Jurnalis
1 bulan lalu · 96 view · 7 min baca menit baca · Wisata 49801_20722.jpg
Bayang Keling, wahana permainan masyarakat Curup/Muhamad Antoni

Melestarikan Permainan Bayang Keling

Para pengunjung berteriak histeris kala Bayang Keling begitu masyarakat kabupaten Rejang Lebong menyebutnya mulai diayunkan oleh tangan-tangan kekar sang operator, tinggi wahana permainan itu kurang lebih berkisar lima Meter, untuk menaikinya hanya diperbolehkan lima orang khusus anak-anak yang berumur 7 hingga 12 tahun, sedangkan untuk kategori orang dewasa hanya dibatasi sebanyak tiga orang.

Ada empat kotak berukuran kurang lebih 150x50 Centimeter, jangan mengharapkan alat perlindungan diri, tidak ada tempat duduk yang nyaman layaknya Bayang Keling moderen yang ada di Taman impian Ancol dan Dufan. Tidak ada atap, yang ada hanya bentangan terpal plastik untuk menutupi wahana permainan. 

Di saat cuaca mulai panas, akan terasa pengap berada di bawahnya, kotak-kotak yang bakal di isi bagi peminat Bayang Keling dikelilingi pagar bak kandang, namun bisa digunakan sebagai pegangan saat Bayang Keling mulai diayunkan. Tidak ada perhitungan pasti berapa kecepatan/Rpm saat wahana permainan itu mulai memutar.

Awalnya operator akan mengayunkan Bayang Keling dengan pelan, searah jarum jam, namun ketika teriakan salah satu operator seolah-olah menjadi tanda bahwa kecepatan nya harus di tambah, dengan sigap operator-operator pun menambah kekuatan, hingga teriakan pun memecahkan suasana. Namun, para operator akan sigap menahan laju kecepatan ketika perhitungan perputaran Bayang Keling sudah di anggap cukup untuk menghibur para pengunjung.

Terdapat enam orang dalam satu unit Bayang Keling yang siap menggantikan tugas mesin penggerak, karena semuanya dilakukan manual tanpa menggunakan mesin sebagai alat penggerak. Iringan lagu Dangdut pun menjadi penghibur dan pemecah ketegangan para penumpang yang ingin menaiki Bayang Keling. 

Wahana permainan ini selalu hadir di saat perayaan hari lebaran tiba tepat di halaman pusat pembinaan atlet yang dikelola oleh Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), di kelurahan Pelabuhan Baru, Kecamatan Curup Tengah, kabupaten Rejang Lebong provinsi Bengkulu.  


Para operator saat mengayunkan Bayang Keling/Muhamad Antoni 

Wandi (53) warga kelurahan Talang Rimbo Baru, kecamatan Curup Tengah, mendampingi saudara nya Marwi (55). Mereka berdua tampak fokus memperhatikan tugas para anak buahnya yang membantu menjalankan bisnis Bayang Keling milik Marwi. Wandi sudah hampir 29 tahun menggeluti bisnis ini, namun ketika kebakaran hebat di jalan Letjend Soeprapto, tepat di seberang komplek PBSI pada 2016 silam menghanguskan empat unit Bayang Keling miliknya.

“Kebakaran pada waktu itu menghabiskan seluruh bayang keling milik saya, saat ini saya hanya membantu saudara saya, ,”ujarnya.

Dia bercerita, usaha Bayang Keling ini mulai dijalankan keluarga nya sejak tahun 1986, bisnis hiburan ini dijalankan secara turun menurun. Saat itu kata dia, mulainya bisnis Bayang Keling ini dikarenakan ada orang yang berasal dari India menjual Bayang Keling, Kuda Putar/komidi putar (Kudo Beleng dalam bahasa Curup) dan Kapal Putar kepada keluarga Wak Ham yang merupakan nenek dari Wandi.

“Hingga saat ini terhitung sudah empat generasi yang menjalankan bisnis ini, amanah orang tua kami usaha ini harus juga diturunkan ke anak-anak kami,” tutur Wardi

selain Wardi, dari lima keluarga yang mengelola bisnis Bayang Keling yang saat ini hanya tersisa tiga keluarga yang masih bertahan setia menjalankan bisnis ini. Kata Wardi, meskipun empat unit Bayang Keling miliknya hangus terbakar namun terdapat dua unit Bayang Keling milik Marwi saudara nya, yang bisa digunakan untuk tetap menghibur masyarakat kabupaten Rejang Lebong, Lebong, Kepahiang hingga Kota Lubuklinggau yang berkunjung ke pusat pasar musiman dan taman hiburan saat lebaran tiba.

Teriakan para pengunjung yang menaiki Bayang Keling, Jumat (7/6/2019) tepat pada hari lebaran ketiga tidak memupuskan perbincangan tentang Bayang Keling. Marwi, tetap tampak berkonsentrasi memperhatikan para operator yang terus berteriak agar semangat mengayunkan Bayang Keling tidak mudah kendor.

Keringat para operator mengucur deras, sedangkan para penumpang yang menunggu antrian untuk menaiki Bayang Keling nampak sabar menanti di batas aman. Sesekali para operator mendatangi Marwi memberikan laporan atau sekedar mengambil minuman penambah stamina. Matahari belum terlalu tinggi saat itu, pengunjung sudah semakin ramai, hingga akhirnya Marwi memerintahkan untuk mengeporasikan Bayang Keling yang tersisa untuk melayani kemauan para pengunjung.

Marwi menuturkan, meskipun gesekan kemajuan teknologi yang tengah berkembang pesat saat ini, namun tidak melunturkan niatnya untuk tetap menjaga permainan tradisional ini. Baginya, Bayang Keling merupakan usaha turun temurun yang tidak boleh luntur di makan usia.


Penyebutan Bayang Keling, menurut Marwi berasal dari kata Buaian yang artinya mengayunkan atau membuai, sedangkan Keling merupakan singkatan dari penyebutan dari kata Keliling. Sehingga sejak pertama kali dijalankan masyarakat sudah akrab dengan penyebutan Bayang Keling ada juga yang menyebutnya dengan Bayan Keling.

“Saya masih menjaga tradisi, menjaga permainan tradisional ini, kalau dulu saya yang ikut terjun langsung, namun sekarang sudah di bantu anak dan menantu saya,” ujarnya.

Dia pun menguatkan, bahwasannya hadirnya bisnis Bayang Keling di Curup dikarenakan ada orang yang berasal dari India yang menjual alat-alat Bayang Keling ke keluarganya. Menurut cerita, orang yang berasal dari India tersebut kehabisan uang untuk kembali ke negara asalnya.

“Kalau istilah nenek kami dulu, orang India itu ngamen di sini. Namun pada akhirnya kehabisan modal untuk kembali ke India sehingga semua alat pun di jual,” katanya.

Semakin ditinggalkan, Seiring Bahan Baku Sulit didapatkan 

Pada periode tahun 1990 hingga tahun 2000-an, permainan Bayang Keling berada di puncak kejayaannya. Meski, bisnis ini hanya dijalankan saat perayaan hari lebaran tiba sangat mudah untuk meraup keuntungan. Tak jarang saat itu, banyak pengusaha bisnis Bayang Keling dari daerah lain untuk ikut bergabung di komplek PBSI Curup, namun di tolak karena ingin menjaga tradisi turun menurun yang sudah dijalankan keluarga Marwi dan Wandi.

Namun, seiring berkembangnya teknologi dan banyak nya pengusaha Bayang Keling yang membuka di wilayah masing-masing pendapatan dari bisnis ini menjadi turun. Wandi mengungkapkan, periode tahun 1990 hingga 2000-an dia bisa meraup keuntungan mencapai belasan juta Rupiah meski pengeoperasian Bayang Keling saat itu hanya berjalan selama tiga hari, selama perayaan hari besar lebaran.

Sayangnya, mulai tahun 2009 keuntungan semakin menurun, meski pengoperasian Bayang Keling sudah di tambah menjadi empat hingga lima hari.

“Dulu pusat permainan ini hanya ada di Curup, namun karena sekarang daerah lain sudah banyak membuka pendapatan pun berkurang secara drastis. Untuk tembus mendapatkan uang lima hingga tujuh juta rupiah saja sudah sangat sulit,” ungkap Wardi.

Tampak kesedihan di raut muka Wardi, ketika mengingat semua wahana permainannya hangus terbakar pada tahun 2016 lalu. Dia berkeinginan untuk segera merajut asa kembali melalui bisnis Bayang Keling, namun terkendala modal dan bahan baku yang semakin sulit didapatkan saat ini.


Menurut Wardi, untuk membuat satu unit Bayang Keling saat ini membutuhkan biaya berkisar Rp12 Juta. Selain itu, pemilihan bahan baku Kayu Meranti yang sudah berumur sekitar 70-an tahun pun sudah sangat sulit didapatkan di tempat penjualan kayu. 

 Bayang Keling, selalu menjadi wahana permainan andalan warga Curup dan sekitarnya/Muhamad Antoni 

“Kita menggunakan kayu meranti yang sudah tua, karena jenis kayu ini kuat dan kokoh. sudah sangat sulit mencarinya saat ini, berbeda saat sekitar 30 tahun silam,” ujarnya. Dia melanjutkan, dahulu ketika mencari bahan baku untuk membuat Bayang keling tak jarang dia menyewa orang untuk mencari kayu jenis Meranti di belantara hutan yang masih lebat

Dia menambahkan, hadirnya permainan Bayang keling ini juga untuk menambah pendapatan Asli Daerah (PAD), karena mendirikan permainan ini pihaknya mengurus izin ke berbagai instansi. Namun semangat Wardi, untuk menjaga Bayang Keling sebagai salah satu permainan andalan di kota Curup tidak lah pernah surut, sejuta asa dia harapkan adanya bantuan dari pemerintah daerah.

“Saya tidak ingin permainan ini punah di masa datang, saya ingin anak cucu kami kelak tetap melanjutkan bisnis ini,” tutup Wardi.

Tentang Bianglala, Bayang Keling dan Buayan Kaliang 

Bagi masyarakat Rejang Lebong, wahana permainan ini di sebut Bayang Keling, namun masyarakat umum menyebutnya sebagai Bianglala, seiring dengan perkembangan zaman Bianglala pun berevolusi dan semakin canggih.  Wahana permainan yang bentuknya menyerupai kincir ini banyak dijumpai di taman hiburan moderen maupun pasar malam.

Bahkan pengelola taman hiburan tak jarang menjadikan wahana permainan ini sebagai andalan dan membuatnya lebih megah. Mengutip dari situs bobo.grid.id kata Bianglala sebenarnya diartikan dengan pelangi, namun permainan kincir raksasa yang berwarna-warni ini terinspirasi menggunakan kata ‘pelangi’ atau bianglala untuk menyebutkan namanya. 

Awalnya bianglala ini ada di Chicago, namanya adalah Ferris wheel. Ferris Wheel yang di sebut juga dengan Chicago Wheel  adalah bianglala pertama di dunia yang di bangun oleh George Washington Gale Ferris, Jr. Tingginya mencapai 324 Meter dan merupakan atraksi terbesar di World’s Columbian Exposition di Chicago, IIIionis, Amerika Serikat tahun 1893.

Kebanyakan Bianglala pada umumnya digerakan oleh mesin penggerak dengan teknologi canggih, dengan sistem keamanan yang sangat ketat dan aman bagi penggunanya. Namun, berbeda dengan Bianglala yang ada di India, mengutip situs merdeka.com. 

Sebagaimana dilansir dari OddityCentral, bianglala bertenaga manusia itu ada bukan tanpa alasan. Pasalnya di beberapa negara Asia di mana listrik sering padam, tidak ada cara lain yang bisa dilakukan untuk tetap menyenangkan orang-orang yang naik bianglala. Jadilah para manusia yang memutarnya bersama-sama.

Ada kemiripan pengeporasian antara Bianglala di India dan yang ada kabupaten Rejang Lebong saat ini. Referensi lainnya terdapat di Provinsi Sumatra Barat hampir seluruh masyarakat yang terkenal dengan masakan rendang ini  menyebut permainan Bayang Keling dengan sebutan ‘Buayan Kaliang’ wahana permainan tradisonal ini sama persis yang ada di Rejang Lebong, Bengkulu.

Bahkan dalam sebuah pergelaran teater, di Padang tahun 2018. Lakon yang bejudul ‘Mandi Angin’ karya seniman kelahiran Padang Wisran Hadi yang dipentaskan kembali dalam acara festival bumi untuk memperingati 43 tahun Bumi Teater, dalam lakonnya ada tiga putra mahkota Alexander Agung atau Raja Iskandar Zulkarnain yang sedang menaiki Buayan Kaliang untuk berlayar menjelajahi wilayah kerajaan milik ayahnya.  Di atas Buayan Kaliang itu lah tiga putra mahkota membagikan uang untuk masyarakat Nagari Ko.

Seperti yang dikutip melalui situs korantempo.co naskah ‘Mandi Angin’ yang di tulis Wisran Hadi di ambil dari Tambo, cerita asal mula Minangkabau yang diceritakan secara turun menurun. Namun, dari berbagai referensi mengenai Buayan Kaliang tak banyak informasi yang sahih tentang sejarah permainan ini.  

Artikel Terkait