci waria, mencibir waria karena dia waria, mendiskriminasi anggota keluarga atau masyarakat karena dia waria, memaksakan waria untuk kembali kepada fitrah (laki-laki) atau menutup pondok pesantren karena santrinya adalah waria, maka itu semua tindakan yang tidak memanusiakan manusia dan tidak manusiawi.

Disebut demikian, karena tindakan di atas sama halnya dengan tidak menjaga harkat, martabat, dan hak-hak kemanusiaan waria yang paling mendasar. Padahal, menurut Alquran, tugas manusia di muka bumi adalah sebagai khalifah (QS.2:30).

Untuk mengemban tugas dan fungsi sebagai khalifah di bumi (khalifah fil ar-ardhi), maka manusia berperan sebagai pengaja gawang agar hak asasi manusia (al-Dharuriyyat al-Khamsah) dirasakan oleh umat manusia yang lain.

Humanisme dalam Islam berbeda dengan humanisme dalam konsep Barat. Dalam Islam, humanisme berkolerasi transendental, karena berkorelasi dengan manusia, Tuhan, dan alam. Manusia disebut sebagai insan kamil (manusia paripurna) manakala ia dapat memperlakukan manusia lain dan alam sebagai perwujudan atau sketsa Tuhan.

Sehingga prilaku menyakiti, menghakimi, labeling, dan stigma hanya karena waria tidak tercermin dalam laku hidupnya. Justru yang ada, manusia yang telah "menyatu" dengan Tuhan dan alam akan memeluk manusia meski berbeda sebagai bagian dari dirinya.

Artikel Terkait