1 tahun lalu · 13882 view · 6 menit baca · Lingkungan 65565.jpg
Sumber: pixabay.com

Melestarikan Orang Utan, Menyelamatkan Hutan

Masih ingatkah kawan-kawan dengan uang kertas pecahan Rp.500 yang dulu pernah beredar, Anda pasti ingat bahwa ada foto orangutan di dalam uang kertas pecahan Rp.500 tersebut, kenapa harus gambar orangutan yang ada di pecahan Rp.500 itu, kenapa bukan satwa lain. Jawaban sederhananya karena memang dari dulu orangutan butuh perhatian.

Ya, orang utan merupakan hewan langka yang ada di Indonesia. Habitatnya ada di dua pulau besar yakni Sumatera  ( Pongo abelii ) dan Kalimantan ( Pongo pygmaeus). Bahkan akibat kelangkaannya pada tahun lalu International Union for Conservation Nature (IUCN) menaikan status Orangutan Borneo dari Terancam Punah (Endangered) menjadi Kritis (Critically Endangered) dalam daftar spesies terancam punah. Orangutan Sumatera pun tak luput dari daftar spesies terancam punah tersebut.

Faktor Pendorong Kelangkaan

Adanya kelangkaan yang dialami orang utan tentunya tidak terlepas dari berbagai faktor yang mendorongnya. Setidaknya ada 3 faktor utama yang menyebabkannya. Pertama, populasi manusia. Pertambahan jumlah penduduk dunia menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan hewan primata, tak terkecuali orang utan terancam punah. Proyeksi pertumbuhan populasi manusia di seluruh dunia dari 7,3 miliar menjadi 9,3 miliar pada 2050, akan menyebabkan tekanan dramatis pada orang utan yang berjuang untuk bertahan hidup.

Pertambahan jumlah penduduk dunia sudah pasti akan diikuti peningkatan kebutuhan akan tempat tinggal. Untuk menambah tempat hunian maka sudah dipastikan manusia akan mengkonversi lahan hijau (hutan) menjadi perumahan yang berakibat pada semakin sempitmya luasan habitat para orang utan. Akibatnya banyak orang utan yang akan kehilangan habitatnya.

Kedua, pembukaan lahan industri, peternakan, dan pertanian. Faktor industri dan pertanian juga turut memegang andil dalam mengancam populasi orang utan. Tak jauh beda dengan pertambahan hunian, pembukaan lahan untuk lahan pertanian, industri dan peternakan akan berakibat pada perusakan habitat alami orang utan. Dimana menurut ahli ekspansi lahan pertanian mengancam 76 persen dari spesies primata (tak terkecuali orang utan). Pembukaan lahan untuk kegiatan ekonomi tersebut sudah dipastikan akan membuat  orangutan akan terusir dari habitatnya bahkan bisa jadi mati akibat penyimpangan dalam pembukaan lahan, semisal lewat pembakaran hutan.

Dewasa ini  banyak pula perusahaan-perusahaan melakukan Greenwashing, yaitu upaya menyamarkan tindakan pengrusakan hutan melalui kampanye hijau, seperti jargon mengubah hutan liar menjadi hutan industri. Greenwashing ini merupakan upaya untuk membuat masyarakat percaya bahwa mereka perusahaan yang turut melesarikan hutan, padahal yang terjadi malah sebaliknya.

Ketiga, perburuan. Faktor dominan lainnnya yang mengancam populasi orang utan adalah perburuan liar. Kerakusan manusia yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh uang, salah satunya dengan memburu hewan yang berstatus langka dan dilindungi telah membuat orang utan terancam kelestariannya. Selain untuk di perjual-belikan banyak pula bayi orang utan yang ditangkap untuk dijadikan hewan peliharaan. Perburuan yang dilakukan secara besar-besaran tanpa mempertimbangkan regenerasi hewan ini membuat keberadaan spesies ini semakin langka saja.

Keempat, konflik dengan manusia. Rescue Center for Orangutan Protection menyebutkan pada tahun 2016 terjadi sekitar 11 kasus konflik yang melibatkan manusia dan orangutan. Ya, konflik orangutan dengan manusia bak fenomena gunung es dimana hanya puncaknya saja yang kelihatan. Salah satu lokasi konflik yang sering diberitakan adalah di kawasan perkebunan sawit. Dimana banyak orangutan akhirnya terbunuh bahkan dikonsumsi pasca konflik.

Kelima, lemahnya penegakan hukum. Faktor terakhir yang semakin mengancam keberadaan orangutan adalah lemahnya penegakan hukum. Sangat jarang sekali para pelaku perburuan dan pelaku pemeliharaan orangutan yang tanpa izin diproses secara hukum. Bahkan dalam banyak kasus oknum lah yang banyak menggunakan kekuasaannya untuk memiliki orangutan, dan yang pada akhirnya membuat penegak hukum premisif terhadap kasus perburuan dan penyelundupan orangutan. Alhasil masyarakat menjadi tidak takut untuk memburu bahkan mebantai orangutan.

Orang Utan : Pemelihara Hutan

Orangutan merupakan spesies dasar bagi konservasi disebut umbrella species karena hilangnya orangutan mencerminkan hilangnya ratusan spesies tanaman dan hewan pada ekosistem hutan hujan. Sebagai frugivora (pemakan buah) orangutan memegang peranan penting bagi regenerasi hutan melalui buah-buahan dan biji-bijian yang mereka makan (seed disperser). Jika orangutan punah dari muka bumi, maka punah juga pohon-pohon dan buah-buahan tropis.

Selain itu orangutan juga membantu pertumbuhan pohon baru. Pohon membutuhkan sinar matahari. Karena hutan sangat lebat, sinar matahari terhalang sampai ke tanah. Akibatnya pohon-pohon kecil tidak mendapat sinar matahari dan terganggu pertumbuhannya. Saat makan atau membuat sarang, orangutan mematahkan dahan pohon dan mengambil daun-daunan. Bagian atas pohon menjadi terbuka sehingga sinar matahari dapat sampai di permukaan tanah.

Berdasarkan referensi yang saya baca, jika terdapat populasi orangutan di sebuah kawasan hutan, maka hutan itu pastinya juga menjadi habitat bagi sedikitnya 5 spesies primata lainnya, 5 spesies burung rangkong, 50 spesies pohon buah, dan 15 spesies pohon liana. Contohnya di hutan Sumatra sendiri yang juga menjadi salah satu habitat orangutan selain di hutan Kalimantan. Kita menyebutnya hutan hujan tropis, yang apabila di dalamnya ada orangutan, maka ada juga spesies gajah, kudanil, harimau, beruang madu, babi hutan.

Kita harus ingat bahwa hutan primer dunia yang tersisa merupakan dasar kesejahteraan manusia, dan kunci dari planet yang sehat adalah keanekaragaman hayati, menyelamatkan orang utan turut menolong mamalia, burung, reptil, amfibi, serangga, tanaman, dan berbagai macam spesies lainnya yang hidup di hutan hujan Indonesia. Artinya menjaga habitat orangutan, sama saja menjaga hutan untuk kehidupan binatang lain.

Diselamatkan

"Saya bisa katakan, kira-kira 10 tahun, jika kita tidak menghentikan pengerusakan. Mungkin orangutan Sumatra akan musnah lebih dulu, jika mereka tidak menangani situasi di sana. Sungguh suatu pergulatan berat dan kita sedang kalah" Demikianlah jawaban dari Kepala International Animal Rescue (IAR, Alan Knight ketika ditanyai berapa lama lagi orangutan akan bertahan.

Pernyataan Knight tersebut tentunya bukan tanpa alasan. Pasalnya setiap tahunnya jumlah orangutan terus saja berkurang. Menurut Orangutan Foundation International (OFI), diperkirakan 1.000-5.000 orangutan terbunuh setiap tahunnya karena ekspansi kelapa sawit. Data yang dilansir oleh Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia (FK3I) menunjukkan hal yang hampir serupa, dimana mereka mencatat 2.000 hingga 3.000 oranguta Kalimantan dibunuh setiap tahunnya dalam empat dekade terakhir.

Berpijak pada kondisi ini maka upaya progresif untuk menyelamatkan keberadaan orangutan harus segera dilakukan. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan yakni. Pertama, pemerintah Indonesia harus segera merevisi UU perlindungan satwa liar. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati di Indonesia mengatur hukuman untuk setiap pelanggaran yakni 5 tahun penjara dan denda maksimal 100 juta. Namun hingga hari ini sangat jarang sekali pelaku yang dikenal hukuman maksimal. Untuk itu undann-undang yang mengatur mengenai perlindungan hewan khususnya hewan langka harus dipertegas, supaya efek jera bisa terjadi.

Kedua, orang yang bekerja di penegakan hukum harus lebih akuntabel terhadap kejahatan terhadap orangutan. Ada kasus yang terjadi justru para penegak hukum sendiri yang berburu atau membeli kera untuk hewan peliharaan. Untuk itu diperluakan sebuah evaluasi untuk menjamin bahwa penegak hukum bekerja secara profesional.

Ketiga, memperbaiki habitat orangutan. Sebagai langkah awal dalam penyelamatan Orangutan dari kepunahan adalah dengan cara menyelamatkan habitatnya terlebih dahulu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara penghentian pembukaan hutan untuk lahan perkebunan sawit, berperang melawan illegal logging, reboisasi, membatasi jarak habitat orangutan dengan pemukiman penduduk dan menggalakkan gerakan tanam seribu pohon.

Mustahil kita melestarikan orangutan tanpa melestarikan habitatnya, karena orangutan adalah satwa liar yang lebih suka hidup di alam bebas dari pada di penangkaran atau di kebun binatang. Penelitian membuktikan orangutan yang tinggal di penangkaran dan karantina umurnya lebih pendek dari orang utan yang hidup di alam bebas. Jadi, rehabilitasi habitat orangutan adalah harga mutlak dalam usaha pelestarian Orangutan.

Keempat, melibatkan masyarakat. Ada pepatah yang menyatakan mencegah lebih baik daripada mengobati. Hukum yang sama juga harus kita terapkan dalam upaya pelestarian orangutan yakni lebih menekankan pada upaya preventif daripada upaya represif. Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah dengan mengajarkan pentingnya keberadaan orangutan sejak dini pada anak baik di sekolah maupun di keluarga. Untuk itu maka pemerintah harus terlebih dulu melakukan penyuluhan kepada para orangtua untuk menimbulkan kesadaran akan pentingnya melindungi orangutan, sehingga pengetahuannya tersebut dapat ditularkan pada anak-cucunya di kemudian hari.

Mari menjaga orangutan demi menjaga kehidupan.