Ketika membaca literatur-literatur sejarah tentang Indonesia, kita sering kali mendapatkan cerita mengenai kawasan-kawasan Nusantara yang masih terpecah dalam bentuk kerajaan-kerajaan yang beragam. Setidaknya ada tiga kerajaan yang pernah berkembang luas di Indonesia, yaitu kerajaan Hindu, kerajaan Buddha, dan yang paling akhir adalah kerajaan Islam.

Kerajaan-kerajaan tersebut hadir dari suku dan bangsa lain yang kemudian membawa budaya, tradisi, dan agama di saat mungkin hanya berlabuh untuk keperluan berdagang. Namun, tentu saja perdagangan meniscayakan pertemuan dua karakter bangsa yang berbeda yang secara sadar atau tidak sadar memberikan pengaruh terhadap masyarakat pribumi.

Pertemuan itu berjalan kepada upaya saling memahami termasuk dengan belajar mengenai kebiasaan dan juga bahasa. Maka, tak heran jika di Indonesia terdapat banyak kata yang ketika ditelusuri ternyata berakar pada satu kebiasaan suku lain. 

Hal ini pun terjadi pada berbagai macam negara sekarang di mana terlihat bentuk-bentuk kata dalam bahasanya yang serupa tetapi berbeda. Contoh yang paling dekat di pikiran saya adalah kata philosophos yang berasal dari Yunani kemudian memiliki serapan kata yang banyak seperti philosophy, falsafah, philophen, filsafat dan lain-lain.

Bagi Indonesia fenomena penyerapan bahasa asing bukanlah suatu yang tidak lazim bahkan lumrah. Nama-nama yang sering kita temui pada masyarakat Indonesia pun tidak sedikit yang diambil dari bahasa, kebudayaan, dan cerita bangsa lain. Seperti juga yang terjadi antara bangsa Persia dan pribumi.

Kata dan makna yang serupa itu tentu diawali dari sebuah interaksi yang bisa dimotivasi banyak hal. Seringkali kata dan makna itu juga memiliki intonasi dan artikulasi yang sama. Beberapa di antaranya yaitu badan, anggur, pahlawan, kismis, ustadz, nakhoda, piala, jawab, soal, istirahat, akhir, rubah, nasihat, gandum, di mana telah dicontohkan di dalam video yang diunggah oleh kanal Bahador Alast.

Berkembang dari sekedar bahasa sastra Persia pun memberikan jejak dan nuansa terhadap salah satu sastra melayu di Aceh. Siyāsat Nāme karangan Nizam al-Mulk dengan Tajussalatin karya Bukhari al-Jauhari adalah dua karya sastra yang dibuktikan oleh Doktor Bastian Zulyeno memiliki indikasi kemiripan, meskipun perbedaan jangka waktu hingga lima abad antara keduanya.

Tajussalatin yang muncul jauh belakangan adalah sebuah sastra yang membahas bagaimana seharusnya politik negara dibangun, ia mengompilasi prosa-prosa Arab dan Persia, layaknya Siyāsat Nāme dan al-Asrar karya seorang sufi Fariduddin Atthar. Selain dari penyebutan dua kitab itu yang sudah memberikan kesan kemiripan dan pengaruh, penulisan Tajussalatin yang menyisipkan beberapa bait puisi sangat khas dengan penulisan dari Persia.

Tajussalatin dan Siyāsat Nāme juga muncul sebagai respons dari latar belakang yang sama, yakni niat untukk memberikan hikmah-hikmah yang menurutnya harus dijalankan oleh raja-raja di masyarakat mereka, yang notabene termasuk masyarakat plural dan lintas etnik dan mazhab. Kitab Tajussalatin ini memang disebutkan sebagai persembahan Bukhari kepada sultan Aceh Alauddin Riayyat Syah (1589-1604 M).

Fakta lain dari Tajussalatin adalah ia terdiri dari 24 pasal yang berbeda-beda tema. Di lima tema awal kitab ini membahas topik yang universal dan umum untuk dipraktikkan masyarakat. Tema pertama di buku ini sangat bersinggungan dengan aspek eksistensial setiap manusia, ia menyoalkan bagaimana asal-usul dan tujuan eksistensi diri. Pasal kedua membicarakan bagaimana cara berinteraksi dengan Tuhan selaku asal dan akhir manusia.

Pasal ketiga hingga kelima mengangkat pertanyaan-pertanyaan tentang bagaimana memaknai kehidupan dan bagaimana kehidupan setelah kematian. Ia pun mengajarkan makna adil dan keadilan serta kemuliaan raja dan kedaulatan negeri yang dipimpinnya.

Selanjutnya mulai dari pasal keenam hingga akhirnya di pasal dua puluh empat, kitab ini menceritakan ihwal spesifik mengenai peri-peri yang luhur, hubungan-hubungan yang baik antara raja dan rakyatnya, pendidikan anak-anak, ekonomi efektif keraajaan, dan pekerjaan-pekerjaan yang berada di bawah tanggungjawab raja seperti menteri atau sekretaris.

Demikian, tersusunnya kitab ini ke dalam banyak pasal pun disinyalir terinspirasi dari struktur kitab Siyāsat Nāme atau barangkali sastra Persia pada umumnya. Asumsi ini didorong oleh penulisan setiap pasal yang dimulai dari prinsip akhlak, beralih ke cerita pendek, dan catatan dari hadis dan al-Qur’an, termasuk nasihat hikmah dari tokoh-tokoh terdahulu.

Ciri-ciri mencolok lainnya juga terlihat dari aspek penulisan buku, seperti penggunaan kata “bermula dan diceritakan” di setiap paragraf, penggantian nama subjek atau kata ganti subjek dengan istilah “hamba”, pemakaian kata “ajam” yang berarti orang asing, dan penyisipan puisi-puisi Persia semacam Ghazal, Matsnawi, Ruba’i dan Qit’ah meskipun di dalam bahasa melayu. Setiap ciri tersebut memberikan tanda adanya jejak-jejak sastra Persia yang hadir di kitab melayu Tajussalatin.

Dengan demikian, hubungan Indonesia dan Persia melalui bidang sastra adalah sesuatu yang memang terbukti merupakan peninggalan dari interaksi kedua bangsa ini. Hubungan yang kebetulan ditemui dalam bentuk sastra ini tentu menarik dan bagus, minimalnya dari adanya pertukaran cara pandang dan keilmuan yang sangat bermanfaat dan mulia dilihat dari konten dua buku tersebut. 

Seperti disebutkan di atas, kitab Siyāsat Nāme itu mengajarkan tema keadilan dan konteks membangun negara dengan penuh hikmah dari sudut pandang masyarakat Persia, dan itu telah dibawa dan dikenalkan oleh Bukhari al-Jauhari dengan niat dan tujuan yang sama.