Peneliti
1 tahun lalu · 66 view · 4 menit baca · Budaya 84853_53151.jpg

Melihat Imlek Lebih Dekat

Saya ingin mengawali tulisan ini dengan ucapan “selamat tahun baru cina 2567”. Kemarin, 16 Februari 2018, etnis Cina di seluruh penjuru dunia telah merayakannya dengan penuh kehangatan, kegembiraan, juga penuh harapan. Harapannya tak lain adalah “gong xi fa chai”, selamat dan semoga sejahtera bagi semua insan yang merayakannya tanpa terkecuali.

Menyoal “gong xi fa chai”, sebuah ungkapan yang selama ini dan bahkan puluhan atau ratusan tahun lalu dipakai oleh masyarakat kita sebagai ungkapan terjemahan untuk “selamat tahun baru Cina”. Hal yang sama ketika menjelang Idul Fitri, lebaran umat Islam, masyarakat kita sering mengucapkan “minal aidin wal faizin; selamat lebaran mohon maaf lahir dan batin”. Seolah ungkapan selamat lebaran mohon maaf lahir dan batin adalah terjemahan dari ungkapan minal aidin wal faizin. Padahal jika kita terjemahkan ungkapan terakhir dengan baik dan benar adalah “(semoga) termasuk orang-orang yang kembali pula beruntung”.

Dua contoh ungkapan di atas, telah menjadi kaprah di masyarakat kita. Terlepas dari pemakaian ungkapan yang salah kaprah dipakai oleh masyarakat, ada pesan yang  ingin disampaikan di dalamnya, kepada orang lain; saudara, tetangga, keluarga dan lain-lain, bahwa ia mengandung doa dan kebaikan. Sebuah doa sekaligus ungkapan kebaikan yang layak untuk disebarluaskan agar ketentraman dan ketenangan hidup menjadi impian yang nyata di tengah-tengah kita.

Gong xi fa cai yang berarti selamat dan semoga sejahtera adalah sebuah ungkapan yang memiliki arti mendalam (deep meaning), hampir sama dengan ungkapan salam dalam Islam assalamu ‘alaikum, salam sejahtera bagi kalian”. Ungkapan yang penuh dengan doa kebaikan untuk orang lain. Sedangkan “minal aidin wal faizin” jika diterjemahkan, pula memiliki arti yang sangat spesifik yaitu sebuah doa dan harapan, semoga termasuk ke dalam golongan yang kembali suci, pula termasuk golongan yang mendapat keberuntungan.

Sungguh indah kedua ungkapan di atas. Isinya mencakup doa, harapan dan cita-cita bersama. Sama sekali di dalamnya tak terkandung nada kebencian, sinisme, ektrimisme, fanatisme dan kekerasan terhadap orang lain yang berbeda sekalipun. Sungguh kedamaian dan kesejahteraan yang diminta bukan sebaliknya.

Ada hal menarik dalam dalam perayaan imlek setiap tahunnya yaitu tradisi bagi-bagi angpau yang diperuntukkan untuk keponakan, adik, saudara atau kerabat dekat yang masih belum menikah. Jika kita lihat spiritnya, hal tersebut adalah sedang berbagi rezeki dalam rangka mensyukuri nikmat Tuhan yang telah dikaruniakan.

Pun juga dalam dalam tradisi Islam, di hari raya lebaran, ada tradisi yang disebut dengan bagi-bagi uang untuk sanak saudara di kampung atau kegiatan saling mengantar makanan antartetangga dan saudara dekat. Dan yang paling terlihat kentara adalah pembagian zakat fitrah bagi 8 golongan yang berhak mendapatkannya. Ditambah dengan infak, shodaqoh dan sejenisnya.

Hal menarik selanjutnya adalah soal kue keranjang. Dalam imlek kue yang satu ini harus ada. Kue ini biasa disebut dengan Nian Gao (dodol Cina). Ia dibuat hanya setahun sekali. Kue ini juga memiliki filosofis yang melambangkan keeratan dan keakraban keluarga (harmonis) seperti tampak dalam kue dodol tersebut yang kenyal teksturnya dan legit serta manis rasanya. Dalam tradisi Islam Indonesia ada tradisi membuat ketupat. Cangkang atau bungkus ketupat memiliki simbol terjaganya ikatan silaturahmi dan kekeluargaan yang tak akan bubar selama masih dalam ikataan cinta kasih.

Hal menarik lainnya dalam imlek adalah hadirnya barongsai dan lampion, ia menjadi syarat utama dalam perayaan tersebut. Begitu pula dalam tradisi Islam yang jika dikaitkan kemiripannya adalah adanya malam takbiran atau takbir keliling dibarengi pukulan bedug. Keduanya menjadi simbol kemenangan. Dalam tradisi Cina, mereka bersyukur atas keselamatan diri dan kemenangan dari binatang buas yang disimbolkan oleh barongsai, sebagai naga raksasa. Sedangkan dalam Islam, takbir adalah simbol kemenangan setelah berhasil menahan hawa nafsu dan perbuatan tercela selama satu bulan, yakni di bulan Ramadhan.     

Penulis ingin mengatakan bahwa memang dua lebaran (imlek dan idul fitri) di atas secara fisik sangat berbeda, namun jika kita lihat spiritnya ada titik kesamaan yaitu saling berbagi rezeki (sharing) juga spirit menyambut dan meraih kemenangan. Menurut Wawan Kuswandi dalam Geotimes (16/2/2018), ucapan gong xi fa cai mengandung makna positif yang bersifat universal.

Masih menurut Kuswandi bahwa ucapan gong xi fa cai  dalam Tahun Baru Imlek memiliki kedekatan makna dengan kata fitrah atau suci dalam perayaan Idul Fitri. Kesucian akan membawa seseorang menuju keselamatan dan kesejahteraan baik di dunia maupun di alam kekal nanti.

Ungkapan gong xi fa chai juga memiliki makna sosial juga spiritual secara umum, karena masyarakat etnis Cina mengungkapkan rasa syukurnya dengan tindakan keagamaan yaitu sembahyang atu berdoa di kelenteng-kelenteng, dimana tempat mereka beribadah.

Jika kita analisis lebih dalam dan kaji lebih luas, titik persamaan serta spirit kebersamaan dalam perayaan etnis atau agama tertentu akan muncul dan terlihat. Dan semua itu adalah sebagai modal untuk membangun bangsa dan negara di tengah krisis persatuan dan kesatuan. Nikmatilah tanggal merahnya (imlek sebagai hari libur nasional) untuk mengajak keluarga, sanak saudara berlibur mengurangi kepenatan rutinitas pekerjaan daripada mempersoalkan hukum mengucapkannya serta ikut gembira merayakannya.

Terakhir, saya ingin menyampaikan sebuah pesan bagi mereka yang berpandangan berbeda dan bersebrangan dengan pendapat penulis, karena ada sebagian golongan di antara kita yang terlalu ekstrem, mengucapkan selamat kepada kaum yang bukan bagian dari dirinya, ia anggap sebuah tindakan dan perbuatan bid’ah, haram, dan tak boleh sama sekali diapreseasi. Mulai hari ini, hindari, kurangi dan minimalisasi berburuk prasangkan terhadap yang lain. Berpikirlah terbuka dan besikaplah moderat. Perbedaan dalam bentuk apapun hendaklah disikapi dengan pikiran terbuka, dan sikap saling menghargai. Bukan sebaliknya, mengundang friksi dan permusuhan. Selamat merayakan imlek 2567 dan gong xi fa chai !