Peneliti
2 tahun lalu · 941 view · 3 min baca menit baca · Filsafat aceh_sultanate_id.svg_.png
Foto: Wikipedia

Melihat Bencana Aceh dengan Kacamata “Keterlemparan” Heidegger

Rabu pagi, 7 Desember 2016, Aceh kembali dikepung gempa bumi yang berskala 6,5 richter. Menurut data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga pukul 15.00 wib kemarin, jumlah korban mencapai 94 orang, luka berat 128 orang, dan luka ringan 489 orang. Adapun korban luka-luka, sebagiannya dilarikan ke RSUD Tgk. Chik Ditiro Sigli. Kemungkinan korban akan terus bertambah.

Selain korban jiwa, menurut hasil kaji cepat BNPB juga, bahwa kerusakan yang diakibatkan gempa ini menerjang 161 rumah, 105 ruko, 14 masjid, 1 bangunan sekolah dan 1 bangunan kesehatan (bnpb.go.id, 2016).

Dalam rangka mempercepat proses tanggap darurat bencana, Mayjen Purn. Soedarmo, selaku Plt. Gubernur Aceh, menetapkan status Tanggap Darurat Bencana hingga tanggal 20 Desember 2016. Status tersebut berlaku untuk tiga kabupaten; Kabupaten Pidie Jaya, Pidie, dan Bireuen (7/12/2016).

Bencana menurut Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 adalah sebuah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang dapat mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan faktor alam dan atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis.

Pengertian bencana di atas disebabkan oleh faktor alam (natural disaster), nonalam (non-natural disaster), dan manusia (man-made disaster). Dengan demikian ada kategori untuk masing-masing faktor tersebut. Dalam konteks ini, gempa bumi Aceh termasuk dalam kategori bencana alam (natural disaster).

Urusan bencana yang terus berulang di Aceh dan beberapa daerah di Indonesia. Kita sebut saja misalnya, gempa dan tsunami Aceh 6/12/2004, kemudian diikuti gempa 7/12/2016, semestinya ditangani serius oleh pemerintah. Karena bencana adalah persoalan semua pihak, maka bencana tersebut memerlukan pembahasan yang komprehensif dan multidimensional.

Bencana juga memerlukan penyikapan yang serius karena menyangkut nyawa dan harta benda yang harus dilindungi oleh negara. Salahsatunya adalah dengan membangun sistem nasional penanggulangan bencana yang mencakup legislasi, kelembagaan, juga pendanaan.

Memaknai Bencana

Berkaitan dengan isu bencana, salah seorang filosof besar Jerman, Martin Heidegger (1889-1976), dalam filsafatnya pernah bicara perihal “keterlemparan” (geworfenheit). Dan di sini saya akan memaknainya untuk bencana alam.

Martin Heidegger mengungkapkan bahwa manusia (dasein) terdampar ke alam dunia, sehingga ia kemudian berada di sana adalah bukan karena keinginannya sendiri. Manusia itu “terjatuh” (fallness) begitu saja. Manusia kemudian menemukan dirinya telah hidup dalam sebuah lingkungan, di mana ia mesti hidup dan mesti mengikuti lingkungan tersebut. Ia patuh terhadap lingkungan di mana ia berada. Dan itulah yang Heidegger sebut sebagai “keterlemparan”.

Hari ini kita sedang mengalami “keterlemparan” di negeri kita sendiri, Indonesia. Mereka di sana juga sedang mengalami “keterlemparan” di negeri mereka masing-masing. Kita sedang  mengalami “keterlemparan” sebagai orang yang menganut agama atau kepercayaan tertentu.

Kita sedang mengalami “keterlemparan” diri sebagai orang Jawa, Sunda, Padang dan sebagainya. Atau juga kita sekarang sedang mengalami “keterlemparan” hidup menjadi masyarakat barbar, masyarakat terdidik atau masyarakat beradab dan seterusnya.

Sebaliknya, saat manusia mencoba memaksakan diri keluar dari “keterlemparan” maka menurut Heidegger manusia tersebut sedang menjadi “tidak asli”. Dan pada suatu hari  nanti ia pasti akan kembali kepada “keterlemparan” seperti semula. Secara sederhana, Heidegger ingin mengatakan bahwa kita tidak akan bisa lagi keluar dari “keterlemparan” tersebut. Dan kita, hanya bisa hidup dalam “keterlemparan” dengan mengolah kreativitas.

Lantas, bagaimana bencana alam (gempa) yang menimpa bumi Aceh kemarin? Sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia secara geografis terletak dalam  empat pertemuan lempeng tektonik yaitu lempeng Benua Asia, Benua Australia, lempeng Samudera Hindia dan Samudera Pasifik.

Di bagian selatan dan timurnya terdapat sabuk vulkanik (volcanic arc) yang memanjang dari Pulau Sumatera hingga Sulawesi dan sisinya berupa pegunungan vulkanik tua dan dataran rendah. Kondisi demikian sangat rawan bencana dan berpotensi untuk gempa bumi, tsunami. gunung berapi meletus, longsor dan banjir.

Kondisi di atas dapat menyadarkan kita bahwa bencana gempa di  masa yang datang akan kembali muncul baik dalam skala kecil maupun besar. Dengan memaknai “keterlemparan” filsuf Heidegger seharusnya kita sudah mempersiapkan diri dan menyikapinya dengan kreatif, salahsatunya dengan cara menciptakan teknologi yang dapat meminimalisasi kerugian baik materi maupun jiwa manusia.

Artinya, dampak negatif dari bencana tersebut dapat “ditangkal” dengan good will pemerintah, sebagai lembaga yang bertanggung jawab terhadap warganya, mempersiapkan teknologi penanggulangan bencana yang mutakhir dan modern, seperti yang telah dilakukan negara-negara maju di dunia.  

Terakhir, saya ingin mengatakan bahwa di balik bencana ada hikmah atau ibrah (pelajaran) bagi manusia (dasein) itu sendiri, baik secara individu atau kolektif. Mempersiapkan diri sejak dini menghadapi bencana adalah solusi terbaik ketimbang bersikap reaktif ketika bencana itu datang dan terjadi. Turut berduka untuk seluruh korban gempa Aceh. Doa kami selalu mengiringi kalian nun jauh di sana. Bangun dan bangkit kembali adalah cara cepat menyiasati duka.

Artikel Terkait