Pernah mendengar kata Radiator Springs? Sebagian dari kita mungkin memang sudah mendengar istilah Radiator Springs. Istilah Radiator Springs pasti sangat akrab kita dengar jika kita pernah menonton gambar corek atau film kartun Cars.

Diceritakan bahwa Radiator Springs merupakan salah satu kota kecil yang dahulunya merupakan kota yang makmur karena banyak kendaraan berlalu-lalang di Radiator Springs karena kota ini merupakan jalan utama yang wajib dilalui oleh kendaraan.

Konon, Radiator Springs didirikan oleh sebuah mobil tua yang menjual tutup botol radiator yang kemudian laku terjual. Seiring waktu karema motivasinya yang sangat tinggi, mobil tua itu mendirikan kota dengan nama Radiator Springs.

Digambarkan juga masyarakat “permobilan” Radiator Springs sangat makmur karena kendaraan yang melewati kota ini selalu mampir untuk berkunjung. Banyak makanan, minuman, tempat fashion, penginapan serta kawasan hiburan lain yang dapat dinikmati oleh masyarakat “permobilan” yang tinggal atau melewati kota ini.

Sayangnya, kota ini kehilangan citranya karena adanya pembangunan jalan bebas hambatan atau jalan tol yang kita kenal saat ini dan menyebabkan Route 66 yang melalui Radiator Springs jarang dilewati lagi oleh kendaraan.

Malang sekali nasib masyarakat “permobilan” Radiator Springs yang terkena imbas dari adanya pembangunan jalan bebas hambatan.

Cerita tentang Radiator Springs ini mengingatkan saya pada perjalanan yang saya lakukan ke luar kota pada akhir pekan lalu. Mohon maaf jika di masa pandemi saat ini justru saya malah keluar rumah. Namun, bagaimana lagi jika diri ini terasa sangat penat karena tekanan duniawi.

Perjalanan pada saat itu menggunakan mobil. Berbekal niat yang membara karena melakukan perjalanan berkedok liburan. Akhirnya saya dan sekeluarga menuju Kota Bekasi.

Perjalanan menggunakan kendaraan mobil yang saya pikirkan akan sangat melelahkan karena akan memakan waktu berjam-jam. Terlebih lagi saya pernah mendapatkan pengalaman buruk Ketika melakukan perjalanan lintas provinsi karena pernah terjebak kemacetan selama 3 hari 2 malam yang saat itu membuat saya sangat akrab dengan kursi mobil.

Perjalanan 3 hari 2 malam itu seharusnya jika ditempuh dengan waktu normal hanya membutuhkan waktu 10-12 jam untuk melakukan perjalanan dari Bekasi hingga Boyolali atau sebaliknya. Namun, selama 2 hari saya terjebak di Cikampek seperti yang saya sebutkan sebelumnya sampai akrab dengan kursi mobil.

Tidak banyak yang bisa saya lakukan selama terjebak di dalam mobil sembari menunggu antrean kemacetan yang pada saat itu saya berpikir kapan hal ini akan selesai.

Bahkan khayalan saya sebagai anak-anak muncul. Saya berharap menjadi Ultraman dan mengangkat mobil saya langsung menuju tujuan. Namun, khayalan hanyalah tetap khayalan.

Mobil yang saat itu saya tumpangi selalu berjumpa dengan masyarakat yang memanfaatkan momen kemacetan untuk mencari rejeki.  Bak rejeki nomplok, masyararakat sepanjang jalan yang saya anggap sebagai masyarakat “Radiator Springs” mendapatkan keuntungan akibat adanya kemacetan ini.

Banyak yang mereka jajakan. Seperti makanan ringan, minuman dingin, dan nasi bungkus. Bahkan saya menemukan seorang joki yang katanya mengetahui jalan cepat untuk menghindari kemacetan.

Sebut saja sebagai “Joki Penunjuk Arah”. Cukup dengan mengeluarkan uang 15-30 ribu rupiah, pengguna jalan yang terjebak kemacetan akan mendapatkan kertas yang berisi denah jalan yang justru malah memutar. Mungkin saja Ayah saya pada saat itu berpikir “yang penting tidak kena macet”.

Sepanjang jalan mobil yang saya tunggangi ini menemukan pemukiman-pemukiman penduduk yang juga ketiban rejeki karena kebanyakan dari mereka juga menawarkan akses toilet dan juga akses listrik bagi pengendara yang ingin mengisi daya baterai hp.

Cerita dari masyarakat “Radiator Springs” itu sudah menjadi kenangan tersendiri bagi saya yang saat itu hanya seorang anak-anak yang tidak memikirkan adanya keuntungan yang didapatkan masyarakat karena adanya kemacetan di Route 66-nya lintas Jawa. Pada saat itu saya hanya ingin cepat sampai .

Pada tahun 2018, akhirnya jalan bebas hambatan diresmikan yang menghubungkan Pulau Jawa dan menyebabkan Radiator Springs-nya Pulau Jawa saat ini jarang dilewati oleh pengguna kendaraan roda empat.

Dari sudut pandang saya pengguna kendaraan roda empat, tentu saja saya ingin adanya akses yang cepat dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini sangat terasa ketika saya melakukan perjalanan dari Boyolali ke Bekasi hanya membutuhkan waktu tujuh jam mengunakan jalan tol yang semula saya ceritakan ketika melewati Radiator Springs sebelum dibangunnya jalan tol membutuhkan waktu 10-12 jam.

Dalam perjalanan, sampai teringat dengan lagu "Our Town" yang dilantunkan oleh James Taylor. Lagu ini juga merupakan pengiring dari kartun Cars. Lagunya yang sangat merdu mengingatkan saya akan kenangan sebuah wilayah yang dulu pernah makmur dijadikan jalur utama para pengendara.

Dalam cerita kartun Cars, Radiator Springs pada akhirnya kembali menyala seperti di masa lampau dan harapan pribadi tetap ada untuk wilayah Radiator Springs-nya Pulau Jawa ini agar bangkit dan tetap berdiri dengan caranya sendiri.