Menyeruput secangkir teh hangat di pagi hari bagi sebagian kalangan menyukainya. Aku termasuk golongan yang menyukainya, bahkan pernah merasakan semacam ketagihan. Melewatkan sehari saja tidak menyeruput teh hangat di pagi hari rasanya ada yang ganjil. 

Secangkir teh hangat memang nikmat rasanya. Selain dapat menghangatkan tubuh juga memiliki pengaruh menyegarkan pikiran yang lagi kalut. 

Meski begitu, banyak yang melakukannya hanya sekedarnya saja. Sebab menyeruput teh kerap dipandang sebagai aktivitas kecil yang biasa-biasa saja.

Bagi sebagian kecil orang menyeruput secangkir teh bukanlah suatu pekerjaan yang dipandang sebelah mata. Sebab lembaran daun teh yang melarut dan mengeluarkan warna merah di dalam air yang panas bukanlah suatu benda yang terpisah. Ia adalah salah satu entitas kehidupan yang di dalamnya menyimpan banyak sisi kehidupan.

Di dalam lembaran daun teh kita bisa melihat suatu proses fotosintesis, juga butiran-butiran kecil air embun yang menempel di ujung daun teh yang jika tersentuh lembutnya cahaya mentari pagi akan tampak berkilauan. Pemandangan kebun teh yang menghijau yang menghampar begitu luas rupanya juga mampu memantulkan kesegaran ke dalam jiwa. 

Di selembar daun teh pun bisa merangsang imajinasi menghadirkan wajah para buruh pemetik teh yang dibayar sekadarnya, namun dengan tekun mereka memetik daun teh pilihan yang paling bagus. Di balik wajah mereka juga tersirat pengharapan anak-anaknya akan masa depan yang lebih cerah. 

Di sana juga terbayang bagaimana korporasi besar mempekerjakan para buruh mengolah dan mengemas teh sedemikian rupa untuk di distribusikan ke banyak daerah. Lalu teh itu masuk ke dalam dapur kita. Dari sini kita juga bisa melihat secara implisit bagaimana uang beredar dari daerah pinggiran ke tengah masyarakat metropolitan dan sebaliknya. 

Baca Juga: Teh manis

Semua orang juga tahu soal itu kali ya, betul sekali. Tetapi poinnya tidak di situ. Meski banyak orang mengetahui namun sangat sedikit yang memiliki kesadaran perihal itu. 

Akan berbeda ketika suatu pekerjaan dilakukan dengan penuh kesadaran jiwa, semangatnya berasa powerfull, seperti menyadari perihal di balik secangkir teh yang ada di depan kita misalnya, saat menyeruputnya rasanya menjadi sangat begitu berharga.  

Menyeduhnya saja jiwa kita ikut terlibat khusuk di dalamnya. Jari telunjuk dan ibu jari yang mengapit ujung sendok pelan-pelan memutar searah putaran jarum jam sembari membentur tipis-tipis di dinding cangkir lalu menghasilkan suara yang berirama.

Sesekali menghirup aroma wanginya, kemudian diseruput pelan-pelan mengalir ke tenggorokan lalu masuk ke dalam perut dicerna hingga tubuh merasakan kehangatan dan menjadikan sarat-saraf rileks. Sesaat mengambil jeda mengatur nafas sembari mengamati lembutnya lekukan uapnya yang mengebul ke atas. Ditarik lagi telinga cangkir kemudian  diseruput dan diseruput dan seterusnya.

Itu semua adalah suatu pekerjaan yang sangat sederhana namun melibatkan banyak tangan dan jiwa yang saling menyokong. Tanpa mereka, pekerjaan menyeduh teh di pagi hari rasanya akan sulit dilakukan oleh banyak orang. Terutama seperti kami yang hidup di tengah kota metropolitan ini.

***

Tentu saja pembaca mengerti akan pesan-pesan di balik aktivitas menyeruput teh di pagi hari. Manusia adalah mahluk individu disatu sisi, dan disisi lain sebagai mahluk sosial. 

Sebagai mahluk individu, manusia mempunyai susunan berlapis seperti jasad, jiwa dan ruh. Tentu saja masing-masing bagian manusia tersebut memiliki kebutuhan yang berbeda. Seperti badan membutuhkan asupan makanan dan minuman. Jiwa memerlukan tempat ekspresi dan aktualisasi diri, sementara ruh menginginkan suatu ketenangan dan keheningan. Yang ke semua kebutuhan itu tidak akan dapat terpenuhi tanpa melibatkan liyan. 

Dari sinilah akan tampak semakin jelas bahwa manusia adalah makhluk sosial yang tak akan mampu lama bertahan hidup tanpa melibatkan di sekelilingnya. Untuk mencukupi kebutuhan badan, jiwa, ruhani,  perlu membaur di ruang sosial yang mana di dalamnya ada seperangkat norma dan nilai kepantasan yang harus di patuhi. 

Dari sebungkus teh misalnya, kita bisa saja melihat miniatur kehidupan sosial. Di sana terdapat rangkaian kehidupan yang saling terhubung satu sama lain dalam rel simbiosis mutualistik.

Seperti dari segelas teh yang dulu biasa aku nikmati disela-sela jam istirahat sekolah terkadang memunculkan sekelebat bayangan melayang ke masa depan, sembari bertanya akan seperti apakah kehidupan yang akan aku jalani kelak di masa depan. 

Melalui media segelas teh itu membuatku bisa menyadari betapa aku merasa berutang budi kepada orang tua yang tak pernah berhenti memeras keringat hanya demi anak semata. 

Dari selembar uang pemberian orang tua tadi, aku melihat ada pertukaran energi yang begitu besar dalam lingkungan tempat bekerja. 

Tentu saja aku tidak ingin menukar energi yang diberikan oleh orang tua dengan tindakan yang sia-sia. Aku ingin menukarnya dengan ahlak terpuji, segala macam karya, juga kelak aku bisa meringankan beban hidup dimasa tuanya. 

Kesadaran semacam ini pelan-pelan mengantarkan kehidupanku pada suatu jalan yang berliku namun penuh makna.