Researcher
1 bulan lalu · 289 view · 5 min baca · Budaya 50875_31358.jpg
Dok. Pribadi

Melihat Waria dengan Mata Tuhan

Pondok pesantren waria Al-Fatah Yogyakarta yang terdiri dari santri, pengurus, dan tenaga pengajar bersilaturahmi ke pondok-pondok pesantren di Cirebon (12 Juli 2019). Salah satu yang dikunjungi adalah Kebon Jambu.

Pondok pesantren Kebon Jambu terletak di Babakan Ciwaringin Kabupaten Cirebon Jawa Barat. Uniknya, pesantren ini dipimpin oleh seorang perempuan. Ibu Nyai Masriyah Amva namanya. Di bawah kepemimpinannya, pondok pesantren ini maju dan sekarang memiliki jumlah santri kurang lebih 1.700 santri putra dan putri.

Pondok pesantren Kebon Jambu menjadi tempat perhelatan besar pertemuan tokoh-tokoh perempuan muslim nasional dan internasional, yaitu Kongres Ulama Perempuan Indonesia tahun 2017 silam. 

Dalam kunjungan silaturahmi tersebut, kawan-kawan waria mengadakan sesi dialog dan sharing. Para santri waria berbagi pengalaman hidupnya menjadi seorang waria.

Seorang waria (Ayu Kusuma) bertanya, bagaimana caranya santri di pondok pesantren Kebon Jambu menerima kehadiran para waria secara aklamasi? Mami Vinolia juga bertanya, apakah di pondok pesantren ini terdapat santri seorang waria?

Tulisan ini mencoba mendokumentasikan kembali pandangan Nyai Masriyah Amva tentang waria dalam konteks kehidupan masyarakat muslim Indonesia. Katanya, “waria adalah kita.”

Waria Adalah Kita 


Saya melihat para santri memperlakukan teman-teman waria dengan penuh penghormatan, seolah-olah tak ada perbedaan antara tamu laki-laki, perempuan, dan waria. Penghormatan tersebut mulai dari penyambutan, memberi fasilitas penginapan, memberi suguhan sarapan yang luar biasa, dan sambutan dari tuan rumah dan santri.

Dalam sambutannya, Nyai Masriyah mengatakan bahwa masyarakat muslim Indonesia melihat seorang waria dengan pandangan berbeda. Pandangan tersebut terbentuk karena paradigma berpikir masyarakat bahwa di dunia ini hanya dua jenis kelamin, laki-laki dan perempuan.

Realitasnya, eksistensi waria nyata adanya. Karenanya, melihat waria dengan pandangan Tuhan menjadi satu-satunya cara pandang agar tidak melihat orang lain berbeda. Hal itu karena mata manusia terbatas, sedangkan penglihatan Tuhan tidak terbatas.

Melihat manusia, baik laki-laki, perempuan, dan waria, secara holistik merupakan bentuk penerimaan terhadap kehidupan. Dan dalam konteks kehidupan sosial, penerimaan terhadap seorang waria adalah bentuk penerimaan terhadap penciptaan Allah.

Penerimaan terhadap segala macam makhluk Allah yang bervariasi tidak ”selalu” dalam hati dan pikiran, melainkan diimplementasikan dalam kehidupan bermasyarakat. Karenanya, menghormati orang lain yang berbeda dan memahami bagaimana menjadi diri orang lain sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan kehidupan bersama. Tanpa itu, kerukunan hidup bermasyarakat akan sia-sia belaka.

Slogan ”Waria Adalah Kita” menjadi penting untuk mengidentifikasi diri kita, bahwa waria adalah juga bagian dari diri kita. Karena waria adalah bagian diri kita, maka memperlakukan seorang waria sama seperti kita menjadi penting untuk dilaksanakan.

Faktanya, masyarakat kita masih melihat waria sebagai yang abu-abu. Di sini, ibu Nyai Masriyah menegaskan bahwa wawasan kemanusiaan yang ada belum menyentuh ke ranah-ranah yang sensitif. Pengetahuan manusia masih berada dalam tataran normatif yang tertulis dalam teks (Alquran dan Hadis). Sehingga jika di luar teks, maka itu dianggap haram dan dosa.

Justifikasi bahwa waria adalah dosa makin memanas manakala dikorelasikan dengan perilaku seksual waria yang ”menyimpang”, seperti sodomi, oral seks, dan anal. Padahal bicara identitas, waria tidak selalu berkorelasi dengan perilaku seksual. Karena realitasnya, tidak sedikit laki-laki hetero juga melakukan perilaku seksual yang ”menyimpang”.

Dalam konteks masyarakat Indonesia, perilaku seksual menyimpang selalu dilekatkan kepada seorang waria. Bahasa sederhananya, masyarakat kita sibuk mengurusi apa yang ada di antara selangkangan dan mengabaikan persoalan Indonesia dalam skala lebih besar seperti korupsi dan narkoba.  


Di sini kemudian seorang waria berada dalam posisi marginal karena cara pandang masyarakat yang bias. Karenanya, ibu Nyai Masriyah memberi nasihat bahwa Allah bersama kita.

Artinya, waria harus menerima dengan totalitas penerimaan manakala manusia melihat waria sebagai yang salah, dosa, dan terlaknat. Karena Allah menjadi satu-satunya yang bisa diandalkan manakala tidak ada lagi manusia yang bisa menolong. Sugesti keyakinan bersama Allah itulah yang menjadi kunci kebahagiaan seseorang.

Dalam konteks waria, orang lain boleh menstigma waria, tetapi orang lain tidak bisa mengintervensi kedekatan seorang waria dengan Allah. Karena urusan iman dan hati berada dalam tataran privat, Allah lebih dekat dari urat nadi manusia (akrobu min habli al-wariid). Pengalaman kedekatan Tuhan dan manusia tidak bisa dilihat oleh siapa pun, termasuk oleh mereka yang mengaku ”pembela” Tuhan.

Dengan kata lain, manusia boleh mengatakan jika menjadi waria adalah dosa, terlaknat, dan tempatnya di neraka. Tetapi manusia tak punya hak preoregatif untuk menentukan seorang waria di neraka atau surga. Karena surga dan neraka adalah milik Allah; Alquran (QS. Yusuf (12):67) menegaskan bahwa keputusan menetapkan hukum hanya milik Allah (ini al-hukmu illa lillah).

Bagi Nyai Masriyah, masyarakat yang menstigma waria adalah mereka orang-orang kolot. Kolot karena melihat ciptaan Tuhan hanya hitam dan putih, hanya laki-laki dan perempuan, dan mengabaikan realitas tentang keindahan penciptaan Allah yang beragam.

Cara bijak menghadapi orang-orang kolot menurut Nyai Masriyah adalah dengan cara diam. Dalam hadis Nabi, diam adalah cara terakhir yang bisa dilakukan untuk mencegah kemunkaran. Dalam makna yang lebih luas, diam bukan berarti kalah, bukan berarti menyerah. Diam adalah cara yang paling bijak untuk mereda kemunafikan.

Pengalaman Nyai Masriyah Amva Bersama Santri Waria 

Nyai Masriyah mendidik para santri untuk melihat orang lain tidak dengan mata sendiri, melainkan dengan mata Tuhan. Tidak hanya dalam bentuk kata-kata, dalam implementasinya, beliau memiliki alumni pondok pesantren Kebon Jambu yang berjenis kelamin laki-laki tetapi perasaannya adalah perempuan.

Ibu Nyai memperlakukan alumni tersebut seperti layaknya seorang perempuan. Karena rumah beliau dan alumni berdekatan, alumni tersebut sering datang ke kediaman ibu Nyai untuk memijat, membantu masak di dapur untuk para santri, dan membantu keluarga ibu Nyai.


Menurut saya, sikap beliau terhadap waria menjadi contoh kecil bagaimana seorang pimpinan pondok pesantren yang pengetahuan agamanya luas memperlakukan manusia lain yang ”berbeda” dengan tidak membeda-bedakan.  

Saya melihat, cara mendidik Nyai Masriyah kepada santrinya adalah model pendidikan dengan pendekatan tasawuf. Karena dalam tasawuf, manusia adalah setara. Tasawuf melihat manusia dengan cara pandang yang sama derajatnya di hadapan Tuhan, baik itu laki-laki, perempuan, waria, lesbian, gay, maupun biseksual.

Model pendidikan dengan pendekatan tasawuf inilah yang ”miskin” di negeri ini. Pendidikan kita lebih berorientasi mengejar prestasi akademik dan skill yang bagus dengan hasil akhir mencetak manusia menjadi pintar, tetapi di sisi yang lain kering nilai-nilai kemanusiaan.

Nilai kemanusiaan didapat dengan cara memahami orang lain yang berbeda dalam realitas kehidupan masyarakat yang beragam. Mereka yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan inilah yang disebut sebagai orang yang bijaksana.

Mengutip kata-kata indah dari tokoh sufi dunia dari Persia, Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273), "Kemarin saya pintar, saya ingin mengubah dunia; hari ini saya bijaksana, saya ingin mengubah diri sendiri.”

Artikel Terkait