Sebagai organisasi penggerak umat Islam di Indonesia, NU (Nahdhatul Ulama) telah banyak berkiprah dalam kancah dunia perpolitikan (keumatan) di Indonesia. Dengan arah kebijakan politik kebangsaannya menjadikan organisasi ini sebagai salah satu organisasi terbesar—di samping Muhammadiyyah—yang hingga kini tetap eksis di tengah derasnya arus globalisasi.

Arus globalisasi yang tak terbendung kerapkali melahirkan berbagai corak kebudayaan dan paham asing seperti materialisme, hedonisme, pragmatisme, konsumerisme, liberalisme, ego-sentrisme hingga sekularisme yang tidak segan-segan menginfiltrasi dan mengafiliasi paham kebangsaan khas lokal Indonesia. 

Namun, itu semua (walaupun tidak sepenuhnya) bisa dihindari oleh NU dengan kedalaman spiritual dalam dimensi religius-mazhab Ahlussunah Wal Jamaa’ah-nya yang diiringi dengan tingginya komitmen kebangsaan seraya tetap menjaga warisan kebudayaan lokal (local wisdom) dari berbagai pengaruh asing.

Komitmen kebangsaan yang dianut oleh segenap warga NU (dibaca: nahdliyin) tidak bisa dipungkiri lagi berkontribusi cukup besar terhadap keutuhan Negara Republik Indonesia tercinta. Loyalitas dan kesetiaan NU yang ditunjukkan oleh para kiyai pesantren bersama warganya akan pentingnya harga integritas sebuah bangsa menjadi basis modal utama dalam merawat bingkai-bingkai persatuan dan kesatuan di muka bumi ibu pertiwi.

Api semangat cinta negeri (amore patria, hubbul wathan)—yang merepresentasikan keimanan—seperti yang terdapat dalam salah satu lirik dari lagu “Ya Lal Wathan” ciptaan KH. Wahab Chasbullah yang terkenal itu hingga kini masih terus digelorakan oleh kalangan nahdliyin, terselip sebuah harapan dan mimpi besar akan terwujudnya negeri yang adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi makmur agawe sentoso, baldatun thoyyibatun wa rabbun ghofuur

Inilah mengapa NU sebagai organisasi tak tertandingi yang bergerak baik di bidang keagamaan, pendidikan, sosial, maupun ekonomi keumatan patut diperhitungkan dan tak bisa dipandang sebelah mata.


Mengingat Kembali Resolusi Jihad Sebagai Awal dari Kiprah NU

Resolusi jihad (jihad fii sabilillah) yang dirintis sejak era kolonial oleh Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari—salah seorang pendiri NU—bersama para ulama yang bersimpati terhadap resolusi (gagasan) NU dan para santri yang telah tertanam dalam dirinya semangat nasionalisme dan patriotisme melalui didikan eksoteris (lahiriah, syariat) dan esoteris (batiniyyah, tasawuf/tarekat) di lingkungan pesantren berperan penting dalam mendobrak pintu kemerdekaan yang telah lama dicita-citakan.

Jihad melawan kezaliman termasuk ketidakadilan dan penindasan serta menegakan kebenaran (menuntut kemerdekaan) merupakan ikhtiar sekaligus kewajiban bagi umat Islam yang diajarkan oleh agama berbuah kesadaran bagi segenap warga NU—yang bernotabene Muslim—betapa pentingnya upaya untuk merebut kemerdekaan dari cengkraman kolonialisme dan imperialisme. 

Ini menjadi babak baru bagi NU untuk mengawali kiprahnya sebagai sebuah organisasi yang pro terhadap kemerdekaan dan sebagai bentuk dari pengkhidmatan terhadap negeri.

Setelah kemerdekaan berhasil direbut, resolusi jihad—yang tadinya bertujuan untuk mendukung pergerakan dalam meraih kemerdekaan—masih terus bergulir hingga kini yang seiring berjalannya waktu kian menjelma menjadi sebuah upaya (jihad) dalam menuntaskan permasalahan bangsa pasca-era kemerdekaan. Upaya yang didasari atas dasar rasa kemanusiaan, kekompakan, dan kesolidaritasan antar sesama demi terjaganya persaudaran umat Islam (ukhuwah Islamiyyah), persaudaran bangsa (ukhuwah wathaniyyah), dan persaudaraan umat manusia (ukhuwah insaniyyah).

Beragam upaya dan permasalahan bangsa yang dimaksud dapat kita sebut semisal pengentasan kemiskinan dan kebodohan, serta pemberantasan keterbelakangan mental bangsa dalam lingkup sosial-ekonomi-politik seperti korup, kolusi, nepotis, oligark, tirani, dan feodal. Ini menjadi bagian penting dari sebuah penghayatan dan pengamalan ajaran agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan universal (rahmatan lil ‘alamin). 

Hal tersebut berarti menunjukkan betapa pentingnya peran sebuah organisasi kemasyarakatan berbasis Islam dalam mengisi relung-relung kemerdekaan yang mewadahi masyarakat dalam menjalani pemahaman keagamannya melalui serangkaian upaya aktualisasi nilai-nilai syariat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


Memainkan Peran dan Kiprahnya sebagai Garda Terdepan Bangsa

Sembilan puluh lima tahun lamanya NU berkiprah terus memberikan inspirasi bagi segenap masyarakat untuk konsisten (istiqomah, berkesinambungan) dalam meneguhkan spirit kebangsaan dan keberkaryaan demi memberikan kontribusi yang terbaik bagi pembangunan dan peradaban Negara Kesatuan Republik Indonesia. Setidaknya ini merupakan salah satu upaya guna menjawab pertanyaan dari Mantan Presiden Amerika John F. Kennedy: apa yang dapat kau berikan untuk negerimu?

Didasari atas tonggak spiritual keagamaan yang ditancapkan oleh NU diharapkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia tak memandang dari suku dan ras mana ia berasal, dari golongan mana ia lahir, dari strata sosial apa ia terbentuk, dan dari agama apa yang ia yakini dapat mewujudkan kesejahteraan bangsa bahkan kemakmuran dunia secara kolektif melalui pencerminan dari sikap tasamuh (saling menghormati), ta’awun (saling tolong-menolong), tawazun (saling menyeimbangkan), musawah (menjunjung tinggi kesetaraan) yang dikemas dalam semangat amar ma’ruf nahi munkar (berlaku baik terhadap kebenaran dan bijak terhadap kebatilan).

Peran sentral agama yang diwadahi oleh organisasi Islam sekaliber NU saat ini sangat dibutuhkan bagi negara untuk ikut bersama penyelenggara negara dalam mengatasi berbagai problematika kebangsaan yang semakin terlihat kompleksitasnya (complicated). 

Ini dapat terlihat dari berbagai ujian, rintangan, dan tantangan yang silih berganti yang tengah menerpa ibu pertiwi akhir-akhir ini mulai dari makin maraknya kasus wabah, bencana, serta musibah nasional lainnya yang membutuhkan uluran tangan dari segenap komponen bangsa tak terkecuali NU sebagai ormas sosial-keagamaan yang kerapkali turut serta membantu melalui badan otonom dan lembaga yang dinaungi olehnya.

Segenap upaya yang dikerahkan oleh NU sampai sejauh ini merupakan bagian dari ikhtiar sekaligus perwujudan dari aktualisasi nilai-nilai kemanusiaan dalam dimensi spiritual-religius sebagai basis dari kebaikan universal (rahmatan lil ‘alamin). 

Nilai-nilai kemanusiaan (humanities) yang erat kaitannya dalam ajaran agama memang semestinya diimplementasikan dalam kehidupan nyata melalui aksi-aksi kemanusiaan agar Islam sebagai sebuah agama tidak lagi terjebak dalam abstraksi yang selalu menggembor-gemborkan adagium amar ma’ruf nahi munkar yang nihil akan konkretisasi (aktualisasi).

Agama sebagaimana yang dikatakan oleh Kuntowijoyo sudah seharusnya bertransformasi menjadi sebuah ajaran (paradigma) yang terus-menerus melakukan upaya aktualisasi daripada nilai-nilai keagamaan. Dengan kata lain, agama bukan lagi dipandang hanya sebagai sebuah ritual-seremoni tradisi belaka, akan tetapi dipandang cukup penting sebagai sarana (solusi) untuk menangani beragam persoalan kehidupan yang bersifat aktual seperti pengentasan kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan lainnya. 

Ajaran (paradigma) ini yang Moeslim Abdurrahman sebut sebagai Islam transformatif sebagai pencerminan daripada Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Hal ini yang mungkin menjadi bagian dari agenda besar NU untuk memainkan perannya selaku garda terdepan bangsa dalam merawat nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan.


Harapan NU untuk Kedepannya

Mendekati usianya yang hampir satu abad, NU terus berkiprah dan tetap konsisten dalam mengabdi (khidmah) pada agama dan negara sebagaimana tema harlah (hari kelahiran) yang diangkat pada tahun ini “Khidmah NU: Menyebarkan Aswaja dan Meneguhkan Komitmen Kebangsaan”. 

Tentu, ini bukan hanya sekadar tema yang cenderung bernuansa filosofis. Lebih jauh, ia merupakan bukti dari citra NU yang selalu mengedepankan nilai-nilai persatuan, kesatuan, dan kemanusiaan yang beragam dalam dimensi keagamaan (keislaman) melalui akulturasi agama-budaya lokal sehingga lahirlah apa yang disebut dengan Islam Nusantara.

Islam Nusantara sebagai pengejewantahan dari Islam versi lokal yang berkebudayaan, yang menebarkan kasih sayang, welas asih, toleran, moderat (wasathiyyah) merupakan hasil dari interaksi, interpretasi, dan kontekstualisasi terhadap ajaran Islam yang universal (rahmatan lil ‘alamin) yang sesuai dengan sosio-kultural di Indonesia. 

Ini merupakan bagian dari upaya NU untuk terus berkhidmah pada agama, bangsa, dan negara. Khidmah inilah yang senantiasa diharapkan dapat terus mengiringi dinamika perjalanan Indonesia dalam menghadapi realitas kehidupan yang kadangkali tidak selaras dengan ekspektasi, harapan, angan-angan, dan cita-cita bangsa.

Sebesar apapun ujian, rintangan, dan tantangan yang dihadapi, kita semua tentunya berharap agar NU senantiasa berkhidmah untuk kejayaan negeri. Berharap seraya bermunajat kepada Allah ta’ala agar supaya NU beserta warga nahdliyin dan pihak lain yang menyertainya senantiasa diberikan pertolongan, kekuatan, dan keteguhan dalam meninggikan kalimat Allah di bumi Nusantara demi terwujudnya

Islam yang rahmatan lil’ alamin, Islam yang benar-benar diajarkan oleh Rasulullah. “Allahumma tsabbit wansur ahlal jam’iyyat Nahdhatul ‘Ulama li I’laai kalimaatillah..