Siapa yang tidak ikut geram jika melihat berbagai informasi tentang adanya kejahatan dan konflik di negeri sendiri atau di belahan dunia lain? Selagi korbannya adalah manusia, rasa geram atas kejahatan yang muncul adalah bentuk dari gerakan hati nurani manusia. Sebab, sejatinya kita ingin hidup dengan damai.

Seseorang boleh jadi matanya akan berkaca-kaca tatkala melihat tindak diskriminasi, kekerasan, kezaliman, dan lain sebagainya yang dialami oleh orang lain. Itu tiada lain sebab seorang manusia memang dikaruniai perasaan. Saya percaya, kejahatan yang terjadi pada satu manusia adalah ancaman bagi manusia-manusia lainnya.

Perasaan sejatinya digunakan bukan hanya untuk mencari dan menemukan kebahagiaan secara individu (semata-mata untuk diri sendiri), tapi baiknya jika difungsikan untuk menemukan penderitaan dan keresahan orang lain untuk bangkit bersama.

Walau tanah air ini sedang dikenal oleh dunia atas segala destinasinya yang menawan: gunung, danau, lembah, hutan, pantai, serta pulau-pulaunya, tetap saja semuanya akan terasa kosong jika perasaan yang kita bawa telah lalai dalam menyatukan persaudaraan dan perdamaian pada manusia lainnya. Saya meyakini, seseksi-seksinya destinasi adalah manusia itu sendiri.

Sering kali saya melihat ‘perasaan’ disempitkan oleh orang-orang tertentu menjadi sekadar kosakata dalam bahasa puitis cinta-cintaan anak remaja belaka. Namun satu hal yang perlu dijaga bahwa perasaan juga mengantarkan kita untuk bisa hidup dan bekerja sama dengan manusia lainnya, dengan harmonis tanpa kepentingan pribadi, melainkan sikap untuk saling memiliki dan memahami.

Pada beberapa hari yang lalu, saya mengenal sebuah gerakan yang sangat mengagumkan dan berkesan mendalam buat saya pribadi. Ada banyak hal baru yang sangat menginspirasi buat saya, sebuah program yang membuka pemahaman saya perihal orang-orang yang termarginalkan atau bahkan disebut sebagai sampah masyarakat.

Kegiatan tersebut bertema Training for Peace Educator yang diselenggarakan oleh Peace Generation. Ini adalah sebuah yayasan yang berpusat di Bandung, dan telah membuka cabang di beberapa kota besar di Indonesia.

Berbeda dari kegiatan sosial pada umumnya, para pesertanya terdiri dari guru-guru yang sedang aktif mengajar, dan juga mahasiswa. Saya sangat bersyukur bisa dilibatkan dalam proses pelaksanaannya di kotaku, Kota Palu.  

Sebelumnya saya begitu memandang rendah kepada orang-orang yang menghuni tempat prostitusi (Lokalisasi), Lapas anak, dan lapas perempuan. Bahkan sebelumnya saya sampai bersumpah tidak akan menjajahi tempat sejenis itu, apalagi berinteraksi dengan mereka, atau kosa kata lainnya yang mengutuk-ngutuk mereka.

Mereka yang dipandang inferior oleh kebanyakan orang sejatinya juga berhak hidup dengan damai tanpa diskriminasi dan hujatan. Sejauh yang saya pahami tentang lika-liku kehidupan manusia bahwa yang layak untuk dibenci adalah kebencian itu sendiri, dan yang layak untuk dijauhi adalah stigma itu sendiri.

Bukan pada manusianya, atau pada orang-orang yang masih terjerembab pada korban inferioritas oleh masyarakat awam. Pertama kali menginjakkan kaki pada lokalisasi di daerah saya adalah hal yang baru dan berjaya dalam mengubah paradigma saya.  

Bahwa di sana ada banyak orang-orang yang tidak punya pilihan karena kurang perhatian. Ada ibu-ibu yang terhimpit kebutuhan ekonomi keluarga, serta remaja yang tidak punya skill dan pengetahuan yang boleh dieksploitasi selain dari tubuh itu sendiri (pilihan terakhir).

Bahwa di sana juga ada banyak anak-anak di bawah umur yang setiap hari berpapasan dengan hal-hal yang bersifat erotis. Tentunya tidak baik untuk masa pertumbuhan, mental dan cara berpikir mereka. Bahkan ada yang telah putus sekolah karena menjadi korban pembulian oleh kawan-kawan sebayanya. Boleh jadi karena tempat tinggalnya yang dianggap “kotor” dan lain sebagainya.

Padahal, ada potensi besar pada diri mereka masing-masing. Waktu itu, setiap kami yang berkunjung untuk menyebarkan nilai-nilai perdamaian di lokalisasi itu tiba-tiba terenyuh ketika seorang anak dengan antusias menunjukkan pada kami rumah-rumah yang dihuni oleh anak-anak yang putus sekolah lainnya.

Di lain tempat, pada sebuah lapas anak di kotaku, ada yang ditahan karena menebas (membunuh) temannya akibat tidak tahan di-bully. Hal ini merupakan sebuah siklus kejahatan yang akan terus menjadi-jadi, jika tidak adanya perhatian dan gerakan nurani dari orang lain.

Alih-alih berbuat sesuatu, kebanyakan orang justru acuh tak acuh. Hanya segelintir dari kita yang berbuat sesuatu untuk mereka. Mengapa tidak kita rangkul mereka? Untuk saling memberi semangat positif. Sedang beberapa anak di antaranya tidak lagi dikunjungi oleh orang tua atau sanak saudaranya pada hari-hari tertentu; lebaran, libur, dan hari-hari besar lainnya.

Berseberangan dengan kehidupan mereka, anak-anak kebanyakan yang diekspor media, yang diagungkan negeri, yang dibanggakan orang tuanya dapat hidup dengan damai dan layak. Mereka penuh perhatian dan bisa menaklukkan dunia, bukannya ditaklukkan oleh dunia.

Kesenjangan serupa itu adalah bentuk enigma kemanusiaan. Kita perlu gerakan yang berbasis kemanusiaan, dengan semangat perdamaian secara egaliter tanpa memandang siapa mereka dan untuk apa, melainkan untuk menularkan virus kebaikan.

Seperti alam yang telah kotor, jika tidak ada gerakan secara bersama-sama, tidak akan bisa bersih. Pun juga pada lingkungan sosial kita, mari menebar virus perdamaian sejak dari cara berpikir kita.