Peneliti
2 tahun lalu · 290 view · 6 menit baca · Politik collectie_tropenmuseum_minaret_bij_moskee_bantam_tmnr_60016480.jpg
Banten (Foto: Wikipedia)

Meletakkan Banten di Ruang Nasional

Koentjaraningrat (1969), seorang Ahli Sosiologi Indonesia termasyhur, menjelaskan bahwa Jawa Barat mempunyai empat suku bangsa yang terdiri dari; Suku Sunda, Suku Betawi, Suku Baduy, dan Suku Banten. Masing-masing suku itu menempati daerah-daerah tertentu. Bagaimana suku Banten? Secara eksistensi ia menempati daerah bagian barat Jawa Barat. Mereka kini berkembang semakin banyak dan terus tumbuh seiring usia dunia yang semakin menua.

Jika kita melihat masyarakat Banten, akan tampaklah struktur masyarakatnya yang terdiri dari tiga komponen, yakni ulama, santri dan jawara. Masyarakat Banten sejak dulu dikenal sebagai masyarakat yang sangat religius, sebagai representasi dari kaum santri dan para ulama. Pula dikenal sebagai komunitas jawara, sebagai representasi dari para pendekar-pendekar Banten, dimana mereka awalnya adalah para santri yang belajar pencak silat atau bela diri.

Kebiasaan masyarakat Banten, khususnya kaum muda, mereka senantiasa mengaji al-Quran bersama-sama di rumah salah seorang ulama di suatu tempat. Kegiatan tersebut ramai sekali dilakukan di setiap kampung, biasanya dilaksanakan setelah salat magrib hingga menjelang isya. Dilanjutkan kemudian dengan berlatih pencak silat setelah salat isya hingga larut malam. Dilakukan, biasanya, dua atau tiga kali dalam seminggu (Ali Sodikin, 2014).

Ulama mempunyai peran yang sangat penting, ia dianggap sebagai pemimpin moral bagi masyarakatnya, sedangkan jawara mempunyai peran strategis sebagai eksekutor di lapangan. Sinergitas yang dibangun tentu membawa dampak positif bagi eksistensi masyarakat Banten untuk memukul mundur siapa saja yang akan menggangu dan membuat kerusuhan serta perpecahan di wilayah Banten.

Dalam sejarah masa kolonial di Indonesia, Belanda sangat kesulitan melawan serta meruntuhkan kerajaan Banten, hingga akhirnya Belanda memakai politik licik, adu domba (devide et impera). Hal itu menunjukkan betapa kokoh dan solidnya masyarakat Banten saat itu.

Hubungan antara ulama-jawara terus berlanjut secara baik bahkan solid. Keakraban tersebut terlihat mesra ketika partai-partai Islam, salah satunya adalah Masyumi, tumbuh subur  di wilayah Banten saat era rezim Orde Lama.

Di era Orde Baru, Soeharto, sistem demokrasi yang hanya membolehkan dua partai politik ditambah satu golongan kekaryaan, nasib masyumi menjadi partai gembos. Otomatis, partai-partai Islam melakukan perkawinan (berfusi) ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP), sebagai satu-satunya partai Islam pilihan kala itu.

Orde Baru dengan menunggangi kendaraan politiknya, Golkar, terus mengembangkan pengaruh dan kekuasaannya dengan menjadikan Islam politik sebagai ancaman bagi eksistensi Golkar. Segala usaha dikerahkan secara maksimal agar partai berbasis agama tersebut menjadi lemah dan tak berdaya. Usaha pelemahan tersebut diwujudkan dalam operasi intelijen yang dikenal dengan “opsus”, sebagai pemimpinnya adalah Ali Moertopo.

Dalam opsus tersebut segala cara dilakukan, termasuk politik belah bambu antara ulama dan jawara, demi untuk kekuatan dan keperkasaan Golkar. Konsekuensinya adalah eksistensi  ulama yang semula merupakan tokoh senter dalam kehidupan masyarakat Banten seiring waktu termarjinalkan dan tak lagi memiliki “taring tajam” seperti semula.

Golkar, militer (dahulu ABRI), dan birokrasi selama puluhan tahun bersatu, berkelindan memperkuat rezim orde baru. Salah seorang tokoh Banten ditempatkan eksklusif dalam posisi yang sangat strategis pada konfigurasi politik Orde Baru.

Dia adalah (alm) Chasan Sochib, yang awalnya hanya seorang jagoan pengawal barang dagangan yang melintasi Jawa-Sumatera via selat Sunda. Tepatnya, pada tahun 1967, ia dipercaya untuk mengatur pengadaan dan distribusi beras dari Lampung untuk Kodam Siliwangi (Gandung Ismanto, 2010)

Berkat kedekatannya dengan tentara pada awal Orde Baru, ia dipercaya untuk memimpin Satuan Karya (Satkar) Jawara, sebuah organisasi yang menjadi penopang Golkar. Ia juga sempat dilantik oleh Jenderal Surono dalam sebuah upacara yang dihadiri oleh tokoh-tokoh militer nasional lainnya (Abdul Hamid).

Chasan kemudian menjadi pengusaha kaya raya setelah didukung oleh kekuatan ekonomi yang ditopang bisnis militer dan pemerintah saat itu. Dengan hal tersebut Chasan dapat leluasa mendekati para jawara sebagai struktur utama dalam masyarakat Banten

Metode pendekatan dan penggalangan dilakukan dalam berbagai hal. Salah satunya dalam kesenian dan kebudayaan, debus salah satu di antaranya. Perpaduan antara keduanya dijadikan sebagai pilar utama kekuatan Golkar di Banten selama puluhan tahun, hingga kini.

Jawara kemudian menjadi kekuatan utama kehidupan masyarakat Banten. Ulama dan para intelektual (akademisi) sibuk dengan pekerjaan dan profesinya di tempat masing-masing. Mereka tidak tak lagi berfungsi sebagai intelektual organik yang berperan aktif dalam transformasi melewati transisi demokrasi.

Pertanyaannya: “Apakah mereka, kini, justru sudah menjadi bemper-bemper kekuasaan?” Jika ya, dari sinilah kemudian dinasti politik itu bermula yang kemudian lama kelamaan menjadi tumbuh dan menggurita, karena fungsi mereka sudah diikat oleh kue kekuasaan yang sangat manis, nikmat nan menggoda.

Ketika Banten memisahkan diri dari Jawa Barat, mengalami perubahan dalam berbagai aspek secara signifikan. Serjatinya, dengan munculnya reformasi dan demokrasi terbuka maka kesejahteraan rakyat pun seyogyanya berubah dan mengalami peningkatan ke arah yang lebih baik. Namun nyatanya, terciptalah dinasti politik yang korup, arogan serta menindas rakyat tanpa ampun.

Pelarangan terhadap dinasti politik sesungguhnya tidak tersentuh undang-undang, namun efek negatif yang dihasilkannya sangat berbahaya sekaligus merugikan masyarakat secara masif. Korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, pelanggaran hukum, dan sebagainya adalah output paling kentara dari sebuah oligarki yang tak terkontrol.

Undang-undang otonomi daerah no. 23 tahun 2004 seharusnya membawa angin segar perubahan bagi ekonomi rakyat Banten, karena kewenangan daerah dalam mengurus wilayahnya lebih  nyata, efektif, dan dinamis. Dengan undang-undang tersebut seharusnya tingkat kesejahteraan rakyat Banten meningkat. Tingkat kesejahteraan tersebut mestinya berbanding lurus dengan kehidupan demokrasi yang mencita-citakan kesejahteraan dan keadilan masyarakat setempat.

Siapa yang Bisa Membangun Banten?

Kejayaan dinasti politik Banten diawali munculnya putri Chasan Sochib, dalam panggung politik Banten, yaitu Ratu Atut Chosiyah, yang lahir di Kampung Gumulung, Desa Kadubeureum, Pabuaran, Serang pada 16 Mei 1962. Ia yang pertama kali memenangkan pemilihan pada pemilihan Gubernur pertama. Dan pada tanggal 11 Januari 2001 dilantik menjadi wakil gubernur, pada waktu itu Joko Munandar sebagai gubernurnya.

Berawal dari sinilah, kemudian suami, sanak-saudara, kerabat, famili, menantu, mertua dan segala sesuatu yang berkaitan dengan Atut dan ayahnya Chasan Sochib mendapatkan “tiket masuk gratis” dalam gelanggang politik di Banten, bahkan bisa “bermain” di tingkat nasional.

Kita sebut saja misalnya Airin Rachmi Diani, istri Tubagus Chaeri Wardana mencalonkan diri jadi Wakil Bupati Tangerang (2008), walau tak terpilih. Namun di tahun 2011, ia terpilih menjadi Walikota Tangerang Selatan. Atau Tubagus Haerul Jaman, adik tiri Atut, menjadi Wakil Walikota Serang (2008), dan tiga tahun kemudian menjadi Walikota Serang karena Bunyamin, wali kota saat itu, meninggal.

Pada tahun 2010 Ratu Tatu Chasanah terpilih jadi Wakil Bupati dan pada tahun 2015 menjadi Bupati Serang, dan banyak contoh lain yang tidak bisa disebutkan.

“Masa-masa kejayaan” dinasti politik Banten sudah terlewati. Masa yang dianggap akan terjadi keruntuhan dinasti politik Banten, malah menjadi momentum konsolidasi dinasti Banten menjadi kuat dan solid, yaitu saat penangkapan Wawan dan Atut (kakak beradik), oleh KPK terkait kasus korupsi dan sengketa Pilkada Lebak, yang melibatkan juga Akil Muchtar, sebagai Ketua Mahkamah Konstitusi.

Dinasti politik Banten sama sekali tak terpengaruh banyak dengan insiden di atas, justru sebaliknya, kini bertambah kuat dan solid. Persiapan pemenangan putra Atut, Andika Hazrumy, sebagai bakal calon wakil gubernur yang berpasangan dengan Wahidin Halim, sudah matang dipersiapkan. Kejayaan dinasti politik Banten jilid II akan terulang. Dan bagaimana nasib masyarakat Banten kemudian?

Pertanyaan tersebut perlu dijawab oleh hati nurani sang penguasa. Jika ia terpilih, apa jaminan yang bisa dirasakan rakyat Banten? Pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab oleh mereka-mereka yang haus jabatan demi terpenuhi syahwat politiknya yang memuncak. Pekerjaan rumah yang sangat berat memikul “Banten Baru” yang lebih jujur, lebih adil dan lebih sejahtera.

Momentum Pilkada Serentak 2017 yang akan dilaksanakan bulan Februari tahun depan adalah momentum berharga dan paling menentukan untuk pembangunan Banten ke depan. “Oleh siapa kita akan dipimpin, bagaimana ia akan mengolah Banten menjadi daerah yang makmur, dan jurus apa yang ia gunakan agar berhasil sesuai dengan harapan dan impian masyarakatnya?”

Sayangnya, kandidat cagub dan cawagubnya untuk periode kali ini terkesan biasa saja, datar, polos dan sama sekali terlihat tak punya terobosan baru untuk membangun Banten lebih bersih, maju dan berprestasi. Tak muncul calon gubernur dan calon wakil gubernur alternatif, calon gubernur pilihan rakyat yang pro terhadap kepentingan mereka, yang mereka cintai, banggakan dan elu-elukan.

Sejatinya, di antara mereka  muncul calon gubernur selevel Ridwan Kamil, yang kini sebagai Walikota Bandung, atau Basuki Tjahaya Purnama atau Ibu Risma atau tokoh lainnya, dimana mereka memiliki segudang jurus dan prestasi dalam rangka memajukan daerahnya masing-masing. Padahal sumber daya manusia Banten sangat banyak dan cerdas-cerdas.

“Di mana dan ke mana mereka kini? Apakah mereka sudah apatis atau ada alasan tertentu yang membuat mereka tidak mau muncul?”

Apa kabar Saudara Wahidin Halim dan Andika Hazrumi? Apa kabar pula Saudara Rano Karno dan Embay Mulya Syarif? Apakah kalian sudah mengetahui dan memahami apa itu “amanah”? Tujuan kalian bukan mencari uang atau menambah pundi-pundi rupiah.

Kalian diutus oleh Tuhan untuk membangun Banten dengan baik. Rakyat berharap penuh kepada kalian, jangan pernah sesekali mengkhianatinya. Siapa di antara kalian yang bisa meletakkan Banten di Ruang Nasional? Selamat berjuang!