2 tahun lalu · 196 view · 2 min baca · Gaya Hidup social-media.jpg
http://www.bp.com

Melihat Prostitusi dari Kacamata Marketing

Prostitusi bukanlah barang baru, sejarah mencatat kemunculannya sudah ada sejak zaman kuno. Dan sampai sekarang aktifitas terkait prostitusi pun masih bisa anda jumpai. Ini artinya dunia prostitusi merupakan dunia yang tak pernah mati, selalu hidup mengikuti perkembangan dan perubahan jaman.

Mereka bergerak tanpa suara dan tersentuh oleh dunia pada umumnya, seakan mereka memunyai dunia tersendiri sehingga membuat prostitusi seperti berada di bawah tanah. Tak tersentuh dan undercover. Seakan akan tidak ada, namun ada saat dibutuhkan. Dan itu ada disekliling kita. Hanya saja bentuknya lain.

Lalu apa korelasinya dengan marketing?

Sebelum era teknologi begitu membuat manusia jatuh hati, antara penawaran dan permintaan terjadi di suatu tempat yg kita kenal dengan lokalisasi. Si demand datang mencari, melihat dan terjadilah sebuah transaksi sesuai yg disepakati. Dan sangat jarang eksekusi terjadi diluar lokalisasi. Kalaupun ada pastilah seijin pemilik PSK tersebut. Cara cara konvensional ini pun masih terjadi hingga kini. Maka apabila kita masih ingat, tentu kita tidak asing mendengar nama Doli, sunan kuning, sarkem, Saritem dll.

Dalam perkembangannya lokalisasi ini pun berkembang menjelma dengan menggunakan wajah baru. Lepas dari cara konvensional yg masih bertahan, pola pikir manusiapun berkembang dengan tujuan melebarkan area pemasaranya. Ini tak ubah nya PSK sedang mencari lahan garapan lain untuk memudahkan transaksi terjadi. Apalagi di era gadget/ smarphone yang memudahkan supply dan demand tanpa harus bertemu di lokalisasi.

Berawal dari dunia maya ini, wajah prostitusipun berubah menjelma sebuah industry yang syarat dengan nilai rupiah yang melimpah. Saya melihat Pergeseran ini lebih pada cara cara yg digunakan supaya mendekatkan diri/jemput bola dengan konsumen.

Namun sekarang para PSK pun harus multi tasking. Ilustrasinya seperti ini, apabila kita menanyakan apakah ada yang menginginkan pekerjaan sebagai seorang PSK? Saya rasa jawabannya pun beragam dan jelas menunjukkan ketidaksetujuan menjadi PSK. Faktanya ada yang mengawali karirnya sebagai PSK sampai akhirnya mengakhiri karir dengan mulus. Sekarang pandangan itu pun berubah, mengapa? Karena ada yang mengawali karirnya sebagai artis, atau apapun dan sekaligus PSK.

Mungkin konteks ini sudah terjadi sejak lama, namun masyarakat diajak untuk terheran heran dan kaget mengapa bisa terjadi. Dorongan memunyai pekerjaan sampingan ini juga dipengaruhi oleh gaya hidup konsumerisme, hedonis yang sedang melanda kita. Kalau kita menyadari peta kehidupan masyarakat kota saat ini berubah begitu drastis. Salah satunya adalah perilaku yang menjadi dampaknya.

Bagaimana tidak?  Perilaku manusia pun ingin dilihat dan melihat “see and to be seen”. Apalagi budaya pamerpun melanda kehidupan masyarakat. Nah pada akhirnya budaya ini pun juga melanda dunia prostitusi yang menggunakan media sebagai alat memarketingkan diri. Cukup efektif cepat, rapi dan terkesan elegan. Bisa langsung kontak lewat konsumennya secara pribadi tanpa perantara.

Jadi saya rasa, prostitusi sangat sulit di berantas, selagi ada supply and demand. Saya yakin suatu saat dunia prostitusi akan berubah menjelma wajah baru kembali. Mungkin sekarang pun sudah menjelma. Buktinya, kita sudah tidak lagi mendengar lokalisasi di Jakarta, tapi saya yakin bahwa anda tahu “istilah mabes”. Bukankah kita tidak pernah melabeli kawasan “mabes” adalah lokalisasi prostitusi saat ini? Walaupun aktifitasnya tetap saja terkait dengan dunia malam dan prostitusi. Salam

Artikel Terkait