Semasa kampanyenya pada Pilpres 2014 lalu, Presiden Joko Widodo  berjanji ingin menjadikan Indonesia  sebagai poros maritim nusantara. Maka, untuk mewujudkan mimpi tersebut, perlu adanya semangat gotong royong  dari daerah sebagai pilar pendukungnya. Dari ujung barat hingga timur.

Dalam konteks ini, gagasan poros maritim Nusantara merupakan seruan besar untuk kembali pada jati diri Indonesia sebagai Negara Maritim. Revolusi mental dalam rangka membangun kembali kepribadian bangsa. Semangat membangun sebuah bangsa yang berdaulat, derdikari, dan berkepribadian.

Karena,  sembari menyayikan lagu : nenek moyang ku seorang pelaut, cara pandang yang berorientasi ke laut semakin ditinggalkan. Seolah dipaksa melupakan kekayaan laut kita dan lebih berorientasi ke darat.  Seolah kita dipaksa untuk memunggungi masa depan yang jaya. Karena, dengan lautlah yang membesarkan dan memakmurkan dua kerajaan besar nusantara seperti Sriwijaya dan Majapahit

Wajar jika, seorang  sastrawan  Indonesia asal Blora Jawa Tengah,  Pramoedya Ananta Toer dengan semangat besar mengisahkan tentang mundurnya kehidupan dan perdagangan laut nusantara melalui epos nusantara “Arus Balik”.

Maritim Tanah Jawara

Dalam sejarahnya, Banten merupakan kota maritim yang kuat menandingi Kerajaan Mataram. Banten dalam sejarah terkenal sebagai sebuah kota pelabuhan yang sangat ramai dengan masyarakatnya yang terbuka dan makmur. Daerah kekuasaannya mencakup juga wilayah yang sekarang menjadi provinsi Lampung.

Gagasan poros maritim nusantara, menjadi  peluang bagi Banten. Dengan panjang pantai berkisar 500 Kilometer (Km), keberadaan selat sunda, laut jawa, samudera hindia serta  teras ibu kota negara.  Belum lagi ditambah historis kelautan yang panjang, menjadi kekuatan untuk mewujudkan proyek maritim Indonesia di bawah kepemimpinan Joko widodo  dan Jusuf Kalla.  Maka, harus ada upaya pemerintah Banten untuk  mewujudkan cita – cita  pembangunan poros maritim, sebagimana pernah terjadi pada era Sultan Ageng Tirtayasa di abad enam belas. 

Hilman Farid, dalam pidato kebudayaan di Jakarta, Oktober tahun 2014 lalu menjelaskan, Banten tumbuh sebagai bandar dagang terkenal di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa. Hal ini menjadi masa keemasan Banten sebagai kota perdagangan yang disinggahi oleh para pedagang hingga pelaut dari seluruh dunia, termasuk kerajaan maritim Nusantara sendiri.

Banten pada masa lalu, menjadi sebuah daerah dengan tata kota pelabuhan yang sangat ramai. Kejatuhan Malaka atas Portugis pada tahun 1511, membuat para pedagang yang berasal dari Arab, Persia dan Gujarat mengalihkan jalur perdagangan ke Selat Sunda, untuk sekadar singgah di Karangantu.

Berkahnya, Pelabuhan Karangantu menjadi pusat perdagangan Internasioanal yang banyak disinggahi oleh para pedagang dari Benua Asia,Afrika, dan Eropa. Bahkan seorang Cornelis de Houtman, menyebut Pelabuhan Karangantu sama besar dengan Amsterdam.

Tata kelola administrasi yang modern, pemerintahan dan kepelabuhan sangat menunjang perekonomian masyarakat Banten pada abad ke -16. Potensi kelautan menjadi daya tawar bagi pembanguna Provinsi Banten. Apalagi Banten memiliki keluasan Selat Sunda sebagai jalur penyebrangan dan perdagangan.

Ekonomi Maritim Banten

Ekonomi maritim sangatlah potensial untuk dikelola dengan  baik. Mulai dari flora dan fauna, hingga pariwisata yang memaksimalkan potensi pesisir dan jaringan transportasi laut.  Belum lagi tentang sosial dan budaya.

Kita bisa lihat, bagaimana kekayaan laut Provinsi Banten. Dengan  panjang pantai ± 500 km, bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi warga sekitar pesisir melalui ekonomi kerakyatan. Belum lagi berbicara potensi luas lahan budidaya laut yang mencapai 834,8 Ha, budidaya tawar (5533,63 Ha) dan luas lahan budidaya payau (10.358,13 Ha).

Belum lagi berbicara tentang budaya dan pariwisata Banten. Masing-masing wilayah itu memiliki karakteristik sumber daya pariwisata budaya, alam, buatan dan kehidupan masyarakat tradisional (living culture) yang berkembang sebagai destinasi wisata berskala nasional bahkan internasional.

Sebut saja, pesona pantai anyer, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tanjung lesung, wisata bahari pulau umang, taman nasional ujung kulon, wisata religi Banten lama dan keunikan masyarakat tradisional Badui yang berkembang sebagai destinasi wisata.

Melihat varian sektor wisata pada perkembangannya, jumlah Obyek Daya Tarik Wisata (ODTW) Banten berdasarkan data Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Banten, telah tercatat sebanyak 526 obyek, yang terbagi ke dalam beberapa kategori wisata marina, wisata sejarah, suaka alam, dan obyek wisata lainnya.

Artinya, dengan beragam komoditas laut dan sumber daya alam di atas, Provinsi Banten merupakan  provinsi yang potensial sebagai pilar kekuatan Indonesia untuk mewujudkan masyarakat adil makmur.

Melihat segudang potensi laut Banten, tinggal bagaimana keseriusan pemerintah Provinsi Banten dalam mengelola potensi laut demi tewujudnya masyarakat adil makmur. Semoga dengan Laut kita kembali kepada jati diri kebudayaan, akselerasi pembangunan demi masa depan, Tanah Jawara berkemajuan.